
55
"Tidak. Aku tidak mau memberikan rambut ayahku padamu."
"Ayolah, Kak! Apa Kakak tidak ingin Gabby dan Kakak hidup bahagia? Setidaknya pikirkanlah tentang Gabby karena aku juga melakukan ini untuknya. Gabby berhak mendapatkan kebahagiaannya." Keysa tidak pantang menyerah untuk tetap membujuk lelaki yang sama sekali tidak memercayai kemampuannya karena penampilan Keysa yang tidak meyakinkan.
Pada awalnya, Arsen bersikukuh menolak memberikan rambut ayahnya. Akan tetapi, setelah Keysa melakukan berbagai cara untuk membujuk lelaki itu, akhirnya ia pun setuju. Kemudian, Keysa pergi ke kelas dan langsung mendapat tatapan seperti mengejek dari Devano. Namun, Keysa sedang sangat malas meladeni lelaki yang duduk di samping bangkunya itu dan memilih membuang muka, mengabaikannya.
Hari bergulir terasa begitu lambat. Keysa sudah tidak sabar untuk segera hari esok. Ia ingin segera mendapatkan rambut yang dijanjikan oleh Arsen, lalu membuktikan kepada lelaki itu kalau ucapannya benar adanya.
"Akan kubuktikan kalau kalian bukan saudara kandung. Setelah ini, kamu tidak akan tersakiti serta dicemooh orang-orang lagi dan kalian akan bahagia selamanya." Keysa memandang gadis yang sudah terlelap di ranjang sebelahnya dengan mata yang sembab, setelah menangis seharian.
***
Keysa segera keluar kelas saat jam istirahat dimulai. Ia yang kemarin sudah berjanji akan bertemu lagi dengan Arsen di atap gedung lantas pergi ke tempat itu.
"Kau mau ke mana?" tanya Ezra kepada Devano.
"Ke kantin, lapar."
Devano yang melihat Keysa keluar kelas dengan buru-buru, langsung mencari alasan untuk bisa mengikuti Keysa tanpa dicurigai sahabatnya itu. Dengan cepat, ia segera menyusul Keysa dan berjalan beberapa meter di belakangnya.
"Sepertinya ada yang mengikutiku?" Keysa menghentikan langkahnya saat merasakan ada seseorang yang mengikutinya dari belakang, kemudian menoleh ke belakang untuk memastikan prasangkanya. "Tidak ada siapa-siapa," gumamnya lagi, ketika melihat tidak ada orang di belakang. Karena tidak ada hal yang mencurigakan, Keysa pun kembali melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Sementara itu, orang yang sedang mengikuti Keysa tampak sedang bersembunyi di sebuah lorong sambil mengusap dadanya karena hampir saja ketahuan. Setelah Keysa kembali berjalan, Devano pun keluar dari persembunyiannya dan kembali mengikuti gadis itu.
Namun, beberapa langkah kemudian Keysa menghentikan langkahnya lagi, lalu berjalan kembali. Beberapa kali, ia melakukan hal itu secara berulang. "Fix, ini tidak salah lagi aku diikuti seseorang." Keysa semakin yakin kalau dirinya ada yang mengikuti karena setiap ia melangkah juga terdengar ada derap kaki orang lain dan saat Keysa berhenti, derap kaki itu pun juga tidak ada.
Keysa kembali berhenti dan dengan cepat menoleh ke belakang, penasaran dengan orang yang mengikutinya. Namun, tetap saja tidak ada siapa-siapa, bahkan ia sampai memindai tempat yang baru saja dilewatinya cukup lama, tetapi tidak ada yang mencurigakan. "Ah, ternyata dia ngajak main-main denganku," gumam Keysa dengan ujung bibir atas yang sedikit terangkat.
Tidak ingin terus bermain-main dengan orang yang mengikutinya, Keysa langsung berlari menuju atap, menemui Arsen yang sudah menunggunya.
Si penguntit pun kembali mengejar Keysa, meskipun dengan jarak yang cukup jauh karena takut yang diikuti curiga lagi. Sesampai di atap gedung ia melihat Keysa sedang bersama Arsen, dengan Keysa yang sedang memegang kotak pemberian Arsen berisi rambut ayah Arsen.
"Aku hanya ingin menyarankan sekali lagi, jangan menyia-nyiakan waktumu untuk itu!" Ucapan terakhir Arsen yang didengarnya.
Keysa yang menyadari Devano masih mengikutinya sampai ke atap, tiba-tiba terbersit ide konyol untuk mengerjai lelaki itu. Keysa pura-pura mengatakan cinta kepada Arsen.
Arsen yang juga melihat keberadaan Devano di sana, langsung berpura-pura menolak Keysa.
"Baiklah, aku terima keputusanmu." Keysa yang mendapatkan penolakan pun lantas pergi dan diikuti oleh Devano.
"Aku tidak menyangka ternyata Dev sangat memedulikan gadis itu. Mungkin memang seharusnya aku percaya dengan ucapan-ucapannya," gumam Arsen saat melihat kedua orang itu pergi dari sana dalam waktu yang hampir bersamaan.
Keysa berjalan sangat cepat meninggalkan atap gedung, hingga Devano kehilangan jejak untuk mengikutinya.
"Dia kemana?" gumam Devano kepada dirinya sendiri. "Aku yakin, tadi dia berjalan ke sini."
__ADS_1
Devano mengikuti Keysa sampai ke dekat danau, tetapi tiba-tiba gadis itu menghilang begitu saja.
"Apa kau mencariku?" Tiba-tiba sebuah suara dari balik pohon besar mengagetkan Devano. Dengan melipat kedua tangan di depan dada serta pandangan yang menusuk lawan bicaranya, Keysa keluar dari persembunyiannya. Kemudian, membongkar fakta kalau Devano sejak tadi menguntiti dirinya. "Aku baru tahu ternyata seorang Devano memiliki hobi yang cukup aneh yaitu menjadi penguntit," ledek Keysa.
"Dan aku tidak akan melihat adegan drama yang sangat dramatis kalau saja tidak mengikutimu. Ckck ... ckck ... kasihan," balas Devano, mengingat Keysa yang ditolak mentah-mentah oleh Arsen. "Apa kau menggodanya merupakan cara cepat untuk menjadi ketua senat?" tanya Devano. "Jadi, dugaanku kalau kau melakukan nepotisme itu benar adanya. Begitu, kan?" tandasnya lagi.
"Jaga bicaramu, Dev!" Keysa tidak terima dengan ucapan Devano, hingga keduanya kembali adu mulut.
Devano pun tidak kalah marahnya dengan semua yang sudah dilihatnya hari ini. Ia memarahi Keysa, lantas merebut kotak di tangan Keysa dan melemparnya ke dalam danau.
"Dev, apa yang kau lakukan? Kau tahu, itu kotak sangat berharga untukku!" teriak Keysa. Matanya menatap tajam ke arah lelaki yang sudah melemparkan kotak yang didapatnya dengan susah payah. "Hhhh ...." Kedua tangannya sudah mengepal sempurna. Ia begitu geram dengan yang dilakukan lelaki itu, tetapi terus ribut dengan Devano tidak akan membuat kotak itu kembali. "Ah ...." Keysa mengurai kepalannya dan memilih menggulung celana panjangnya cukup tinggi untuk mencari kotak itu.
'Apa yang telah aku lakukan?' Devano merutuki dirinya sendiri yang terlalu gegabah, begitu melihat Keysa sangat peduli pada kotak tersebut. Devano tahu, sedalam apa area danau tempat kotak itu dilempar. Meskipun Keysa menggulung celananya sampai ke paha, gadis itu akan tetap tenggelam.
Sejurus kemudian mata Devano membeliak sempurna saat melihat kaki jenjang Keysa yang sangat indah. Namun, dengan cepat ia memalingkan wajah. Ia sedang tidak berminat untuk melihat yang bening-bening. Hatinya sudah didominasi oleh rasa tidak nyaman karena memikirkan alasan Keysa memberikan kotak itu kepada orang lain. Ditambah lagi, Keysa pernah mengatakan kalau gadis itu suka kepadanya, tetapi malah mengatakan juga kepada orang lain.
"Kalau penting untukmu? Kenapa malah diberikan kepada orang lain?" tandas Devano, tetapi Keysa sudah tidak berminat untuk menjawab.
Keysa berjalan hendak mendekati pinggir danau hendak turun. Namun, baru saja ia menempelkan satu kakinya ke air tiba-tiba Keysa melihat Devano melompat dan menceburkan dirinya ke danau.
Setelah itu, tubuh Devano tidak terlihat.
"Apa airnya sangat dalam?" gumam Keysa yang mengira air danau itu dangkal.
__ADS_1
"Dev! Dev!" Keysa memanggil-memanggil Devano yang tidak tidak muncul lagi ke permukaan. "Dev! Apa kau baik-baik saja?" teriak Keysa, tetapi tidak ada jawaban.