Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
128


__ADS_3

"Yang benar saja aku harus mengendarai sepeda jelek kayak gini ke Bandara? Gempor duluan kakiku karena ngayuh sepeda," rutuk Keysa saat melihat sepeda usang yang diberikan sang kakek untuknya menjemput Devano. 


"Supaya lebih menghayati peran," jawab Kakek Surya, seraya kembali masuk ke rumah setelah memberikan sepeda usang miliknya. 


Keysa hanya mengerucutkan  bibir, hingga sebuah ide brilian menghampiri. Ia meminta sopir di rumah itu mengantarkannya dan menurunkannya saat sudah hampir sampai ke Bandara. 


Akhirnya, Keysa hanya mengayuh sepeda setengah kilo sebelum sampai ke Bandara. Meskipun begitu, Keysa merasa malu saat memerhatikan orang-orang memerhatikannya yang sedang mengayuh sepeda usang. 


''Sepertinya akan lebih baik jalan kaki ketimbang pake sepeda,'' gumam Keysa setiba di bandara dan melihat orang-orang yang seperti melihat ke arahnya semua. 


Keysa turun dari sepeda, kemudian memarkirkan sepedanya dan masuk ke Bandara  mencari Devano. Di area kedatangan, Keysa memindai semua orang yang ada di sana, mencoba mencari keberadaan seseorang yang beberapa waktu lalu menghubunginya dan meminta Keysa untuk datang ke tempat itu. 


"Dia di mana?" gumam Keysa, tidak menemukan  keberadaan Devano. 


Ia lantas mengambil ponsel di tas hendak menghubungi Devano. Namun, tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggang Keysa. 


"Aku merindukanmu," bisik Devano. 


Devano yang terlebih dulu melihat keberadaan Keysa langsung menghampiri dan memeluk Keysa dari belakang seraya mengatakan kata rindu dengan sangat manja, membuat Keysa  berinisiatif memutar tubuh dan memeluk Devano dari depan. 


"Aku juga merindukanmu," balas Keysa, lalu mengurai pelukannya.


Mendapati Keysa balas memeluknya, Devano lantas lantas mencondongkan wajahnya hendak mencium Keysa. Namun, dengan cepat Keysa menghalau wajah Devano dan mendorong bibir yang sudah bersiap menciumnya itu. 


"Jangan aneh-aneh! Ini Bandara." Keysa menghentikan tingkah Devano yang tidak tahu tempat itu. 


"Enggak aneh cuma cium doang. Apa salah?" 


"Salah," jawab Keysa, seraya menarik lelaki itu keluar dari Bandara daripada terus berdebat tidak jelas. 


Syifa membawa Devano pada deretan mobil dan motor yang terparkir. 


"Kamu ke sini naik apa?" tanya Devano. 


"Nanti kamu juga tahu." Keysa terus melewati mobil dan motor, hingga kakinya berhenti pada sepeda usang yang terparkir paling ujung. "Aku ke sini naik ini," lanjutnya sambil menunjuk satu-satunya sepeda yang ada di sana. Kemudian, mengeluarkan kendaraan roda dua tanpa bahan bakar itu  dari parkiran. 


"Kamu mengendarai ini?" Devano setengah tidak percaya dengan yang dipakai Keysa untuk menjemputnya. 

__ADS_1


Keysa mengangguk pasti dengan senyum yang merekah. "Aku hanya punya  sepeda ini, jadi ya, jemputnya pakai ini. Apa kamu tidak suka?" tanya Keysa, saat melihat perubahan raut wajah Devano setelah melihat kendaraan yang dibawanya. "Kalau tidak suka, kenapa minta dijemput? Kamu sendiri tahu aku bukan orang kaya sepertimu," lanjut Keysa, dengan wajah yang berubah sendu. 


Devano memang tidak suka dengan kendaraan di depannya itu, tetapi ia tidak mau membuat Keysa sedih. "Suka, kok. Aku hanya kaget, kamu bisa gowes sangat jauh. Apa tidak lelah?" jawab Devano mencari alasan. 


"Tentu saja lelah, tapi demi  kamu apapun kulakukan," jawab Keysa, yang seketika membuatnya ingin muntah oleh kata-katanya sendiri. 


Devano memamerkan rentetan gigi putih saat mendengar ucapan gombalan Keysa. 


"Jadi pulangnya, kamu yang bawa, ya!" lanjut Keysa, seraya menyodorkan setang sepeda yang dipegangnya kepada Devano. 


"Sudah kuduga, gombalanmu ujung-ujungnya ada maunya," tandas Devano, seraya mengacak-acak pelan rambut Keysa, kemudian mengambil alih setang sepeda tersebut. 


Sebenarnya ia sangat ingin menolak untuk naik sepeda tersebut, apalagi harus mengendarainya. Namun, melihat pengorbanan Keysa yang  rela mengayuh sepeda hanya demi menjemputnya, membuat Devano melakukan yang diminta gadis itu. 


"Ayo, pulang!" ucapnya lagi, setelah duduk di sadel sepeda dan menyuruh Keysa untuk duduk di belakangnya. 


Devano pun mengayuh sepeda menyusuri jalanan yang ditunjuk oleh Keysa,  hingga mereka sampai di jalanan kecil dengan pohon-pohon hijau tumbuh di tepi jalan dan sebuah gunung berada di depan mata. 


"Kita naik ke sana!" ucap Keysa, menunjuk pada pegunungan yang sebentar lagi akan dilewati mereka. 


"Kita naik ke sana," ulang Keysa. 


"Ya. Aku dengar," jawab Devano. 


"Kalau dengar kenapa bertanya," tandas Keysa. 


Devano hanya merasa  miris pada keadaan Keysa yang hidup di daerah itu dengan segala keterbatasan, bahkan melewati jalan menanjak seperti yang akan dilewati mereka dalam jarak kurang dua ratus meter lagi itu hanya dengan menggunakan sepeda usang. 


Devano pun mengayuh sepeda  dengan kecepatan penuh, hingga tanpa disadari Keysa yang duduk menyamping dan tidak berpegangan pada lelaki di depannya itu terjatuh. 


"Apa sepedanya bisa dikayuh?" tanya Devano begitu melihat jalanan yang meliuk-liuk dengan tanjakan di depan mata. Ia menghentikan sepedanya dan menatap jalan yang menurutnya tidak akan bisa dilalui dengan sepeda, kecuali sepedanya didorong. 


Tidak ada jawaban dari Keysa, membuat Devano menoleh ke belakang dan sangat terkejut saat mendapati Keysa sudah tidak ada di belakangnya. "Eh, Keysa ke mana?" gumam Devano, kebingungan. 


Ia lantas menepuk jidatnya sendiri saat mengingat beberapa meter ke belakang kayuhannya terasa ringan.  Devano pun langsung kembali ke jalan awal mencari keberadaan Keysa, dan lelaki itu mendapatkan Keysa sedang duduk di aspal. 


"Key, kamu kenapa?" tanya Devano begitu sampai di dekat sang kekasih. 

__ADS_1


"Menurutmu?" Keysa menatap tajam Devano, kemudian memalingkan muka. Ia kesal terhadap tindakan Devano yang mengayuh sepeda dengan cepat, sehingga membuatnya terjatuh. 


Devano pun lantas turun dan memeriksa keadaan Keysa. "Apa ada yang sakit? Apa ada yang terluka?" tanyanya sembari memeriksa tangan dan kaki Keysa. 


"Aku tidak apa-apa, bokongku saja yang sedikit pegal karena mendarat di aspal tanpa aba-aba," tandas Keysa. 


"Maafkan aku." Devano mencium tangan Keysa, meminta maaf dengan tulus. "Sekarang aku janji, tidak akan cepat-cepat," lanjutnya. Ia merasa bersalah karena telah membuat Keysa terjatuh. 


Dengan dibantu Devano, Keysa kembali berdiri. Mereka pun kembali menaiki sepeda itu, kemudian melanjutkan  perjalanan mereka lagi. Namun, baru beberapa kayuhan, Devano tiba-tiba berhenti saat sesuatu terjadi pada sepeda yang dibawanya. Sepeda yang sudah usang dan jarang dipakai membuat bagian-bagian sepedanya pun tidak terjamin. Rantai sepeda tiba-tiba saja putus, membuat Devano terpaksa menghentikan kembali perjalanan mereka dengan mulut yang terus  mengomel. 


Perjalanan masih cukup jauh, terpaksa Keysa pun menghubungi Kakek Surya dan meminta untuk mencarikannya orang yang bisa membenarkan  sepeda. 


"Sepeda jelek kenapa masih dipakai. Lihatlah rantai saja sampai putus begitu!" rutuk Devano, saat keduanya sedang duduk di tepi jalan—menunggu bantuan.  "Besok kita beri mobil," ucap Devano kemudian, yang membuat Keysa terperangah. 


"Mobil? Untuk apa?" 


"Ya, untuk kamu ke sana kemari supaya tidak memakai sepeda jelek ini lagi yang ujung-ujungnya malah terdampar di tengah jalan." 


"Tapi, aku tidak butuh mobil. Aku juga tidak bisa mengemudi," kilah Keysa. "Jadi, tidak perlu membelikan barang seperti itu." 


"Aku akan mengajarimu mengemudi," tandas Devano lagi. 


Keysa tetap menolak dengan seribu alasan dan Devano pun tetap pada pendiriannya. "Tidak ada penolakan," ucap Devano lagi, seraya memeluk Keysa dan menciumnya. Adu mulut dari keduanya dibungkam oleh Devano dengan sebuah ciuman yang juga dinikmati oleh Keysa. 


 Keysa mendengar suara traktor yang mendekat. Ia kemudian melihat  kakeknya sedang mengendarai traktor roda empat tersebut ke arah mereka. Dengan cepat Keysa mendorong Devano. 


"Kakek udah datang," gumam Keysa seraya mengusap bibirnya yang basah oleh ulah Devano. 


Devano sendiri langsung pura-pura memperbaiki sepeda. 


Kakek menghentikan traktornya di depan Keysa dan Devano, lantas turun menemui mereka dengan menggunakan pakaian lusuh.


"Kalian pulang dengan menggunakan ini saja," ucap Kakek Surya. 


Devano melirik kendaraan yang sering digunakan untuk membajak sawah dan lahan pertanian lainnya itu. Devano menelan ludahnya dengan susah, melihat kendaraan yang baru dilihatnya hati ini.


Ia tidak pernah dan tidak bisa mengendarai traktor. Akan tetapi, demi menunjukan kemampuannya, Devano memutuskan untuk mencoba mengendarainya. 

__ADS_1


__ADS_2