
"Kapan terakhir penyakit devano kambuh?" tanya Fero kepada Keysa.
Keysa menjelaskan terakhir kali Devano menyiksa orang tanpa ampun, kemudian membantingkan semua barang yang ada di rumah lalu tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Devano seorang autis," jawab Fero dengan pasti setelah mendengar penjelasan dari Keysa. "Sebaiknya kamu segera menghubunginya dan menjelaskan semua yang terjadi sebelum dia melampiaskan semua amarahnya kepada orang yang lain?" lanjut Fero.
"Ya, kamu benar. Aku akan segera menghubunginya," ucap Keysa,yang baru saja selesai merias dirinya menjadi jelek lagi.
Keysa lantas merogoh ponsel di dalam tas dan menghubungi lelaki yang telah disiramnya itu, tetapi tak kunjung tersambung. "Dev, kamu di mana? Angkat please!" Rasa bersalah dan khawatir semakin memenuhi perasaannya. Ia takut Devano melakukan sesuatu karena ulahnya, apalagi Fero menyebut Keysa sebagai calon istrinya. "Angkat, Dev!"
Beberapa kali menghubungi nomor yang sama, tetapi tidak membuahkan hasil. Keysa lantas menghubungi Ezra dan langsung tersambung dalam hitungan detik.
"Ez, apa Devano ada bersamamu?" tanya Keysa, begitu panggilannya tersambung.
"Dia sedang bersama Alea. Apa kamu ingin bicara dengannya?" jawab Ezra dari seberang sana, yang langsung ditolak Keysa.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin tahu apa dia baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Ezra lagi.
"Tidak, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Terima kasih." Keysa berujar, lalu mengakhiri panggilannya.
Keysa bernapas lega setelah mendengar Devano baik-baik saja. Ia lantas pamit kepada Susi untuk kembali ke kampus.
"Biar aku antar," tandas Fero yang langsung menyambar kunci mobilnya, begitu Keysa berjalan keluar dari kamar Susi.
"Apa tidak merepotkan?" Keysa menoleh ke arah lelaki yang sudah mensejajarkan langkahnya dengan langkah Keysa. "Aku bisa sendiri."
"Aku juga ada kelas. Kita bisa berangkat bareng," ujar Fero, tanpa menoleh.
Keysa pun hanya mengangguk, menerima ajakan lelaki itu.
__ADS_1
***
Setiba di kampus, Keysa langsung kembali ke kelas. Wajahnya sudah tidak murung dan marah lagi. Ia yang sudah tahu semuanya sedikit mengulas senyum, merasa bahagia dan tak sabar untuk bertemu dengan Devano.
"Ternyata masih bisa senyum meskipun baru diputuskan oleh pacar. Jelaslah tersenyum. Mati satu tumbuh seribu! Hebat, ya, kamu pacaran Dev tapi sebenarnya kamu sudah dijodohkan. Apa kamu memang membuat Dev sebagai pelarian?" Begitu datang Keysa langsung diberondong oleh cibiran oleh Alea.
Keysa tidak menjawab. Ia melirik sekilas kepada lelaki yang juga sedang melihat ke arahnya, lalu memilih pergi ke tempat duduknya tanpa meladeni Alea.
"Bukankah kamu juga punya calon suami di Ibu Kota? Jadi calon suamimu yang sebenarnya yang mana? Yang tadi atau lelaki yang di Ibu Kota?" seloroh Alea lagi.
Devano yang mendengar hal itu tampak terkejut dan menatap tajam ke arah Keysa dengan hati yang bertanya-tanya dan tidak mengerti kenapa Keysa yang tampangnya jauh dibawah rata-rata disukai banyak lelaki.
Sementar itu, Keysa yang mendengar ucapan Alea langsung menghentikan langkahnya kemudian mundur dua langkah dan berhenti tepat di samping bangku Alea. Keysa lantas melirik ke arah gadis yang duduk di samping Devano itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Berhenti bicara sembarangan. Atau aku ...." Keysa tidak melanjutkan ucapannya dan lantas pergi begitu saja.
Alea yang tahu maksud Keysa pun langsung menghentikan ucapannya. Atau aibnya yang pernah bunuh diri juga akan diungkap Keysa dan membuat Devano infill.
Devano menyetujui ajakan Alea dengan mata yang sekilas melirik gadis yang sedang menoleh ke arahnya. Ingin memberikan isyarat, tetapi tidak bisa karena Alea juga sedang memerhatikan dirinya.
Sementara itu, Keysa langsung membuang muka begitu mendengar jawaban Devano. "Katanya hanya pura-pura, tetapi kenapa ada rencana makan malam romantis segala." Keysa komat-kamit tidak jelas, kemudian mengambil ponsel dan dengan gerak cepat menulis sebuah pesan.
"Apa kamu berbicara sesuatu, Key?" tanya Ezra, yang mendengar Keysa berbicara, tetapi tidak jelas.
Keysa yang masih menulis pesan, menoleh ke arah Ezra dan menggeleng pelan dengan seulas senyum yang tertampil. Bersamaan dengan itu, ponsel Devano berbunyi dan sebuah pesan masuk.
[Dev, apa kamu yakin akan pergi makan malam romantis dengan Alea? Apa kamu yakin dengan semua rencanamu? Kamu tahu, gadis itu memiliki obsesi yang sangat tinggi. Dia itu tidak akan pernah melepaskanmu dan pasti berusaha terus untuk mendapatkanmu. Bagaimana kalau setelah ini kamu benar-benar kembali kepadanya?]
Devano tergelak saat membaca pesan yang dikirim oleh gadis di bangku depan itu. Ketakutan Keysa akan cinta lama antara Devano dan Alea bersemi kembali, membuat hatinya sedikit tergelitik. Keysa yang mendengar Devano tertawa lepas pun langsung menoleh ke belakang.
[Mau bagaimanapun Alea berusaha mendapatkan hatiku kembali. Hatiku tidak akan pernah berpaling darimu. Hatiku dan semua yang ada pada diriku hanya untukmu.] Devano membalas dengan seulas senyum yang tertampil untuk Keysa.
__ADS_1
***
Sepulang kuliah, Ezra menghibur Keysa saat Devano dan Alea lagi-lagi pulang bersama.
"Aku tidak apa-apa. Aku sudah tahu semuanya," gumam Keysa, dengan seulas senyum yang dipaksakan untuk terbit.
"Semoga masalah ini cepat selesai, agar Devano tidak perlu berpura-pura lagi dan hubungan kalian kembali baik-baik saja," tandas Ezra yang juga sudah tahu kebenaran hubungan Devano dan Alea beberapa saat setelah kepergian Keysa.
Keysa meng-amin-kan doa Ezra dan berterima kasih karena telah memedulikan hubungannya dan Devano.
"Aku juga ingin meminta maaf atas semua perbuatan Liza padamu," lanjut Ezra, yang meminta maaf atas nama Liza.
"Aku sudah memaafkan dan melupakan hal itu," tandas Keysa.
Ezra mengangguk sambil berterima kasih. Keduanya pun berpisah. Keysa pulang ke asrama, sedangkan Ezra pulang ke rumahnya.
***
Keysa menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Hari yang dilewatinya hari ini begitu melelahkan dan menguras emosi. Ia hampir saja kehilangan Devano disaat Keysa sudah benar-benar membuka hatinya untuk lelaki itu. Dan, itu benar-benar membuatnya takut. 'Bagaimana jika nanti dia tahu semuanya,' gumamnya, hingga akhirnya kesadaran Keysa menghilang.
Keysa bangun saat hari sudah gelap. Ia mengucek-ucek mata, melihat jam di ponsel yang sudah menunjukan angka delapan. "Mereka pasti sedang makan malam." Keysa mendengkus begitu mengingat acara yang akan dilaksanakan oleh Devano dan Alea.
Untuk menghilangkan kekesalannya, Keysa lantas membuka akun media sosial. Ia berselancar di akunnya untuk menghilangkan jenuh, hingga sebuah pesan masuk.
[Aku telah merelakanmu! Aku terima semua keputusanmu.]
Sebuah pesan dari Ezra dibaca Keysa. Lelaki itu sudah tidak lagi memaksa Keysa menjadi kekasihnya.
"Mungkin bermain game akan lebih menyenangkan," tandas Keysa. Berselancar di medsos tidak membuanya baik-baik saja, hingga ia memilih untuk beralih ke aplikasi game.
***
__ADS_1
Sementara itu, di acara makan malam, Alea hanya bisa melihat Devano yang asyik main sendiri. Ia menyaksikan Devano yang sedang sibuk dengan dunia game. Mengetahui Devano memiliki istri di game, membuat Alea berpikir sebuah ide baru.