
38
Keysa dan Bella berjalan memasuki ruangan yang disebut Ezra. Seperti ruangan sebelumnya, di sana pun tampak banyak orang yang sedang bersenang-senang. Keysa mengedarkan pandangan, mencari lelaki yang ingin ditemui Bella, hingga kepalanya menggeleng saat melihat Devano sedang duduk di sofa sambil memeluk dua gadis yang sedang duduk di kedua p*hanya.
Devano sendiri yang sedang sibuk dengan dua wanitanya, tampak terkejut saat melihat kehadiran Keysa dan tanpa sadar melepaskan pelukannya—persis seperti seorang kekasih yang sedang tertangkap basah. Bahkan dengan spontan, Devano mendorong kedua gadis itu menjauh dari p*hanya—sampai terjatuh ke lantai.
Kedua gadis itu merintih kesakitan saat tubuh mereka tiba-tiba mendarat di lantai, sejurus kemudian mereka bangun dan duduk di samping kiri dan kanan Devano lagi. "Ih, kenapa di lepasin pelukannya?" tanya keduanya dengan manja dengan tangan yang hendak memeluk Devano lagi.
Namun, Devano tidak peduli dengan rintihan dan rengekan mereka. Pikirannya masih melayang dengan mata yang terus melongo menatap gadis yang sedang berjalan ke arahnya, kemudian berdiri dan menghampiri Keysa.
Dua gadis yang hendak memeluk Devano pun malah saling berpelukkan karena orang yang hendak mereka peluk bersama sudah meninggalkan keduanya begitu saja. Dengan bibir mengerucut mereka merutuki pelan perbuatan Devano.
"Kenapa datang ke sini?" tanya Devano.
"Apa aku tidak boleh datang ke sini?" Keysa malah bertanya balik.
"Jika mau datang ke sini setidaknya beritahu aku dulu," tandas Devano lagi, dengan nada seperti orang yang tertangkap basah sedang selingkuh. Beberapa kali, ia menoleh ke arah dua gadis di sofa, lalu menoleh ke arah Keysa.
'Apa-apaan ini?' Devano merutuki tingkahnya sendiri yang tidak dimengertinya, sedangkan Keysa hanya menatap Devano yang seperti orang gelisah saat dirinya datang.
Bella terus menatap Devano dan Keysa bersamaan mencoba mencerna percakapan mereka.
"Bukankah kamu sendiri yang memintaku datang kemari?" ucap Keysa. Sadar gadis yang bersamanya terus memperhatikan.
Sementara itu, kedua gadis yang malah diacuhkan oleh Devano setelah kedatangan Keysa, tampak tidak senang dengan nada bicara Keysa kepada lelaki pujaan mereka, lantas bertanya, "Siapa gadis jelek itu?"
"Keluarlah! Temanku mau duduk di tempat kalian." Keysa tidak peduli dengan ucapan kedua gadis itu dan malah mengusir mereka, mengingat Devano tadi duduk di sana bersama mereka.
Wajah mereka langsung memerah begitu mendengar pengusiran dari Keysa. "Heh, Gadis Jelek, kenapa kami harus memberikan tempat duduk kami?" sarkas keduanya sambil berkacak pinggang.
'Kayak paduan suara,' gumam Keysa dalam hati. Awalnya, Keysa berniat memarahi kedua gadis itu. Namun, setelah dipikir-pikir seharusnya ia bermain cantik dan Keysa pun mengganti taktiknya.
__ADS_1
"Apakah aku beneran jelek? Kenapa mereka bilang aku jelek?" Keysa yang saat ini lupa tidak memakai kacamata bertanya kepada Devano dengan manja.
Devano memperhatikan Keysa. Hatinya menyangkal kalau Keysa itu jelek. Gadis itu hanya terlihat biasa saja dan jika diberi perawatan dan berpenampilan modis pasti akan terlihat cantik.
"Bukankah kamu sendiri juga sudah tahu kalau kamu jelek. Apa masih belum terbiasa dengan sebutan itu?" Devano yang melihat ada kesempatan menjahili gadis itu lagi malah mengejek Keysa.
Dua gadis itu yang mendengar ucapan Devano pun tersenyum lebar. Mereka mengira kalau Devano sedang membela mereka, sehingga dengan berani kembali menghina Keysa.
Berbanding terbalik dengan Keysa yang sedang dihina habis-habisan. Keysa berdiri dengan wajah memucat, marah, kesal, malu, semua rasa campur menjadi satu. Hingga, saat orang-orang tidak memperhatikannya, diam-diam Keysa mencubit kakinya sendiri dan tidak selang lama air mata pun keluar.
"Kamu nangis?" Devano tersentak melihat air mata keluar dari kedua mata Keysa. Ia tak menyangka gadis yang biasanya kuat tiba-tiba menangis hanya karena dihina. Padahal, dirinya sudah sering menyebutnya jelek.
Keysa terdiam, tidak menjawab pertanyaan Devano. Ia hanya menunduk dengan suara isak tangis yang menjawab pertanyaan Devano.
"Berhentilah menilai orang dari luarnya saja. Belum tentu kalian yang merasa cantik, memiliki hati yang cantik pula. Tak seharusnya kalian menghina Keysa. Asalkan kalian tahu, dia itu jauh-jauh lebih baik dari kalian." Ezra yang sedang duduk di sofa dan sejak tadi menjadi penonton pun angkat bicara, membela. Ia beranjak menghampiri Keysa dan merangkul bahunya.
Sementara itu, Devano masih bengong menatap Keysa yang masih terisak. Ia masih tidak menyangka kalau Keysa akan menangis. Namun, entah mengapa melihat Keysa menangis membuat hatinya merasa tidak nyaman dan tidak terima.
"Keluar!" usir Devano.
"Apa maksudmu, Dev?" tanya salah satu dari mereka dengan nada suara yang bergetar. Kedua gadis itu dibuat gelagapan saat mendengar bentakan Devano dengan sorot mata yang siap menguliti mereka.
"Keluar dari ruangan ini!" sarkas Devano lagi, membuat kedua gadis itu memohon.
"Dev, jangan usir kami! Kami masih ingin bersamamu di sini."
"Aku bilang keluar!" teriak Devano sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
Kedua gadis itu terus memohon supaya Devano tidak mengusirnya, bahkan mereka rela melakukan apa saja asal Devano masih mengizinkan mereka ada di sana. Akan tetapi, Devano tetap mengusirnya. Bahkan, Bella yang ikut dengan Keysa dan tidak berbuat apa-apa pun sampai ketakutan melihat kemarahan Devano dan memilih keluar bersama dua gadis yang telah membuat Keysa menangis.
"Duduk sini, Key!" Setelah kedua gadis itu pergi, Ezra menuntun Keysa duduk di tempat bekas dua gadis yang keluar.
__ADS_1
Keysa mengangguk, lalu duduk. Sambil menunduk, ia menahan tawa sampai tubuhnya bergetar.
'Aktingku lumayan juga. Besok-besok sepertinya aku harus ikutan casting, siapa tahu bisa jadi artis terkenal juga,' gumam Keysa dalam hati sambil cekikikan.
Sementara itu, Devano yang mengira Keysa masih menangis langsung menghampiri Keysa. Ia mendorong Ezra menjauh dari samping Keysa, lantas duduk di bekas Ezra duduk dan menenangkannya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Mereka sudah aku usir." Devano menepuk-nepuk pelan bahu Keysa.
Keysa masih terdiam dengan kepala yang masih menunduk. Ia tak mau mengangkat kepala, apalagi harus melihat Devano, karena bila hal itu dilakukan pasti tawanya akan langsung pecah.
"Jangan menangis lagi! Kamu tidak jelek, kok. Aku tadi hanya bercanda. Jangan kamu ambil hati ucapan mereka," ucap Devano lagi.
'Ya, Tuhan, aku sudah tidak tahan!' Keysa sekuat tenaga menahan gejolak untuk tertawa lepas.
"Ya, sudah, supaya kamu gak nangis lagi. Kamu mau apa biar aku kabulkan," lanjut Devano. Ia semakin tidak enak hati melihat tubuh Keysa semakin bergetar.
Mendengar ucapan Devano, Keysa langsung sumringah, tapi jangan lupa ia sedang berpura-pura menangis. Air mata di pipi sudah mulai mengering. Keysa pun mencubit tangannya sedikit keras supaya air mata kembali keluar.
Perlahan Keysa mendongak ke arah Devano dengan air mata yang sudah membasahi pipi, membuat hati Devano terasa linu saat melihat air mata itu belum juga berhenti.
"Apa aku boleh pesan minuman?" tanya Keysa, pelan.
"Tentu saja. Asal jangan menangis lagi," jawab Devano dengan cepat.
Keysa pun mengangguk dan berjanji tidak akan menangis lagi sambil mengusap air matanya. Tanpa sepengetahuan Devano, Keysa menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Kemudian, Devano memanggil pelayan untuk melayani pesanan Keysa, dan saat itu Keysa menjulurkan lidah mengejek Devano yang berhasil dikelabuinya.
'Kena, kau!' gumam Keysa dalam hati.
Keysa memesan banyak minuman. Teman-teman Devano yang berada di ruangan itu pun datang ke tempat duduk Keysa dan menemaninya mengobrol. Mereka pun bersenang-senang bersama.
Happy reading semuanya! Banyak sekali yang minta doble up. Jujur aku seneng banget dengan permintaan kakak readers semua, berarti kalian suka sama ceritaku (Geer banget ya, aku🤭🤭). Tapi, maaf untuk cerita ini up-nya masih dijatah, jadi belum bisa up lebih dari satu. Kalau kakak semua mau baca maraton, kalian bisa coba baca ceritaku yang udah end dulu sambil nunggu cerita ini up lagi. Terima kasih atas dukungannya! Ditunggu like, vote dan komentarnya. I love you all 💪🥰😘😘
__ADS_1