
Ferro dan Cheryl berada di Kasino, mereka disambut oleh keributan yang tiba-tiba terjadi di sana.
"Ada apa?" tanya Cheryl kepada lelaki yang sedang digandengnya.
"Tidak tahu. Kita lihat saja ke sana dulu," ucap Ferro, kemudian mengajak gadis yang terus menempel bagai perangko itu mendekat ke arah keramaian.
"Dia sedang dipaksa untuk menandatangani taruhan senilai 1M," gumam Ferro setelah bertanya kepada beberapa orang yang ada di sana. "Orang itu hendak menjual putrinya ke Kasino jika taruhannya kalah," lanjut Ferro lagi, yang membuat Cheryl hanya angguk-angguk. "Tapi dia mengingkarinya."
Ternyata si lelaki yang membawa putri kalah taruhan. Lelaki itu harus memberikan putrinya kepada pihak lawan, tetapi si ayah berubah pikiran. Ia tidak mau memberikan putrinya, hingga orang itu dihajar habis-habisan.
"Kalau kau tidak bisa memberikan putrimu, berikan kami 1M sesuai dengan perjanjian," timpal salah satu dari mereka, kemudian menghajar si ayah itu lagi.
Gadis kecil yang merupakan anak semata wayang lelaki itu langsung maju menghalangi orang-orang yang akan menghajar ayahnya.
Merasa kejadian di sana tidak ada hubungan dengan mereka, Ferro langsung mengajak Cheryl untuk mencari tempat lain yang tidak ada keributan di dalamnya. Namun, diluar dugaan, bukannya mengikuti langkah Ferro, Cheryl malah berhenti. Cheryl melepaskan genggaman tangannya yang melingkar di lengan Ferro, lantas menghampiri anak yang sedang menjadi pelindung sang ayah itu.
"Berapa yang harus bapak itu bayar? Biarkan saya yang membayarnya," ucap Cheryl, tiba-tiba menjadi pahlawan bapak dan anak itu, membuat Ferro yang mendengarnya tampak tidak percaya.
'Apa dia Cheryl yang aku kenal selama ini?' Ferro bergumam di dalam hati, tidak menyangka jika gadis si pembuat onar bisa peduli pada kehidupan orang lain. "Aku tahu selama ini, dia hanya tersesat. Dan, aku yakin kalau dia sebenarnya adalah orang yang baik hati. Tinggal bagaimana orang-orang terdekatnya membimbingnya," gumam Ferro, kagum dengan yang telah dilakukan Cheryl malam ini.
Cheryl membawa gadis itu pergi dari sana.
"Tenanglah kamu sudah aman," Cheryl mencoba menenangkan ketika gadis kecil itu terus menangis.
"Aku tidak akan dijual kan?" tanyanya, sepertinya gadis itu sangat takut jika sampai dijual kepada para lelaki hidung belang sebagai bahan taruhan.
Cheryl tersenyum, kemudian sedikit berjongkok kepada gadis yang ditaksir usianya baru menginjak 15 tahun. "Tidak akan ada yang menjualmu. Kamu aman bersamaku," ucap Cheryl.
"Lalu ayah?" Dia masih mengkhawatirkan lelaki yang hampir menjualnya, untung sadar di detik-detik terakhir.
"Temanku sedang membereskannya. Nanti ayahmu akan kembali bersama temanku juga," papar Cheryl lagi, membuat anak itu mengangguk. "Kalau boleh tahu namamu siapa? Kita belum kenalan, kan?" Cheryl mengulurkan tangan ke arah gadis yang tampak malu-malu dan terlihat menggemaskan.
Pantas saja orang-orang tadi bersikukuh untuk mempertahankan gadis itu sebagai barang taruhan. Anak itu terlampau manis, hingga uang 1 miliar yang ditawarkan Cheryl hampir saja ditolak mentah-mentah oleh mereka. Untung ada Ferro yang bisa menangani semuanya. Cheryl disuruh membawa gadis itu pergi, sedangkan lelaki itu membereskan kekacauan tersebut bersama ayah si anak.
Gadis itu mendongak menatap Cheryl yang sedang mengulurkan tangan, kemudian menunduk lagi karena malu.
"Aku Cheryl." Cheryl menyebutkan namanya.
__ADS_1
Anak itu kembali mendongak melihat Cheryl, kemudian dengan malu-malu, menjabat tangan Cheryl. "Livia," gumam gadis itu.
"Si-siapa?" Cheryl mempertanyakan ulang nama gadis bernama Livia itu. Bukan tidak mendengar, tetapi Cheryl terlalu terkejut saat mendengar nama gadis kecil tersebut.
"Livia." Livia menyebutkan ulang namanya.
Nama Livia sama dengan nama kakak perempuan Cheryl yang sudah meninggal. Sikap malu-malu gadis itu juga mengingatkan Cheryl pada mendiang sang kakak. Spontan, Cheryl langsung memeluk anak itu sambil menangis. Cheryl sangat merindukan kakak perempuan nya itu, hanya mendengar nama yang sama dengan sang kakak pun seketika mampu membuat hatinya melankolis.
***
Hari bergulir begitu begitu saja. Keysa dan Devano kembali kuliah begitupun teman-teman yang lain. Namun, sayangnya, Keysa, Devano, Cheryl, Ezra dan Disti langsung dipanggil pihak kampus begitu masuk kuliah. Mereka yang telah bolos sangat lama, langsung diberi hukuman untuk mengelilingi lapangan sebanyak 50 putaran, sedangkan yang tidak sanggup akan diberi surat peringatan.
Devano dan Ezra memilih untuk mengelilingi lapangan, sedangkan Keysa, Disti dan Cheryl sebagai perempuan ketiganya tidak akan sanggup untuk mengitari lapangan yang sangat luas sebanyak 50 kali. Mereka menyerah sebelum berperang, baru mendengar angkanya saja sudah membuat mereka ingin muntah. Ketiganya pun lebih memilih untuk mendapatkan surat peringatan.
Kabar baik setelah mereka bolos sangat lama adalah Cheryl tidak lagi mengganggu mereka. Gadis itu tampak anteng dengan dunia barunya dengan Ferro. Gadis itu tidak lagi mencampuri urusan orang lain setelah mendapatkan pawang yang tepat.
Devano dan Keysa sangat bersyukur Cheryl tidak tergila-gila lagi dengan Devano.
Sementara itu, masalah sedang menghadapi lelaki tampan satu lagi selain Devano, yakni Ezra. Lelaki itu berlari mengitari lapangan dengan pikiran yang berkelana entah ke mana. Ia teringat kepada Nindi yang tiba-tiba menghilang setelah pertemuan mereka di sebuah cafe.
Ezra dan Nindi janji untuk bertemu di sebuah cafe. Nindi yang sudah terpesona oleh Ezra sedang awal bertemu tampak antusias saat ajakannya digubris oleh Ezra. Hubungan mereka pun semenjak di acara pesta itu mengalami kemajuan yang sangat pesat, hingga gadis itu berpikir kalau Ezra juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
Nindi tampak duduk di sebuah meja menunggu kedatangan Ezra dengan senyum yang tidak pernah pudar dari wajahnya. Hari itu, setelah hubungan mereka mengalami progres yang sangat bagus, Nindi memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya.
Senyum Nindi semakin merekah saat melihat Ezra benar-benar datang ke cafe tersebut. Nindi melambaikan tangan ke arah Ezra, memberi tahukan keberadaannya.
"Maaf telat. Apa sudah lama menunggu?" tanya Ezra waktu itu.
Nindi hanya menggeleng, meskipun dirinya sudah menunggu Ezra lebih dari setengah jam. Namun, karena hatinya gembira karena akan mengungkapkan isi hatinya, Nindi tidak peduli meski harus menunggu dua jam lagi pun.
Keduanya langsung memesan makanan dan makan bersama.
"Katanya kamu mau ngomong sesuatu? Ada apa? Apa ada tempat lain yang ingin kamu datangi?" tanya Ezra. Selama Nindi di Kota B, Ezra telah menjadi tour guide yang memuaskan bagi Nindi. Ajakan Nindi untuk bertemu pun, Ezra kira untuk membahas tempat-tempat yang ingin dikunjungi Nindi lagi.
"Ada," jawab Nindi sambil memasukkan spaghetti ke mulut.
"Mau ke mana lagi?" tanya Ezra, lalu mengabsen tempat-tempat yang belum sempat didatangi Nindi bersama Ezra.
__ADS_1
"Aku ingin mendatangi hatimu," ucap Nindi tiba-tiba, yang berhasil membuat Ezra tersendat udang yang sedang dikunyah.
"Hati-hati makannya," ucap Nindi lagi, kemudian memberikan minum kepada Ezra.
Setelah meminum segelas lemon tea, Ezra menatap tajam Nindi yang sudah asyik kembali dengan makanan. "Kamu ingin berwisata kemana lagi?" Ezra mengulangi pertanyaannya lagi, yakin kalau gadis itu tadi hanya bercanda.
"Bukannya tadi kamu sudah dengar?" Nindi menyipitkan mata ke arah Ezra yang masih kebingungan.
Ezra pun menelisik ke dalam mata Nindi, mencari keseriusan di sana. Nindi gadis yang banyak berguyon membuat Ezra tidak bisa membedakan apa gadis di hadapannya itu sedang mengatakan cinta atau sedang membuat sebuah guyonan garing.
"Bercandamu tidak lucu, Nona Nindi!" sarkas Ezra lagi, dan kembali makan kembali.
Nindi menghentikan makan. Ia meletakan sumpit di atas piring. Matanya kembali menatap Ezra dengan lebih serius.
"Ez ...." panggil Nindi dengan lemah lembut memuat Ezra seketika merinding.
"Ya."
"Seandainya ada orang yang menyukaimu dan ingin menjadikanmu sebagai belahan jiwanya, apa yang akan kamu lakukan jika orang itu menyatakan cinta?" tanya Nindi.
"Menyukai adalah hak setiap orang. Aku tidak bisa memaksa orang untuk menyukai dan tidak menyukaiku. Tapi, jika orang itu ingin menjadikanku sebagai belahan jiwanya, dia juga harus tahu perasaanku. Aku menyukainya atau tidak. Jika aku menyukainya sudah pasti aku akan menerima kata-kata cinta darinya," jelas Ezra.
"Jika aku yang menyukaimu bagaimana?" tanya Nindi lagi, yang berhasil membuat Ezra tertawa terbahak-bahak. "Kenapa malah tertawa?"
"Tidak. Aneh saja, kita baru kenal beberapa minggu, tapi kamu sudah berani menyatakan suka pada seseorang. Suka dan cinta itu butuh proses yang lama. Kamu jangan bercanda," tandas Ezra.
"Aku serius. Aku menyukaimu, bahkan lebih dari sekedar suka, aku mencintaimu." Nindi mencoba mengungkapkan isi hatinya.
Mendengar ucapan Nindi seketika membuat Ezra membeku. "Bukankah kau sudah berjanji tidak akan menyukaiku? Itu adalah syarat mutlak ketika aku menerimamu sebagai teman. Tapi apa ini?" Ezra merasa dikhianati oleh gadis yang telah menjadi temannya itu.
"Apa aku tidak bisa mengendalikan perasanku? Jujur aku sudah menyukaimu sejak awal bertemu di pesta itu dan untuk bisa kenal lebih jauh denganmu aku terpaksa mengiakan syarat yang kamu berikan. Tapi, sepertinya hatiku memang sudah terlanjur jatuh hati padamu. Aku benar-benar mencintaimu, Ez. Move on, Ez! Aku akan membantumu melupakannya. Jika kamu tidak mau membuka hati untuk orang lain, bagaimana bisa kamu melupakan orang yang sudah jelas-jelas tidak mencintaimu." Nindi bicara banyak. Ia tidak tahan dengan friendzone yang sedang dialaminya. Ia tidak mau hanya menjadi sekedar teman, atau lebih baik ia mundur karena Nindi bukanlah orang yang terus suka berpura-pura tegar meski tersakiti.
"Sekarang kamu banyak bicara,ya! Mentang-mentang aku sudah menerimamu jadi teman bukan berarti kamu bisa seenaknya padaku." Ezra berbicara sinis.
"Aku hanya mengungkapkan isi hatiku. Jika itu mengganggu aku minta maaf. Aku berani mengatakan semuanya karena aku tidak ingin ada penyesalan nantinya karena tidak sempat mengungkapkan isi hatiku," ucap Nindi dengan seulas senyum yang dibuat senatural mungkin, meskipun hatinya teriris. "Sekarang aku sudah tahu jawabannya. Hatimu memang tidak akan tersentuh oleh siapapun karena kamu sendiri yang membentenginya. Terima kasih sudah menjadi teman dan tour guide yang baik. Aku pamit. Makanannya sudah aku bayar beserta semua tamu yang hadir di sini," ucap Nindi lagi, kemudian meninggalkan Ezra, tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
"Arghhh ...." Ezra mengacak-acak rambutnya sendiri saat mengingat kejadian beberapa waktu lalu dengan Nindi.
__ADS_1