
89
Cheryl memperhatikan Keysa yang tengah memperingatinya dan berpikir apa yang akan dilakukan gadis berkacamata itu.
Di waktu bersamaan, Devano berjalan ke arah mereka hendak keluar kelas. Keysa pun menghampiri Devano, lantas memegang wajah lelaki itu dan langsung menciumnya di hadapan Cheryl, membuat Cheryl dibuat mematung oleh perbuatannya. Teman sekelas yang masih ada di sana pun dibuat terkejut oleh adegan yang mereka saksikan. Sementara itu, perasaan Devano senang bercampur marah karena Keysa menciumnya hanya untuk membuat Cheryl marah.
Setelah mencium Devano, Keysa yang takut Devano berbuat macam-macam segera berbalik untuk melarikan diri. Akan tetapi, tangan Devano bergerak lebih cepat, lelaki itu dengan tangkas menangkap tangan Keysa. "Mau ke mana?" tanya Devano dengan manik yang menatap tajam Keysa.
Keysa menoleh ke arah lelaki yang mencekal pergelangan tangannya dengan senyum kikuk. "Itu ... aku ... aku—"
"Kau tahu, kau orang pertama yang berani memanfaatkanku." Devano memotong ucapan Keysa dengan tatapan yang sulit diartikan.
Melihat tatapan Devano yang sangat menusuk dan terlihat bersiap meledak, Keysa langsung meminta ampun. "Ampun! Maaf, bukan seperti itu. Aku tidak bermaksud me—"
"Mmmm ...." Tidak disangka, Devano malah menarik tangan Keysa dan membawa tubuh gadis itu mendekat. Devano lantas menangkup kedua pipi Keysa, lalu mencium bibir Keysa—membungkam Keysa yang mencoba memberi penjelasan, membuat Keysa terkejut.
Namun, keduanya pun tak ayal saling menikmati penyatuan bibir mereka. Devano melluummat dan menyesapp bibir yang sudah membuatnya ketagihan untuk menyentuhnya lagi dan lagi. Keysa sendiri, tanpa sadar matanya terpejam dan menikmati sentuhan Devano. Hingga keduanya melepaskan pagutan mereka saat mendengar suara langkah orang-orang yang meninggalkan kelas.
Dengan senyum yang tersungging, Devano mengusap bibirnya dengan tangan sambil melihat Keysa yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Sementara itu, Keysa langsung berlari kembali ke asrama sambil merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya malah menikmati ciuman mereka tanpa sadar dimana mereka berada. Namun, sejurus kemudian, Keysa menyentuh bibirnya sendiri dengan senyum tersungging mengingat ciuman lembut mereka.
Setiba di asrama, tampak Disti sudah ada di sana. Gadis yang sudah pulang terlebih dahulu itu langsung memeluk Keysa dan mengucapkan selamat karena sudah diangkat menjadi adik oleh Arsen. Membahas tentang Arsen yang mengangkat dirinya menjadi adik, membuat Keysa mengingat sesuatu. Keysa pun lantas menghubungi lelaki itu.
__ADS_1
Keysa berniat mengembalikan uang Arsen. saat panggilannya tersambung. "Kak, aku akan mentransferkan kembali uang yang tadi kamu transfer," ucap Keysa, setelah berterima kasih karena Arsen sudah membantunya.
Namun, Arsen menolak. Ia mengatakan bahwa uang itu ia berikan untuk membayar bantuan yang telah Keysa lakukan untuk Arsen dan Gabby sebelumnya. Akhirnya, Keysa pun menerima uang tersebut, tidak lupa ia juga berterima kasih.
Uang yang diberikan Arsen cukup banyak, mengingat ia masih mempunyai utang kepada Devano, Keysa lantas mentransfer sebagian uangnya kepada lelaki itu untuk melunasi utang sekaligus bunga-bunganya.
"Akhirnya, aku terbebas juga dari yang namanya utang," gumam Keysa dengan senyum yang merekah. "Dan sisanya bisa buat tabungan untuk jaga-jaga," lanjutnya sambil menjatuhkan diri ke kasur.
Baru saja bahagia sebentar, karena tidak perlu memikirkan biaya hidup yang serba mahal, tiba-tiba Kakek Surya menghubunginya dan meminta Keysa membayar biaya hidup Gabby sebesar 15 miliar.
"Oh, ya ampun. Kakek tua itu tidak akan pernah membiarkan aku untuk healing sejenak saja. Setiap aku punya uang, pasti ada saja yang harus aku bayar. Itu uang baru saja nyampe, kenapa udah harus pergi aja lagi?" rutuk Keysa begitu mendapatkan pesan dari Kakek Surya.
Mau tidak mau Keysa pun membuang gengsinya. Ia menebalkan kulit muka untuk menghubungi Devano dan meminta uangnya kembali, karena sang kakek membuat penawaran yang sulit. Jika Keysa tidak membayar sejumlah uang yang diminta Kakek Surya, maka taruhannya Gabby akan dikeluarkan dari rumah.
"Ada apa?" tanya Devano dengan suara serak khas bangun tidur begitu panggilan Keysa tersambung.
"Itu ... bolehkah uang yang barusan aku kirim kau kembalikan dulu. Setelah ini aku akan secepatnya mengembalikan lagi beserta bunga-bunganya juga," ucap Keysa to the point.
"Kapan kau akan mengembalikannya lagi?" tanya Devano.
"Secepatnya."
__ADS_1
"Kalau begitu besok bagaimana?"
"Yang benar saja. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebesar itu dalam semalam?" protes Keysa, atas permintaan Devano yang tidak masuk akal. "Tolong aku, Dev! Ini urgen." Andai saja, Kakek Surya tidak mengancam akan mengeluarkan Gabby, ia juga tidak akan meminta uang itu kembali.
"Tidak dibayar juga tidak apa-apa," tandas Devano kemudian. Lelaki itu itu membolehkan Keysa tidak membayar utangnya, tetapi dengan satu syarat yang membuat Keysa semakin tidak habis pikir dengan isi kepala Devano. "Aku akan menganggap utangmu lunas, tetapi dengan satu syarat. Satu ciuman, satu miliar," tandas Devano.
Lelaki di seberang sana meminta utang Keysa barteran dengan ciuman. Itu berarti, Keysa harus berciuman dengan Devano sebanyak lima kali.
"Bagaimana?" tanya Devano, karena Keysa tidak kunjung menjawab. "Permintaanku cukup simple atau uangnya tidak akan aku kirim lagi. Atau kau sanggup mengembalikannya lagi besok?"
Tidak ada pilihan lain yang lebih mudah. Keysa akhirnya terpaksa menyetujui persyaratan Devano karena tidak mungkin juga ia bisa mendapatkan uang 5 miliar dalam satu malam.
"Baiklah! Aku terima syarat darimu," ucap Keysa.
"Syarat yang mana?" goda Devano.
"Aku akan membayar utangku dengan ciuman," tandas Keysa dengan bibir yang mengerucut. Ia yakin kalau Devano di seberang sana pasti sedang bersorak gembira penuh kemenangan. Setelah itu panggilan mereka pun terputus dan uang itupun dikembalikan lagi oleh Devano.
***
Hari berikutnya, Keysa berencana membalas dendam kepada Liza yang sudah berani mempermalukannya di depan umum. Keysa yang sedang duduk di bangku sengaja menghalangkan kakinya saat Liza berjalan melewati bangkunya, hingga Liza pun jatuh karena tersandung kaki Keysa.
__ADS_1
Liza menatap penuh amarah kepada Keysa dan bersiap melontarkan kata-kata makian. Namun, segera diurungkannya saat melihat Devano dan Ezra masuk kelas. Gadis itu pun lebih memilih menghampiri dua lelaki itu dengan wajah yang tertindas.
"Dev, Ez, gadis itu sudah membullyku!" rengek Liza sambil menunjuk ke arah Keysa.