
"Permainan biasa begitu disebut bagus. Bagus dari mananya, coba?" ucap Alea dengan sangat sinis.
Reno yang baru saja menangkap semua pisau yang tertuju padanya mendengar yang diucapkan Alea, membuat dirinya ingin menunjukkan kemampuannya lagi hingga membuat Alea terpukau.
"Terima kasih. Apa masih ada yang ingin melihat aksiku yang lain?" tanya Reno kepada para mahasiswa dengan ekor mata melirik Alea sekilas.
Semua orang mengiakan, kecuali Alea yang malah berdecih.
"Baik karena lebih banyak yang mau daripada yang menolak, maka seperti keinginan kalian, aku akan bermain lagi." Reno berujar, kemudian bermain sekali lagi.
Tepuk tangan menemani aksi Reno yang semakin memukau. Kali ini, lelaki itu menutup mata dan kembali menampilkan aksinya dengan memainkan pisau serta menangkap pisau-pisau yang tertuju padanya hanya dengan bermodalkan indra pendengaran.
Melihat penampilan Reno yang tidak memiliki celah untuk dihina membuat kemarahan Alea semakin menjadi. Ia masih kesal kepada lelaki itu meskipun hanya karena masalah sepele. Reno bersikap acuh dan seperti orang tidak mengenalnya, padahal waktu itu jelas-jelas Reno sangat baik dan memperhatikannya.
"Aku membencimu. Aku tidak suka dengan apapun yang kamu tampilkan," tandas Alea, kemudian memilih pergi meninggalkan acara api unggun.
Indera pendengaran Reno yang tajam membuatnya bisa mendengar dengan jelas ucapan Alea. Reno langsung membuka mata, dan melihat gadis itu sudah tidak ada tempat. Reno menghentikan permainannya. "Permainannya cukup sampai di sini saja. Aku permisi dan silakan dilanjutkan!" tandasnya, kemudian pergi mencari Alea.
Sementara itu, Keysa merasa kegerahan karena terlalu dekat dengan sumber api. Ia lantas mengajak Devano untuk meninggalkan tempat api unggun.
"Dev, aku gerah! Antar aku ke bilik, yuk! Aku mo mandi. Gerah." Keysa mengajak Devano untuk pergi ke bilik sumur yang berada cukup jauh dari tenda dan api unggun.
"Mau mandi malam-malam?" Devano menyipitkan matanya menatap Keysa. Tidak habis pikir kalau kekasihnya ingin mandi malam-malam, padahal cuaca tidak terlalu panas malah cenderung dingin.
__ADS_1
Keysa mengangguk. Mereka sudah berada di depan tenda milik Keysa. Setelah menyuruh Devano untuk menunggu, Keysa masuk ke tenda dan mengambil perlengkapan mandi, kemudian pergi ke sumur dengan diantar oleh Devano.
"Kamu tunggu dan jagain dari sini saja," ucap Keysa, begitu keduanya sampai di sumur yang hanya dihalangi sekat berbentuk bilik anyaman bambu tanpa ada atap. Ia mengajak Devano supaya lelaki itu bisa menjaganya jika ada orang yang iseng atau hewan buas lewat.
Devano mengangguk. Keysa pun berjalan menuju pintu bilik, hingga tiba-tiba langkahnya terhenti saat Devano kembali menariknya.
"A–" Keysa yang tidak terima asal ditarik oleh Devano langsung mengangkat mulut hendak protes, tetapi dengan cepat dibekap oleh Devano.
"Diamlah! Apa kamu tidak mendengar sesuatu," bisik Devano dengan tangan yang masih menutup mulut Keysa, kemudian menurunkan tangannya secara perlahan.
Keysa memutar bola matanya menatap Devano, saat mendengar suara dari bilik sumur. Indra pendengarannya sudah ternoda oleh suara ******* dan lenguhan dari dalam bilik.
"Anjrit itu suara apa?" pekik Keysa, refleks.
Untung sudah bersembunyi, orang di dalam bilik ternyata mendengar pekikan Keysa. Membuat lelaki yang ada di sana melengo ke arah tempat Keysa dan Devano sebelumnya berdiri.
"Ada apa, Beb?" tanya seorang wanita yang ada di dalam.
"Aku seperti mendengar orang, tapi tidak ada siapa-siapa," ucapnya dengan mata masih mengedar mencari Devano dan Keysa.
"Mungkin hanya pendengaranmu saja. Kita lanjut lagi, ya, sebentar lagi acara api unggun selesai, tapi kita belum menyelesaikan kegiatan kita."
Devano dan Keysa mendengarkan percakapan mereka dari balik semak dekat bilik. Keduanya pun hanya bisa menuliskan telinga mereka saat dua orang di bilik itu kembali melanjutkan hubungan di sana.
__ADS_1
"Kita pergi saja. Aku bisa mual mendengar racauan orang-orang gila itu. Berhubungan badan kok di sumur hutan, sih, ditonton setan baru tahu rasa." Keysa mengomeli ulah dua orang tidak berakhlak di balik bilik sumur.
"Tapi, bagaimana kalau kita ketahuan?"
"Enggak bakal. Mereka lagi asyik dengan dunia mereka. Daripada hidupmu kembang kempis karena ulah mereka, mendingan kita ketahuan saja," tandas Keysa, lalu pergi.
Devano dan Keysa pun memilih kembali bergabung dengan anggota yang lain yang masih duduk sambil mengitari api unggun. "Sepertinya di sini jauh lebih baik daripada di sumur. Aku bisa panas dingin sampai pagi kalau terus di sana," ucap Keysa lagi, yang hanya dijawab senyuman Devano.
Bohong kalau Devano tidak terangsang mendengar suara aneh tadi. Ia bahkan sampai membayangkan bagaimana kalau dirinya dan Keysa melakukan hal semacam itu.
***
Keesokan harinya ....
Seluruh anggota pecinta alam naik ke puncak gunung. Mereka sangat antusias saat melihat pemandangan indah dari atas ketinggian.
Berada di puncak dengan pinggirnya jurang membuat Cheryl yang juga ikut acara itu berencana untuk mencelakai Keysa. Gadis itu berniat untuk mendorong Keysa.
Cheryl berjalan mendekat ke arah Keysa yang sedang berada di pinggir jurang sambil menikmati pemandangan yang sangat menakjubkan. Setelah sangat dekat, Cheryl mengangkat kedua tangan bersiap mendorong gadis yang sedang membelakanginya.
"Kau sedang apa?" tanya Reno, tiba-tiba dengan wajah datar dan dingin, membuat Cheryl tersentak.
Sementar itu, Keysa dan Devano menoleh ke arah Cheryl. Devano yang berada agak jauh dari Keysa pun langsung menarik Keysa ke sisinya dan menjauhi jurang. Ia menatap tajam gadis yang terlihat sangat santai itu. Namun, Devano sangat yakin kalau Cheryl pasti sedang merencanakan sesuatu untuk Keysa.
__ADS_1
"Tidak sedang apa-apa. Hanya sedang menikmati pemandangan yang sangat indah itu," ucap Cheryl, tanpa rasa bersalah. Ia menunjuk hamparan kota yang terlihat dari tempatnya berdiri, yang pemandangannya memang sangat indah dan menakjubkan.