
"Apa kamu sudah makan?" Satu kalimat lolos dari mulut Exel saat Disti dengan telaten menyuapinya.
Keduanya berada di ruang makan dengan Exel yang masih duduk di kursi roda.
"Hah?" Pertanyaan Exel berhasil membuat Disti tersentak. Bukan tidak mendengar, tetapi Disti merasa agak aneh mendapat perlakuan dari Exel yang akhir-akhir ini jauh lebih baik. Sejurus kemudian, Disti menggeleng pelan.
Tindakan selanjutnya sungguh diluar dugaan Disti. Disti yang sedang memegang sendok, hendak menyuapi Exel lagi, tiba-tiba tangannya di pegang Exel. Lelaki itu mengambil sendok yang ada di tangan Disti, kemudian menyuapi Disti.
"Aaaa ...." Exel menyuruh Disti untuk membuka mulut. "Perutmu juga harus diisi. Jangan hanya memikirkan orang lain!" ucap Exel, dengan makanan sudah mendarat sempurna di mulut.
'Apa aku sedang bermimpi?' Disti bergumam dalam hati. Ia masih mengira perbuatan Exel barusan itu bukanlah kenyataan. Disti mencubit tangannya sendiri untuk menyadarkan dari mimpi itu. Meskipun mimpinya sangat indah, tetapi saat terbangun akan terasa sakit jika kenyataan tidak sesuai harapan.
Namun, tindakan Exel semakin diluar nalar Disti membuat jantung Disti seperti akan keluar dari tempatnya. "Apa kamu tidak waras? Bagaimana bisa melukai dirimu sendiri?" Exel mengusap lembut sisi tangan Disti yang tadi dicubit. "Apa masih sakit?" tanya Exel lagi, sambil meniup punggung tangan Disti.
Embusan napas terasa begitu lembut menerpa kulit. 'Ini bukan mimpi, ini kenyataan.' Disti bergumam dalam hati, seketika dalam tubuhnya tiba-tiba terasa banyak kupu-kupu yang berterbangan mendapati semuanya bukanlah mimpi.
"Apa masih sakit?" tanya Exel lagi, dan dijawab gelengan Disti. "Jangan melukai diri sendiri lagi," lanjut Exel. Wajahnya memperlihatkan sikap tidak suka atas perbuatan Disti yang melukai diri sendiri.
Disti hanya mengangguk. Ia yang terlanjur bahagia mendapat perlakuan istimewa dari orang yang sangat dicintainya, membuat Disti seketika blank dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Makan yang banyak, agar tubuhmu tidak kurus kering begini." Exel kembali menyuapi Disti dengan sedikit omelan karena Disti yang lebih kurusan.
"Kenapa jadi kamu yang menyuapi aku? Kamu yang sedang sakit, harusnya aku yang nyuapin kamu," tutur Disti kemudian. Pipinya sudah seperti tomat merah karena mendapat perlakuan tidak disangka-sangka dari Exel.
"Kakiku yang sakit, tanganku tidak," jawab Exel dengan entengnya.
Akhirnya, keduanya pun makan bersama dengan saling menyuapi. Disti sangat berharap suasana seperti ini tidak cepat berlalu. Mengingat perangai Exel yang sangat buruk masih ada ketakutan lelaki itu kembali kasar. Andai, ia bisa menghentikan waktu, Disti akan menghentikannya. Ia ingin menikmati lebih lama sikap manis Exel.
__ADS_1
Sementara itu, Di asrama, Keysa sedang membaca komik keluaran terbaru. Tiba-tiba ponselnya berdering dan menampilkan nama Nindi tertera di layar ponsel.
"Ada apa Nin?" Keysa menerima panggilan tersebut.
Sahabatnya di seberang sana terdengar menanyakan kabar sebagai basa-basi. "Key, apa Ezra pernah mencari tahu tentangku atau menanyakan kepergianku yang tidak ada kabar gitu?" Setelah bicara ke sana kemari, Nindi menanyakan perihal Ezra yang selalu membuat gadis itu tidak bisa tidur.
"Dia tidak pernah bertanya apapun tentangmu," jawab Keysa sejujurnya.
"Ah, dasar lelaki tidak peka. Ternyata sikap dinginnya tidak jauh dari Devano." Nindi langsung menggerutu atas sikap Ezra, padahal ia sangat berharap lelaki itu mengejarnya setelah waktu itu.
"Mereka satu frekuensi karena satu geng, tapi parahan Devano sih menurutku. Ezra gak dingin, kok, mungkin kamu kurang greget mendekatinya," timpal Keysa.
"Oh, My God!" Tiba-tiba terdengar teriakan Nindi dari seberang sana, kemudian berbicara ngelantur tidak nyambung dengan pembahasan awal.
"Nin, are you oke? Kenapa jadi gak nyambung kaya gini?" tanya Keysa, heran.
Keysa mengembuskan napas kasar saat mendengar penuturan Nindi, tetapi ia juga tidak bisa menyalahkan sahabatnya itu. "Tenanglah tidak apa-apa. Sekarang kamu matikan saja panggilan kita, kemudian hapus riwayat panggilan kita. Jika dia nanya bilang aja kamu habis nelpon orang lain," jelas Keysa, yang langsung disetujui Nindi. Sejurus kemudian, panggilan pun berakhir.
Di Ibu Kota, Nindi segera menghapus riwayat panggilan dengan Keysa. Ia juga berusaha bersikap tenang. Dilihatnya, Zian sedang berjalan ke arahnya, Nindi yang sedang duduk di perpustakaan langsung meraih buku—berpura-pura membaca.
"Mana ponselmu!" ucap Zian to the point, begitu sampai di kursi Nindi.
"Ponsel?"
"Iya, ponsel. Kamu baru saja habis menelpon Keysa, kan?" tanya Zian penuh selidik.
Nindi menggeleng. "Tidak. Aku habis telponan sama temanku yang di luar negri," elak Nindi, berbohong.
__ADS_1
"Bohong. Aku dengar sendiri kamu menyebut nama Key," seloroh Zian lagi.
"Key yang kumaksud tadi bukan Keysa, tapi Keyla temanku yang kuliah di Swiss," timpal Nindi, meyakinkan.
"Bohong! Sini ponselmu!" Zian tetap tidak percaya dan meminta Nindi memberikan ponselnya.
Nindi mengembuskan napas kasar. Mau tidak mau, Nindi memberikan ponselnya. "Tidak ada apa-apa, kan? Hanya ada panggilanku dengan Keyla saja," seloroh Nindi, setelah Zian tidak mendapatkan apa yang dicarinya.
Zian memberikan kembali ponsel Nindi, kemudian pergi begitu saja. Nindi yang melihat kepergian Zian langsung mengelus dada. Untung saja dirinya juga memiliki teman bernama Keyla dan bisa dijadikan tameng sementara.
***
Setelah percakapan di telepon dengan Keysa waktu itu, Nindi memutuskan untuk menyusul Keysa ke kota B. Ia masih ingin berjuang untuk mendapatkan lelaki yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak di Ibu Kota.
"Key, aku ingin mengajak Ezra keluar, jalan-jalan atau hangout bareng kayak dulu lagi," ucap Nindi, saat keduanya berada di hotel—tempat Nindi menginap.
"Tinggal jalan-jalan aja apa susahnya?" Keysa yang sedang sibuk dengan media sosial menjawab sekenanya, hingga akhirnya sebuah bantal mendarat di kepala. "Ish, sakit tahu!" rutuk Keysa, kemudian melempar balik bantal kepada Nindi. Namun, dengan cepat, tangan Nindi menangkap bantal itu.
"Kamu sih ngomong gurih banget. Kan kamu sendiri juga tahu, kemarin-kemarin aku ditolak Ezra. Iya kali langsung ajak maen lagi begitu saja. Malu lah! Kasih cara yang elegan dikit. Biar gak keliatan ngarep banget sama si Ezra," seloroh Nindi. "Gimana kalau kamu minta bantuan sama Devano? Kalau kamu yang minta pasti Devano mengabulkan," lanjut Nindi, mencetuskan ide yang lebih masuk di akal.
"Idemu tidak buruk juga," jawab Keysa, masih sibuk dengan pekerjaannya di medsos.
"Kalau ideku gak buruk, cepetan hubungi Devano!" Nindi dibuat kesal sendiri karena Keysa yang masih sibuk dengan dunianya sendiri.
Keysa menoleh ke arah gadis yang duduk di sampingnya dengan wajah yang cemberut. Keysa memamerkan rentetan gigi putihnya, seraya mengangkat dua jarinya membentuk huruf 'v'. "Maaf, ada sedikit kerjaan. Aku hubungi Devano sekarang, ya!" Keysa menjuwel pipi Nindi, kemudian menghubungi Devano.
"Udah, tinggal nunggu orangnya datang."
__ADS_1