
Berhadapan dengan orang-orang saiko benar-benar membuat Devano mendidih. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang itu, setelah memaksa Keysa untuk menari sambil telanjang, sekarang berganti pada Devano yang disuruh membuka semua pakaian yang dikenakan.
"Jangan aneh-aneh, Bedebah! Aku tidak akan melakukan hal konyol seperti itu." Devano menolak permintaan lelaki beringas itu.
"Kalau begitu kekasihmu yang mati," tandasnya dengan sangat santai, seolah-olah melenyapkan manusia itu seperti menginjak dan menggilas semut–langsung mati seketika.
Bersamaan dengan ucapan bos mereka, pistol yang tadi menghadang kepala Devano berubah tempat menjadi menghadang Keysa.
"Sekarang kau yang akan menentukan. Kekasihmu mati atau telanjang," lanjutnya, berseringai.
"Kau!!!" Devano menatap tajam ke arah lelaki itu dengan tangan yang mengepal sempurna. Ia benar-benar dibuat geram.
"Jangan coba-coba membantah atau anak buahku akan menarik pelatuknya dan bisa dipastikan peluru akan bersarang di kepala kekasihmu," tandasnya lagi. "Lepas pakaianmu atau kekasihmu mati!"
Devano dihadapkan pada keputusan yang sulit. Harga diri dan keselamatan Keysa dipertaruhkan. Sementara bagi si Berandal, ini adalah momen tepat untuk balas dendam dan mempermalukan Devano. Kelemahan Devano adalah Keysa. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga tersebut.
Meskipun kesempatan bagus, tetapi kesempatan itu tidak sedang berpihak kepada mereka. Tiba-tiba pintu diterobos oleh ayah Devano bersama anak buahnya. Damar menyerah dan anak buah menyerang para penjahat tersebut.
Devano pun langsung menghajar lelaki yang beberapa saat lalu berada di atas angin. "Cari tempat aman!" perintah Devano kepada Keysa dengan tangan dan kaki adu ketangkasan dengan si penjahat.
Keysa mengangguk, hendak pergi, tetapi pertarungan dua kubu di ruangan itu membuat Keysa susah bergerak. Keysa bersembunyi di belakang sofa, mendengarkan baku hantam antara Devano beserta Damar dan anak buahnya yang melawan para berandalan yang ternyata bukan berandal biasa, mereka penjahat kelas kakap musuh Devano dan keluarga.
__ADS_1
Akhirnya, musuh pun kalah telak. Mereka terkapar di ruangan itu dengan tubuh mereka yang dipenuhi luka, bahkan ada yang tidak sadarkan diri. Damar pun terluka cukup parah di bagian perut karena terkena tusukan lawan.
Tiba-tiba si Pirang yang sudah tidak berdaya mengambil pistol di tangan anak buahnya, kemudian mengarahkannya kepada Damar yang sedang menahan sakit. Untung saja Devano melihat pergerakan lelaki itu, dengan cepat ia mendekati lelaki tersebut dan menendang tangan yang memegang pistol hingga pistol itu terjatuh, kemudian memberikan pukulan maut hingga pingsan.
"Dadd, apa tidak apa-apa?" Devano menghampiri Damar.
"Tidak apa-apa apanya? Matamu buta hah?" Damar dibuat kesal oleh pertanyaan konyol sang anak, padahal sudah jelas bajunya putihnya telah berubah merah di bagian perut, bahkan hampir ditembak mati. "Antar aku ke rumah sakit!" pinta Damar kepada anak buahnya. "Urus wanita tidak berguna itu!" lanjutnya kepada Devano.
Damar menatap tajam Keysa yang baru keluar dari persembunyian setelah tidak mendengar suara baku hantam. Lelaki melihat Keysa dengan wajah tidak suka. Ia yang sejak awal tidak menyukai Keysa pun semakin membenci Keysa setelah tahu Devano dalam keadaan bahaya karena menolong Keysa. Tanpa mengucapkan apapun lagi, Damar pun pergi dipapah oleh anak buahnya.
Setelah kepergian Damar, Devano menghampiri Keysa dan mengajaknya pergi dari tempat itu, sedangkan para lawan yang terkapar dibereskan oleh anak buahnya.
"Minumlah!" Mereka sudah berada di dalam mobil. Devano langsung menyodorkan minum kepada Keysa yang masih terlihat linglung dan langsung diteguk Keysa.
Keysa tidak menjawab. Ia meneguk sebotol air mineral yang diberikan Devano itu sampai habis, kemudian menghela napas panjang dan membuangnya secara kasar. Menetralkan perasaannya yang campur aduk.
"Mereka mengerikan sekali," gumam Keysa, dengan suara yang masih sedikit bergetar. Bohong kalau Keysa tidak syok dengan apa yang baru saja terjadi. Jika ayah Devano tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi pada mereka.
"Tenanglah! Yang penting kita sudah aman." Devano menenangkan Keysa dan menghibur gadis yang masih terlihat syok dan ketakutan.
Setelah lebih tenang, Devano membawa Keysa pulang ke rumahnya. Menyuruh kekasihnya itu untuk tidur di rumah yang dekat dengan sekolah, kemudian pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Damar.
__ADS_1
Menjelang tengah malam, Devano pulang dari rumah sakit. Pikirannya yang bercabang, juga memikirkan keadaan Keysa, membuat Devano memilih untuk pulang dan menemani Keysa.
Di rumah, Keysa yang masih sendirian di rumah Devano, teringat kepada anak buah sang kakek. Orang itu tiba-tiba menghilang entah ke mana dan tidak menolongnya dalam keadaan sulit. "Mungkinkah semuanya sudah direncanakan sejak awal? Jika iya, bisa jadi mereka telah dilumpuhkan terlebih dahulu. Lalu bagaimana keadaan mereka?"
Keysa yang tidak lepas dari pengawasan anak buah sang kakek teringat pada mereka, kemudian menghubungi Kakek Surya untuk menanyakan keadaan mereka.
"Sepertinya mereka memang sengaja melakukan semua itu. Mereka tahu kalau kamu tidak sendirian, sebelum menjauhkan teman-temanmu, mereka melumpuhkan dulu anak buah kakek."
Setelah panggilan terhubung dan menanyakan keadaan Keysa, Kakek Surya menjelaskan bahwa yang terjadi sudah direncanakan dengan matang oleh si penjahat. Selain menjauhkan Disti dan Alea, mereka juga melumpuhkan pelindung Keysa. Mereka dibuat tidak sadarkan diri dan tersadar saat klub sudah berantakan dan sudah tidak ada siapa-siapa.
"Tapi mereka benar-benar tidak apa, kan?" tanya Keysa, meyakinkan.
"Mereka sudah baik-baik saja, bahkan sekarang mereka sedang mencarimu. Sekarang kamu ada di mana?" Kakek menimpali.
Keysa bernapas lega setelah mendengar anak buah kakeknya baik-baik saja. Ia memberitahu bahwa dirinya berada di rumah Devano, kemudian menceritakan tentang keberanian Devano yang telah menolongnya.
Mendengar sikap heroik Devano yang telah menolong cucu kesayangannya. Kakek Surya yang masih mendengarkan Keysa bercerita tentang Devano yang rela menolong membuat rasa sukanya terhadap Devano bertambah. Ia mulai yakin kalau lelaki itu, lelaki yang tepat untuk Keysa.
"Dia telah membuktikan kalau dia benar-benar mencintaimu. Kakek setuju jika hubungan masuk ke tahap lebih serius." Kakek mengucapkan hal yang menguntungkan Devano. Merestui hubungan mereka, bahkan Kakek meminta Keysa untuk segera melaksanakan ikatan suci agar ada orang yang setiap saat dan setiap waktu melindungi Keysa tanpa jarak.
Andai saja Devano sudah pulang dan mendengar ucapan Kakek Surya, pasti lelaki itu sudah koprol saking bahagianya. Namun, jawaban yang diberikan Keysa kepada sang kakek, jika terdengar oleh Devano pasti akan sangat menyakitkan. Setelah di bawa terbang tinggi, seketika diterjun bebaskan hingga ke dasar.
__ADS_1
"Aku belum siap untuk sampai ke tahap itu, Kek. Aku masih harus menyelesaikan kuliahku," jawab Keysa, seraya menggigit bibir bawahnya.