
52
Setelah tes psikologis yang diadakan oleh anggota senat dengan pura-pura adanya barang yang hilang untuk mengukur kepribadian dan kemampuan para calon ketua senat. Mereka pun memutuskan, jika ketiga orang yang terus mengganggu Keysa tidak lolos. Hanya Devano dan Keysa yang lolos ke tahap berikutnya.
Tes pun selesai dan semua calon yang lolos dan yang tidak lolos dipersilakan untuk pulang. Ketiga mahasiswa itu tidak terima dengan keputusan yang didapat mereka dan mencoba protes kepada anggota senat, tetapi keputusan anggota senat tidak bisa diganggu gugat. Sementara itu, Devano yang sudah ditetapkan lolos memilih keluar dari ruangan tersebut.
"Ikut aku! Aku ingin bicara." Setelah mendengar keputusan anggota senat, Devano menarik Keysa keluar ruangan tersebut.
"Bicara apa?" tanya gadis yang tangannya sudah ditarik paksa oleh Devano. 'Apa dia mau menyuruhku mundur dari pemilihan ketua senat?' pikir Keysa.
Devano tidak menjawab. Ia terus menggenggam tangan Keysa, membawa gadis itu menjauh dari ruangan senat dan mencari tempat yang sedikit sepi.
"Kau mau membawaku ke mana?" tanya Keysa, saat mendapati mereka sudah berjalan cukup jauh dari ruang senat, tetapi Devano tidak kunjung bicara. "Dev, kau mau bawa ke mana? Apa yang ingin kau bicarakan?" ulang Keysa sambil melepaskan kasar tangan yang dipegang Devano. Ia mulai kesal karena Devano tidak kunjung bicara. "Kalau tidak ada yang dibicarakan, aku mau pulang saja," tandasnya, lalu putar balik karena jalan yang dilalui mereka saat ini bukanlah jalan menuju keluar kampus.
Namun, dengan segera Devano menghentikan langkah Keysa. "Sudah aku bilang, aku ingin bicara denganmu," ucap Devano, mencekal tangan Keysa lagi.
"Dari tadi kita hanya berjalan, tidak ada yang keluar dari mulutmu."
Devano pun hanya tersenyum kikuk saat melihat ke sekitar dan menyadari keduanya sudah berjalan cukup jauh. Pantas saja wajah Keysa sudah berubah kesal. "Kenapa kau bersikeras ingin menjadi ketua senat?" tanya Devano kemudian.
"Demi ayahku," jawab Keysa, singkat.
Devano sangat kaget mendengar jawaban Keysa karena alasan mereka sama. 'Kok, bisa samaan?'
"Kau tahu? Ayahku itu adalah ketua senat yang ke 58. Dia adalah orang yang hebat dan aku pun pasti bisa seperti dia." Dengan bangga, Keysa memberitahukan identitas tentang ayahnya. Senyum pun tertampil di wajah Keysa, mengingat cerita betapa hebat dan gagahnya sang ayah saat itu.
Lain halnya dengan Devano, lelaki itu semakin terkejut dengan penuturan gadis berkacamata di hadapannya. Ia tidak menyangka ayah Keysa adalah orang yang dibenci oleh ayahnya sendiri.
__ADS_1
"Key sebaiknya kau—"
"Jika kau ingin aku mundur dari pencalonan ketua senat. Aku jawab dari sekarang, aku tidak akan mundur," ujar Keysa dengan sangat tegas.
Devano membuang napas kasar. Ia yang hendak memperingati saja malah langsung dipotong oleh Keysa yang menganggap dirinya akan meminta gadis itu mengundurkan diri. "Memang siapa yang mau menyuruhmu mengundurkan diri?" ucap Devano sambil menyentil kening Keysa.
"Kamu," jawab Keysa sambil mengusap kening yang terasa sedikit sakit.
"Dasar so tahu." Devano hendak menyentil kembali kening Keysa, tetapi dengan cepat Keysa menghindar. "Aku tidak pernah bahkan tidak ada niatan untuk memintamu mengundurkan diri. Aku hanya ingin menyarankan, jangan sampai kau memberitahu kepada orang lain tentang ayahmu itu!" lanjut Devano dengan serius.
"Kenapa aku tidak boleh memberitahu yang lain?" tanya Keysa sembari menyipitkan sebelah matanya.
"Karena ayahmu terkenal sangat tegas dan sempurna, sehingga banyak orang yang dendam kepadanya," jelas Devano.
"Tapi, itukan dulu. Aku rasa tidak akan ada yang ingat akan hal itu sekarang," imbuh Keysa. Ia merasa kejadian masa lalu yang menyangkut ayahnya sudah lama terjadi dan besar kemungkinan tidak akan ada yang ingat akan hal itu.
Keysa menatap dari ujung kepala sampai kaki lelaki yang menyebut dirinya sebagai keturunan musuh sang ayah. "Lalu kenapa kamu dengan baik hati malah memberitahuku tentang ini? Bukankah ini kesempatan bagus untuk kalian para keturunan yang memusuhi ayahku jika ingin membalas dendam lewat diriku? Bukannya memberitahu sekutumu, mengapa kamu malah memberitahuku?" tanya Keysa penuh selidik.
"Kau ini, ya ...." Devano yang mendengar ucapan Keysa langsung memelototinya. Gadis itu yang lagi-lagi malah membuatnya kesal.
"Apa aku salah bicara lagi?" tanya Keysa dengan polos.
"Bisa gak sih, kau itu tidak selalu berburuk sangka padaku? Dengarkan saja kata-kataku! Itu juga demi kebaikanmu."
Keduanya pun mulai adu mulut kembali karena Keysa yang malah menggoda Devano, seakan-akan ia tidak percaya pada ucapan lelaki itu. Meskipun sebenarnya, sejak di ruangan senat tepatnya saat tes psikologis, sejak itu pandangan Keysa terhadap Devano mulai berubah.
"Iya, baik, Tuan Devano yang terhormat, aku akan selalu mengingat kata-katamu. Terima kasih sudah mengingatkan," ujar Keysa di akhir perdebatan mereka. "Udah, ah, aku mo balik ke kelas ngambil tas," lanjut Keysa.
__ADS_1
"Memang kau doang yang mau ke kelas? Aku juga," timpal Devano yang dengan cepat mendahului langkah Keysa.
Keduanya pun berjalan menuju kelas. Namun, baru beberapa langkah Keysa melihat seseorang yang dikenalnya. Dengan cepat gadis itu pun menarik Devano yang membuat Devano langsung mendelik ke arah Keysa.
"Ngapain tarik-tarik?" Devano masih kesal kepada Keysa yang malah menganggap kekhawatirannya sebagai lelucon.
"Galak amat! Sebenarnya aku tuh cuma mau beritahu kamu info penting tentang gadis yang diidam-idamkan Ezra. Tapi, kalau gak mau ya sudah," tandas Keysa sembari melepaskan genggaman tangannya, pura-pura merajuk.
"Kamu tahu sesuatu tentang Faya?" tanya Devano yang dijawab anggukan pasti Keysa. "Apa yang kamu ketahui tentang gadis itu?" Sekarang giliran Devano yang dibuat penasaran.
"Aku akan memberitahu semuanya, tapi dengan satu syarat kamu tidak boleh bicara selama lima menit," ucap Keysa yang dijawab pelototan Devano. "Ya, sudah kalau tidak mau. Aku beritahu langsung sama Ezra saja," lanjut Keysa, yang akhirnya membuat Devano menyanggupi permintaannya.
Baru saja mereka selesai bernegosiasi, tiba-tiba seorang gadis berambut pirang dengan barang-barang branded yang menempel di tubuhnya muncul. Devano pun mulai menyadari kalau ia sudah masuk perangkap gadis yang mengerjainya.
'Sepertinya ada udang di balik batu dari tantangan yang dia berikan.' Devano menatap sekilas ke arah Keysa.
Cheryl menghampiri dan menyapa Devano. Ia mengajak lelaki itu berbicara, tetapi Devano yang terlanjur menerima tantangan tak kunjung menjawab.
"Devano sedang tidak mau berbicara dengan gadis manja sepertimu," ujar Keysa yang menyaksikan Cheryl terus berbicara kepada lelaki yang sedang diam seribu bahasa. "Mendingan kamu pergi sana! Dia itu sudah tidak peduli denganmu meskipun kamu merengek-rengek nangis bombay sekalipun." Keysa semakin memanas-manasi Cheryl.
"Eh, Gadis jelek mendingan situ yang pergi! Sana pergi!" Tidak terima dengan ucapan Keysa, Cheryl pun kembali merendahkan Keysa. Bahkan, Cheryl dengan lantang menyebut Keysa wanita murahan yang mata duitan, lalu mengusirnya.
Sementara itu, Devano masih diam mendengar perdebatan dua gadis di hadapannya. Waktu taruhannya hanya tinggal sedikit dan ia tidak mau berhenti di tengah jalan. Keysa yang juga melihat waktu Devano hampir habis, langsung meraih merangkul lengan Devano.
"Kenapa aku harus pergi? Seharusnya kamu yang pergi. Kamu tidak boleh mengganggu Devano lagi karena mulai sekarang kami sudah resmi pacaran," ucap Keysa berbohong.
"Jangan ngaku-ngaku! Dev, kamu tidak pacaran dengan gadis jelek ini, kan? Dia cuma mengada-ngada, 'kan?" Cheryl tidak percaya begitu saja, sebelum mendengar langsung dari mulut Devano.
__ADS_1
Happy reading, Kak. Maaf, kemarin tidak up, othor-nya lagi kurang enak badan. Insyaallah sebagai gantinya hari ini double up.