
Hari telah berganti. Keysa kembali pergi kuliah. Namun, entah mengapa tubuh Keysa tidak bisa diajak kompromi. Sejak sampai kelas yang dilakukan Keysa hanya duduk. Kepalanya diletakkan di atas meja dengan tangan kanan sebagai bantalan. Wajah Keysa sangat pucat dengan seluruh tubuh yang terasa sakit semua.
"Key, apa kamu sakit?" Devano yang baru datang ke kelas dibuat khawatir saat melihat Keysa yang tampak tidak berdaya dengan wajah yang sangat pucat.
"Hanya sedikit tidak enak badan," jawab Keysa dengan nada pelan.
"Kita ke tempat kesehatan, yuk!"
Devano mengajak sang kekasih untuk berobat di tempat kesehatan yang disediakan kampus. Namun, Keysa menolak dan memilih istirahat di kelas.
Tiba-tiba Keysa meringis saat perutnya terasa melilit dengan rasa sakit yang menjalar sampai ke pinggang. Keysa memegangi perutnya yang sakitnya luar biasa itu. Devano yang melihat Keysa meringis kesakitan pun memaksa Keysa untuk pergi ke unik kesehatan kampus, tetapi tetap ditolak Keysa. Hingga tiba-tiba, Keysa dikejutkan saat merasakan ada sesuatu yang terasa hangat keluar dari area mahkotanya berbarengan dengan perutnya mulai kram.
"Ya ampun, sepertinya aku datang bulan," gumam Keysa dalam hati, lantas meraih ponsel dan melihat tanggal. "Ish, kenapa bisa lupa?" Keysa merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya lupa dengan masa menstruasinya sendiri. Ia tidak memiliki persiapan sama sekali.
"Apanya yang lupa?" tanya Devano.
"Perutku sakit," ucap Keysa, seraya memegangi perut.
"Kan, sudah aku katakan, kita ke UKK. Atau kita langsung ke klinik saja?" tandas Devano, mulai khawatir ketika Keysa mengeluh sakit. Namun, Keysa tetap menolak. "Sepertinya kamu lebih suka dipaksa." Devano bersiap untuk menggendong Keysa.
Dengan cepat, Keysa menghalau tangan yang hendak menggendongnya itu. "Aku tidak butuh dokter." Keysa memegang tangan Devano, mencegah. "Tapi, kalau kamu mau bantu, bolehkah belikan aku pembalut," lanjutnya, malu-malu.
"What?" Devano yang mendengar penuturan Keysa langsung melotot sempurna.
"Aku sakit karena datang bulan, tapi aku lupa tidak bawa persiapan. Sepertinya sudah bocor sampai rok, kalau boleh tolong sama pakaiannya sekalian." Keysa mencoba menjelaskan keadaannya.
__ADS_1
Devano membuang napas kasar saat mendengar penuturan Keysa, tetapi tak ayal mengiakan permintaan Keysa. "Tunggu, aku akan belikan," ucap Devano, yang dijawab anggukan Keysa, lalu pergi.
Setelah kepergian Devano, Keysa juga beranjak dari tempat duduknya. Ia memeriksa rok bagian belakang. Benar saja noda merah sudah membentuk lingkaran di rok peach selututnya. Tidak mungkin menunggu Devano dengan keadaan seperti itu di kelas, Keysa pun memilih menunggu Devano di toilet. Keysa meninggalkan kelas dengan tas yang sengaja diselempangkan ke belakang untuk menutupi noda di rok sebelum orang-orang menyadari keadaannya.
Setiba di toilet, Keysa langsung masuk ke salah satu bilik. Saat menunggu Keysa mendengar beberapa orang gadis sedang bergosip di depan.
"Kalian ingat kejadian waktu acara mapala kemarin? Padahal acaranya belum selesai, tapi harus pulang gara-gara ada tragedi digigit ular." Para penggosip itu ternyata orang-orang yang ikut mapala dengan Keysa. Keysa tidak bermaksud menguping, tetapi perkataan mereka cukup keras dan terdengar olehnya yang masih berada di salah satu bilik.
"Iya, sayang banget. Padahal aku masih ingin bersama-sama dengan para instruktur yang kece-kece badai itu." Gadis lain terdengar menimpali.
"Semua ini gara-gara penggemar Cheryl. Mereka itu keterlaluan. Kagum sih kagum tapi ya jangan kebangetan gitu. Mentang-mentang idolanya tidak suka sama Keysa, mereka juga ikut membenci, malah berniat mencelakai Keysa."
"Atau mungkin semua itu memang rencana Cheryl. Dia kan benci sekali dengan Keysa. Aku dengar saat di atas bukit pun, Keysa hampir saja didorong."
Gadis-gadis yang ada di luar bilik membicarakan Cheryl dan Keysa, tanpa mengetahui jika Keysa juga berada di sana dan mendengarkan. Sementara itu di dalam bilik, tangan Keysa sudah mengepal sempurna mendengar penuturan gadis-gadis itu. Semua yang terjadi kepadanya masih atas perilaku orang yang sama.
Setelah gadis-gadis itu keluar, Keysa pun keluar dari bilik. Bertepatan dengan itu, terdengar suara Devano dari luar toilet. Lelaki yang sudah diberitahu Keysa kalau Keysa berada di toilet sedang menunggunya di depan pintu.
"Ini pesananmu!" Dengan seulas senyum, Devano memberikan paperbag berisi pembalut dan pakaian baru untuk Keysa.
Keysa menatap datar Devano, lantas mengambil paperbag dari tangan Devano lalu masuk lagi tanpa mengucapkan terima kasih, bahkan seulas senyum pun tidak ada.
"Dia kenapa?" Devano menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika menyadari sikap Keysa yang berubah dingin. "Mungkin efek datang bulan kali, ya." Ia pernah mendengar tentang emosi orang datang bulan yang suka naik turun karena pengaruh hormon, menyikapi sikap Keysa itu pun akibat pengaruh datang bulan.
Devano menunggu Keysa di depan pintu toilet. Hingga tidak selang berapa lama, Keysa keluar dari toilet masih dengan wajah dingin. Gadis yang sudah mengganti roknya dengan celana panjang itu langsung pergi, melewati Devano begitu saja dan meninggalkan lelaki itu.
__ADS_1
"Key, tunggu!" Devano mengejar Keysa.
Keduanya berjalan bersisian dengan Devano menceritakan saat dirinya membeli celana dan pembalut untuk Keysa. Ia tergelak ketika bercerita saat Devano harus menebalkan kulit wajah waktu bertanya kepada pegawai minimarket tentang pembalut untuk wanita datang bulan. Ia juga mengomeli Keysa yang tidak membaca pesan darinya yang bertanya tentang pembalut itu, hingga terpaksa meminta bantuan.
"Apa kamu tidak ingin berterima kasih atas perjuangan kekasihmu ini, Key?" Devano mengajak Keysa bercanda. Sejak meninggalkan toilet, kekasihnya itu diam seribu bahasa membuat Devano berpikir jika Keysa kerasukan penunggu toilet karena terlalu lama menunggunya.
Seketika, Keysa langsung menghentikan langkahnya, lantas menghadap Devano. Menatap lelaki itu dengan begitu tajam.
"Terima kasih," tandas Keysa, tanpa mengalihkan pandangannya. "Aku tidak kerasukan setan toilet, tapi aku bertemu malaikat penghuni toilet. Dia memberitahuku tentang kejadian saat mapala, tentang orang-orang yang hendak mencelakaiku."
Devano tersentak mendengar ucapan Keysa. Ia mencoba menelan ludahnya yang terasa begitu kering, mimik wajahnya pun seketika berubah. Membuat Keysa semakin yakin bahwa Devano sudah mengetahuinya.
"Para pengagum Cheryl adalah orang yang hendak mencelakaiku." Keysa memberitahukan semua yang didengarnya di toilet tadi. "Dari ekspresi wajahmu, sepertinya kamu sudah tahu. Apa kamu sengaja menyembunyikannya dariku?" tanya Keysa, penuh selidik.
Sejak awal Devano tahu kalau Cheryl berusaha mencelakai Keysa. Oleh karena itu, ia berusaha selalu ada di sisi kekasihnya untuk melindungi. Namun, ia juga tidak mungkin jujur tentang semua itu kepada Keysa karena dirinya juga harus melindungi Cheryl. Kakek dan kakak perempuan Cheryl meninggal karena dirinya dan ia sudah berjanji akan tetap menyayangi dan melindungi Cheryl.
Keysa tersenyum sinis saat melihat Devano yang malah terdiam. "Diammu berarti iya," jawab Keysa, lalu berbalik dan melangkah meninggalkan Devano.
Devano yang melihat kemarahan dan kekecewaan di diri Keysa langsung mengejar dan menggenggam tangan Keysa. "Maafkan aku! Aku sudah berjanji untuk menjaga Cheryl. Sebelum kakek dan kakak Cheryl meninggal, mereka menitipkan dia padaku. Tapi, aku juga berjanji pada diriku sendiri aku akan menjagamu dan tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu."
"Tapi nyatanya Alea dan Reno celaka karena melindungiku."
"Maaf aku tidak memprediksi itu, Key," sesal Devano.
"Dev, kamu ingin menyatukan minyak dan air yang jelas-jelas tidak akan pernah menyatu. Kamu ingin melindungi dua orang yang jelas-jelas bertolak belakang. Aku tidak yakin kamu bisa melakukannya. Karena pada akhirnya hanya ada satu orang yang harus kamu pilih. Kecuali, gadis itu mau berubah. Entahlah .... aku kecewa padamu." Keysa melepaskan genggaman tangan Devano, lantas meninggalkan Devano yang masih mencoba meminta pengertian Keysa.
__ADS_1
Keysa terus melangkah menuju kelas Cheryl, tanpa peduli Devano yang terus memanggil dan mengajaknya kembali. Keysa yang tidak puas dengan penjelasan Devano ditambah emosinya sedang tidak stabil itu langsung menghampiri Cheryl dan menampar gadis itu.