Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
226


__ADS_3

Langit mulai menjingga sebentar lagi hari menggelap. Devano tampak sudah berpakaian rapi dan sedang duduk sambil memakai sepatu. 


"Kamu mau ke mana?" tanya Keysa, ketika melihat kekasihnya sudah siap berangkat tanpa mengatakan apapun sebelumnya. 


Devano menoleh ke arah gadis yang masih sedikit berantakan karena baru bangun tidur. Seulas senyum tertampil di wajahnya yang tampan. 


"Eh, sudah bangun. Aku tidak berani membangunkanmu karena kamu tidurnya terlihat pulas sekali." Devano berdiri lantas mendekat Keysa dan merapikan rambut kekasihnya yang berantakan. "Kenapa aku merasa kamu menggemaskan sekali," lanjutnya sambil menjuwel pipi Keysa. 


"Apa sih?" Keysa mengerucutkan bibirnya saat pipinya ditarik Devano dengan gemas. 


"Kamu sudah rapi, mau ke mana?" tanya Keysa lagi. 


"Oh, ini, aku ada urusan bentar tentang pekerjaan. Kamu tunggu di rumah, ya!" ucap Devano sangat tenang. Ia tidak terlihat berbohong sama sekali. 


Akting yang sangat luar biasa, membuat Keysa percaya dan  ber-oh ria. "Tapi tidak pulang larut, kan?" tanya Keysa lagi, yang dijawab gelengan Devano. 


"Tidak ke gunung kan?" tanya Keysa lagi dan masih dijawab dengan gelengan oleh Devano, akhirnya Keysa  pun mengizinkan lelaki itu pergi.


Devano mengecup sekilas bibir Keysa, kemudian pamit. "Hati-hati di rumah," ucapnya, lalu pergi. 


Entah mengapa hati Keysa tiba-tiba saja merasa tidak enak. Namun, ia mencoba mengabaikan karena lelaki itu hanya mengatakan akan mengurus pekerjaan dan tidak lama. 


***


Hari sudah larut, Devano belum pulang. Keysa menunggu kepulangan lelaki itu, hingga tertidur di sofa. 

__ADS_1


"Tidak!" teriak Keysa dengan keringat yang sudah membanjiri seluruh tubuh, lagi-lagi bermimpi buruk. Ia kembali bermimpi kalau  Devano jatuh ke jurang. 


Keysa bangun karena terkejut, lantas memanggil nama lelaki itu, berharap saat dirinya tertidur Devano sudah kembali. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan lelaki itu, bahkan Keysa sudah melihat ke semua tempat. 


"Dia belum pulang," gumamnya. Panik dan takut semakin mendominasi perasaannya.  melihat sekeliling dan tidak ada keberadaan. 


Keysa mengambil ponsel, kemudian mencoba menghubungi Devano. "Kenapa panggilannya tidak tersambung?" Kepanikan pun semakin mendera dan membuatnya frustrasi saat ponsel Devano tidak bisa dihubungi. 


"Ezra. Mungkin dia sedang bersamanya." Di tengah kekhawatirannya, hanya Ezra yang terpikir di kepala. Keysa pun menghubungi Ezra dan menanyakan keberadaan kekasihnya itu. 


"Dia tidak sedang bersamaku. Dia juga tidak mengatakan apa-apa. Memangnya apa yang terjadi?" Pernyataan Ezra meruntuhkan keyakinan Keysa kalau Devano sedang bersama Ezra. 


"Dia berkata akan keluar untuk mengurus pekerjaan, tapi saat ini dia belum kembali membuat perasaanku tidak enak." 


Ezra mencoba menenangkan Keysa dengan mengatakan kemungkinan urusan Devano belum selesai. Namun, Keysa bersikukuh merasa tengah terjadi sesuatu dengan Devano. Ia juga menceritakan mengenai mimpi buruk tentang Devano yang belakangan ini sering hadir. 


Dengan panggilan yang masih terhubung dengan Keysa, Ezra menghubungi teman-teman yang lain dan mencari keberadaan sahabatnya. Hingga sebuah informasi didapat dari Zack bahwa Devano sedang berada di puncak gunung. 


"Jadi dia membohongiku?" Keysa yang mendengar percakapan Ezra dan Zack dibuat syok. Ia sangat takut mimpi buruk yang menghantuinya menjadi kenyataan. "Aku harus menyusulnya." 


"Kita pergi sama-sama. Aku akan menjemputmu," ucap Ezra. 


Keysa hanya menjawab 'ya', kemudian mengakhiri panggilannya. 


Setelah Ezra datang menjemput, mereka pun pergi ke tempat yang disebutkan Zack untuk mencari keberadaan Devano. 

__ADS_1


Sementara itu, di sisi lain, Devano dan Exel sedang berseteru. 


"Apa kau sudah lupa dengan kenangan masa kecil kita? Kau selalu menjadi team yang hebat dan teman yang kompak dalam segala hal. Kenapa sekarang kau sangat ingin menghabisiku?" sarkas Devano mengingatkan Exel pada kenangan masa lalu mereka. 


Sejak kecil Exel dan Devano hidup bersama, bahkan sebelum Ezra bergabung menjadi sahabat mereka. Mereka sangat dekat seperti saudara kembar, apapun yang dimiliki Devano, Exel pasti memilikinya juga. Keduanya tidak terpisahkan dan selalu saling support satu sama lain. 


"Apa kau lupa dengan janji setia persahabatan kita? Kau sendiri yang berjanji akan selalu menjadi bayangan dan sahabat setiaku. Apa sahabat setia, tega membunuh sahabatnya sendiri?" sarkas Devano lagi.


 Ia mengingat Exel pada kenangan saat Devano menyelamatkan Exel dari kejaran anjing gila. Waktu itu Exel sangat bersyukur karena diselamatkan Devano dan berjanji akan selalu setia kepada Devano setelah melihat perjuangan  Devano yang meloloskan dari kejaran si anjing gila. 


"Tak perlu kekanak-kanakkan dengan membahas masa lalu. Pengorbananmu tidak seimbang dengan pengorbanan kakak dan kakekku yang harus mati karena kau," tandas Exel. Tidak suka mendengar Devano membahas kedekatan mereka di masa lampau. 


"Kaulah yang kekanak-kanakkan. Tidak ada yang tahu tentang hidup dan mati, semua itu adalah takdir. Jika aku tahu mereka akan meninggal karena menolongku, aku tidak akan membiarkan mereka melakukan itu," sarkas Devano lagi. 


"Dia kau!" Exel semakin meradang ketika mendengar ucapan Devano yang secara tidak langsung mengingatkannya lagi pada peristiwa berdarah yang merenggut dua orang yang dikasihinya. "Baiklah! Aku akan menganggap semua permasalah kita selesai, asalkan kau mau terjun ke jurang." Exel menoleh ke arah jurang yang ada di sampingnya. 


Lelaki itu akan melupakan dendamnya selama ini, asalkan Devano bersedia terjun ke jurang. 


"Lompat ke sana?" Devano juga menoleh ke arah yang sama. Jurang dengan ketinggian yang sangat mengerikan berada di depan mata. Ia tidak yakin akan selamat jika benar-benar terjun bebas dari tempat tersebut. Belum lagi, di bawahnya  banyak bebatuan besar dan curam. 


"Iya. Lompat ke sana, setelah itu aku akan melupakan masalah di antara kita, baik kamu mati ataupun selamat," tantang Exel dengan tatapan mengejek. Sangat mustahil bagi  Devano untuk memenuhi keinginannya. 


"Jika aku melompat itu artinya urusan kita selesai, 'kan?" tanya Devano memastikan. 


"Ya." 

__ADS_1


"Baik aku hidup ataupun mati?" tanya Devano lagi, dan kembali dijawab 'ya' oleh Exel.


Devano mengembuskan napas kasar, kemudian menjawab, "Baiklah. Aku setuju." 


__ADS_2