Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
236


__ADS_3

Bahagia dan terasa diterbangkan sampai ke langit dengan berjuta kupu-kupu indah itulah yang dirasakan Devano saat Damar memberikan restu atas hubungannya dengan Keysa. Senyum pun terus terukir indah sepanjang perjalanan saat hendak kembali ke negaranya. Perjalanan yang ditempuh dengan waktu dua belas jam dalam pesawat, tak sedetik pun Devano gunakan untuk terpejam. Kebahagiaan meluruhkan segala penat dan ngantuk yang melandanya.


Setelah pesawat mendarat, Devano dijemput oleh anak buah Damar. Namun, Devano lebih memilih pulang dengan mengendarai mobil sendiri. Ia langsung bertolak ke rumahnya di dekat kampus, tempat di mana Keysa selalu setia menunggu kepulangannya. Sebelum sampai ke rumah, tidak lupa Devano singgah di toko bunga dan kue. Lelaki yang tidak hentinya menampilkan senyum itu berniat untuk memberi kejutan kepada sang kekasih. Wajah bahagia dengan senyum yang merekah milik Keysa menari di pelupuk mata, hingga di kepala Devano saat ini hanya ingin sampai di kediamannya secepat mungkin.


Jantung Devano berdetak semakin kencang saat jalan demi jalan menuju rumah terlewati begitu saja, hingga akhirnya menampilkan rumah dua tingkat miliknya. "Key, aku pulang," gumam Devano. Ia melajukan mobil menuju halaman rumah dan memarkirkannya asal.


Melihat rumah tempat kebersamaannya dengan sang kekasih, membuat rindu di diri Devano semakin membuncah. Ia segera turun dari mobil, kemudian masuk ke rumah dengan membawa sebuket bunga dan kue coklat kesukaan Keysa.


Devano sengaja tidak mengetuk pintu. Ia yang memiliki kunci cadangan memilih membuka pintu rumah itu sendiri, kemudian memberika surprise dengan tiba-tiba ada di dalam rumah.


"Rumahnya sepi sekali. Apa Keysa tidak sedang ada di rumah?" gumam Devano, menyadari rumahnya terasa sangat sepi, bahkan debu-debu mulai menempel di perabotan rumah. "Sepertinya semenjak aku pergi dia berubah jadi gadis pemalas." Devano menggeleng sendiri mendapati kelakuan Keysa yang dianggapnya terlalu bersedih hingga lupa bersih-bersih. "Baiklah ... Setelah ini biarkan aku saja membersihkannya," lanjutnya, sambil terus berjalan menaiki tangga menuju kamar.


"Key!" Setiba di kamar, Devano kembali memanggil Keysa saat merasakan tidak ada bekas kehidupan di sana. Kamar begitu sepi, bahkan kamar mandi terlihat sangat kering seperti sudah lama tidak digunakan. "Keysa kemana?" Perasaan tidak enak seketika muncul di benak Devano, menyadari ada satu hal yang janggal di rumahnya itu. Kesibukannya mencari Helen membuat Devano akhir-akhir ini tidak pernah memantau Keysa hingga tidak tahu yang sedang terjadi dan menganggap semua baik-baik saja.

__ADS_1


"Tidak mungkin dia meninggalkanku, kan?" Devano menggeleng cepat, rasa takut akan ditinggalkan menyeruak begitu saja.


Tidak ingin hanya berasumsi, Devano lantas menghubungi anak buahnya yang ditugaskan untuk memantau sang kekasih. Belum sempat panggilannya terhubung, Devano mendengar suara dari lantai dasar.


"Sepertinya itu dia. Aku yakin dia tidak akan pernah meninggalkanku." Seketika senyum Devano kembali terbit, kemudian bergegas ke bawah dan memastikan jika orang itu adalah sang kekasih.


Dengan setengah berlari, Devano menuruni tangga, lantas mencari sumber suara. Senyum pun kembali terukir ketika melihat seorang wanita sedang berada di dapur. "Akhirnya pulang juga. Dari mana saja kau ini? Aku sudah menunggumu sejak tadi. Aku merindukanmu," ucap Devano, dengan tangan yang bersiap memeluk tubuh yang sedang membelakanginya itu.


"Ma-ma-af, Tuan!" Gadis itu langsung menunduk dan ketakutan ketika melihat kemarahan di wajah lelaki yang beberapa saat lalu mengungkapkan rindu. Ya, ia sebenarnya juga tahu kalimat rindu itu tertuju untuk gadis yang tinggal di rumah itu.


Devano merasa malu karena hampir memeluk gadis yang tak dikenal hingga dirinya berkata dengan suara tinggi untuk menutupinya sambil menunjukkan ekspresi marah. Namun, tak menyangka kalau gadis itu akan sangat ketakutan hingga tubuhnya bergetar hebat.


"Kau siapa? Kenapa ada di rumahku?" tanya Devano lagi dengan suara yang jauh lebih pelan.

__ADS_1


"A-aku hanya petugas kebersihan yang diminta Nona Keysa untuk membersihkan rumah ini seminggu sekali." Meskipun takut, ia mencoba menjawab pertanyaan Devano setenang mungkin.


"Lalu Keysa di mana?"


"Itu—" Gadis itu tidak tahu harus menjawab apa, membuat ucapannya menggantung. Ia mendongak sekejap melihat Devano, kemudian kembali menunduk, bingung harus menjawab.


"Itu apa? Apa terjadi sesuatu dengan Keysa?" cecar Devano, tidak sabar dengan yang akan diucapkan gadis tersebut.


Belum sempat si gadis menjawab, sebuah telepon masuk ke ponsel Devano. Melihat siapa yang menghubunginya, Devano pun langsung menerima panggilan tersebut. "Aku belum selesai denganmu." Devano memberi peringatan agar gadis tersebut tidak pergi, sedang si gadis hanya mengangguk pelan.


"Ada apa?" tanya Devano begitu panggilan terhubung. Sejurus kemudian wajahnya berubah gelap dengan rahang yang mengeras. "Kenapa kalian baru mengatakan hal sebesar ini sekarang, hah?! Jika terjadi sesuatu padanya akan kupastikan kalian juga tidak akan lepas," maki Devano.


Amarah menguasai Devano setelah mendengar berita buruk yang didapat dari anak buahnya. Rencana untuk melepas rindu dan memberikan kabar gembira tentang kelanjutan hubungan mereka kepada Keysa kini pupuslah sudah.

__ADS_1


__ADS_2