Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
171


__ADS_3

"Tunggu! Lepaskan dia!" Di tengah-tengah kebimbangannya, Exel memiliki sedikit hati nurani untuk menolong gadis kesusahan di depannya.


"Lepaskan dia!" Exel mendekat dan menarik paksa Disti dari genggaman dua lelaki yang menyeret Disti.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Orang yang menyeret Disti terlihat murka saat Disti terlepas dari genggamannya.


"Dia tidak mau ikut dengan kalian jadi jangan memaksa," sarkas Exel, lalu menarik tangan Disti untuk meninggalkan rooftop.


"Berani sekali kau merebut mainan kami." Orang itu meradang saat Disti dibawa pergi oleh Exel. Dua lelaki itu langsung berlari mendekat ke arah Exel dengan tangan yang siap melayangkan tinju ke kepala Exel.


Untung saja Exel bisa membaca pergerakan lawan. Exel dengan cepat menunduk agar tidak terkena tinjuan, kemudian berbalik dan melawan tindakan anarkis dua orang itu. Baku hantam antara Exel dan dua orang yang hendak menangkap Disti pun tidak terelakkan.


Dua lawan satu dengan tenaga berandal yang sangat kuat membuat Exel sedikit kewalahan, tetapi dua orang itu juga tidak kalah kewalahan juga. Berkali-kali mereka dibuat terpental ke lantai dan pukulan keras mendarat di perut dan wajah, hingga akhirnya mereka memanggil gerombolan mereka hendak menyerang Exel secara keroyok.


"Kalian pikir cuma kalian saja yang punya gerombolan, hah?" sarkas Exel saat melihat banyak bala bantuan lawan masuk ke rooftop. Ia pun langsung memanggil anak buahnya itu dengan satu jentikan jari dan tiba-tiba anak buah Exel keluar dari berbagai tempat tersembunyi membuat dua orang yang berkelahi dengan Exel tampak terkejut.


"Serang mereka!" perintah Exel.


Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, anak buah Exel pun langsung menyerang berandalan beserta bala bantuan yang menyerang bos mereka.


Tubuh Disti bergetar hebat saat menyaksikan pertikaian dua kubu itu. Ia yang ketakutan menempelkan tubuhnya di dinding sambil duduk meringkuk, tanpa berani melihat orang-orang yang sedang berkelahi. Ia menyembunyikan wajahnya di balik lutut.


"Apa kau akan meringkuk terus disitu? Cih, Dasar Penakut!" Tiba-tiba suara seseorang terdengar di dekat Disti.


Disti perlahan menjauhkan kepalanya dari lutut, lantas mendongak dan melihat tempat sekitar sudah sepi. Hanya ada dirinya dan Exel yang bersikap dingin dan enggan melihat wajah Disti.


"Mereka ke mana?" tanya Disti, kebingungan, dengan suara yang bergetar karena takut.


"Mereka sudah kabur. Mengganggu orang saja."


Exel dan anak buahnya berhasil memukul mundur para berandalan itu, hingga mereka memilih pergi.


Disti menatap lelaki yang merasa telah diganggu oleh kehadiran Disti dan berandal tadi. Lelaki itu menjawab pertanyaannya dengan acuh, bahkan hanya sekedar melihat Disti saja seperti orang yang melihat kotoran–jijik. Disti pun perlahan mencoba bangun, meskipun tubuhnya masih gemetar.

__ADS_1


"Terima kasih sudah menolongku dan maaf sudah mengganggu," ucapnya tulus.


Exel tidak menjawab dan masih membuang muka.


"Aku akan pergi," ucap Disti lagi, lantas membungkuk dan meninggalkan Exel.


Exel menatap kepergian Disti. Ia tidak suka dengan Disti, tetapi melihat Disti yang berjalan dengan tubuh bergetar karena ketakutan membuat hatinya tidak sinkron dengan jalan pikirannya.


"Ish!" Exel berdesis, kesal pada Disti juga dirinya sendiri.


"Kau mau kemana?" tanya Exel kemudian, menghentikan Disti yang baru berjalan beberapa langkah.


Disti menoleh ke arah lelaki yang bertanya tapi pandangannya entah ke mana, lantas beralih ke sekitar. Mungkin saja Exel sedang berbicara dengan orang lain, tetapi sudah tidak ada siapapun di sana selain mereka berdua. "Pulang," jawab Disti kemudian, setelah memastikan pertanyaan itu untuknya. "Permisi," lanjutnya lagi, lalu pergi tanpa menoleh lagi.


Tanpa sepengetahuan Disti, Exel mengikuti Disti pergi dari rooftop. Dari jauh ia bisa melihat gadis yang masih tampak gemetar itu meninggalkan klub.


Disti berlari menuju jalan, kemudian mencegat taksi yang lewat dengan kepala yang sesekali menoleh ke sekitar. Pikirannya yang kacau dan ketakutan membuat Disti waspada, berjaga-jaga jika orang-orang tadi mengejar dan menyeretnya lagi.


"Sial! Kenapa tidak ada yang mau berhenti?" Disti yang ketakutan semakin dibuat menjadi saat tidak ada satupun taksi yang berhenti.


Mobil berhenti tepat di depan Disti. Exel menurunkan kaca mobil. "Masuk!" ucapnya dengan wajah datar dan tatapan lurus ke depan.


Disti termangu di tempat, menyaksikan lelaki yang dicintainya menyuruh masuk ke mobil, padahal ia tahu kalau lelaki itu sangat membencinya. "Tidak. Terima kasih. Aku naik taksi saja," tolak Disti.


"Apa kau akan menunggu sampai ditangkap lagi? Aku tidak menawari untuk kedua kalinya. Masuk atau kutinggalkan," ucap Exel lagi, masih enggan menatap Disti, seakan Disti itu benda yang sangat menjijikkan.


Disti tidak mau ditangkap apalagi harus melayani berandalan tidak jelas tadi. Dalam hitungan detik, tanpa berpikir lagi, Disti langsung masuk. Exel yang menyaksikan Disti sudah ada di bangku penumpang pun langsung melajukan mobilnya. Ia terpaksa mengantarkan Disti pulang.


"Turun!" sarkas Exel, begitu mobilnya sampai di gerbang kampus.


Disti mengangguk, kemudian menoleh ke Exel sambil mengucapkan terima kasih. Hingga dirinya dibuat terkejut saat melihat wajah Exel yang terluka. Disti yang selama perjalanan pulang tidak berani menatap Exel dan memilih menunduk terperangah saat wajah Exel lembam bahkan ujung bibirnya pecah dan menyisakan noda merah di sana.


"Xel, kamu terluka?" Disti spontan menarik tubuh Exel untuk menghadapnya, mengamati wajah Exel yang terluka. Ia melupakan ketakutannya terhadap sosok lelaki dingin yang telah merenggut mahkotanya itu, Disti lantas mengambil kotak p3k yang tergeletak di dashboard, kemudian mengobati luka Exel.

__ADS_1


Exel pun memilih diam saat Disti mengobati lukanya.


"Terima kasih sudah menolongku sampai kamu terluka seperti ini. Terima kasih juga sudah mengantarku pulang," ucap Disti, setelah selesai mengobati luka Exel, kemudian beringsut untuk membuka pintu mobil hendak keluar.


Namun, tiba-tiba Disti kembali mematung saat tangannya di cekal oleh Exel. Pintu mobil pun terkunci dan tidak bisa dibuka.


"Apa cukup dengan ucapan terima kasih?" Exel berseringai jahat menatap Disti yang sudah menoleh ke arahnya lagi.


"Maksudmu apa? Apa semua harus ada imbalannya?"


"Tentu saja."


"Aku tidak memintamu untuk membantuku, aku juga tidak memintamu untuk mengantarku pulang," ucap Disti, saat melihat tatapan Exel yang berubah dan siap memangsa.


"Aku ingin imbalan setelah mengeluarkan energi yang cukup banyak, bahkan wajahku sampai terluka." Exel menarik Disti hingga wajah mereka sangat dekat dengan tangan Exel yang memegang pinggang Disti.


"Tapi aku tidak memintamu untuk menolongku. Kalau kamu berharap imbalan, kenapa kamu tidak membiarkan aku mati saja?" Disti mencoba melepaskan diri, tetapi tenaga lelaki yang sudah dikuasai naffsu sangatlah kuat.


Mati. Exel tidak suka kata-kata itu keluar dari mulut Disti. Ia juga teringat ucapan para berandal tadi yang entah mengapa membuatnya terasa mendidih. Seketika Exel pun kalap dan memaksa Disti untuk kembali melakukan hubungan yang tak seharusnya dilakukan oleh pasangan yang belum menikah.


Sementara itu, Disti merutuki nasibnya yang keluar kandang singa masuk kandang harimau. Dengan wajah memelas, ia meminta Exel untuk melepaskannya.


***


Di sisi lain ....


Keysa masih terpenjara di klub dengan orang-orang yang menyeretnya ke sebuah ruangan. Keysa tidak mungkin kabur karena ruangan itu dijaga ketat oleh anak buah lelaki yang disebut oleh Keysa 'si Pirang'.


"Semoga saja pelayan tadi sudah menghubungi Dev." Keysa berharap dalam hati.


Dengan senyum jahatnya si Pirang mendekati dan merangkul bahu Keysa, tetapi dengan cepat ditepis.


"Kondisikan tanganmu," sarkas Keysa dengan mata yang menatap tajam lelaki itu.

__ADS_1


"Kamu tahu, semakin galak kamu itu semakin cantik dan menantang." Orang itu menimpali ucapan Keysa dengan guyonan dan rayuan yang membuat Keysa ingin muntah.


"Aku tidak akan pegang-pegang, tapi dengan satu syarat; nyanyi dan menari, hibur kami dengan suara dan tarianmu!" sarkas lelaki itu, setelah mendapat penolakan saat menyentuh Keysa. Wajahnya menatap tajam Keysa, membuat lawan bicaranya terpaksa menuruti keinginannya.


__ADS_2