Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
122


__ADS_3

"Aku punya istri di game." Devano menceritakan perihal dirinya yang memiliki istri di game.


"Istri?" Keysa menoleh ke Devano sembari menyipitkan sebelah matanya, lalu mengalihkan kembali pandangannya dengan ekspresi datar.


Devano mengangguk pelan. "Apa kamu marah?" tanya Devano, melihat raut wajah Keysa yang berubah masam.


Keysa tidak menjawab dan memilih memakan cemilan yang dipegangnya dan mengunyahnya kasar, membuat Devano menelan ludahnya sendiri saat mendengar bunyi kunyahan yang menurutnya terlalu horor.


"Kamu beneran marah, ya?" Devano langsung merasa tidak enak hati melihat perubahan wajah Keysa.


Namun sejurus kemudian tawa Keysa pecah membuat dahi Devano berkerut. "Kamu kenapa? Sehat?" tanyanya lagi sambil memegang kening Keysa.


"Sehat kalau gak sehat udah berbaring di rumah sakit kayak Disti," tandas Keysa dengan tawa masih terbit dari bibirnya. "Aku tidak marah. Aku juga enggak masalah kamu punya istri di dalam game, mau punya seratus istri pun bodo amat yang penting di dunia nyata hanya aku yang memilikimu. Toh, mereka juga gak bisa ngapa-ngapain kamu," lanjut Keysa yang mengira Devano hanya sedang mengetes dirinya saja.


Devano menghela napas lega saat Keysa mengucapkan 'tidak apa', kemudian terpikir untuk menggodanya setelah mendengar kalimat terakhir sang kekasih. "Memangnya kalau kamu bisa ngapain aja?" goda Devano dengan alis yang sudah naik turun.


"Enggak ngapa-ngapain juga, sih," jawab Keysa dengan wajah yang merona, mengingat kontak bibir yang sudah dilakukan keduanya. "Sebentar lagi hari peringatan kematian orang tuaku." Keysa mengalihkan pembicaraan dengan membahas perihal keluarganya dan seketika wajah Keysa berubah sendu.


Devano mengubah posisi duduk membuatnya menghadap gadis di dekatnya dan mendengarkan setiap kata yang terucap dengan seksama saat melihat raut wajah Keysa yang berubah serius.


"Lalu?" ujar Devano.


"Aku akan pulang ke rumah kakek dan menemani Kakek selama setengah bulan," ujar Keysa.


Devano mengerti perasaan Keysa yang ingin menghadiri dan menemani sang kakek di peringatan kematian orang tua Keysa langsung setuju dengan keputusan kekasihnya itu. "Tapi, janji akan pulang lagi ke sini," ucap Devano.


Keysa hanya mengangguk, mengiakan.

__ADS_1


"Kalau bisa pulang lebih awal," tandas Devano lagi dengan seulas senyum yang tampil di wajahnya.


Devano tidak rela bila harus berlama-lama jauh dari Keysa. Sementara itu, Keysa hanya menjawab dengan senyuman.


***


Beberapa hari sebelum kepulangan Keysa, Felix datang menemui Keysa di asrama.


"Ya, sebentar!" tandas Keysa dari dalam asrama saat pintu terus diketuk dari luar.


Keysa yang sedang menyecrol layar ponsel di atas tempat tidur pun lantas berdiri dan membuka pintu.


"Hai, Cantik!" Felix mengangkat tangan kanannya dengan senyum yang terbit dari bibirnya, membuat lelaki dengan memakai kaos maroon panjang dan celana panjang itu terlihat sangat tampan, meskipun penampilannya biasa-biasa saja.


"Kalau memuji biasanya ada maunya," jawab Keysa sambil masuk kembali ke kamar dan diikuti oleh Felix.


"Udah ketebak," tandas Keysa lagi sambil duduk di sofa dan juga diikuti oleh Felix. "Ada apa?" tanya Keysa lagi.


Felix pun mengutarakan maksud dan tujuannya datang menemui Keysa. Lelaki itu meminta bantuan Keysa dan menanyakan beberapa masalah tentang influencer.


Dengan senang hati, Keysa pun membantu Felix. Kemudian, Felix memposting beberapa foto ke media sosial sesuai arahan Keysa, hingga tidak disangka tidak perlu waktu lama, fans Felix langsung bertambah puluhan ribu.


"Kenapa kamu enggak kuliah di fakultas pertelevisian saja? Sehingga nanti kalau sudah tamat kamu bisa jadi artis. Wajahmu menjual banget, lho. Kamu juga sepertinya berbakat," ujar Keysa, memberi saran.


"Apa iya?" tanya Felix yang masih belum yakin dengan potensinya sendiri.


Keysa mengangguk pasti. Ia juga berjanji akan membantu Felix, membuat Felix spontann berterima kasih sambil mendaratkan ciuman di pipi Keysa.

__ADS_1


"Hua!! Terima kasih, Key. Kau memang sahabatku paling the best. Kau selalu menginginkan yang terbaik untuk sahabat-sahabatnya. Aku sayang kamu," ucap Felix, lalu mencium Keysa.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tiba-tiba suara bariton seseorang mengagetkan keduanya. Keysa dan Felix langsung menoleh ke arah pintu dan menampilkan seorang lelaki yang sedang berkacak pinggang dengan sorot mata yang tertuju pada Keysa dan Felix, tatapan yang menusuk sampai relung hati terdalam.


Felix langsung menelan ludah yang tiba-tiba terasa seret di tenggorokan, lantas menoleh ke Keysa yang terlihat jauh lebih tenang dari dirinya meskipun terlihat keterkejutan di wajah berkacamata tersebut.


"Jangan salah paham, Dev! Aku hanya—" Felix mencoba menjelaskan, tetapi langsung terpotong oleh suara bariton yang terdengar berat dan dingin.


"Pergi!" Usir Devano, menatap tajam ke arah Felix. "Pergi atau ku ampelas bibir yang sudah berani mencium wajah kekasihku," tandas Devano lagi.


Felix yang melihat amarah Devano langsung pergi terbirit-birit sebelum mendapat amukan lebih dari itu.


Devano pun lantas menutup pintu dengan kasar dan menguncinya. Setelah itu, ia berbalik dan menatap Keysa dengan tatapan yang semakin tajam. Devano melangkah mendekati Keysa. Sementara itu, spontan Keysa berjalan mundur saat melihat Devano terus mendekat.


"Dev, jangan melihatku seperti itu! Aku jadi merinding," ucap Keysa, salah tingkah.


Devano tidak menjawab. Ia yang dilanda api cemburu langsung menekan Keysa di atas tempat tidur.


"Cium aku!" perintah Devano dengan suara yang datar dan dingin. Matanya tidak berhenti menatap gadis yang berjarak kurang dari tiga puluh centimeter.


"Baik," ucap Keysa. Ia yang mengira masalah akan selesai dengan mencium Devano, lantas menempelkan bibirnya pada benda kenyal tidak bertulang milik Devano. "Sudah," lanjutnya, dengan seutas senyum.


Namun tanpa disangka, Devano malah mencium kembali Keysa dengan kasar. Ciuman yang semakin lama semakin menuntut, membuat Keysa memukul dada Devano—meminta lelaki itu untuk menghentikan permainannya.


"Dev, hentikan," ujar Keysa, saat ciuman mereka terlepas, kemudian mengambil oksigen secara rakus.


Devano tidak menjawab. Namun, melihat wajah Keysa yang merona dengan adegan ciuman mereka membuat Devano tidak ingin melepaskan Keysa dari kungkungannya. Devano kembali menikmati bibir Keysa dengan sangat berani, hingga suara ketukan mengganggu aktivitasnya.

__ADS_1


Minal aidzin wal faidzin untuk kakak reader semua. Maaf bila aku banyak salah kepada kakak semua. Maaf juga karena suatu hal, aku masih sering bolong update-nya. Banyak yang merasa cerita ini muter-muter malah jadi merembet ke game segala, 'Mohon maaf, ya, Kak, aku hanya mengembangkan ceritanya saja.' Kalau boleh jujur aku juga merasakan hal yang sama dan bertanya-tanya kapan, ya, Keysa kebongkar. Karena ini Misi Kepenulisan, othor-nya pun dibuat deg-degan dengan kisah-kisah di bab selanjutnya yang sama sekali belum diketahui.


__ADS_2