Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
65


__ADS_3

65


Melihat Gabby yang melompat, Devano dan Ezra seketika langsung berlari ke arah Arsen dan Gabby. Mereka pun menolong lelaki itu memegangi tangan Gabby yang hampir terlepas. Devano di sebelah kanan dan Ezra di sebelah kiri. Sementara itu, Keysa yang juga ikut berlari malah memeluk Devano. 


"Key lepaskan tanganmu!" Tiba-tiba Devano meminta Keysa melepaskan pelukannya.


"Tidak. Aku akan memegangmu supaya tidak ikut jatuh," tolak Keysa, yang malah semakin mengeratkan pelukannya. "Cepat tarik Gabby!" lanjutnya.


"Key, lepaskan! Kalau kau memelukku seperti ini, yang ada aku akan beneran jatuh,"  ujar Devano lagi setengah berteriak, tetapi Keysa tetap menolak. "Apa kau tahu? Apa yang sedang kau peluk saat ini?" Devano dibuat marah campur gemas karena Keysa tidak sadar dengan apa yang telah dilakukannya. "Kau sedang memeluk adik kecilku. Lepaskan sekarang!" sarkas Devano. 


"Hah!" Keysa yang kaget dengan apa yang diucapkan Devano pun lantas melepaskan pelukannya. 


Sementara itu, Ezra yang mendengar kejadian itu tidak kuasa untuk menahan tawa. 


"Diam kau!" Devano melirik lelaki yang sedang menggenggam tangan Gabby satu lagi dengan tatapan tajam.  Namun, bukannya terdiam, Ezra malah semakin terbahak. 


"Tolong tarik, Gabby! Dia pingsan," ucap Arsen, menghentikan tawa Ezra.  


Devano dan Ezra pun menjawab dengan anggukan. Kemudian, mereka menarik tangan Gabby. Dengan aba-aba  ketiganya membawa tubuh yang sudah tidak sadarkan diri itu kembali ke atap. 


Setelah itu, Arsen menggendong Gabby membawa gadis itu keluar gedung dan membawanya ke rumah sakit. Devano yang juga mengikuti Arsen langsung membukakan pintu mobil untuk Arsen, sedangkan Ezra langsung masuk ke balik kemudi. 


"Apa kau tidak ikut?" tanya Ezra setelah mereka ada di dalam mobil, sedangkan Devano masih berdiri di luar. 


"Aku nanti nyusul. Seseorang tertinggal di atap," ucap Devano, lantas berlari kembali ke atap. 


Ezra pun tidak bertanya lagi dan langsung mengendarai mobilnya, membawa sepasang kekasih itu ke rumah sakit. 


Sementara itu, di atas gedung Keysa masih shock dengan apa yang baru saja terjadi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau mereka tidak datang tepat waktu dan Gabby tidak tertolong, hingga Keysa tersadar kalau dirinya hanya tinggal sendiri di sana. 

__ADS_1


"Yang lain ke mana?" gumam Keysa sambil melihat sekeliling, tidak ada siapapun. Lalu, melengo ke bawah dan dilihatnya mobil Ezra sudah berjalan keluar area kampus. "Mereka sudah pergi, kenapa meninggalkanku? Ah ... aku terlupakan," ucap Keysa. 


"Ya, sudahlah, yang penting Gabby terselamatkan. Masih punya kaki juga, aku susul saja apa susahnya." Keysa pun melangkah, hendak menyusul mereka. Namun, kakinya terhenti saat melihat seseorang sedang berdiri di ambang pintu dan menatapnya. 


Devano baru saja tiba di rooftop, ia melihat Keysa sedang berjalan ke arahnya. Mata Devano tidak berkedip saat  melihat pemandangan indah di hadapannya. 


Angin menerpa Keysa, membuat gaun soft pink yang dikenakannya serta rambut yang tergerai indah itu berkibaran tertiup angin, membuat gadis itu terlihat tampak sangat cantik dan menawan di mata Devano. 


Sementara itu, Keysa yang melihat sedang ditatap oleh Devano langsung menghentikan langkahnya, kemudian menunduk. Ia tidak berani menatap Devano, seketika kejadian memalukan tadi langsung berputar di kepala. Semua saling diam dengan pikiran masing-masing. Devano mengagumi Keysa yang menurutnya saat ini terlihat cantik, sedangkan Keysa sedang menunduk merutuki dirinya sendiri yang sudah berani memeluk adik Devano. 


Devano pun berinisiatif untuk mengakhiri kecanggungan di antara mereka yang saling diam. Ia menghampiri Keysa, lalu mendudukkan gadis itu di bangku di dekat Keysa berdiri. 


"Bagaimana kakimu? Apa masih sakit?" Ia menanyakan keadaan kaki Keysa yang tadi cedera saat mengejar Gabby, lantas berjongkok hendak memeriksanya. 


Lelaki itu pun membawa kaki Keysa ke atas  paha. 


"Eh, kakiku enggak apa-apa." Keysa yang tersadar dengan yang dilakukan Devano, spontan langsung menurunkan kakinya meskipun sebenarnya memang sakit. 


Ia pun memijat kaki Keysa dengan perlahan dan benar saja rasa sakit Keysa perlahan menghilang. 


Keysa yang disuruh diam oleh Devano pun, menurut begitu saja. Ia memandangi wajah lelaki yang sedang memijatnya dan menyadari kalau Devano itu sangat-sangat tampan. Dengan senyum yang tertampil, mata Keysa tidak berhenti menatap pahatan sempurna dengan hidung mancung dan alis tebal yang terpatri di sana, lalu pandangan Keysa tertuju pada bibir bergelombang dan seksi yang dimiliki Devano yang membuatnya ingin mencium bibir itu. Tanpa sadar, Keysa pun mendekati wajah tampan  dan mempesona itu hendak menggapai bibir yang sudah menggoda imannya. 


"Kau sedang apa?" Tiba-tiba Devano mendongak dan membuyarkan fantasi Keysa, sekaligus menyadarkan Keysa yang hampir saja berbuat hal yang memalukan lagi. 


Spontan, Keysa memukul kening Devano. "Ada nyamuk di keningmu?" ujar Keysa, berbohong untuk menyembunyikan maksud yang sesungguhnya. Lalu, memalingkan wajah. "Udah gak sakit. Makasih," lanjut Keysa, sambil menarik kakinya yang masih di atas paha Devano. 


"Mana nyamuknya?" tanya Devano, tidak percaya. 


"Enggak dapat keburu kabur," jawab Keysa lagi dengan gugup. "Aku mau susul Gabby ke rumah sakit. Aku harus memberikan bukti itu kepada Kak Arsen," lanjutnya, mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Keysa lantas berdiri dan meninggalkan Devano. 


'Gadis itu kenapa?' tanya Devano dalam hati, lalu mengejarnya. 


Devano pun mengantarkan Keysa ke rumah sakit. Sepanjang perjalan keduanya tidak banyak bicara, hanya mata mereka yang kadang saling melirik tanpa sepengetahuan yang dilirik.


"Key, tadi kau bilang kau akan menyuruh kakekmu untuk mengadopsi Gabby. Apa itu benar?" tanya Devano saat mereka sedang berjalan di koridor rumah sakit. 


"Kalau perlu kenapa tidak," jawab Keysa, santai. 


"Lalu bagaimana kau meyakinkan keluarga Arsen kalau Gabby anak dari keluarga kaya kalau kakekmu saja hanya seorang petani?" Devano bertanya lagi. Pertanyaan yang cukup mengganjal setelah mendengar ucapan Keysa di atas gedung tadi. 


Deg! 


'Ish ... mulut gak ada akhlak, keceplosan di hadapan mereka kan.'  Karena tadi terlalu panik, Keysa baru menyadari kalau dirinya berbicara mengenai adopsi di dekat Ezra dan Devano. Dan sekarang ia harus memutar otak untuk meralat ucapannya. 


Keysa menoleh ke arah lelaki yang sedang berjalan di sampingnya dengan lengkungan senyum yang coba ditampilkan. "Sebenarnya, itu ... hanya kata-kata untuk membujuknya saja. Berharap kalau aku bilang dia akan diadopsi orang kaya, Gabby tidak jadi melompat." Keysa mencoba mencari alasan. 


"Apa berhasil?" Devano menyipitkan sebelah matanya. 


"Kagak," jawab Keysa dengan gelengan dan rentetan gigi yang tertampil. "Tapi, kalau soal diadopsi sama kakek, kalau Gabby mau aku tak masalah." 


"Sama aja bohong." Devano menyentil kening Keysa. "Memang mereka bakal mau menjodohkan anak mereka dengan cucu petani?" tanya Devano yang membuat Keysa langsung mengedikkan bahu. 


***


Mereka pun menemui Gabby di ruang IGD. Setiba di sana, Keysa mengajak Arsen berbicara dan menjauh dari  Devano serta Gabby. Melihat hal itu, seketika wajah Devano berubah masam saat menatap kepergian mereka. Ingin sekali lelaki itu mengikuti keduanya. Namun, mengingat niat Keysa ke sana, Devano pun mengurungkan niatnya itu. 


"Ini, bukti kalau kalian bukan saudara!" Keysa  memberikan amplop putih yang berisi hasil tes DNA kepada Arsen. "Mungkin untuk kedepannya sebaiknya kalian berpisah terlebih dahulu," lanjut Keysa.

__ADS_1


"Aku tidak masalah. Asalkan Gabby baik-baik saja, aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan." 


"Aku akan memikirkan rencana selanjutnya. Nanti, aku akan memberitahu kakak lagi," tandas Keysa. "Tenanglah semua akan baik-baik saja," lanjutnya sambil menepuk lengan lelaki yang terlihat sangat tegang. Dengan seutas senyum yang tertampil, Keysa memberi semangat kepada Arsen yang tidak kalah putus asanya dengan Gabby.


__ADS_2