
95
Setelah pengumuman pemenang ronde kedua, Keysa turun dari panggung. Langkah gontainya berjalan menuju ruang ganti. Terlihat jelas, gadis satu itu sangat kelelahan. Setiap hari selalu saja ada insiden yang membuatnya menguras emosi.
'Sabar, Key, satu langkah lagi.' Keysa menarik napas panjang, menyemangati diri sendiri.
Sementara itu, Devano yang melihat Keysa turun dari panggung, lantas menyusul. Matanya memindai para peserta yang berjalan ke ruang ganti, hingga ia menangkap sosok yang dicarinya sedang berjalan dengan lunglai. Devano pun langsung menghampiri Keysa, lalu membuka jaket dan memakaikannya pada pundak Keysa—menutupi tubuh gadis itu.
Keysa mendongak ke arah lelaki yang berjalan di sampingnya dengan seutas senyum. "Makasih," ucapnya sambil membenarkan jaket. "Terima kasih atas semua bantuannya. Jika tidak ada dirimu, aku tidak tahu nasibku. Mungkin saja saat ini aku masih di ruang ganti sambil nangis kejer, karena enggak bisa ikut lomba gara-gara pakaikanku hilang," lanjut Keysa, kembali menatap ke jalanan.
"Tidak masalah." Devano menyurai rambut Keysa. "Jika perlu sesuatu jangan sungkan bicara padaku. Aku pasti akan bantu," lanjutnya sambil melirik Keysa dengan senyum yang tertampil.
Keysa juga tersenyum. Namun, sejurus kemudian senyum itu menghilang. Sesuatu mengganggu mulai mengganggu pikirannya.
"Kenapa?" tanya Devano.
"Liza itu sangat pandai, sehingga kalau pun dia menjahatiku, orang-orang tidak akan mencurigainya. Di dua ronde yang sudah terlewati berhasil membuatku susah. Entah apa lagi yang akan dilakukannya besok," ucap Keysa.
"Apa kau jatuh dari panggung juga ulahnya?" tanya Devano menyelidik, yang dijawab anggukkan Keysa.
"Dia pintar, bukan? Orang-orang pasti mengira kalau aku tersandung sampai bisa terjun seperti tadi, belum lagi aktingnya melebihi ratu drama," lanjut Keysa dan berhasil membuat kedua tangan Devano mengepal sempurna. "Bisakah, besok kamu lindungi aku dari sahabat kecilmu itu?" pinta Keysa dengan mata seperti anak kucing yang memelas.
"Aku pasti melindungimu." Devano menyetujuinya.
"Terima kasih."
***
__ADS_1
Sebuah rumor tersebar di seantero kampus. Kabar tentang perwakilan lima keluarga besar di kota B akan menjadi juri di konter ronde terakhir, dengan menyebar dari mulut ke mulut. Hingga rumor itu pun sampai ke telinga Keysa.
Mendengar kabar mengejutkan, Keysa lantas mencari Devano untuk menanyakan kebenaran kabar burung yang tersebar sangat cepat itu.
"Dev, apa benar juri untuk kontes terakhir adalah perwakilan dari lima keluarga besar di kota ini?" tanya Keysa saat menemukan Devano di kantin.
"Menurut kabar yang aku dengar juga begitu," jawab Devano, santai.
"Apa ayahmu juga akan datang?" tanya Keysa lagi, gurat ketakutan terlihat jelas di raut wajah Keysa.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan daddy? Apa kau merindukannya?" tanya Devano dengan kedua mata yang menyipit, menggoda gadis yang duduk di hadapannya. Padahal, ia tahu kalau hubungan Keysa dan ayahnya tidak sedekat itu, membuat Keysa menghadiahi Devano sebuah cubitan di tangan.
"Aku hanya takut ayahmu berbuat macam-macam," tandas Keysa, mengingat pertemuan terakhir dengan lelaki yang disebut ayah Devano itu tidaklah baik.
Devano tersenyum licik saat mendengar ucapan Keysa. Ia pun siap menjadi bodyguard Keysa dari siapapun termasuk ayahnya sendiri, tetapi dengan satu syarat yang harus dipenuhi gadis itu.
"Syaratnya apa?"
Ezra yang juga berada satu meja bersama Keysa dan Devano pun tidak bisa menghentikan tawanya saat mendengar permintaan Devano yang menurutnya konyol. "Kalau berhadapan dengan Keysa, kenapa isi kepalamu jadi ciuman semua?" tandas Ezra.
"Entahlah .... dia kenapa jadi raja mesum seperti itu? Bentar-bentar ancamannya cium mulu." Keysa juga ikut menimpali dengan bibir yang mengerucut.
Sementara itu, seseorang melihat nteraksi ketiganya yang sangat dekat membuatnya merasa kesal. Dengan mata menatap tajam ke arah meja yang terhalang dua meja dari tempatnya berada, tampak Liza sedang menusuk-nusuk kasar makanan di piring dengan garpu—ia sangat benci melihat kebersamaan mereka.
Jam kuliah telah berakhir. Keysa pun berencana untuk pulang ke asrama dan tidak menyangka bertemu dengan ayah Devano yang sedang berbicara dengan dekan di kampus.
Keysa yang terkejut melihat kehadiran Damar di hadapannya, ingin rasanya berbalik dan lari tempat itu. Namun, melihat dekan yang sedang bersama Damar membuat Keysa mengurungkan niatnya. Keysa membungkuk memberi hormat dengan senyum yang dibuat senatural mungkin meskipun dipaksakan.
__ADS_1
"Selamat sore, Pak!" sapa Keysa. Ia harus tetap terlihat baik dan hormat, melupakan yang telah usai atau ia terancam gagal ikut final.
Dekan itu pun menyapa balik Keysa dan memperkenalkan Keysa kepada Damar sebagai salahsatu mahasiswa yang mengikuti kontes putri kampus dan berasal dari ibu kota.
Mendengar nama panjang Keysa, membuat Damar berpikir bahwa Keysa ada hubungan dengan musuhnya.
"Tunggu!" Keysa yang hendak pergi setelah menyapa dua orang itu, langkahnya terhenti saat Damar menghentikannya.
"Bapak bicara dengan saya?" Keysa berhenti, lantas menunjuk dirinya sendiri dan dijawab anggukan Damar.
Damar yang sudah selesai berbicara dengan dekan pun menghampiri Keysa, sedangkan dekan kembali melanjutkan perjalanannya. Sementara itu, melihat Damar semakin mendekatinya membuat perasaan Keysa semakin tidak menentu.
"Namamu Keysa Indira Fidelya?" tanya Damar, menatap Keysa penuh selidik.
Keysa mengangguk dengan keringat dingin yang mulai mengucur. "Kenapa aku merasa ayahnya Devano sedang mencurigaiku, ya? Apa aku membuat kesalahan lagi?" gumam Keysa dalam hati.
"Kamu pindahan dari universitas di ibu kota?" tanyanya lagi dan kembali dijawaban anggukkan Keysa.
Damar semakin mendekati Keysa, menatap Keysa lebih intens, membuat Keysa perasaan Keysa semakin tidak karuan.
"Apa ada masalah dengan identitasku, Pak?" Keysa mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Ya," jawab Damar datar. "Sejak awal aku bertemu denganmu, aku merasa sudah tidak asing. Ada hubungan apa kau dengan Rendra?" tanyanya dengan sorot mata seperti ingin memakan Keysa.
Keysa dibuat terperanjat saat mendengar nama ayahnya disebut. Akan tetapi, secepat kilat ia menutupi keterkejutan itu dengan seutas senyum. "Rendra? Rendra siapa yang Bapak maksud?" tanya Keysa, seolah-olah tidak mengenal ayahnya.
"Rendra keturunan Atmaja, orang paling terkenal di ibu kota," sarkas Damar.
__ADS_1
"Owh, Tuan Rendra yang itu. Aku hanya orang biasa mana mungkin ada hubungan dengan orang besar seperti beliau," elak Keysa dan bergegas untuk segera pergi.
Maaf up-nya sedikit ini juga mode maksain. Up double pun gak janji, ya! 🙏🙏🙏 Semoga saja urusannya dilancarkan, biar up bisa teratur lagi. Terima kasih atas pengertia semuanya ... love you all 🥰🥰🥰