
"Ez, kamu mengenalnya?" Liza mengikuti Ezra dan berbisik di telinga lelaki itu dan dijawab anggukan Ezra.
Sementar itu, mendengar ada orang yang menyapanya, Keysa lantas menoleh ke arah suara. Keysa cukup terkejut saat melihat orang-orang yang dikenalnya ada di sana, tetapi dengan cepat ia mengendalikan perasaannya. Keysa tidak mau semua orang mengetahui kebenarannya.
"Hai." Dengan seutas senyum, Keysa menjawab singkat sapaan Ezra.
Namun, semenjak acara ulang tahun Selena, semenjak Ezra memintanya meminta maaf kepada Liza. Perasaan dan penilaian Keysa terhadap lelaki yang menyapa itu mulai berubah.
"Hai, Dev." Keysa juga menyapa Devano dan dijawab lambaian tangan dan seutas senyum oleh Devano, mengabaikan Ezra yang terlebih dahulu menyapa. "Apa kalian sedang berlibur di sini?" tanya Keysa kepada Devano.
"Iya. Kami sedang berlibur," jawab Devano. "Kau sendiri?" tanya balik Devano sambil menyipitkan sebelah matanya.
"Aku sedang membuat shooting iklan," jawab Keysa dengan senyum yang terlihat sangat manis, membuat siapapun tidak akan bisa menolak pesona seorang Keysa.
Keysa dan Devano pun terlibat percakapan. Keduanya terlihat akrab seperti teman baik. Lain halnya kepada Ezra, gadis yang memakai dress selutut itu terlihat lebih acuh dan beberapa kali ia juga tidak menanggapi perkataan Ezra.
"Kenapa aku merasa kamu sengaja mengacuhkanku? Apa aku sudah tidak anggap lagi sebagai temanmu lagi?" protes Ezra, yang merasa kehadirannya sama sekali tidak dianggap oleh Keysa. Gadis itu hanya sibuk berbicara dengan Devano saja.
Saat mendengar ucapan Ezra, Keysa langsung menoleh ke arah lelaki itu dengan seutas senyum yang tertampil. "Apa maksudmu, Ez? Jangan salah paham! Aku tidak bermaksud demikian. Hanya kebetulan saja, Dev sedang bertanya dan aku menjawabnya jadi pertanyaanmu terabaikan. Maaf, ya!" Keysa menyangkal ucapan Ezra, walaupun sebenarnya Keysa memang sedang malas berbicara dengan Ezra dan lebih memilih menanggapi ucapan Devano.
Tidak ingin terlibat lebih lama dengan dua lelaki itu terlebih dengan Ezra yang terlihat cemburu dengan kedekatannya dan Devano, Keysa pun mengalihkan pembicaraan mereka dan menyatakan akan pergi setelah syuting selesai.
Ezra sendiri menyadari bahwa Keysa mulai menjauhinya, semua itu bermulai saat ia dan Keysa berbalas pesan waktu itu. "Apa dia sudah memiliki seseorang yang disukainya? Sehingga dia selalu mengabaikanku, bahkan pesanku tentang itu pun sama sekali tidak dibalasnya," gumam Ezra dalam hati.
Begitu pun dengan Devano. Lelaki itu menyadari bahwa incaran Ezra terlihat jelas sedang menjaga jarak.
"Felix, kau di sini juga?" Erika yang juga ikut bersama Liza, tiba-tiba menyadari kehadiran lelaki itu juga ada di sana dengan kamera di tangannya. "Sedang apa di sini?" selidiknya.
Felix hanya tersenyum kaku, tidak tahu harus menjawab apa. Menjawab sedang bersama Keysa pun tidak mungkin, karena yang bersamanya sekarang Keysa dalam wujud bidadari. Ia takut malah membuat kacau rencana sahabatnya itu.
"Aku sedang ...." Felix melirik Keysa meminta gadis itu mencari jawaban.
__ADS_1
"Kalian kenal dengan Felix?" tanya Keysa memotong ucapan Felix yang sedang kebingungan merangkai kata-kata. "Dia ini tour guide-ku di pemandian air panas ini, sekaligus juru kameraku juga." Keysa menjelaskan dan orang-orang di sana hanya mengangguk dan ber-oh ria.
Setelah itu, Keysa pamit dan mengajak Felix untuk pergi dari sana. Namun, langkahnya terhenti saat Ezra dengan tanpa putus asa berusaha mendekati Keysa.
"Faya, tunggu! Kami akan mengadakan BBQ-an mumpung kamu juga sedang berlibur di sini, bagaimana kalau kamu dan Felix juga ikut," ajak Ezra.
Keysa dan Felix saling tatap, kemudian Keysa dengan halus menolak ajakan Ezra dengan alasan masih banyak urusan yang harus diselesaikan.
Sementara itu, Liza mencoba mencerna semua yang sedang terjadi. Hingga akhirnya, gadis itu berspekulasi kalau Ezra menyukai Keysa (Faya), sedangkan Keysa tidak tertarik kepada Ezra dan senyum Liza pun tersungging saat Keysa menolak ajakan Ezra.
"Sudahlah Ez, jangan memaksa! Mungkin Faya masih punya urusan yang sangat urgen." Liza mencegah Ezra yang ingin membujuk Keysa lagi.
Namun, lain halnya dengan Devano. Lelaki itu malah membantu Ezra membujuk Keysa untuk ikut BBQ-an, hingga Keysa tidak mempunyai pilihan lain selain menerima ajakan itu.
"Baiklah jika kalian terus memaksa," ucap Keysa menyetujui ajakan Devano, membuat Devano dan Ezra bernapas lega. 'Tapi, saat ini aku mau pulang ke villa. Jadi, aku duluan, ya!" lanjut Keysa berpamitan, lalu pergi.
"Kalau begitu biar aku antar." Ezra yang ingin menemani Keysa langsung mengejar dan menawarkan jasa untuk mengantarkan gadis itu.
"Tentu saja tidak." Ezra menjawab dengan senyum yang mengembang.
"Kalau tidak merepotkan terserah kamu saja," jawab Keysa dengan malas.
Ezra pun mengantarkan Keysa pulang ke villa. Sementara itu, Liza yang tidak suka dengan kebersamaan Keysa dan Ezra langsung menghasut Devano untuk mengikuti mereka.
"Dev, apa gak sebaiknya kamu juga ikut mengantarnya? Nanti kalau Ezra membutuhkan bantuanmu bagaimana?" bisik Liza kepada Devano.
Devano awalnya enggan untuk mengikuti mereka. Akan tetapi, mengingat janjinya kepada Ezra, akhirnya Devano pun mengejar Ezra dan Keysa yang sudah berjalan cukup jauh.
"Ez, tunggu!" teriak Devano, menyusul mereka.
Di perjalanan sedikit canggung, semuanya berjalan dalam diam. Tidak ada suara dari mulut mereka.
__ADS_1
'Apa sejak tadi mereka berjalan sambil membisu seperti ini?' gumam Devano dalam hati yang mulai kesal dengan kondisi mereka saat ini.
Devano pun memilih memulai pembicaraan dan perlahan-lahan suasana mencair. Tidak dapat dipungkiri kedekatan antara Devano dan Keysa terjalin secara natural begitu saja. Bahkan, di saat Keysa menjadi Faya pun Devano mampu membuat Keysa nyaman.
"Fay, aku ingin mengundangmu ke rumahku besok, apa kamu punya waktu?" Ezra mengambil kesempatan suasana yang sudah mencair itu untuk mengundang Keysa. Akan tetapi, lagi-lagi Keysa menolaknya dengan halus. Membuat Ezra hanya bisa membuang napas kasar. 'Susah sekali mendekatinya,' rutuk Ezra dalam hati.
Setiba di villa—villa yang sama dengan villa yang Devano tempati, Devano sengaja meminta Ezra untuk meninggalkannya agar Devano memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Keysa dan menepati janjinya untuk membantu Ezra mendapatkan sang pujaan.
"Ez , bisa kau tinggalkan aku dulu dengan Faya sebentar, gak? Supaya aku bisa membujuk Faya untuk menerimamu," bisik Devano.
Ezra pun mengangguk dan memilih masuk ke villa lebih dulu.
"Ternyata kamu bermalam di villa ini juga," ucap Devano yang tidak menyangka mereka tinggal di tempat yang sama.
"Iya. Apa kalian juga tinggal di sini?" tanya Keysa yang dijawab anggukan Devano.
'Makin ribet aja urusannya,' gumam Keysa dalam hati.
"Aku harap kamu tidak mempermainkan perasaan Ezra." Tiba-tiba Devano berbicara mengenai perasaan Ezra dan Keysa.
Keysa menoleh dengan kedua mata yang menyipit, tidak mengerti dengan ucapan Devano. "Maksudnya?"
"Jangan pernah mempermainkan perasaan Ezra, apalagi sampai menggantungnya tanpa alasan seperti ini," tandas Devano dengan sorot mata yang berubah dingin.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu? Aku hanya menganggap Ezra sebagai teman biasa. Mungkin kau saja yang berpikir terlalu berlebihan dan menganggap aku menggantungnya, padahal kenyataannya tidak."
"Jelas-jelas kau menggantungnya, masih saja tidak ngaku," gumam Devano pelan dengan sinis.
"Apa maksudnya kau terus bicara seperti itu? Kalau bicara jangan asal!"
__ADS_1