
43
"Aku tidak percaya," ucap Keysa, setelah beberapa saat terdiam, mencoba menetralkan hati yang sudah dag-dig-dug karena ucapan dua lelaki itu.
Melihat Keysa yang sepertinya tetap tidak percaya pada ucapan mereka, kedua lelaki itu pun memperlihatkan dan mengirim video yang berhasil mereka rekam semalam. Di dalam video tersebut terlihat jelas saat Keysa menggoda Devano dan mencium paksa lelaki itu.
"Hah, apa ini?" Tangan Keysa membekap mulutnya sendiri dengan mata yang hampir keluar saat melihat tingkahnya sendiri yang sungguh memalukan. "Apa itu beneran aku?" tanyanya, lebih pada diri sendiri.
Bertepatan dengan itu, Devano dan Ezra masuk ke kelas. Melihat kedatangan mereka, spontan Keysa langsung menyembunyikan ponsel tersebut di belakang tubuhnya.
Devano yang sedang berjalan, matanya menangkap dua lelaki yang sedang bersama Keysa, membuatnya langsung memiliki firasat buruk. Ia pun lantas mendekati Keysa.
"Apa yang kau sembunyikan?" tanya Devano penuh selidik.
Keysa menggeleng. Sementara itu, dua lelaki tadi diam-diam keluar. "Kami memberikan Kakak Ipar sebuah hadiah yaitu memperlihatkan padanya video semalam," ucap mereka dari ambang pintu, lalu kabur.
Devano dibuat membatu oleh ucapan kedua pemuda itu, lalu meminta Keysa untuk memberikan ponsel yang disembunyikan. "Mana ponselnya?" ucap Devano sambil menyodorkan tangan.
Keysa mendongak, menatap lelaki di hadapannya sambil menggeleng dengan wajah yang memelas.
"Berikan ponselnya!" sarkas Devano, tidak mau dibantah.
Keysa masih ingin memelas, tetapi wajah Devano terlihat semakin menghitam dan angker. Perlahan dengan terpaksa Keysa menarik tangannya yang bersembunyi di belakang dan dengan ragu-ragu ia memberikan ponsel itu kepada Devano.
Devano langsung menyambar benda pipih tersebut dan menghapus videonya, lalu mengempaskan ponsel tersebut ke lantai.
"Eh, kenapa dibanting ke lantai?" protes Keysa.
Devano tidak menjawab. Saat Keysa akan mengambil kembali ponselnya, tiba-tiba Cheryl dan Felly masuk ke kelas. Cheryl menghampiri Keysa dengan wajah yang sudah berlinang air mata.
"Apa benar kamu telah mencium paksa Dev? Kenapa kamu menciumnya?" tanya Cheryl.
__ADS_1
Seketika kelas menjadi hening. Semua yang ada di sana penasaran dengan jawaban yang akan keluar dari terdakwa.
'Ya Tuhan masalahku kenapa gak pernah selesai-selesai. Kenapa pula lagi-lagi aku berurusan dengan mereka,' rutuk Keysa dalam hati.
Pada awalnya, Keysa tidak mau mengakuinya. Akan tetapi, karena Cheryl telah bertanya tanpa tahu tempat dan membuat orang-orang di dalam kelas mendengar semua, Keysa pun terpaksa mengakui bahwa ia telah mencium Devano.
Air mata semakin deras mengalir di pipi Cheryl saat mendengar pengakuan Keysa. "Kenapa kamu melakukannya dan ada hak apa kamu mencium Dev?" tanya Cheryl dengan kemarahan yang semakin menguasainya.
'Kenapa mencium Dev? Ya, kenapa aku bisa mencium Dev?' Itu juga pertanyaan yang muncul di benak Keysa. Keysa hanya tahu dirinya sedang mabuk saat itu, selebihnya ia juga masih kebingungan.
"Tentu saja karena Dev ganteng dan pasti banyak juga gadis yang ingin menciumnya, hanya saja mereka tidak berani. Dan, aku melakukan apa yang tidak berani dilakukan oleh orang lain." Keysa mencoba mencari alasan. "Apa aku keren?" lanjutnya dengan senyum yang mengembang, mengejek dua gadis yang sedang mengintrogasinya.
Kelas pun kembali hening. Tidak ada yang berani merespon ucapan Keysa, hingga tiba-tiba sebuah tepuk tangan menggema di sana. "Good, good! Jawaban yang sangat berani. Keren!" ucap Ezra sambil tepuk tangan.
Keysa melirik Devano. Dilihatnya wajah lelaki itu sudah semakin kelam, sebentar lagi pasti ada yang meledak kembali. Lantas, melihat ke arah Ezra dan dari sorot matanya Keysa meminta pertolongan kepada lelaki itu. Dengan senyum yang mengembang, Ezra menggerak-gerakkan tangannya memberikan kode supaya Keysa tenang.
Aksi Keysa dan Ezra yang saling pandang dan saling memberi kode itu pun tak luput dari pandangan Devano dan malah membuatnya semakin kesal.
"Karena aku sedang mabuk," jawab Keysa, polos.
"Kenapa memilih menciumku? Padahal di sana banyak orang. Kenapa harus aku?" tanya Devano lagi.
'Kenapa harus dia? Aku juga tidak tahu. Harusnya dia yang tahu, bukankah dia saat itu masih sadar,' gumam Keysa dalam hati. Ya, mungkin jika Devano tidak menghampiri dan mengganggu kesenangannya yang sedang bersenang-senang dengan orang lain, bisa jadi video itu tidak akan ada. Meskipun semalam Keysa tetap menggoda pria, tetapi kalau buka Devano pasti tidak akan berbuntut panjang.
Keysa teringat akan perkataan temannya dulu yang mengatakan banyak tentang kelakuan Keysa kalau sedang mabuk, termasuk ia yang suka menggoda pria yang terlihat sangat cantik. Tanpa sadar Keysa menarik ujung bibirnya, mengingat perkataan temannya itu.
'Apa Dev terlihat cantik sampai aku menciumnya? Tapi kalau aku bilang alasan itu bisa-bisa aku dicincang saat ini juga.'
Keysa tidak mungkin menjawab seperti itu yang ada lelaki itu akan semakin meledak, hingga tanpa sadar Keysa menjawab kalau dia menyukai Devano.
"Karena aku menyukaimu. Kalau aku tidak menyukaimu, mana mungkin aku akan menciummu."
__ADS_1
Mendengar ucapan Keysa, wajah Cheryl langsung berubah pias. "Apa?!" pekik Cheryl. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Begitu pun dengan Devano. Lelaki itu pun tidak kalah terkejutnya dengan kata-kata yang terlontar dari mulut Keysa. Namun, tiba-tiba Devano merasakan ada hal aneh di dalam sana. Hatinya terasa mau meledak mengeluarkan berjuta kupu-kupu yang berterbanganan dan menggelitik. Bahkan, semua orang bisa melihat wajah yang tadi dipenuhi kemarahan itu pun tetiba saja langsung bersemu merah. Sementara itu, Cheryl yang melihat reaksi Devano langsung lari keluar kelas.
Setelah tenang, Devano kembali duduk. Ia menatap sinis Keysa. "Jangan pernah berbohong padaku lagi!"
"Aku tidak berbohong."
Devano langsung memelototi Keysa yang masih terus menyangkal. Padahal, ia masih ingat dengan jelas kejadian semalam, siapa yang disukai gadis itu dan seperti apa pendapat tentang dirinya.
"Kau sendiri yang tahu, kau berbohong atau tidak," jawab Devano, sinis. "Untuk kedepannya menjauhlah dariku! Aku tidak ingin terlibat lagi banyak masalah dengan gadis pembohong sepertimu," lanjutnya tanpa melihat wajah orang yang diajak bicara.
'Apa dia sudah gila? Apa maksud dari semua ucapan-ucapannya?'
Keysa yang merasa Devano sedang menggila pun meminta Ezra bertukar tempat duduk. Dengan senang hati Ezra menyetujuinya. Setelah pindah tempat duduk, Keysa sempat menoleh ke arah Devano. Namun, lelaki itu sama sekali tidak melihatnya dan entah mengapa hatinya menjadi sedikit kesal.
***
Di sisi lain, Cheryl masih menangis dengan Felly yang masih berusaha menenangkannya.
"Apa ada cara untuk menghadapi gadis jelek itu?" tanya Cheryl di sela-sela tangisnya.
Felly tampak berpikir, lalu ia mengusulkan untuk menggunakan sepupu temannya yang seorang playboy untuk menggoda Keysa.
"Ide bagus!" ucap Cheryl.
Senyum licik pun tertampil di wajah dua gadis itu.
***
Menjelang sore hari, Keysa dan Disti sedang mengantri di kantin untuk mengambil pesanan makanan. Tiba-tiba terdengar para gadis meneriaki nama seorang lelaki yang sedang berjalan memasuki kantin.
__ADS_1
Keysa dan Disti yang sedang sibuk pun tidak memperhatikan kerumunan. Namun, saat Keysa ingin mengambil makanan yang dipesan, tiba-tiba ada sebuah tangan yang membantunya membawa kantong tersebut. Keysa melihat ke arah tangan tersebut, lalu mendongak melihat si pemilik wajah tangan itu. Dilihatnya si pria cantik dengan dandanan norak sedang berdiri di samping Keysa dengan senyum yang merekah.