Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
86


__ADS_3

86


Dari balik alat komunikasi yang menampil sang kakek di seberang sana, Keysa mencoba bernegosiasi. Ia yang memiliki sikap pantang mundur  dan menarik ucapan yang sudah keluar mencoba menjelaskan kepada Kakek Surya tentang pertaruhannya dengan orang lain. Keysa tidak akan membiarkan dirinya untuk kalah dan membuat orang-orang itu semakin di atas awan sehingga bisa merendahkannya begitu saja. 


Namun, seperti yang Keysa tahu bukan hal mudah untuk membujuk Kakek Surya. Keduanya tetap pada pendirian mereka masing-masing. 


"Baiklah, kau boleh mengikuti acara itu  tapi dengan satu syarat setelah pemilihan itu selesai kau harus ikut kakek pulang." Kakek Surya memberikan penawaran terakhirnya. 


Keysa pun mengalah. Ia berjanji setelah pemilihan putri kampus selesai, ia akan mengikuti kemauan sang kakek untuk pulang. 


"Gadis pintar!" ucap Kakek Surya sembari mengacungkan jempolnya begitu mendengar jawaban sang cucu yang langsung dibalas cebikan oleh Keysa. 


Namun sejurus kemudian cebikan itu, berubah menjadi senyum yang merekah dengan sejuta rayuan Keysa untuk sang kakek.


"Apa lagi?" tanya Kakek Surya saat melihat gelagat Keysa yang terhalang oleh layar itu. 


"Boleh pinjam helikopternya?" tanya Keysa kemudian.


Keysa yang sempat melihat ada helikopter yang mendarat di atap apartemen, meyakin itu adalah milik sang kakek yang dipakai anak buah kepercayaannya. Besok ia ingin meminjam kendaraan terbang itu untuk menemui Ezra di rumah lelaki itu sesuai janjinya. 


Hari berikutnya, dengan menggunakan helikopter, Keysa sampai di kediaman Ezra. Devano,  Ezra dan Liza langsung keluar rumah saat melihat ada helikopter yang mendarat di halaman rumah Ezra. Senyum pun tertampil di wajah Ezra dan Devano saat melihat siapa yang turun dari kendaraan dengan baling-baling itu. Mereka yang sangat mengkhawatirkan Keysa semenjak kejadian di gunung  kemarin lantas menghampiri Keysa. 


"Bagaimana keadaanmu, Fay? Apa kau baik-baik saja?" tanya Devano dan Ezra bersamaan.  


"Seperti yang kalian liat, aku baik-baik saja," jawab Keysa dengan seutas senyum yang tertampil. 


"Lalu yang kemarin itu siapa?" tanya Ezra. Ia sangat mengkhawatirkan Faya, bahkan sampai tidak bisa tidur. "Kami baru saja akan pergi ke kantor polisi untuk melapor. Untung saja kamu cepat kembali," lanjutnya. 

__ADS_1


"Mereka bukan siapa-siapa, hanya orang suruhan kakek yang menjemputku untuk pulang," jelas Keysa dan dengan kompak Ezra juga Devano ber-oh ria. "Maaf telah membuat kalian khawatir," lanjut Keysa. Ia merasa tidak enak hati telah membuat semua orang khawatir. 


"Tidak apa-apa, kami bersyukur ternyata mereka bukan penculik," jawab Ezra yang diikuti anggukan Devano. 


Setelah itu, Ezra mengajak Keysa masuk ke rumah dan memperkenalkan gadis itu kepada Selena. 


Selena yang sedang duduk di ruang tamu langsung berdiri dan menghampiri Ezra saat melihat anaknya membawa seseorang ke rumah. "Wah, ada tamu, ya!" ucap Selena dengan seutas senyum yang tertampil. 


"Pagi, Tan!" Keysa juga menyapa Selena dengan senyum yang menghiasi wajah. 


"Pagi juga. Ez, apa kamu tidak akan memperkenalkan temanmu ini kepada Mama?" tanya Selena, menggoda Ezra. 


"Perkenalkan ini Faya, temanku, Ma." Dengan malu-malu, Ezra memperkenalkan Faya kepada Selena.


Keduanya pun saling memperkenalkan diri, kemudian Selena mengajak Keysa untuk duduk di ruang tamu dan berbincang-bincang di sana. Sementara itu, Liza merasa iri saat melihat keakraban Keysa dan Selena. 


Hampir seharian Keysa berada di rumah Ezra, mengobrol dengan Selena sampai makan bersama dengan keluarga besar Ezra. Meskipun banyak drama yang harus dilewati karena Liza yang terus menyulitkannya. Untung saja bisa diselesaikan dengan oleh Keysa tanpa harus membuat keributan. 


Menjelang sore, Keysa pulang. Ezra mengantarkan Keysa sampai ke depan rumah dan sekali lagi lelaki itu mengungkapkan isi hatinya. Namun, lagi-lagi Keysa menolaknya. 


"Aku minta maaf. Sangat-sangat minta maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu," ucap Keysa sebelum meninggalkan kediaman Ezra. 


Keysa pun menaiki helikopter, kemudian kendaraan itu pun perlahan  mengudara meninggalkan rumah Ezra. Dari helikopter terlihat Keysa melambaikan tangan kepada Ezra dan Devano dengan seutas senyum yang tertampil.


Ezra dan Devano pun membalas lambaian tangan tersebut. Setelah kepergian Keysa, Ezra menghela napas kasar—lagi-lagi gadis itu menolaknya. 


"Ez, kenapa tidak menyerah saja? Mungkin Faya bukanlah jodohmu. Kita tidak bisa memaksakan perasaan kita. Walau Bagaimanapun Faya juga berhak memilih dan mungkin kau bukan pilihannya." 

__ADS_1


Devano mencoba membujuk Ezra untuk melupakan perasaannya, tetapi Ezra tetap tidak bisa melepaskan perasaannya terhadap Keysa.


***


Keysa kembali ke apartemen dengan sang kakek sudah ada di sana bersama seorang koki yang sengaja dibawa dari ibu kota. Seorang lelaki dengan memakai  baju putih khusus Chef dan apron itu, tampak sedang menyiapkan makanan untuk Keysa dan Kakek Surya. 


Apartemen yang sedang mereka tempati pun sengaja Kakek Surya beli untuk Keysa. 


Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, semua makanan pun terhidang di meja makan dan semuanya adalah makanan favorit Keysa. Keysa yang sudah lama tidak merasakan makanan koki di rumahnya, lantas menyantap makanan yang terhidang dengan begitu lahap. 


"Pelan-pelan, Key! Berapa lama kamu tidak makan enak, sampai-sampai kau kalap seperti ini." Kakek Surya mengejek Keysa. 


Keysa hanya mencebik. Bukankah pertanyaan itu tak perlu ditanyakan lagi, karena jawabannya sudah pasti yakni semenjak Keysa keluar dari rumah. 


"Aku rindu masakanmu Chef! Terima kasih selalu mengingat makanan kesukaanku." Keysa malah mengalihkan pembicaraan kepada Chef yang berdiri tiga langkah di belakang Kakek Surya. 


"Terima kasih, Nona. Semoga Nona selalu menyukai masakanku," ucap Chef sembari membungkuk, kemudian pamit kembali ke dapur. 


"Zian sangat mengkhawatirkanmu!" Tiba-tiba Kakek Surya membahas tentang Zian, lelaki yang hendak dijodohkan dengan Keysa. "Dia juga sangat bingung kenapa kamu tidak menyukainya?" 


Keysa lantas menghentikan kunyahannya saat mendengar ucapan Kakek Surya. Membahas tentang Zian membuat selera makan Keysa menurun. 


"Aku tidak mencintainya, Kek," tandas Keysa. 


"Apa kurangnya dia, sehingga kamu tidak mau membuka hati untuknya? Padahal dia lelaki yang baik, kalian juga saling kenal sejak kecil." Kakek Surya masih berharap cucunya itu mau menerima perjodohan yang ditentukanya. 


Keysa membuang napas kasar. Pembahasan itu membuat napsu makannya benar-benar hilang. "Sebagaimanapun baiknya Zian, tampannya Zian dan apapun itu, Key tetap tidak akan bisa menerima cintanya," jelas Keysa. 

__ADS_1


__ADS_2