
Orang-orang menatap takjub pada sosok gadis cantik jelita bak tuan putri yang berada satu ruangan dengan mereka. Pemandangan yang sangat dibenci oleh Devano, ditambah Keysa tidak mau mendengarkan ucapannya. Ia tidak tahan dengan atmosfer ruangan saat itu, sikap orang-orang apalagi para lelaki yang menatap Keysa tanpa berkedip bahkan sampai ileran membuatnya semakin muak.
'Mata mereka harus dibuka lebar-lebar kalau Keysa hanya milik Devano' pikir Devano yang sudah dikuasai cemburu. Ia lantas menarik bahu gadis yang masih melawan ucapannya itu hingga jarak diantara mereka sangat dekat. Dengan cepat Devano menyambar bibir Keysa dengan tangan menekan tengkuk gadis itu. Devano mencium Keysa di depan umum dan membuktikan bahwa gadis itu hanya miliknya.
"Mmmm ...." Keysa yang mendapat serangan dadakan mencoba memberontak. Namun, semakin Keysa memberontak, Devano semakin menjadi. Devano melahap bibirnya dengan rakus.
Orang-orang di kelas yang sudah kaget oleh kecantikan Keysa pun semakin dibuat terkaget-kaget oleh tingkah Devano yang tiba-tiba mencium Keysa tidak tahu tempat.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Tiba-tiba suara di depan pintu memekakkan telinga, membuat para mahasiswa yang sedang menikmati adegan ciuman gratis terkejut. Begitu pun dengan Keysa. Ia langsung menginjak Devano ketika suara yang sangat dikenalnya menggema di ruangan.
Spontan, Devano melepaskan bibirnya sambil merintih dengan kaki berjinjit. "Aww ...." Devano hendak protes kepada Keysa, tetapi langsung mencelos begitu melihat Miss Susi sedang berjalan ke arah mereka dengan wajah merah padam.
"Apa yang kalian lakukan di kelas, hah?" sarkas Miss Susi dengan mata menatap tajam ke arah Devano dan Keysa.
"Itu ...." Devano bingung harus menjawab apa.
"Dan ini, kenapa kelas jadi banyak bunga begini?" Mata Miss Susi beralih pada kelas yang dipenuhi bunga.
Dosen yang sebenarnya datang ke sana untuk menanyakan kabar kaki Keysa itu tidak bisa menyembunyikan kemarahannya saat melihat kelas penuh bunga, ditambah kelakuan Devano dan Keysa yang sedang berciuman.
Devano dan Keysa seketika langsung mendapat semprotan dan ceramah panjang kali lebar. Keduanya yang memang salah pun hanya manggut-manggut mendengar ucapan Miss Susi. Meskipun dalam hati, Keysa menggerutu menyalahkan Devano.
"Saya tidak mau tahu bereskan semua kekacauan ini,," sarkas Miss Susi di akhir ceramahnya, dan dijawab anggukan Keysa.
__ADS_1
Miss Susi lantas meninggalkan kelas. Saat baru beberapa langkah, dosen killer itu menghentikan langkahnya lagi. Ia teringat pada niat awal dirinya pergi ke kelas. Miss Susi kembali menoleh ke arah Keysa, melihat Keysa dari atas sampai bawah.
"Ada apa, Miss?" Keysa yang ditatap intens langsung waswas dan berpikir yang tidak-tidak. 'Mungkinkah ada kesalahan lain?'
"Bagaimana kakimu?" tanyanya datar.
"Baik, Miss."
"Ok. Jangan lupa bereskan bunga-bunga itu!"
Keysa mengangguk, mengiakan.
Setelah mendapat jawaban dari Keysa, Miss Susi melangkah kembali. Keysa yang mengira ada masalah lagi pun langsung bernapas lega.
Sesuai perintah Miss Susi, Keysa lantas mengambil bunga-bunga yang dikirimkan untuknya itu. Ia membuang semua bunga tersebut ke tong sampah. Devano pun dengan senang hati membantu gadis itu, meski tanpa tutur sapa. Keysa masih kesal oleh ulah Devano yang membuatnya lagi-lagi mendapat marah karena hubungan mereka, memilih mendiam lelaki itu.
Keysa memutar tubuhnya untuk kembali ke kelas, tetapi langkahnya terhenti saat melihat sesuatu yang berkilau tergeletak di dekat tong sampah. Keysa lantas berjongkok dan mengambil benda tersebut.
"Cincin?" Ia memerhatikan benda berbentuk lingkaran dengan permata indah di tengahnya. "Punya siapa?" tanyanya, hingga tatapan Keysa tertuju pada lelaki yang sedang berjalan ke arahnya. Hanya dirinya dan Devano yang bolak-balik ke tong sampah untuk membuang bunga.
Keysa berdiri menatap lelaki yang semakin mendekat. Mereka saling tatap, hingga tanpa disadari keduanya sudah berhadapan. Senyum pun menghiasi wajah tampan Devano dan berhasil membuat Keysa terkesima sejenak.
"Cincinmu! Sepertinya terjatuh saat sedang membuang bunga-bunga tadi." Keysa tersadar dari lamunannya langsung memutus kontak mata mereka, lalu menarik tangan Devano dan meletakkan cincin tersebut di telapak tangan Devano, kemudian pergi.
Namun, dengan cepat Devano meraih tangan Keysa. Menghentikan langkah gadis yang sudah dalam posisi saling membelakangi. "Tunggu!" ucapnya, sambil memutar tubuh hingga keduanya saling berhadapan. Sejurus kemudian, Devano mengangkat tangan Keysa yang dipegangnya, lantas menyematkan cincin itu di jari manis Keysa.
__ADS_1
"Apa-apaan ini?" Keysa yang menyadari Devano memasukkan cincin ke jarinya langsung menarik tangan yang dipegang Devano, tetapi cincin itu sudah terpasang cantik di jarinya.
Keysa memarahi Devano karena memasangkan cincin di tangannya tanpa izin. Ia juga berusaha melepaskan kembali cincin tersebut.
"Itu cincin untukmu. Sebagai pertanda kalau kamu adalah milikku dan tidak ada yang boleh mendekati dan menggodamu lagi," tandas Devano.
Sikap posesif yang kelewat batas adalah hal yang paling tidak disukai Keysa dari Devano. Keysa membuang wajah dengan jengah.
"Memangnya aku barang?" sarkas Keysa, tersenyum sinis. "Aku tidak butuh cincinmu. Aku bukan barang yang bisa kau ikat begitu saja," ucapnya, masih mencoba melepaskan cincin tersebut, tetapi sangat susah. "Lagian aku tidak pantas mendapatkan cincin darimu. Aku tidak pantas untukmu. Aku terlalu murahan yang malah akan membuatmu jijik jika terus bersamaku," lanjutnya lagi.
Wanita jika terlanjur sakit hati, hal yang membuatnya terluka akan selalu kekal di ingatan. Begitupun dengan Keysa. Ia yang masih kesal dengan semua ucapan Devano ditambah sikap posesif lelaki pun terus mengungkit kata-kata Devano.
"Key, aku minta maaf. Berulang kali aku sudah bilang aku minta maaf. Waktu itu aku sedang emosi." Penjelasan yang sama pun didapat Keysa dari Devano.
"Jika sekarang aku memaafkanmu, apa bisa menjamin semuanya akan baik-baik saja dan tidak akan terulang?" Keysa memicing melihat ke arah Devano. "Tapi, mengingat sikap arogan dan posesif yang kelewat batas, aku tidak yakin besok-besok tidak akan terulang lagi," lanjut Keysa.
"Aku janji aku tidak akan mudah marah lagi. Aku posesif karena aku sayang sama kamu. Aku tidak bisa melihat orang lain memberikan perhatian kepadamu karena aku mencintaimu," ucap Devano sambil menggenggam tangan Keysa, menatap gadis itu penuh cinta dan keseriusan.
Sejatinya, Keysa juga mencintai Devano dan tidak tahu akan seperti apa jadinya jika Devano benar-benar meninggalkannya. Keysa menatap lekat-lekat wajah yang terlihat menyesal dengan perbuatan di hari lalu itu, hingga akhirnya sebuah anggukan didapat oleh Devano.
"Aku memaafkanmu," ucap Keysa, membuat Devano spontan langsung memeluknya.
"Terima kasih. Aku mencintaimu."
"Aku juga."
__ADS_1
Keduanya pun berbaikan dengan cincin yang tersemat di jari manis Keysa. Cincin yang sempat ingin dilepaskan oleh Keysa itu tampak sangat cocok melingkar di jarinya, tetapi tidak disangka cincin itu sangat spesial–cincin itu tidak akan bisa dilepaskan jika sudah melingkar di jari yang pas.