
Saat sampai di rumah untuk menemui sang pujaan hati, Devano malah menerima kabar buruk bahwa Keysa akan segera tunangan dengan Zian.
Tidak terima, jelas lelaki itu tidak terima. Bagaimana bisa setelah mendapat restu sang ayah, ia malah akan kehilangan sang pujaan hati. Dengan helikopter, Devano pun memutuskan untuk datang ke kediaman Kakek Surya.
"Jika sampai mereka bertunangan, maka aku pastikan kalian akan menerima akibat dari kecerobohan kalian!" Anak buahnya pun menjadi pelampiasan kemarahan Devano setelah mendapat kabar tidak mengenakkan tersebut.
Sementara itu, anak buah Devano hanya bisa meminta maaf dan dalam hati berharap kalau bos mereka datang tepat waktu.
Helikopter mendarat di halaman rumah Kakek Surya. Devano langsung turun, dan berusaha menemui sang pemilik rumah.
"Aku ingin bertemu dengan Kakek Surya dan Keysa," ucap Devano begitu seorang pelayan membukakan pintu.
"Tuan dan Nona tidak ada di rumah. Mereka sudah berangkat ke hotel untuk mengadakan pesta pertunangan Nona Keysa," jelas si pelayan.
"Di hotel mana acaranya berlangsung?" tanya Devano lagi.
Ia yang terlalu emosi tidak sempat menanyakan dimana acaranya berlangsung kepada anak buahnya. Padahal, jika Devano update berita terkini, kabar pertunangan itu juga sudah menjadi trending topik di berbagai media. Sayangnya, pikiran Devano yang sedang kacau tidak sampai kesana.
"Tuan Devano?" Belum sempat si Pelayan menjawab, seseorang berpakaian serba hitam menghampiri Devano.
Devano menoleh dan melihat penampilan orang itu dari atas sampai bawah hingga kemudian mengiakan pertanyaan orang tersebut.
"Mari ikut dengan saya! Kakek Surya sudah menunggu Anda." Orang itu membungkuk, kemudian mempersilakan Devano untuk mengikutinya.
"Kau siapa?" Namun, Devano juga tidak bisa percaya begitu saja. Musuhnya bertebaran di mana-mana, bisa saja orang yang berada di hadapannya sekarang adalah musuh.
"Aku orangnya Kakek Surya."
__ADS_1
"Apa buktinya?"
Devano tetap waspada. Bertepatan dengan itu terdengar dering ponsel dari saku orang tersebut, yang langsung dijawabnya.
"Tuan ingin berbicara dengan Anda." Orang itu memberikan ponselnya kepada Devano.
Devano menerima ponsel dan segera menempelkan benda tersebut di telinga hingga terdengar suara yang benar-benar dikenalnya.
"Kakek," ucap Devano.
"Cepat datang bersama anak buahku. Setengah jam lagi acara akan segera dimulai. Jika sampai kau tidak datang, maka Keysa akan menjadi milik Zian. Dan, jangan harap besok kau bisa melihat matahari lagi!" ucap Kakek Surya, kemudian mengakhiri panggilannya.
Alih-alih takut dengan ancaman Kakek Surya, Devano malah menampilkan senyum. Bukankah ucapan Kakek Surya menandakan bahwa lelaki tua itu menginginkannya yang bertunangan dengan Keysa, bukan Zian. Itu artinya dirinya sudah direstui penuh oleh Kakek Surya.
"Ayo berangkat!" Devano menyodorkan ponsel kepada orang itu dan mengajaknya segera pergi.
"Acara Nona disiarkan secara live hampir di semua media digital," ucap orang yang duduk di dekat sopir.
"Benarkah?"
Orang itu mengangguk pasti.
"Kenapa aku tidak tahu," rutuk Devano, lebih kepada diri sendiri. Kemudian mengambil ponsel dan melihat salah satu chanel televisi di ponsel pintarnya. Benar saja, acara tersebut ditayangkan secara langsung. Pesta itu terlihat sangat megah, bahkan senyum bahagia Zian dan keluarga terus diperlihatkan ke kamera, membuat Devano langsung mengepal sempurna menahan amarah.
'Mereka masih bisa tersenyum bahagia, setelah membuat mommy koma bertahun-tahun." Devano dibuat geram mengingat informasi tentang perlakuan saudara ibunya itu.
"Dan ... kau! Berani sekali kau mau mengambil kekasihku. Aku tidak akan membiarkan itu. Kau adalah orang yang sudah membantu Exel melancarkan rencananya untuk menghabisiku. Maka sudah seharusnya kau juga mendapat hadiah dariku, tapi itu bukan Keysa," lanjut Devano dengan mata menatap tajam layar yang menampilkan Zian di sana.
__ADS_1
"Siapa yang menginginkan acara ini diselenggarakan secara live?" tanya Devano kepada anak buah Kakek Surya.
"Keluarga Zian atas persetujuan Kakek Surya," jawabnya.
Smirk jahat pun terbit di wajah Devano. Sebuah ide cemerlang tercetus begitu saja di kepala. "Selamat bersenang-senang Om dan Tante! Tertawalah sepuasnya, sebelum keponakanmu ini datang membawa badai besar," gumam Devano.
Orang suruhan Kakek Surya hanya menoleh sekilas ke arah Devano, dan melihat ekspresi membunuh seorang Devano membuatnya bergidik ngeri. 'Dia seperti seorang psikopat,' gumamnya dalam hati, kemudian kembali melihat ke depan.
Rencana besar sudah terpikirkan dan tinggal mengeksekusi. Devano mengirim pesan ke beberapa orang untuk segera menjalankan perintahnya.
Setelah itu, ia kembali menonton acara pertunangan Keysa dan Zian dengan begitu santai. Hatinya yang tadi gundah gulana, seketika riang gembira. Apalagi saat menyaksikan Keysa yang tidak kunjung hadir di panggung. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama. Devano terpaku saat kamera menunjuk pada Keysa yang tampil sangat cantik sedang memasuki aula, hingga dadanya bergemuruh hebat ketika Keysa dijemput oleh Zian untuk naik ke panggung.
"Lebih cepat bawa mobilnya!" titah Devano dengan tidak sabaran. Ia tidak akan membiarkan Keysa jatuh ke tangan orang lain, apalagi seorang Zian.
"Ini sudah sampai, Tuan."
Devano yang tidak memperhatikan jalan dan lebih fokus pada live streaming yang ditonton tidak tahu kalau mereka sudah tiba di hotel.
Devano mengedarkan pandangan dan benar saja mereka sudah sampai di hotel berbintang dengan banyak ucapan happy engagement dan banyak karangan bunga terpajang di sana.
"Ok." Meski sedikit malu, tetapi Devano masih bersikap cool. Kemudian segera keluar dan pergi ke tempat di mana pertunangan itu berlangsung.
Sementara itu, orang suruhan Kakek Surya dan si sopir langsung meledakkan tawa atas kelakuan Devano, hingga sebuah pesan masuk dari Kakek Surya dan segera dibaca dan dibalas.
Kaki melangkah dengan sangat cepat menuju ballroom. Tidak peduli apapun yang menghalangi langsung disingkirkan oleh Devano.
"Hentikan!" teriak Devano begitu sampai di pintu ballroom hingga semua orang menoleh ke arahnya.
__ADS_1