
71
Seunit mobil sport melesat membelah jalanan, setelah sebelumnya mengantarkan dua gadis ke asrama. Senyum terus mengembang menghiasi wajah si pengemudi karena telah berhasil mengantarkan Keysa pulang.
"Lihatlah, Ez! Mau bersaing seperti apapun, Exel pasti kalah telak dariku." Devano menyombongkan dirinya setelah membuat Exel kalah telak karena Keysa lebih memilih diantar olehnya daripada Exel.
"Jadi, kau dari tadi senyum-senyum kayak orang gila hanya karena berhasil mengalahkan Exel?" Ezra menyipitkan sebelah matanya. "Aku pikir kau benar-benar menyukai Keysa. Cuma akting ternyata. Kasihan sekali Keysa, hanya jadi bahan permainan dua orang yang ingin saling balas dendam," lanjutnya sambil geleng-geleng.
Devano tidak terima dengan ucapan Ezra yang terakhir, ia lantas menoleh ke arah Ezra dengan mata yang sudah membulat sempurna. "Aku tidak mempermainkannya," sarkas Devano.
"Lalu?"
"Aku senang Exel kalah, tapi aku lebih senang lagi karena Keysa lebih memilihku daripada pria tengik itu. Itu sebuah satu kesatuan, jadi jangan pernah kau bilang aku mempermainkan Keysa," tandas Devano.
"Up to you," jawab Ezra, lalu memilih menutup kedua matanya.
"Menurutmu bagaimana langkah selanjutnya supaya aku bisa lebih dekat dengan Keysa?" Devano meminta bantuan kepada Ezra. Namun, yang dimintai bantuan tidak menjawab dan malah pura-pura tidur. "Ez, kau dengar aku tidak?" Ia yang tahu lelaki di sampingnya hanya pura-pura tidur lantas memukul lengan Ezra.
"Ezra!" teriak Devano sangat keras saat Ezra lagi-lagi tidak menjawab, hingga lelaki yang pura-pura tidur itu langsung mengusap telinganya yang terasa sakit karena suara Devano yang masuk semua ke telinga.
"Apa sih? Kau menggangguku saja," omel Ezra.
"Jangan pura-pura tidak mendengar ucapanku tadi."
"Aku tidak tahu. Giliran butuh saja kau minta bantuanku, kemarin saja saat di mall kau usir aku hanya demi dia. Pikir saja sendiri. Kemarin juga kagak mikir-mikir waktu nyuruh aku pulang naik angkutan umum." Ezra tidak mau membantu Devano dan malah mengungkit saat dirinya diusir oleh sahabatnya itu, kemudian memejamkan mata lagi. Tidak ingin lelaki yang sedang menyetir itu terus berisik.
"Jika kau mau membantuku mendapatkan Keysa, aku juga akan membantumu mendapatkan dewi cintamu itu. Bagaimana?"
__ADS_1
Devano memberikan sebuah penawaran untuk membantu Ezra mendapatkan Faya. Akan tetapi, mendengar ucapan Devano, Ezra malah mengembuskan napas. Gurat kekecewaan terlihat jelas di wajahnya.
"Sepertinya dia tidak menyukaiku. Dia sudah tidak pernah membalas pesanku lagi. Bahkan, setelah pertemuan di mall pun, dia sama sekali tidak respect padaku," ucap Ezra yang langsung disemangati Devano untuk tidak patah semangat.
***
Setiba di rumah, Devano yang telah melakukan banyak dram seharian ini langsung duduk di sofa, kemudian mengirim pesan kepada Keysa.
Sementara itu, Keysa di asrama sedang memeriksa instagram. Gadis yang sudah mengganti pakaian basahnya itu tampak sedang membaca pesan dari DM-nya yang dikirim oleh sebuah perusahaan kosmetik yang meminta Keysa mengiklankan produk mereka dengan fee 100 juta setiap tahun, dan jika respon bagus mereka akan menaikan fee-nya menjadi 150 juta. Reaksi Keysa tidak perlu ditanya lagi, tanpa perlu pikir dua kali Keysa langsung menerima tawaran itu.
Tidak selang berapa lama, perusahaan kosmetik itu meminta Keysa untuk mengiklankan kosmetik mereka dengan membuat video dahulu dan akan dikirim fee sebanyak 40 juta. Keysa pun menyetujuinya.
Setelah urusan bisnis deal, Keysa lantas mengambil ponsel yang beberapa waktu lalu berdering. Dilihatnya, Devano mengirim sebuah pesan dan menyapanya.
"Tumben dia mengirim pesan," gumam Keysa seraya membalas pesan tersebut.
[Bagaimana perasaanmu kepada Ezra? Apa kamu menyukainya?]
[Aku hanya menganggapnya teman. Aku menyukainya sebatas teman saja. Memangnya kenapa?]
[Kalau Exel? Apa kau menyukainya?]
"Ini anak kenapa, ya?" tanya Keysa pada diri sendiri saat membaca pesan selanjutnya dari Devano dan langsung dijawab 'tidak' olehnya.
Di kediaman mewahnya, Devano yang membaca balasan pesan dari Keysa pun langsung bernapas lega. Keysa tidak menyukai sahabat ataupun rivalnya. Sementara itu, lelaki yang sempat menolak untuk membantunya tampak sedang memikirkan rencana selanjutnya untuk membuat Keysa semakin dekat.
"Bagaimana kalau kau pura-pura sakit?" usul Ezra dan langsung disetujui oleh Devano.
__ADS_1
***
Di kampus, Ezra berjalan menemui Keysa yang sedang berada di kantin. Ia memberitahukan bahwa Devano sakit karena kehujanan kemarin, lalu meminta gadis itu untuk datang ke rumah Devano dan merawatnya.
Keysa yang merasa bersalah pun, lantas meminta Disti untuk membuatkannya izin tidak masuk kelas.
"Dis, tolong buatkan aku izin, ya!" ucap Keysa, lalu pergi.
Disti hanya menjawab, "Ya." Dengan mata yang menatap kepergian Keysa dengan rasa tidak suka, lalu menaruh sendok yang dipegangnya dengan kasar. Disti cemburu kepada Keysa yang mendapat perhatian dari Devano, Ezra dan Exel. Bahkan, Exel mengirimkan tas mahal yang menjadi impiannya kepada Keysa semalam.
Sesampai di rumah Devano, rumah mewah dengan bergaya Eropa itu tampak sepi seperti tidak berpenghuni. Hanya keteplak ketepluk bunyi sandal Keysa menginjak lantai yang bisa didengar oleh Keysa. Keysa pun lantas naik ke lantai dua untuk melihat keadaan Devano di kamar.
Setiba di atas, Keysa mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat, tetapi tidak ada sahutan dari dalam. Dan, saat ia memutar handle pintunya ternyata tidak dikunci.
"Masuk sajalah!" ucap Keysa begitu pintu terbuka sedikit, lalu membukanya lebar. "Dev, aku masuk, ya!" lanjutnya sambil berjalan masuk, meskipun tidak ada jawaban dari si pemilik kamar.
Begitu masuk ke kamar, Keysa langsung membungkam mulutnya sendiri. Ia dibuat kaget dengan keadaan lelaki yang sedang tertidur di ranjang itu.
"Ya, Tuhan. Penampakan macam apa ini?" gumam Keysa sambil menelan ludahnya sendiri dengan susah. "Apa dia seorang eksibisionis?" gumamnya lagi.
Meskipun Devano tampak tidur dengan tidak memakai busana, tetapi kaki Keysa terus mendekat ke tempat tidur Devano. Hingga, ia merutuki pikirannya yang sudah berpikir kotor sembari cengengesan karena ternyata Devano tidak telanj*ng bulat, lelaki itu mengenakan boxer ultraman yang membuat Keysa menahan tawa.
Ia pun lantas mendekati ranjang dan memeriksa dahi lelaki yang terlihat sangat pucat. "Panas sekali," gumam Keysa begitu tangannya menempel dengan kening Devano. "Panas tinggi begini, kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?" rutuk Keysa.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit saja. Kamu tunggu sebentar, ya!" Keysa berniat mencari Ezra dan mengantar Devano ke rumah sakit.
Namun, langkah Keysa terhenti saat tiba-tiba Devano menarik tangannya dan berkata, "Mom, jangan pergi!" ucapnya dengan sangat lirih.
__ADS_1