
Devano datang ke Villa setelah mendapat pesan dari Alea. Sebuah pesan yang mengadu domba hubungannya dengan Ezra dan Keysa. Ia tidak percaya akan pesan itu, tetapi ia juga ingin membuktikan kepada Alea bahwa Keysa bukanlah orang seperti yang dituduhkan Alea.
[Keysa bukanlah orang baik seperti yang kamu pikirkan. Dia seorang pembohong besar.] Sebuah pesan dikirim Alea dan langsung membuat Devano mendidih.
[Jaga bicaramu! Jangan pernah menjelek-jelekan kekasihku.]
[Aku tidak menjelek-jelekkan, tapi itu sebuah kenyataan. Dia seorang penipu, yang merubah penampilannya demi sebuah tujuan yakni menghancurkanmu. Satu lagi, yang harus kamu tahu Ezra juga tahu akan hal itu, bahkan saat ini mereka sedang bersama.]
[Apa maksudmu?]
[Keysa yang selama ini bersamamu bukanlah Keysa yang sebenarnya. Selama ini dia menyamar dan menipu dirimu. Jika kamu ingin tahu Keysa yang sesungguhnya datanglah ke Villa X. Kamu bisa melihat kebenaran ucapanku.]
Namun, sesampai di Villa, Devano tidak menemukan Keysa. Ia hanya melihat Ezra dan Faya dari jarak sedikit jauh sedang melakukan pemotretan.
"Gadis itu memang minta dihajar," gerutu Devano, ketika hanya melihat Faya, Ezra, Felix dan Alea. "Tapi, tidak ada salahnya aku bergabung dengan mereka, sudah lama juga tidak say hello dengan Faya."
Devano yang sudah kepalang basah sampai di Villa memutuskan untuk menemui mereka. Ia berjalan menghampiri empat orang yang sedang melakukan pemotretan. Bersamaan dengan itu, Felix pergi dari tempat pemotretan untuk membawa sandal untuk Keysa.
Setiba di dekat mereka, Devano melihat Alea yang sedang menghadang kaki Keysa hingga Keysa terjatuh. "Awas!" teriak Devano, bersamaan dengan Ezra yang juga mengucapkan kata yang sama, tetapi diakhiri oleh nama kekasihnya.
Devano membeku seketika. 'Apa maksudnya ini?' Ia mencoba mencerna ucapan yang baru saja didengarnya. Seketika Devano teringat dengan isi pesan Alea. "Jadi ini maksudnya. Keysa dan Faya adalah orang yang sama? Dan Ezra sudah mengetahuinya. Mereka mengkhianatiku," gumamnya masih dengan wajah tidak percaya.
Hingga akhirnya, kedua tangan Devano mengepal sempurna dengan rahang yang mengeras mendapati kenyataan jika dirinya telah dibohongi dan dikhianati oleh orang-orang terdekatnya. Devano berjalan mendekat ke arah dua orang yang sedang bersama dengan amarah yang sudah menggunung dan siap meledak.
Sementara itu, Ezra dan Keysa langsung menoleh ke arah Devano. "Dev," ucap keduanya bersamaan.
Devano mendekat kepada dua orang yang masih terpaku dengan kedatangannya di sana. "Apa maksudnya kau memanggil Faya dengan sebutan Keysa?" tanya Devano dengan wajah datar dan dingin. Kilatan amarah terlihat jelas dari mata yang menatap tajam Ezra dan Keysa secara bersamaan. Tanpa menunggu jawaban Ezra, Devano lantas bertepuk tangan dan tertawa dengan begitu keras. "Gila, ini sungguh gila! Permainan apa yang sedang aku saksikan ini?" tawanya semakin meledak, tetapi sejurus kemudian tawa itu berubah menjadi mimik wajah yang mengerikan.
Ezra dan Keysa berniat untuk menjelaskan, tetapi lelaki yang sudah dipenuhi amarah itu tidak sedang membutuhkan penjelasan. Devano terus memberondong keduanya dengan pertanyaan tanpa memberikan waktu kepada Ezra dan Keysa untuk menjelaskan.
__ADS_1
"Jadi kamu itu orang yang sama dengan gadis yang bernama Keysa, wahai Nona Faya?" Devano berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Keysa yang masih duduk di atas bebatuan, kemudian mengangkat dagu Keysa dengan kasar hingga mata mereka saling bertemu.
"Dev–"
"Diam!" bentak Devano. "Aku sedang tidak ingin mendengarkan kata-kata dari gadis pembohong dan penipu sepertimu," lanjutnya sambil melepaskan cengkeramannya pada dagu Keysa. "Aku benar-benar tidak menyangka bisa tertipu dengan permainan kalian. Apa untungnya bagimu mempermainkanku Nona Faya, salah, Nona Keysa, salah juga. Kedua nama itu terlalu bagus untukmu, kau lebih pantas disebut Penipu, penjilat, pengeret, pembohong, penghianat, itu nama-nama yang cocok untukmu.
"Dasar wanita murahan, tidak tahu diri, tidak punya harga diri!" Devano memarahi dan menghina Keysa habis-habisan. Lelaki itu yang dalam keadaan emosi itu sudah termakan chat-an Alea yang mengatakan Keysa mendekatinya hanya sebagai ajang balas dendam dan menguras hartanya. Devano melontarkan semua kata-kata kasar dan makian kepada gadis yang terus memanggil namanya meminta Devano memberikan ruang untuk menjelaskan. Namun, Devano tidak memberikan kesempatan itu.
"Dan, aku sangat kecewa padamu Ez!" Devano menunjuk Ezra yang sejak tadi hendak memotong ucapannya. "Kau bersekongkol dengannya. Kau tahu kalau mereka gadis yang sama. Hanya karena cinta kau berani mengkhianatiku, hah?" Devano menatap tajam Ezra. " Kalian benar-benar pasangan serasi. Sama-sama penghianat. **** you!" sarkasnya lalu pergi.
"Dev, tunggu dulu! Kau salah paham." Ezra mencoba menjelaskan. Ia tidak mau Devano salah paham, tetapi Devano sama sekali tidak mendengarnya. Lelaki itu pergi dengan kemarahannya.
Keysa yang tidak bisa berdiri hanya bisa menatap kepergian Devano dengan air mata yang mengalir deras. "Dev," panggilnya, dengan begitu lirih. "Maaf."
Felix kembali dengan membawa sandal tipis untuk Keysa. Namun, ia dikejutkan dengan Keysa yang sudah duduk di tanah bercampur batu dengan heels yang patah, serta Devano yang sudah ada di sana, tetapi pergi begitu saja tanpa menolong Keysa. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi, tetapi Felix bisa menebak kalau sesuatu yang buruk telah terjadi.
Felix langsung menghampiri Keysa. "Ada apa, Key?"
Tanpa bertanya lagi, Felix pun langsung memapah Keysa pergi dari sana.
Sementara itu, Ezra masih di sana dengan mata yang menatap tajam ke arah gadis yang sejak tadi terlihat biasa-biasa saja, bahkan tidak kaget saat kedatangan Devano. Ezra yakin semua ini adalah ulah Alea.
"Apa ini adalah ulahmu?"
"Aku tidak senang setiap orang menyukai Keysa," sarkas Alea, tanpa rasa berdosa.
"Dasar bermuka dua. Hanya karena kau tidak suka, kau sampai mengadu domba kami." Ezra menggeleng dengan ujung bibir yang terangkat, tersenyum sinis. "Pantas saja kau tidak disukai orang-orang. Orang bermuka dua sepertimu memang pantasnya hidup sendiri. Kau tidak pantas berteman dengan siapapun," tandasnya, lalu meninggalkan Alea sendirian di sana.
***
__ADS_1
Felix membawa Keysa ke rumah sakit. Akibat jatuh itu, Keysa mengalami patah dan di gips. Setelah dari rumah sakit, Felix mengantar Keysa pulang ke asrama dan mengantarnya sampai ke kamar.
Sambil memegang kursi roda dengan Keysa yang duduk di atasnya, Felix mengetuk pintu kamar Keysa. Dari dalam kamar terdengar Disti bersuara untuk menunggu, hingga akhirnya pintu dibuka Disti.
"Fel, kamu ajak siapa? Dia kenapa? Keysa mana?" Sederet pertanyaan keluar dari mulut Disti saat melihat Felix bersama seorang gadis, tetapi bukan Keysa.
"Ini Keysa," ucap Felix, sambil mendorong kursi roda masuk ke kamar, lalu membantu Keysa pindah ke tempat tidur.
Sementara itu, Disti masih mematung di depan pintu mencoba mencerna ucapan Felix yang sungguh tidak masuk akal. Keysa yang dikenalnya bagaikan bumi dan langit dengan Keysa yang dikenalnya.
"Titip Keysa, dia lagi sakit lahir batin," tandas Felix, sambil menepuk bahu Disti–menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Tanpa menunggu jawaban dari Disti, ia pun langsung pergi.
Disti menoleh ke arah Keysa, lalu bergegas menutup pintu dan menghampiri Keysa. "Key, ini beneran kamu?" tanya Disti, masih ragu.
Keysa hanya mengangguk pelan.
Disti melongo, terlalu banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya. Entah harus apa dulu yang harus ditanyakan.
"Jadi selama ini kamu menyamar? Kenapa menyamar? Lalu itu kenapa?" Disti melihat kaki Keysa yang di gips serta wajah Keysa yang terlihat lesu dan sedih.
"Duduklah!" Keysa menepuk tempat tidur di sebelahnya, meminta Disti duduk di dekatnya.
Disti mengangguk. Setelah Disti duduk, Keysa menjelaskan alasan penyamarannya selama ini. Dari awal, ia yang berniat kabur dari perjodohan keluarga, hingga akhirnya berlangsung demi menuruti perintah sang kakek.
"Setelah pulih, mungkin aku akan pulang saja," tandas Keysa, di akhir ceritanya.
Disti hanya bisa menghibur dan menenangkan Keysa. Ia sendiri terlalu syok dengan kenyataan yang baru diketahuinya.
Bersamaan dengan itu, ponsel Keysa berdering. Panggilan suara dari sang kakek tertera di sana. Kakek Surya yang mengetahui Keysa terluka langsung menelpon cucunya itu dan menanyakan keadaanya.
__ADS_1
"Aku dan Dev sudah putus," ucap Keysa, memberitahu hubungannya yang sudah berakhir.