Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
90


__ADS_3

90


Ezra dan Devano saling melempar pandangan saat mendengar Liza mengadu. Devano yang sudah bertekad untuk memercayai Keysa pun memilih melangkah  tanpa memedulikan ucapan Liza. Begitu pun dengan Ezra, lelaki itu juga memilih mengabaikan Liza. 


"Ckck ... kasian enggak dianggap. Semua orang juga tahu siapa yang suka membully di sini," sindir Keysa. 


"Kau!" Liza langsung berbalik dan menunjuk Keysa dengan penuh amarah. 


Keduanya pun kembali bertengkar dan merembet pada acara pemilihan putri kampus. Keysa dan Liza memproklamirkan diri mereka masing-masing akan memenangkan lomba itu. 


"Kau tidak perlu bermimpi. Sudah jelas kau sangat jauh dari kriteria putri kampus dan kau sudah pasti kalah. Jadi, bersiaplah menepati janjimu," tandas Liza, lalu meninggalkan Keysa. 


"Kita lihat saja nanti," gumam Keysa dengan ujung bibir yang sedikit terangkat sambil menatap punggung Liza yang berjalan menuju tempat duduk. 


Keysa hanya perlu memenangkan dua ronde pertama dari Liza, karena ia tahu Arsen telah membantu mengubah penilaian lomba. 


Semua orang duduk di tempat duduknya masing-masing. Keysa yang masih duduk di samping Devano, sengaja memalingkan wajah dari lelaki itu saat Devano tersenyum ke arahnya. Ia tidak mau melihat Devano. 


"Dia kenapa?" gumam Devano dalam hati, merasa diabaikan begitu saja.


Ia pun melemparkan bolpoin ke arah Keysa dan mendarat tepat di lengan Keysa, berharap gadis itu membalas atau setidaknya merespon. Akan tetapi, Keysa hanya mengambil bolpoin itu tanpa menoleh ke arah Devano dan langsung menyimpannya di meja, kemudian dirinya fokus kembali pada buku yang sedang dibaca. 


Masih tidak mendapatkan respon dari Keysa, Devano pun menggeser kursinya membuat kursi keduanya saling menempel. "Apa kau marah karena candaanku semalam?" tanya Devano to the point, mengingatkan Keysa tentang kesepakatan lima ciuman untuk lima miliar. 


Keysa menoleh ke arah lelaki di sampingnya dan menatap wajah lelaki itu cukup lama. 


'Tadi aku ingin dia tidak mengabaikanku, tapi melihat dia menatapku seperti itu kenapa jadi horor,' gumam Devano dalam hati yang merasa salah tingkah karena dipandang Keysa dengan intens. 


"Baik aku terima tawaranmu. Aku setuju berciuman untuk melunasi hutangku, tapi dengan satu syarat kamu tidak boleh memaksa," tandas Keysa kemudian, yang membuat Devano terperangah. 

__ADS_1


"Apa kau yakin? Jadi yang semalam itu tidak bercanda?" tanya Devano tidak percaya. 


"Yakin," ucap Keysa. 'Kapan lagi ada kesempatan melunasi hutang sebanyak itu hanya dengan ciuman,' lanjut Keysa dalam hati.


Jangan tanya perasaan Devano. Sudah pasti di dalam hati ia sudah bersorak gembira. Bahkan, senyum menghiasi wajahnya saat mendengar jawaban Keysa. 


***


Lomba pemilihan putri kampus akan segera dimulai. Keysa menyiapkan tampilan permainan alat musik selo, sedangkan Liza memilih   biola. Liza sendiri berada di sana dengan ditemani oleh Ezra. 


Berada satu ruangan dengan Liza sepertinya memang tidak akan berakhir aman, damai dan sentosa bagi Keysa. Keduanya kembali bertengkar dengan Liza yang mengolok-olok permainan selo Keysa. 


Begitu Liza meninggalkan ruang musik, Keysa pun lantas mengambil biola Liza dan melemparnya, meskipun Keysa tahu kalau biola itu tidaklah murah. 


***


"Apa yang kau lakukan pada biolaku?" sarkas Liza, menghentikan permainan selo Keysa. 


Keysa menoleh ke arah Liza, lalu menghentikan permainannya. "Apa maksudmu? Dari tadi aku di sini. Aku tidak tahu menahu," kilah Keysa, kemudian bermain kembali. 


"Jangan bohong! Hanya ada kau di sini, dan pasti ini juga ulahmu!" sarkas Liza lagi. 


"Buktinya apa kalau aku yang melakukannya?" tanya Keysa lagi, dengan mata yang fokus pada dawai yang sedang digesek dan dipetiknya. 


Liza mencoba berpikir, kemudian ia melirik ke arah Ezra yang masih setia menunggunya di ruangan itu. Liza lantas menghampiri Ezra. 


"Ez, pasti dia yang telah membuat biolaku rusak. Iya, kan?" tanya Liza kepada Ezra. 


"Aku tidak tahu. Aku tidak melihat Keysa berjalan ke tempat biola," ucap Ezra berpura-pura. 

__ADS_1


Mendengar jawaban Ezra, Keysa hanya mengulum senyum. Rencananya menyogok Ezra dengan memberi informasi tentang Faya ternyata membuahkan hasil. Lelaki itu tidak membocorkan kalau dirinya yang sudah merusak biola Liza, dan Keysa pun tidak perlu mengganti rugi. 


***


Keesokan harinya .... 


Liza mengajak Devano untuk menemaninya latihan. Gadis itu sengaja menceritakan dan memperlihatkan biolanya yang patah dan berharap Devano akan membelanya, lalu menegur Keysa. 


Namun, diluar dugaan Devano malah tertarik dengan suara selo yang dimainkan Keysa, bahkan Devano langsung pergi mendekati Keysa hanya dengan jentikan jari yang Keysa lakukan. "Permainanmu bagus sekali," puji Devano yang dijawab senyuman oleh Keysa.


"Kenapa jadi seperti ini?" rutuk Liza, yang malah melihat pemandangan yang sangat memuakan bagi Liza. 


Sementara itu, Devano dan Keysa memutuskan untuk pindah tempat latihan, meninggalkan Liza sendirian dengan kedongkolannya. Mereka pun sampai di tepi danau. Keduanya duduk di sebuah bangku panjang dan Keysa kembali berlatih. 


Devano memperhatikan Keysa yang sedang memainkan selo. Kelincahan tangan kanan Keysa yang menekan dan menarik penggesek selo, sehingga menghasilkan suara yang merdu tidak luput dari perhatian Devano.


Mendengarkan setiap nada yang keluar dari alat musik yang dimainkan Keysa membuat Devano teringat akan ayahnya yang suka menari untuk sang ibu. Devano tanpa sadar  menari dengan mengikuti suara selo yang dimainkan Keysa. Lelaki itu bergerak dengan begitu lincah mengikuti alunan musik, membuat keduanya seperti pasangan serasi yang sedang melakukan duet —tarian Devano sangat cocok dengan musik yang Keysa.


Keysa langsung bertepuk tangan saat permainan selo dan tarian Devano berakhir. "Wow ... tarian yang sangat keren," puji Keysa.  "Bagaimana kalau kamu menjadi pendampingku saat tampil nanti? Aku yang bermain selo, kamu yang menari," lanjutnya, meminta lelaki itu menemaninya saat tampil. 


"Aku tidak mau." Devano langsung menolaknya mentah-mentah. Ia hanya menari untuk Keysa bukan untuk konsumsi publik. 


Keysa hanya bisa mengerucutkan bibir saat mendapat penolakan Devano. Padahal, ia sangat berharap lelaki itu mau menerima tawarannya. "Semoga saja kamu bisa berubah pikiran," ucap Keysa kemudian. 


***


Hari yang ditunggu pun akhirnya datang juga. Hari pemilihan mahasiswa tercantik alias putri kampus di mulai. 


Happy reading, Kak. Buat yang minta visual, kita berfantasi masing-masing aja, ya. Aku takut ekspetasi aku sama kakak readers tidak sama, 🤭🤭🤭. Buat yang nanya kapan terbongkarnya identitas Keysa, kira-kira kapan ya? Kita ikuti aja alurnya dulu, so pasti suatu saat pasti terbongkar 🤣🤣🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2