Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
191


__ADS_3

Setelah menenangkan Cheryl, Exel mengajak adik perempuannya itu untuk pulang. Exel mencoba menenangkan Cheryl yang terus menangis dan marah-marah karena informasi yang yang didapat. Ia meminta Cheryl untuk tetap tenang. Namun, pada kenyataannya, Exel sendiri pun merasa tidak tenang dengan semua yang terjadi. Exel tidak puas akan perkembangan hubungan keysa dan Devano. 


"Seharusnya hubungan mereka sudah kandas sejak dulu. Tapi kenapa mereka selalu saja kembali meskipun telah melewati masalah yang pelik." Exel yang sedang duduk di mini bar kamarnya menatap gelas berisi wine sambil diputar-putar. "Ah ...." Exel melempar gelas tersebut sembarangan. Dadanya dipenuhi oleh amarah mengingat semua rencana untuk menghancurkan Devano dan memisahkan lelaki itu dari Keysa selalu saja gagal. 


"Jika mereka terus bersama dan mendapat dukungan dari kedua keluarga akan sangat susah bagiku untuk membalas dendam kepada Dev. Lain halnya, jika dia menikah dengan Cheryl. Aku akan dengan mudah mengontrol, bahkan menyiksa lelaki itu sekalipun," tandasnya lagi. 


Tujuan Exel mendukung Cheryl mendapatkan Devano hanya demi melancarkan rencananya. Akan tetapi apabila Devano terus di sisi Keysa, semuanya tidak akan terwujud. "Ah, sialan!" Exel dibuat frustrasi oleh rencana-rencana yang sudah tertata rapi, tetapi terbengkalai karena kehadiran Keysa. 


"Akan aku pastikan pertunangan Cheryl dan Devano tetap digelar," tekadnya dalam hati. 


Sementara itu, untuk permintaan maaf terhadap Keysa, Devano mengajak kekasihnya itu berlibur ke sebuah desa. Keysa yang awalnya menolak dan tidak mau memaafkan Devano, akhirnya luluh saat melihat keindahan desa yang sedang disinggahi itu. Desa modern di pesisir pantai yang memiliki berbagai destinasi pariwisata dengan penduduknya yang memiliki bisnis lokal, yakni membatik. Setiap pengunjung yang singgah ke tempat itu, tidak akan menyangka jika tiga tahun lalu, desa itu merupakan desa yang tertinggal dengan penduduk yang rata-rata miskin. Berkat tangan Devano selaku pengembang, desa itu berkembang pesat. Tidak ada lagi kelaparan dan pengangguran. 


Keysa terpaku dengan tempat yang didatanginya, selain tempatnya yang indah, orang-orangnya pun sangat ramah. Keduanya jalan-jalan di tepi pantai. Membiarkan kaki mereka menginjak pasir dan merasakan air asin yang menyentuh kaki saat air laut itu terbawa ombak dan menyapa mereka. 


"Tempatnya masih asri dan alami," gumam Keysa, takjub. Menikmati sunset yang menampilkan semburat jingga indah khas matahari akan tenggelam, dengan burung yang berbondong-bondong hendak pergi ke peraduan mereka. Sangat indah.


Dulu, tempat itu jarang terjamah, hanya orang-orang desa yang bisa menikmati senja indah di tempat itu. Namun, sekarang, berkat Devano, desa itu menjadi desa yang maju dengan wisatawan yang tidak pernah putus berdatangan. Tentunya masih dengan menjaga keasrian dan kebersihan yang menjadi ciri khas desa tersebut. 

__ADS_1


"Apa kamu suka?" tanya Devano, menatap gadis yang berjalan di sampingnya sambil bergandengan. 


Keysa menoleh sekilas dengan seulas senyum yang tertampil. "Ya. Aku suka." 


Devano bernapas lega mendengar jawaban Keysa. Usahanya membawa Keysa ke desa tidak sia-sia. Semenjak sampai di sana, mood Keysa memang berangsur membaik. Gadis itu menikmati setiap pesona yang disuguhkan daerah pesisir itu, hingga melupakan masalah yang terjadi. Mereka kembali berbaikan dan mesra lagi. 


Devano semakin mengeratkan genggaman tangan mereka, berharap akan tetap seperti sampai kapanpun. Terus melangkah bersama dan berdampingan, meskipun masalah datang menerpa. "Maaf telah membuatmu marah dan kecewa. Aku mencintaimu, tetaplah di sisiku sampai kapanpun." Devano mengangkat tangan mereka yang saling bertautan, lalu mengecupnya mesra. 


Keysa yang sejujurnya tidak bisa benar-benar marah dan membenci Devano hanya mengangguk mendengar penuturan Devano. Ia ingin mencoba mengerti posisi Devano saat ini yang tidak mudah mengambil keputusan. Lelaki itu terbelenggu oleh janji dan balas budi. Lelaki itu tidak akan bisa memilih salah satu, hingga Keysa yang memilih untuk mengalah dan mencoba mengerti demi cinta mereka. 


Setelah puas menikmati sunset di tepi pantai, Devano mengajak Keysa untuk berbelanja banyak baju termasuk gaun pesta. 


Selain mengajak Keysa jalan-jalan, lelaki itu juga berniat untuk membawa Keysa ke sebuah acara sebagai pasangan. 


Keysa sendiri pun tidak banyak protes. Ia melakukan yang Devano mau, toh, selera Devano memang tidak pernah salah. 


*** 

__ADS_1


Devano datang ke acara pesta yang diadakan di salah satu hotel yang ada di pesisir pantai. Devano tampak serasi dengan Keysa yang memakai gaun merah. Kedatangan mereka pun menjadi pusat perhatian para tamu lain. 


Banyak teman Devano di acara tersebut. Mereka menghampiri Devano dan Keysa untuk sekedar say hai dan berkenalan dengan Keysa. 


"Akhirnya sang Playboy datang beserta pawangnya." Salah satu teman Devano berkebangsaan Inggris menghampiri Keysa dan Devano yang sedang berbincang dengan tamu lain. 


Devano menoleh ke arah suara, kemudian senyumnya terbit saat melihat siapa yang menyapanya. "Vel, kapan balik dari Inggris?" Devano merangkul teman yang sudah lama tidak jumpa itu, kemudian melakukan tos sebagai bentuk jabatan tangan antara sahabat itu. 


"Baru turun dari pesawat, aku langsung ke mari. Kangen sama anak-anak," ucapnya dengan senyum lebar yang menghiasi wajah teman Devano itu. Ia yang tinggal di Inggris memang baru saja tiba di kota B beberapa jam yang lalu, dan langsung pergi ke desa begitu mendapat undangan dari teman-temannya. Banyaknya  teman Devano yang hadir, membuat acara tersebut lebih mirip seperti  reuni bagi lelaki itu.


"Dia siapa? Benar-benar pawangmu?" Lelaki itu menunjuk ke arah Keysa yang berdiri di samping Devano. Sulit dipercaya jika Devano benar-benar sudah taubat, tetapi dari kasak-kusuk teman yang lain, ia mendapatkan berita ter-update tersebut.


"Oh, ya, aku hampir lupa." Devano menepuk jidat. "Vel, kenalkan ini Keysa." Devano memperkenalkan Keysa sambil merangkul sang kekasih, membuktikan bahwa Keysa adalah benar-benar miliknya."Key, kenalkan dia temanku, namanya Marvel," lanjutnya, juga memperkenalkan teman yang bernama 'Marvel' tersebut kepada Keysa. 


Keysa dan Marvel saling berjabat tangan dengan seulas senyum di wajah mereka. 


Melihat senyum Keysa yang begitu manis membuat Marvel terpesona. Ia menatap Keysa penuh kekaguman, hingga tanpa sadar Marvel menahan  jabatan tangan mereka. 

__ADS_1


"Jabatan tangannya gak perlu lama-lama." Devano yang melihat jiwa buaya Marvel mulai kambuh melihat kecantikan Keysa langsung melepas jabatan tangan Keysa dan Marvel. 


"Eh, maaf. Tangan kekasihmu sepertinya memiliki lem jadi susah melepaskannya," ucap Marvel sambil nyengir kuda. Sementara itu, Devano hanya mencebik. "Key, apa kamu punya teman wanita yang bisa dijodohkan denganku? Sepertinya aku juga mau insyaf," lanjutnya, dengan mata yang tidak mau  berhenti menatap Keysa. 


__ADS_2