
Keysa duduk berhadapan dengan Devano. Telinganya masih setia mendengar permintaan maaf lelaki di hadapannya. Melihat tabiat Devano yang overprotektif, Keysa juga tidak menyangka kalau Devano tidak akan mempermasalahkan kedatangan Ferro.
Tidak selang berapa lama, Ferro pun tiba di cafe dan langsung menuju meja yang sudah disebutkan Keysa sebelumnya.
"Maaf, aku telat, Key. Ada urusan sebentar," ucap Ferro, merasa bersalah, begitu sampai di meja Keysa.
"Tidak apa. Aku juga belum lama," tandas Keysa dengan seulas senyum.
Ferro mengangguk, kemudian matanya menoleh pada lelaki yang duduk berhadapan dengan Keysa. "Kau?" Ferro dibuat terkejut saat melihat Devano ada di meja yang sama dengan Keysa. "Kenapa dia ada di sini, Key?" tanyanya kepada Keysa, dengan mata yang menyipit menatap Devano.
"Dia orangnya," jawab Keysa, malas.
Ferro terdiam, mencoba mencerna ucapan yang keluar dari mulut Keysa. "Dia orang yang mengajakmu bertemu hari ini?" tanyanya, memastikan kalau tebakannya benar.
Keysa mengangguk. Sementara Devano yang tidak tertarik dengan percakapan mereka hanya memandangi wajah Keysa yang masih terlihat kesal.
Ferro menatap Keysa. Ia tidak melihat kebohongan di wajah gadis itu, kemudian kembali beralih menatap Devano, hingga akhirnya tiba-tiba tawa Ferro pun meledak.
"Kamu kenapa?" tanya Keysa, keheranan, melihat Ferro yang tiba-tiba tertawa.
Bukannya menjawab, Ferro tertawa semakin lepas, bahkan air mata sampai menitik dari ujung matanya.
"Apa ada yang lucu?" Devano menyipitkan mata ke arah lelaki yang sudah duduk di sampingnya.
"Ya. Bahkan, lucu sekali," tandas Ferro.
__ADS_1
"Apanya yang lucu?" Devano dibuat kesal oleh tawa Ferro yang jelas-jelas sedang mengolok-oloknya.
"Kau sangat lucu. Aku tidak menyangka jika dirimu adalah top player dalam game yang sedang digandrungi anak muda itu. Dan ini ...." Ferro kembali menatap Devano dan Keysa bergantian, lalu tawanya kembali meledak. "Ternyata dunia sesempit ini. Kalian tiap hari bareng, tidak tahu kalau kalian berhubungan. Sungguh terlalu," ucapnya sambil geleng-geleng.
Keysa langsung angkat bicara saat melihat Ferro akan berbicara lagi. "Aku lapar." Keysa yang tahu Ferro belum puas berbicara langsung memotongnya, lantas memanggil pelayan dan memesan beberapa jenis makanan untuk mereka bertiga.
Devano, Ferro dan Keysa pun makan bersama dengan Ferro yang sesekali masih terus menggoda Devano dan Keysa.
"Makan! Jangan bicara mulu, entar keselek," tandas Keysa dengan mata yang melotot ke arah Ferro, kemudian dijawab anggukan Ferro meskipun sambil mengulum senyum. Keysa kembali fokus pada makanannya.
Devano menoleh ke arah Ferro dengan senyum yang mengembang melihat Ferro yang dapat semprot dari Keysa. "Mampus!" ucap Devano kepada Ferro tanpa suara.
Ferro yang mengerti gerak bibir Devano pun langsung angkat kepala sambil melotot, hingga terbersit untuk mengerjai lelaki yang sedang mengemis cinta pada Keysa itu. "Key!" ia hendak mengadukan Devano yang berkata kasar.
Keysa mendongak seraya bertanya, "ada apa?"
Ponsel Keysa berbunyi dengan nama Zian terpangpang di layar. Wajah Keysa seketika terlihat panik, ia pun dengan cepat menerima panggilan itu dan menyuruh Ferro diam. Ferro lantas melirik Devano yang tampak memperhatikan Keysa dengan begitu intens. Devano melihat sekilas nama pemanggil di layar saat ponsel Keysa tergeletak di meja.
'Siapa yang menghubungi Keysa? Kenapa wajah mereka tiba-tiba muram begitu?' Ferro bertanya dalam hati.
"Aku tidak akan memberitahumu. Aku di sini baik-baik saja, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku apalagi menyusulku," tandas Keysa.
Zian menanyakan alamat Keysa, tetapi Keysa dengan tegas menolak memberitahunya dan memilih untuk mengakhiri panggilan tersebut. Devano yang mendengarkan pembicaraan mereka pun tampak sedikit senang saat melihat Keysa bersikap tidak ramah kepada si penelepon.
***
__ADS_1
Identitas Keysa yang sebenarnya telah terbongkar di internet. Ia menjadi buah bibir di mana-mana karena kecantikannya itu. Para penggemar yang sudah mengetahui alamat Keysa pun langsung berdatangan ke kampus untuk bertemu dengannya. Kelas pun tiba-tiba menjadi toko bunga dadakan. Ruangan itu dipenuhi bunga yang dikirim untuk Keysa.
Keysa yang baru saja sampai pun dibuat terkejut saat melihat bangku tempatnya duduk dipenuhi buket bunga, bahkan sampai meluber ke mana-mana.
"Sejak kapan kelas berubah jadi toko bunga?" gumamnya. Tidak habis pikir dengan kelakuan para penggemarnya.
"Key, ada titipan bunga." Ezra yang baru masuk pun membawa sebuket bunga titipan salah satu mahasiswa beda fakultas untuk Keysa, hingga Ezra dibuat melongo saat melihat di kelas juga sudah dipenuhi bunga.
Devano yang datang bersama Ezra, awalnya biasa-biasa saja saat seseorang menitipkan bunga untuk Keysa, tetapi ia mulai geram saat mengetahui ternyata banyak sekali yang menggilai kekasihnya itu. Tangan Devano mengepal sempurna mendapati tingkah norak penggemar Keysa. Ia pun langsung mengambil kasar bunga di tangan Ezra dan membuangnya. Ia lebih suka Keysa yang berwajah jelek karena hanya dia yang akan mendekati gadis itu.
"Bisa tidak besok kembali ke wujud cupumu saja," protes Devano, sambil melempar bunga ke meja Keysa. Keysa hanya milik Devano, tidak boleh ada yang memberi perhatian lebih selain dirinya. Ingin sekali Devano membuang bunga-bunga itu dan membakarnya.
Keysa melirik lelaki yang sedang memasang wajah marah karena ulah para penggemarnya dengan mata yang menyipit.
"Aku tidak suka kamu dandan cantik begini. Orang-orang jadi memperhatikanmu semua. Besok dandan seperti kemarin lagi, ya!" pinta Devano, seakan mengerti dengan tatapan mata Keysa.
"Tidak. Aku lebih suka dengan penampilanku yang seperti ini." Keysa menolak.
"Key." Devano menatap Keysa dengan tajam begitu mendengar penolakan Keysa.
Namun, Keysa seakan tidak takut dengan tatapan Devano, ia tetap menolak permintaan Devano, meskipun mata lelaki itu seperti akan keluar.
"Sekali tidak mau ya, tidak mau. Percuma juga toh sekarang mereka sudah tahu wujud asliku," sarkas Keysa.
"Keysa!" teriak Devano, kesal karena Keysa tidak mau menggubris permintaannya dan malah menentang.
__ADS_1
Orang-orang yang tadinya tidak memperhatikan kedatangan mereka langsung menoleh ke arah suara, dan mereka dibuat terkejut saat Devano memanggil gadis yang bersama Devano itu dengan nama Keysa.
"Apa itu benar-benar Keysa?" Mata mereka tidak teralihkan dari gadis yang sedang beradu mulut dengan Devano. Tidak ada yang menyangka jika Keysa sangat cantik.