Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
227


__ADS_3

Di depan mata Exel, Devano menjatuhkan diri ke jurang sesuai sesuai keinginan lelaki tersebut. Namun, entah mengapa Exel sama sekali tidak merasa puas, malah semakin terasa kosong dan hampa.


"Dev, jangan!"


Bertepatan saat Devano melompat, Keysa sampai di puncak dan menyaksikan Devano yang menghilang di tengah kegelapan.


"Dev, jangan tinggalkan aku!" Keysa datang terlambat, lelaki yang dicintainya sudah terjun bebas di depan matanya sendiri. Tubuh Keysa lemas dan luruh begitu saja ke tanah. Air mata seketika tumpah ruah saat melihat tubuh Devano melompat dan seketika menghilang. "Kenapa kamu tidak mendengarkan ucapanku?" Di sela tangisnya, Keysa merutuk Devano yang tidak mau mendengarkan ucapannya dan malah berbohong.


Keysa tidak berdaya dengan kenyataan yang baru dihadapai. Di tengah kekacauan yang sedang melanda, tiba-tiba ia teringat satu nama. Dengan tangan yang bergetar, Keysa meraih ponsel di tas dan menghubungi seseorang.


"Aku hancur, Kek. Apa Kakek puas? Apa ini yang ingin Kakek lihat dari cucumu ini?" Dengan derai air mata membasahi wajah Keysa serta cairan bening juga keluar dari hidung, Keysa menghubungi Kakek Surya dan menyalahkan sang Kakek karena tidak mau membantunya.


"Apa maksudmu, Key? Puas karena apa?" Kakek tahu jika Devano melompat ke jurang atas kesepakan yang dibuat dengan Exel, tetapi Kakek memilih berpura-pura tidak tahu ketika mendengar suara memilukan sang cucu.


"Kakek tidak perlu berbohong. Aku yakin kakek tahu semuanya. Kakek tahu kalau Devano telah bunuh diri ...." Keysa tidak mampu melanjutkan ucapannya, bayangan saat Devano melompat dan dalam hitungan detik menghilang kembali terlintas membuat Keysa histeris. "Semua itu karena kalian." Keysa menyalahkan semua orang.

__ADS_1


"Tenangkan dulu dirimu, Key. Kakek tidak tahu menahu tentang masalah ini. Kakek memang tidak membantu Devano, tetapi bukan berarti Kakek membantu Zian dan teman Devano di sana." Kakek Surya mencoba memberi pengertian kepada Keysa bahwa dirinya tidak terlibat dan tidak tahu menahu.


Namun, gadis yang sedang kalut itu tak mau mendengar. Ia menyalahkan orang-orang yang ikut andil dalam menghancurkan bisnis Devano. Jika bisnis keluarganya tidak diganggu. Keysa yakin Devano tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Sementara itu untuk Kakek Surya, Keysa kecewa kepada Kakeknya karena lelaki tersebut menolak permintaan Keysa waktu itu.


Mendengar kesedihan kesedihan Keysa yang begitu memilukan bagi siapapun yang mendengar, membuat Kakek Surya terpaksa menghibur. "Maafkan kesalahan Kakek. Mulai hari ini, Kakek tidak akan memaksa lagi kamu untuk pulang dan kembali kepada Zian. Kakek dukung semua keputusanmu," ucap Kakek, berharap dengan perkataannya itu bisa meredam kesedihan Keysa. "Tenanglah! Devano orang pintar dan kuat, Kakek yakin dia sudah mempertimbangkan baik dan buruknya. Kamu harus percaya kepadanya," hibur Kakek Surya.


Kakek Surya berusaha menghibur Keysa, hingga kepalanya sedikit membenarkan ucapan Kakek tua yang sempat ikut disalahkan oleh Keysa. "Ucapan Kakek ada benarnya juga," gumam Keysa, dan sejurus kemudian mengakhiri panggilannya.


Setelah menelpon dengan Kakek, Keysa mendapatkan sedikit kekuatan untuk bangkit dan menghadapi kenyataan. Keysa mengusap air matanya dengan kasar dan memutuskan untuk membalas dendam kepada Exel atan nama Devano.


Keysa bangkit dari tanah yang didudukinya untuk memberi pelajaran kepada Exel. "Di mana dia?" Matanya beredar mencari keberadaan Exel, tetapi tidak ada. Exel telah melarikan diri saat Keysa tengah terpuruk. "Arghhh!!! Exel sialan, kemari kau! Jangan jadi banci!" Kemarahan Keysa semakin meledak begitu menyadari Exel sudah pergi.


"Kenapa kalian membiarkan dia pergi, hah?! Keysa melampiaskan amarahnya kepada anak buahnya serta Ezra yang sejak tadi mencoba menenangkan Keysa.


Tidak ada yang mendebat hardikan Keysa karena percuma saja berbicara dengan orang yang sedang dipenuhi emosi.

__ADS_1


"Aku sudah menyebar orang untuk mencarinya, jadi kamu tidak perlu khawatir. Anak buahmu juga sedang mencari. Mereka yang ada di sini adalah orang yang kusuruh untuk menjagamu. Aku takut kamu berbuat yang aneh-aneh." Ezra hanya menyisakan seorang anak buah Keysa untuk membantu menjaga Keysa, takut jika Keysa berbuat nekad dan ikut terjun ke jurang.


"Cari dia sampai dapat! Aku harus memberi pelajaran kepadanya," perintah Keysa terhadap anak buahnya. "Aku baik-baik saja. Aku tidak akan bunuh diri. Jika aku mati, siapa yang akan membalas perbuatan Exel? Aku tidak sebodoh itu, Ez!" sarkas Keysda, dan meminta lelaki itu untuk pergi mencari Exel.


Mau tidak mau, Ezra pun mengiakan permintaan Keysa. Namun, saat baru saja akan beranjak, Tyo—anak buah Keysa, muncul di hadapan Keysa dengan membawa segulung kawat.


"Nona, aku menemukan ini!" Tyo memberikan gulungan kawat yang sangat panjang.


"Ini kawat apa?" Keysa memicing saat menerima gulungan kawat itu.


Tyo menggeleng. "Aku menemukannya di bawah tebing."


Tyo yang melihat Devano terjun bebas, secara spontan memisahkan diri dari kelompok dan menuruni tebing dari medan yang aman untuk mencari keberadaanya Devano, karena harus mengabarkan semua keadaan di sana dengan detail kepada Kakek Surya. Namun, setiba di bawah, Tyo tidak menemukan Devano, hanya mendapatkan gulungan kawat yang berantakan.


"Jika anak buahmu tidak menemukan Dev, kemungkinan besar Devano sudah mempersiapkan semuanya. Sebenarnya, aku pun tidak yakin kalau dia akan menyerahkan hidupnya semudah itu," tandas Ezra, setelah mendengar keterangan anak buah setia Kakek Surya.

__ADS_1


__ADS_2