
107
Damar melepaskan cengkramannya dari kerah jas dokter yang menangani Devano, kemudian matanya beralih kepada Keysa yang juga tampak ketakutan melihat amarah lelaki yang mirip dengan Devano dalam versi lain.
"Kau harus bertanggung jawab dengan semua yang terjadi pada anakku." Damar menatap tajam Keysa dengan suara yang sangat dingin.
"Iya, Pak. Saya akan bertanggung jawab." Keysa mengiakan.
Setelah mendapat izin dari dokter, mereka pun masuk ke UGD. Devano masih berbaring dalam ranjang pesakitan dengan tidak sadarkan diri. Walaupun tidak sadar, Devano tetap saja bergumam harus melindungi Keysa. Keysa yang mendengar semua itu tanpa sadar air matanya menetes begitu saja.
'Sebesar itukah cintamu padaku? Setelah tidak sadar pun kamu masih mengkhawatirkanku,' gumam Keysa dalam hati.
"Pasien sudah diberi suntik demam. Sekarang hanya butuh seseorang untuk menjaga dan merawatnya." Dokter kembali menjelaskan keadaan Devano.
"Aku akan menjaganya," jawab Keysa spontan dengan sangat antusias. Namun, sejurus kemudian ia menunduk saat melihat Damar menatapnya dengan tidak suka. "Itu pun jika Bapak mengizinkan," lanjutnya, tanpa berani menatap Damar. Saat ini bagi Kyesa, Damar terlihat lebih menakutkan dari biasanya.
"Jaga anakku dengan baik. Jika terjadi sesuatu padanya, bersiap-siaplah untuk tidak melihat mentari lagi esok," ancam Damar, lalu pergi.
Keysa hanya mengangguk dengan tenggorokan yang terasa kering karena ancaman yang diberikan Damar.
Malam harinya, Devano terbangun. Senyum terbit dari bibirnya saat melihat Keysa yang tertidur di tepi ranjang dengan tangan yang memegang tangannya. Ia pun mengusap kepala Keysa dengan senyum yang tidak pernah pudar. "Selamat malam. Mimpi indah, Pacar!" gumam Devano, kemudian ia pun terlelap kembali.
Mentari pagi kembali menampakan diri dari ufuk timur. Keysa yang masih berada di rumah sakit menunggu Devano pun terbangun saat mendengar alarm di ponselnya berbunyi. Ia lantas meregangkan tangannya yang semalam dijadikan bantalan untuknya yang tidur sambil duduk.
"Kau sudah bangun?" ujar Devano dengan senyum yang mengembang menyambut Keysa yang baru saja bangun.
Keysa yang sedang meregangkan ototn-otot tangan pun langsung menurunkan tangannya dan menoleh ke arah lelaki yang memakai seragam rumah sakit. "Kamu sudah bangun?" Keysa malah berbalik tanya kepada lelaki yang terlihat berseri-seri itu.
__ADS_1
"Seperti yang kau lihat," jawab Devano.
"Apa ada yang sakit? Apa kamu ingin sesuatu, biar aku ambilkan," ucap Keysa kemudian.
Devano menggeleng, lalu terbersit untuk menggoda gadis yang sekarang sudah resmi menjadi pacarnya. "Aku menginginkan sesuatu," gumam Devano.
"Kamu ingin apa?"
"Aku ingin bibirmu," ucap Devano dengan lengkungan senyum yang terus terpatri di wajah tampannya. Sementara itu, Keysa langsung menghadiahi Devano sebuah pukulan di tangan begitu mendengar ucapan Devano. "Aww ... sakit, Key." Devano meringis saat bekas cakaran harimau terkena pukulan Keysa.
"Makanya jangan bicara aneh-aneh," tandas Keysa dengan mata yang melotot sempurna.
"Minta cium pacar sendiri apa salahnya," rutuk Devano.
Keysa tidak menjawab. Ia memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. "Ada Ezra. Aku mandi dulu!" tandasnya saat melihat Ezra masuk ke ruangan.
"Sebenarnya aku juga berpikiran yang sama dengan Keysa. Belakangan ini sudah beberapa kali, gadis itu mencoba mengganggu Keysa," tandas Devano yang juga mencurigai Liza. Kemudian, lelaki itu meminta Ezra untuk mengikuti semua perintah Keysa dan dijawab anggukan Ezra.
"Aku juga harus membuat perhitungan dengan Exel. Dia hampir saja membuat nyawaku melayang," gumam Devano dengan geram. Ia teringat kepada lelaki yang sudah mendorongnya ke air terjun dan berencana untuk membalas dendam.
Keysa baru saja selesai mandi. Ia keluar kamar mandi dengan rambut yang basah. Devano yang melihatnya tampak menyunggingkan senyum ke arah Keysa.
"Apa senyum-senyum?" tanya Keysa.
"Udah jadi pacar masih saja galak," gumam Devano, memberenggut.
"Ish ...." Keysa hanya mencebik, tanpa menanggapi ucapan Devano yang terus mengingatkannya kalau mereka sudah menjadi sepasang kekasih. "Aku lapar. Bagaimana kalau kita sarapan bersama." Keysa mengalihkan pembicaraan dan langsung disetujui oleh Ezra.
__ADS_1
Saat Keysa hendak memesan makanan lewat ponselnya, tiba-tiba Damar datang dengan sekelompok bodyguard, lalu menanyakan keadaan Devano.
"Bagaimana keadaanmu, Dev?"
"Aku sudah jauh lebih membaik dan semua ini berkat Keysa," jawab Devano sambil melirik Keysa.
Damar pun terlihat lega. Ia berbincang-bincang sebentar dengan Devano dan Ezra, kemudian pergi lagi.
Sebelum pergi, Damar melihat ke arah Keysa dengan tatapan yang masih super dingin. "Aku harap kau tidak melupakan hal yang dibicarakan kemarin," tandas Damar yang dijawab anggukan Keysa, lalu pergi.
"Apa Daddy mengancam Keysa?" tanya Devano, tetapi tidak dijawab Damar. Lelaki itu, melanjutkan perjalannya tanpa menoleh lagi ke arah sang anak yang sedang kebakaran jenggot karena mengira Damar telah mengancam sang kekasih.
"Apa Daddy mengancammu lagi?" tanya Devano kepada Keysa.
Keysa mengulas senyum, lalu menceritakan yang dibahasnya dengan Damar kemarin. Saat lelaki itu meminta Keysa untuk merawat Devano sampai sembuh.
"Apa kau tidak sedang berbohong?" Devano menyipitkan matanya.
"Tentu saja tidak. Kalau tidak percaya tanya saja sama Ezra," jawab Keysa.
"Apa itu benar?" Devano beralih bertanya kepada Ezra.
Ezra hanya mengangguk, membenarkan ucapan Keysa.
Setelah mendengar ucapan Keysa dan Ezra, Devano tidak mengucapkan apa-apa lagi. Ia merasa sangat senang karena sang ayah memberikan waktu yang banyak untuk Devano bersama Keysa dengan menyuruh gadis itu merawatnya. Devano sampai bersenandung ria karena bahagia.
Devano beristirahat selama seminggu. Meskipun dokter meminta lelaki itu untuk istirahat sampai sebulan, tetapi demi menyelidiki kasus Keysa, Devano mempercepat kepulangannya dari rumah sakit dan kembali kuliah lagi.
__ADS_1
Liza sangat khawatir dan dilanda ketakutan yang mendalam. Setiap hari Disti meneror Liza dengan menanyakan apa yang telah dilakukan wanita itu kepada Keysa. Ditambah lagi, Ezra dan Devano yang tidak kunjung masuk kuliah semakin membuat hidupnya tidak tenang.