Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
67


__ADS_3

67


Devano sedang berjalan ke arah kelas  saat melihat seseorang yang kemarin mengancamnya akan menjual diri ada beberapa langkah di depannya. Tanpa sadar, ia menarik kedua ujung bibirnya begitu melihat Keysa, lalu dengan cepat kaki Devano mengejar gadis itu. 


"Bagaimana acara jual dirinya kemarin?" tanya Devano, ketika mereka sudah berjalan sejajar. 


Keysa menoleh ke arah Devano dan menatapnya dengan jengah karena tanpa menjawab pun bukankah lelaki itu sudah tahu jawabannya. 


"Kenapa malah menatapku seperti itu? Aku sudah mentransferkan uangnya, berarti aku tinggal menikmati hasil barterannya. Bagaimana menurutmu?" tanyanya sambil mengerlingkan mata. 


"Maksudnya?" 


"Kau bilang kau akan menjual diri, jadi aku sudah membayarnya. Aku sudah memberikan hakmu, lalu kapan kau akan memberikan hakku?" ujar Devano. "Kita akan melakukannya di mana? Biar aku bisa mempersiapkannya," lanjutnya dengan alis yang sengaja dinaik-turunkan.


Dengan cepat Keysa membungkam mulut Devano dengan mata sudah melotot sempurna saat menyadari ada beberapa orang di dekat mereka dan mulai berbisik tentang pembicaraan keduanya. 


"Aku akan memberikan hakmu sekarang. Jadi, diam jangan bicara aneh-aneh." Dengan satu tangan masih membekap mulut Devano, satu tangan lagi Keysa gunakan untuk mentransfer uang kepada Devano sejumlah yang dipinjam kemarin. "Aku sudah mengembalikan uangmu!" Keysa yang tidak ingin Devano mempermalukannya dengan membahas tentang jual diri pun mentransferkan kembali uang itu, lalu pergi. 


Bersamaan dengan itu, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Devano yang membuat lelaki itu tercengang—Keysa benar-benar mengembalikan uangnya, padahal Devano sendiri hanya berniat menggoda Keysa saja. 


"Uang segini bisa didapatnya dalam semalam dari mana? Apa dia ...?" Devano tidak berani melanjutkan ucapannya. "Key, tunggu!" teriak Devano, memanggil Keysa. Namun, gadis itu tidak memedulikannya dan terus berjalan memasuki kelas. 


***


Siang harinya ....


Keysa dan Disti sedang berada di perpustakaan ketika tiba-tiba Felix datang dan menghampiri mereka. 


"Wah sepertinya ada bisnis baru lagi. Dapat uang lagi, nih?" ujar Keysa dengan seutas senyum yang tertampil begitu Felix menemuinya. 

__ADS_1


"Jika isi kepalamu dibongkar, sepertinya  otakmu itu isinya hanya uang, uang dan uang," ucap Felix. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Keysa yang selalu mode on jika menyangkut uang. Sementara itu, Keysa hanya nyengir kuda. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, begitu pun dengan Keysa—sifat sang kakek yang mata duitan juga sudah mendarah daging di diri Keysa. 


"Ini, aku hanya ingin mengantarkan makanan untuk kalian!" lanjut Felix, sambil menyodorkan dua kotak makanan, lantas duduk di samping Keysa.  


"Aku pikir mau ngasih aku kerjaan, padahal aku sedang butuh uang." Keysa berujar sambil menerima kotak makanan tersebut dan memberikannya satu kepada Disti. 


Mendengar ucapan Keysa, Felix memberitahukan bahwa ada platform sosial yang sedang mencari bintang iklan. 


"Sepertinya aku bisa mencobanya. Bagaimana menurutmu?" Keysa melirik lelaki di sampingnya. Ia tertarik dengan yang diucapkan Felix. Keysa bisa mendapatkan uang dari menjadi bintang iklan. 


Sementara itu, yang dilirik menatap wajah Keysa, memerhatikan dengan seksama gadis di dekatnya, kemudian mengedikkan bahu. "Coba saja, tapi aku tidak yakin kamu akan mendapatkan job-nya," tandasnya, yang langsung mendapatkan tinju di lengan dari Keysa. 


'Aku akan mendapatkan pekerjaan itu.' Keysa bertekad dalam hati dengan senyum yang mengembang. 


"Jangan terlalu berharap, nanti kalau jatuh sakit. Dunia iklan itu nyari model yang kecantikannya di atas rata-rata. Hanya satu dari seribu yang mencari model di bawah standar," ucap Felix saat melihat Keysa senyum-senyum sendiri dan dijawab delikan oleh Keysa. Akan tetapi Keysa tidak peduli. Ia yakin akan mendapatkan pekerjaan itu.


Di mall yang sama,  dua orang lelaki juga sedang  mencari kado. Sebentar lagi ibu Ezra berulang tahun, Devano pun mengantar Ezra untuk mencari kado untuk ibunya. Keduanya yang juga menjadi pusat perhatian para gadis pengunjung mall, tampak  keluar masuk satu toko ke toko lain untuk mencari hadiah yang cocok untuk ibu Ezra. Hingga, langkah Ezra terhenti saat tanpa sengaja ia melihat Keysa dalam bentuk Faya sedang berpose di depan kamera dengan begitu lihai. 


Sementara itu, Devano yang tidak menyadari Ezra berhenti, terus berjalan sambil menggerutu karena tidak satu pun benda yang Ezra sukai dari lima toko yang mereka masuki. Ia pun mulai terdiam saat tidak ada orang yang menyahuti ucapannya dan begitu menoleh Ezra tidak ada di dekatnya. 


"Jadi dari tadi aku  bicara sendiri?" Devano semakin geram menyadari dirinya bicara sendiri. "Kemana anak itu?" tanyanya dengan mata mencari keberadaan Ezra, hingga matanya tertuju pada seseorang yang sedang berdiri di balik kaca tembus pandang yang memperlihatkan kegiatan orang di balik kaca tersebut. 


Devano dibuat geram oleh kelakuan sahabatnya itu,  ia pun dengan cepat menghampiri Ezra. "Sedang apa kau di sini? Sejak keluar dari toko kau membiarkanku ngoceh sendiri, dan kau malah asyik di sini. Dasar—" 


Devano yang hendak mengatakan kata kotor langsung di bungkam oleh tangan Ezra yang menunjuk ke dalam ruangan di balik kaca tersebut, dan menampilkan Keysa (Faya) yang baru saja menyelesaikan sesi foto terakhir. Devano pun langsung terdiam dan menatap gadis itu tanpa berkedip. Cantik itulah yang ada kepalanya saat ini. 


"Faya!" Dengan semangat Ezra memanggil Keysa, saat Keysa keluar dari ruangan tempat berfoto. 


Mendengar ada yang memanggilnya, Keysa pun langsung menoleh dan ia sangat terkejut saat melihat siapa yang telah memanggilnya. Namun tidak ada pilihan lain selain menyapa balik mereka. 

__ADS_1


"Hai," ucap Keysa dengan seutas senyum yang tertampil. 


"Masih ingat dengan kami?" tanya Ezra lagi. 


"Ya, tentu saja." 


Mau tidak mau Keysa mengobrol  basa-basi dengan Ezra. 


"Maaf saya masih ada urusan lain dan harus segera pergi," ucap Keysa, saat menurutnya sudah cukup kalau hanya untuk sekedar basa-basi dan menyapa mereka. Ia pun pamit undur diri. 


"Tak bisakah sebentar lagi, aku masih belum selesai bicara," ujar Ezra yang belum puas berbicara dengan gadis pujaan hatinya itu. 


"Mungkin lain kali kita sambung lagi, ya!" Keysa tetap menolak dan beralasan memiliki urusan lain. 


Devano yang melihat Ezra terlalu berbasa-basi dalam menyapa Faya, membuatnya gatal ingin angkat bicara. 


"Faya, bolehkah kamu membantu kami untuk memilihkan kado untuk ibunya Ezra. Sebenarnya, sebentar lagi ibunya Ezra berulang tahun, tapi kami belum tahu kado apa yang cocok untuk dia. Mungkin kalau seorang gadis yang memilih akan lebih mudah." Devano menyela pembicaraan Keysa dan Ezra. 


Keysa tampak berpikir sejenak. Ia yang merasa Ezra telah banyak membantunya, tidak ada salahnya kalau dirinya membantu Ezra juga meskipun dalam wujud Faya. 


"Baiklah. Aku akan membantu kalian," tandas Keysa yang membuat kedua lelaki di dekatnya tersenyum bahagia atas keputusannya. 


Mereka bertiga pun berjalan beriringan dengan Keysa yang  berada di tengah dan percakapan di antara mereka pun mengalir secara natural, terlebih percakapan antara Keysa dan Devano. 


"Kalau boleh tahu, bagaimana cara kamu masuk ke kampus saat itu, hingga kamera pengawas tidak bisa melihat kedatangan dan kepergianmu?" tanya Devano kepada Keysa yang langsung disanggah Ezra. 


"Bukannya kamu melihat Faya masuk dan keluar dari kampus dari kamera pengawas, Dev?" tanya Ezra yang langsung mendapat delikkan dari Devano.  


'Dasar gak tahu diuntung, padahal aku sengaja mencari topik pembicaraan biar bisa ngobrol lebih panjang dengan gadis ini,' umpat Dev dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2