Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
148


__ADS_3

Kabar burung yang didengar Keysa tentang Miss Susi yang belum menikah ternyata benar. Fero adalah anak panti asuhan yang diangkat wanita itu dari sebuah panti asuhan. Namun, ia tetap berniat mendekatkan Keysa dan Fero karena keduanya terikat dalam perjodohan.


"Fero baik, Miss. Tapi pilihanku tetap pada Devano. Aku mencintainya dan tidak mungkin menerima perjodohan yang sudah Miss dan Bunda sepakati," Keysa tetap pada pendiriannya, ia menolak perjodohan karena ia tidak menyukai Fero dan di hatinya hanya ada satu nama yaitu Devano.


Meskipun tudak puas dengan jawaban Keysa, Susi mencoba tersenyum. "Tidak apa. Miss terima keputusanmu," tandas Susi, sambil mengusap lengan atas Keysa. "Ikutlah dengan miss! Kita bicara dengan dekan siapa tahu bisa mengurangi hulkumanmu jika ia tahu kamu adalah anak Abian dan Sarah," lanjutnya, yang dijawab anggukan Keysa.


Wanita yang memakai jas dan rok span selutut itu membawa Keysa ke kantor dekan. Susi ingin membantu Keysa karena orang yang menjabat sebagai dekan saat ini juga merupakan teman lama orang tua Keysa.


"Aku akan berusaha membantumu. Sekarang pergilah ke lapangan!" ucap Dekan, setelah mendengar semua penuturan Susi dan Keysa.


Keysa mengangguk. Ia lantas membungkuk, kemudian pamit dan pergi ke lapangan sesuai ucapan dekan. "Terima kasih, Ayah, Bunda!" gumamnya dengan seulas senyum. Sedikit kelegaan mengisi perasaannya, mendapat suport dari teman-teman orang tuanya di saat seperti ini membuat Keysa merasa ayah dan ibunya sedang membantunya dalam kesulitan yang dihadapi.


Namun, senyum Keysa memudar saat melihat pemandangan di lapangan. Mulut Keysa menganga saat melihat semua dosen, mahasiswa dan sebagian orang tua mahasiswa sudah berkumpul di sana.


"Kesalahanku seberapa fatalnya sampai-sampai banyak masa di sini? Bahkan sepertinya orang tua mahasiswa juga ada yang hadir," gumam Keysa, ketika melihat ada orang tua Cheryl, Erika dan Arsen di sana.


Keysa mengembuskan napas kasar. Entah seperti apa hukuman yanga akan dihadapinya, ia mencoba untuk tetap tenang. Ia berjalan pun berjalan menuju lapangan yang tiba-tiba menjadi lautan manusia seperti orang yang akan menonton konser dengan panggung kecil di depan—tempat untuk menginterogasinya. Keysa langsung naik ke atas panggung sesuai perintah salah satu pengajar yang ada di sana.


Dari bawah panggung, Cheryl menatap puas ke arah Keysa. Gadis itu berseringai lebar melihat Keysa yang menjadi pusat perhatian dan gunjingan sana-sini. "Bagaimana pembalasan dariku? Menyenangkan bukan?" gumam Cheryl dalam hati.


Ternyata, semua yang terjadi di lapangan saat ini adalah ide Exel, dan Cheryl yang menjalankan rencananya. Gadis itu menghasut para orang tua mahasiswa untuk membuat onar di kampus.

__ADS_1


Dari atas panggung, Keysa mengedarkan mata ke arah kerumunan manusia. Ia tidak melihat Devano, Ezra dan Arsen di lapangan, hanya ada Felix dan Disti yang terlihat sangat mengkhawatirkannya. Sementara itu, para mahasiswa lain diam-diam menggunjingkan Keysa.


Selang beberapa menit, dekan juga datang ke lapangan dan naik ke panggung. Lelaki dengan memakai jas hitam itu langsung menginterogasi Keysa.


Keysa yang mendapat beberapa pertanyaan tentang kebenaran hubungannya dengan Devano pun terlihat tenang dan mengakui hubungannya. Ia juga berkata tidak akan mengakhiri hubungan mereka. Namun, Keysa juga tidak mau dikeluarkan dari kampus.


"Kamu tahu konsekuensi dari pilihanmu?" tanya Dekan, yang dijawab anggukan Keysa. "Kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Dekan lagi memastikan, dan lagi-lagi dijawab anggukan pasti Keysa.


Dekan membuang napas kasar atas kekeras kepalaan Keysa. Ia menatap anak dari teman lamanya itu. "Keysa Indira Fidelya sekali lagi saya memberikan kamu tiga pilihan; putuskan hubunganmu dengan saudara Devano, keluar dari kampus, atau dicambuk. Pikirkan dengan baik-baik pilihan dari saya!" Dekan tidak tega Keysa memilih untuk dicambuk. Ia berharap gadis di hadapannya mau berubah pikiran.


Keysa mengulas senyum sebelum memberikan jawaban. "Jawaban saya tidak akan berubah. Meskipun Bapak bertanya seribu kali pun, jawaban saya akan tetap saya. Saya mencintai Devano dan kampus ini, jadi saya lebih baik dicambuk," jawab Keysa, tanpa ada sedikit pun keraguan dari setiap ucapannya.


Dekan tidak berdaya karena peraturan itupun sudah ada sejak sebelum dirinya menjabat di sana. "Bagaimana apa hukuman ini masih akan berlanjut?" tanya Dekan kepada orang-orang yang ada di sana setelah sedikit kegaduhan karena ada yang pro dan kontra.


Akhirnya, Dekan memberikan formulir pernyataan persetujuan kepada para orang tua untuk ditandatangani. Dalam isi pernyataan itu, dituliskan Keysa harus dicambuk sampai seratus kali.


Setelah sebagian besar orang tua di sana menyetujui Keysa dicambuk, Arsen maju ke panggung dengan cambuk di tangan.


'Aku hanya membutuhkan seratus kali pukulan dan setelah itu aku bebas berhubungan dengan Devano tanpa ada aturan yang silanggar lagi,' ucap Keysa dalam hati, sambil menoleh ke arah Arsen yang sedang berjalan ke arahnya.


Langkah Arsen terhenti saat Alea menghadang dan memeriksa tali cambuk yang dibawa Arsen. Senyum pun terbersit dari bibir merah menyala milik Alea saat mendapati cambuk itu tidak dalam keadaan rusak.

__ADS_1


"Silakan dilanjut," gumam Alea dengan senyum penuh arti.


Arsen tak menjawab. Ia kembali melangkah mendekat ke arah Keysa untuk memberikan cambukan pertama sebagai pelajaran bagi Keysa dan contoh bagi mahasiswa lain yang memiliki hubungan di kampus.


Keysa menutup kedua matanya saat melihat Arsen mengangkat dan mengayunkan cambuk ke arahnya, kemudian Keysa hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat merasakan tali kasar mendarat di punggung. 'Satu.' Keysa berhitung dalam hati dan bersiap untuk mendapatkan cambukan berikutnya.


"Dev, apa yang kamu lakukan?" Keysa terperangah saat cambukan kedua tidak mendarat di punggungnya lagi.


Dicambukan kedua Devano langsung naik panggung dan menahan semua cambukan yang terarah kepada Keysa. Devano menerima semua cambukan yang seharusnya untuk Keysa.


"Aku tidak akan membiarkan kamu kesakitan sendiri," ucap Devano dengan seulas senyum yang tertampil.


"Tapi—"


"Diamlah. Cukup kamu tatap aku sambil tersenyum," ucap Devano memotong ucapan Keysa. "Cambukan ini tidak terasa sakit dibanding harus merasakan kehilangan kamu," lanjut Devano lagi, kemudian menoleh kepada Arsen untuk melanjutkan cambukannya kepada dirinya.


Sudah belasan cambukan yang mendarat di punggung Devano, hingga kulitnya luka-luka.


Alea yang melihat Devano terus menghalangi cambuk yang tertuju kepada Keysa pun tidak terima. 'Kau terus saja membelanya, sekalian saja kau berdarah-darah!' geram Alea dalam hati. Ia yang tidak terima langsung berteriak bahwa Devano juga terlibat dan harus mendapat cambukan yang sama, membuat lelaki itu harus mendapatkan 199 cambukan.


Dekan pun setuju. Arsen lanjut mencambuk Devano hingga membuat keringat dingin mengucur dari wajah Devano.

__ADS_1


__ADS_2