
Devano baru saja selesai menjalankan hukuman berkeliling lapangan sebanyak 50 putaran. Wajah putihnya memerah karena sengatan matahari yang mulai berada di atas tubuh. Meskipun memakai topi, tidak membuat serta merta melindungi wajah tampan yang dipenuhi keringat itu dari sang surya. Bahkan, baju Devano sudah seperti habis dicuci—basah tidak bersisa.
Gerah dan lengket oleh keringat yang mengalir tiada henti, tanpa babibu Devano langsung membuka kaos yang dipakai dan membuangnya sembarang. Ia lantas mengguyurkan sebotol air yang dibawa oleh Keysa ke kepala. Devano mengibas-ibas rambutnya saat merasakan sejuknya air yang menimpa kepala dan kulitnya.
Keysa melongo melihat roti sobek milik Devano dengan air yang membasahi wajah dan tubuh, apalagi rambut basah dengan air yang menetes membuat pemandangan di depan mata sangat menakjubkan. Keysa menelan salivanya kuat-kuat, kemudian menggeleng saat otaknya traveling mengingat dirinya menikmati roti sobek itu dengan penuh keringat bersama.
"Oh, My God." Hingga Keysa teringat mereka masih berada di lapangan. Keysa melihat sekitar dan dilihatnya para gadis di kampus sedang menikmati tubuh seksi sang kekasih dengan tatapan memuja. Seketika wajah Keysa berubah masam dan menatap tajam sang kekasih.
"Key, minta airnya lagi! Masih gerah, nih." Tangan Devano terulur ke arah Keysa tanpa menoleh. Matanya masih terpejam merasakan sensasi dingin dari air yang menembus setiap pori.
Keysa hanya menyilangkan tangan di depan dada saat mendengar permintaan Devano, padahal masih ada satu botol di bangku samping dirinya berdiri. Akan tetapi, Keysa tidak ada sama sekali niatan untuk mengambil dan memberikannya kepada Devano.
Devano membuka mata saat merasakan tangannya sudah pegal terulur, tetapi air tak kunjung diberikan. "Airnya mana, Key?" ucap Devano, sambil menoleh ke arah gadis yang diajak bicara, hingga kemudian terdiam saat melihat tatapan maut dari Keysa.
"Mau air, ya?" tanya Keysa, sinis.
Devano hanya mengangguk dengan kepala yang berpikir tentang tatapan mengerikan Keysa. Sementara itu, Keysa langsung mengambil botol air dan melemparnya ke arah Devano. Untung saja Devano bisa menangkap dengan tepat. "Noh, airnya! Sekalian saja mandi di sini, biar fansmu semakin terpana," seloroh Keysa, lalu pergi begitu saja.
Cemburu. Ya, gadis itu sedang cemburu saat melihat para gadis menatap Devano dengan mata yang memuja. Ia tidak rela tubuh Devano terekspose begitu saja di hadapan gadis mana pun.
"Key!" Devano yang tidak mengerti kenapa Keysa tiba-tiba marah, langsung mengejarnya. "Key, tunggu!" Devano berlari mengejar Keysa, hingga matanya tidak sengaja melihat ke arah para gadis yang sedang memandangnya dengan tatapan memuja.
'Apa karena mereka? Oh, My God, baru saja selesai 50 putaran masih harus lari lagi ngejar cinta. Dia kenapa tiba-tiba sensian begitu?'
"Key , tunggu! Apa tidak kasihan aku baru saja selesai hukuman 50 putaran, lho. Jangan suruh aku lari lagi, bisa-bisa aku pingsan," ucap Devano, begitu berhasil mengejar Keysa dan menggenggam tangannya.
__ADS_1
Keysa langsung berhenti dan menoleh ke arah Devano yang sedang ngos-ngosan, lantas memberikan paperbag berisi pakaian lelaki itu. "Ini!" ucapnya, masih dengan wajah yang ditekuk.
"Terima kasih, Sayang." Devano menerima pemberian Keysa dengan seulas senyum meskipun Keysa masih setia dengan wajah cemberutnya. "Aku ganti pakaian dulu. Kamu tunggu di sini, ya!"
Keduanya berhenti di depan toilet. Devano pun langsung masuk dan mengganti pakaian. Sementara itu, biarpun masih marah, Keysa tetap mengikuti apa yang diucapkan Devano.
Setelah Devano selesai berganti pakaian, keduanya pergi ke kelas. Sepanjang perjalanan keduanya saling diam. Devano yang mengajak Keysa lebih dulu pun memilih diam saat Keysa mengabaikan semua ucapannya.
Dengan mulut yang seperti dijahit rapat, Keysa melempar bokkongnya dengan kasar ke kursi. Ia mendengkus kesal.
"Kamu itu kenapa sih? Aku sudah berusaha baik-baikin kamu, tapi kamu malah tidak peduli begini? Aku salah apa? Kalau ada yang salah ngomong sama aku!" Devano yang sudah duduk di samping Keysa lantas menarik bahu gadis itu, hingga keduanya saling berhadapan. Lama-lama Devano juga kesal sendiri dengan tingkah Keysa. Ia yang sangat lelah harus menerima perlakuan tidak menyenangkan dari Keysa tanpa tahu salahnya apa.
Keysa mencoba melepaskan cengkraman itu, tetapi tangan Devano memegangnya dengan sangat kuat. Lelaki itu memaksa Keysa untuk bicara.
"Kamu cemburu sama mereka?"
"Menurutmu?" Keysa mendelik, begitu mendengar pertanyaan Devano.
Devano melebarkan senyum. Devano sangat bahagia jika alasan kemarahan Keysa adalah cemburu. "Maaf. Aku hanya spontan karena gerah. Tidak tahu kalau akan menjadi pemandangan heboh bagi kaum hawa."
"Tau ah!" Keysa melepas tangan yang masih di bahunya, kembali mengubah posisi duduknya.
Namun, dengan cepat Devano menariknya lagi dan mencium paksa Keysa. Devano mengabsen setiap inci daging tak bertulang itu tanpa memedulikan kehadiran orang lain di ruangan kelas.
"Dev, kamu apa-apaan?" seloroh Keysa, setelah berhasil mendorong Devano.
__ADS_1
"Bibirmu yang dilipat seperti itu menantangku untuk melahapnya," jawab Devano dengan enteng.
"Kau ini!" Keysa langsung menghadiahi Devano cubitan di pinggang.
"Jangan marah! Aku tidak berniat pamer. Aku janji setelah ini tidak akan buka-bukaan lagi, karena semua yang ada pada diriku hanya boleh dimiliki dan dinikmati oleh Keysa-ku seorang, termasuk yang ini juga!" ucap Devano, seraya menggoda gadis yang sedang merajuk itu. Ia meraih tangan Keysa. Dengan terhalang meja, Devano menekankan tangan Keysa untuk menyentuh bagian genitalnya.
"Dev, kamu apa-apaan?" Keysa langsung menarik tangannya lagi, terkejut dengan yang baru saja terjamah oleh tangannya.
"Hanya memproklamirkan kalau semua yang aku miliki adalah milikmu. Jadi jangan cemburu buta gak jelas kayak gitu."
"Tapi gak gitu juga," bisik Keysa. Ia menggelitik Devano, hingga akhirnya lelaki itu minta ampun. "Sekali lagi berani aneh-aneh aku gelitik sampai pingsan," ancam Keysa, yang hanya dijawab anggukan Devano.
Devano terlalu lelah karena tertawa.
***
Sepulang kuliah Disti pergi ke apartemen Exel. Ia yang masih khawatir dengan keadaan lelaki itu memutuskan untuk melihat keadaannya.
Di perjalanan, Disti berhenti di sebuah supermarket. Ia berbelanja banyak untuk kebutuhan Exel, dari mulai minuman, makanan ringan juga bahan masakan.
Setelah peristiwa beberapa waktu lalu itu, hubungan Exel dan Disti semakin membaik. Disti bahkan memiliki akses sendiri untuk masuk ke apartemen Exel. Disti menekan password yang diberikan Exel untuk membuka pintu apartemen lelaki itu, kemudian masuk.
Exel masih tertidur saat Disti datang. Disti pun memutuskan untuk membuat makanan, hingga nanti saat Exel bangun hanya tinggal makan saja.
Tanpa Disti sadari, Exel sudah bangun dan sedang memerhatikan Disti yang sibuk memasak. Melihat ada orang yang memedulikan dan memperlakukannya seperti orang berharga membuat hati Exel menghangat. Ia merasakan kedamaian yang belum dirasakan sebelumnya.
__ADS_1