Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
41


__ADS_3

41


"Tutup mulutmu, Ez! Sebelum aku menyumpal mulutmu pake ini!" sarkas Devano sambil mengepalkan tangan ke arah Ezra, saat Ezra tidak mau mengerti tatapan tajam darinya. 


Bukannya takut, Ezra malah semakin menjahili lelaki yang sedang berjalan menuju tempat duduk. "Apa kau tidak mau bertanggung jawab kepada Keysa atas semua yang telah kau lakukan?" tanya Ezra seraya memutar kursi yang diduduki, menghadap Devano. 


"Kenapa aku harus bertanggung jawab?" tanya Devano, ketus. 


Tangan Ezra menyangga dagunya dengan mata yang menatap Devano, hingga tawanya pun pecah saat melihat wajah kesal lelaki di hadapannya. "Dev, ini perbuatan yang salah. Salah besar. Kau yang sudah melakukannya, tapi tidak mau bertanggung jawab. Itu sungguh-sungguh tidak dibenarkan," ucap Ezra, setelah menghela napas panjang. 


"Kamu tahu, kejadian semalam itu pasti banyak yang menyaksikan termasuk anak-anak dari kelas lain, bahkan fakultas lain juga, dan mungkin seluruh mahasiswa di universitas ini sudah tahu semua," lanjut Ezra. 


Sementara itu, Keysa yang tidak tahu maksud pembicaraan mereka hanya bisa diam dengan seribu kebingungan. Ia yang semalam mabuk tidak bisa mengingat apapun, tetapi ia yakin kalau yang dibicarakan Ezra ada kaitan dengan dirinya. Ditambah lagi, Devano yang sedang memelototinya membuat Keysa yakin semalam telah terjadi sesuatu. 


'Apa yang sudah kulakukan semalam? Kenapa orang-orang yang bertemu denganku di klub semuanya bertindak aneh,' tanya Keysa pada dirinya sendiri. 'Jangan-jangan semalam, aku ...." Tiba-tiba Keysa teringat kasus saat dirinya mabuk di kotanya dan berujung menggoda laki-laki tampan. 'Tidak mungkin 'kan kalau semalam aku telah menggoda Dev?' Keysa menggigit telunjuknya sendiri. Kepala Keysa menggeleng dengan, ia tidak bisa membayangkan betapa memalukan dirinya saat berulah. 


'Tapi, bagaimana kalau itu benar-benar terjadi? Ah ... mati aku!" Keysa dibuat panik, mengingat adanya kemungkinan yang dipikirkannya adalah kebenarannya. 


Keysa yang masih berdiri di dekat bangku Ezra  pun lantas berjalan mendekati Devano. "Jika kamu merasa dirugikan, aku siap untuk bertanggung jawab," ucap Keysa, pelan. 


Mendengar perkataan Keysa, membuat Ezra semakin tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul bangku, bahkan air mata sampai menetes dari kedua sudut mata lelaki itu. Sementara itu, Devano langsung berdiri sambil menatap Keysa semakin tajam, membuat siapapun yang ditatapnya akan merinding. 

__ADS_1


"Jika berani katakan sekali lagi!" sarkas Devano dengan sangat dingin.


Keysa hanya berniat mengganti rugi jika ia benar-benar telah membuat kekacauan, meskipun Keysa sendiri tidak tahu apa yang telah  dilakukannya. Namun, ia malah mendapat bentakan dan tatapan dingin dari Devano membuat Keysa tersentak sekaligus kesal.


"Ya, sudah, kalau tidak mau, tidak usah galak-galak," jawab Keysa dengan santai. Sambil membuang muka, Keysa berlalu dari hadapan Devano dan duduk di kursinya.


"Argh ...." umpat Devano sambil menjatuhkan kasar tubuhnya ke kursi. Kedua tangannya sudah mengepal sempurna. Ia ingin menghajar orang, tetapi tidak tahu harus melampiaskannya kepada siapa dan hanya bisa mengacak-acak rambutnya kasar. 


Saat ini, Devano hanya merasa dirinya tidak pernah dipermalukan seperti itu sebelumnya. Akan tetapi, entah mengapa ia juga tidak bisa berbuat apa-apa kepada Keysa, membuatnya hanya bisa uring-uringan saja


Keysa melirik Devano yang sudah hampir meledak. Akhirnya ia pun melemah. Keysa tahu menghadapi Devano dengan semakin menantangnya bukanlah cara yang benar. Ia tidak boleh semakin menggalakinya. 


"Aku hanya bercanda, jadi jangan galak-galak," ucap Keysa. "Aku minta maaf. Aku janji ke depannya tidak akan mengulanginya lagi," lanjut Keysa. 


***


Seorang dosen memasuki kelas. Ia adalah Miss Susi, dosen yang dipercaya sebagai dosen pendamping di kelas Keysa. Miss Susi mengumumkan untuk mencari ketua kelas atau yang sering disebut dengan sipen (Si Penangggungjawab). Pemilihan sipen dilakukan dengan cara pemungutan suara dari semua anggota kelas. 


"Disti, tolong kamu catat jumlah suaranya di depan," perintah Miss Susi yang langsung mendapat anggukkan dari gadis berambut sebahu itu. 


Semua anggota kelas menulis nama-nama sesuai pilihan masing-masing dalam kertas kecil dan dikumpulkan dalam kardus kecil. Setelah terkumpul, Miss Susi pun membacakan satu persatu pilihan mereka dan Disti menulisnya di papan tulis. 

__ADS_1


Sampai di kertas terakhir, hasilnya adalah Keysa dan Devano memiliki suara yang sama dan mendapatkan suara terbanyak; di urutan kedua ada Ezra; sedangkan di urutan ketiga ditempati oleh mantan sipen sebelumnya. 


Karena jumlah suara yang didapat Keysa dan Devano sama, Miss Susi pun mengambil acak satu kertas suara dari masing-masing yang telah memilih Keysa dan Devano. Mereka dimintai penjelasan alasan atas pilihan masing-masing. 


"Ana, berikan satu alasan kenapa kamu memilih Devano sebagai ketua kelas?" tanya Miss Susi, setelah membaca kertas yang memberi voting untuk Devano yang dipegangnya bernama Ana. 


"Karena seluruh orang selalu mendengarkan Dev, Miss," jawabnya. 


Miss Ana hanya mengangguk, lalu ia juga memberikan pertanyaan yang sama kepada si pemberi voting kepada Keysa. 


"Ma-af, Miss! Sa-sa-ya ti-dak be-be-rani menga-ta-takan-nya," jawab si Pemberi Voting dengan terbata-bata sambil mengadu memainkan kancing kemeja yang dipakainya. 


Miss Susi pun mengerutkan alis saat mendengar ucapan lelaki yang duduk di bangku depan itu, bahkan lelaki bermata empat itu seperti orang ketakutan. "Kenapa tidak berani? Ini musyawarah, semua orang berhak mengeluarkan suaranya," ujar Miss Susi. 


Namun, lelaki itu tetap menolak untuk memberikan alasannya. 


"Katakan saja tidak perlu takut. Jika setelah ini nanti ada yang membuat masalah karena jawaban yang kamu berikan, kamu bisa memberitahuku.


Akan kupastikan orang itu akan mendapatkan balasannya, di drop out misalnya," lanjut dosen yang terkenal killer itu. 


Setelah mendengar ucapan Miss Susi, si mahasiswa itu pun langsung berbinar dan dengan berani mengatakan alasannya. "Karena Keysa merupakan satu-satunya mahasiswa yang berani melawan dan mengalahkan Devano," ucapnya dengan lantang. 

__ADS_1


Atmosfer di sekitar Devano tiba-tiba langsung menghitam begitu mahasiswa itu selesai bicara.


__ADS_2