Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
12


__ADS_3

12


Devan menarik Keysa keluar dari kelas dan mereka berhenti di tempat sepi, yakni lorong tempat tadi Keysa bersembunyi. Keysa yang tak ingin berlama-lama dengan lelaki aneh dan arogan itu, tanpa basa basi segera menanyakan cara dirinya mendapatkan uang sembari melepaskan tangannya dari genggaman tangan Devano.


"Dekatkan telingamu!" Perintah Devano sembari menggerakan jari telunjuknya. Meminta gadis itu mendekat.


Keysa pun mendekatkan telinganya, lantas bibir Devano mendekati telinga Keysa, hingga gadis itu bisa merasakan hawa panas dari napas yang keuar dari mulut Devano saat membisikkan semua rencana yang sudah dipikirkan Devano matang-matang.


"Kau harus berpura-pura jadi tunanganku!" bisik Devano yang membuat Keysa tersentak, bahkan gadis itu sampai menjauhkan kepalanya sembari menatap Devano tak percaya. Keysa tak habis pikir dengan jalan pikiran Devano, membuatnya berpikir kalau lelaki di hadapannya mungkin sedang sakit jiwa.


"Dasar gila! Selain Aneh bin Arogan, kau juga sepertinya sudah gila," ucap Keysa sambil menggelengkan kepala. "Apa kau sedang sakit panas?" tanya Keysa kemudian, sembari memegang kening Devano, lalu beralih ke keningnya sendiri. Menyamakan suhu tubuh mereka. "Tidak panas," gumamnya.


"Aku akan membayarmu dengan bayaran yang fantastis," lanjut Devano, tanpa menghiraukan ocehan Keysa yang menganggapnya sakit bahkan gila.


"Kenapa harus aku? Bukankah wanita pemujamu yang super duper cantik itu banyak? Mereka pasti langsung mengangguk jika ditawari menjadi tunangannmu meskipun gratisan," selidik Keysa.


"Karena kamu itu orangnya pemberani yang pasti mau melakukan apa pun demi uang. Yang paling penting kamu itu orangnya tak takut mati," jawab Devano yang memuji keberanian Keysa, tetapi sekaligus tetap mengejek Keysa yang mata duitan. Tanpa memberitahu maksud lain alasan ia memilih Keysa.


Keysa harus belajar kebal dengan semua ucapan Devano yang menyangkut kata 'mata duitan' karena ujung-ujungnya pasti akan terjadi perang dunia lagi. Namun ada satu ucapan Devano yang mengganjal bagi Keysa. Tidak takut mati, tadi lelaki itu mengatakan kalau Keysa orangnya tidak rakut mati. Kata itu terdengar jelas di telinga, membuat Keysa menduga pasti Devano akan membuat masalah lagi sampai lelaki itu mau membayarnya mahal.


"Aku tidak mau. Meskipun aku suka duit, tapi aku lebih sayang nyawaku," tolak Keysa, lalu berbalik untuk kembali ke kelas.


"Kau harus mau karena itu perintah dariku dan aku tidak suka penolakan."


"Whatever." Keysa yang sudah membelakangi Devano melambaikan tangan sembari pergi.


"Kamu tahu aku, 'kan, kalau aku orang paling berkuasa di kota ini? Aku bisa melakukan apa pun kalau kau menolaknya termasuk menghancurkan bisnis abal-abalmu itu," ancam Devano.


Akan tetapi, Keysa tidak peduli. Ia pergi tanpa melihat ke belakang, apalagi membalas ucapan Devano.


Keysa pernah mendengar kalau keluarga Devano adalah keluraga pertama dari lima keluarga di kota yang juga merupakan keluarga mafia. Sebutuh-butuhnya Keysa terhadap uang dan meskipun benar ia tak takut mati, tetapi tidak mungkin Keysa mau mencari kematiannya sendiri. Ia memilih tak menghiraukan permintaan Devano daripada harus mati konyol.

__ADS_1


Namun, Keysa juga tidak menyangka penolakannya terhadap tawaran Devano juga berimbas pada bisnisnya. Maju kena mundur kena, begitulah kalau sedang berurusan dengan orang berkuasa. Kurang dari setengah hari, bisnis Keysa benar-benar diganggu oleh Devano. Semua pelanggan tidak lagi meminta bantuan kepada Keysa dan Disti.


"Kembalikan uangku!"


Bahkan, para pelanggannya meminta kembali uang yang sudah diberikan karena surat dari mereka ditolak mentah-mentah oleh Devano. Terpaksa Keysa pun mengembalikan semua orang pengguna jasanya, temasuk Cheryl. Cheryl, gadis yang menyewa tempat duduk selama seminggu juga meminta uangnya kembali dan mengatakan tidak akan menyewa lagi.


"Melayang sudah uang kita," gumam Keysa sembari menjatuhkan kepalanya ke meja, menyembunyikan wajahnya di sana . Setengah hari ini ia dibuat frustrasi oleh semua yang telah menimpanya, dan Keysa jelas tahu siapa dalang di balik kejadian yang membuatnya bangkrut kurang dari enam jam.


"Key, menyerah saja," ujar Disti sembari duduk di samping Keysa.


Keysa yang mendengar ucapan sahabatnya, langsung menoleh dengan kepala yang masih menempel di meja. "Menyerah?" tanyanya dengan kedua mata yang sudah menyipit.


Disti mengangguk. "Semua tidak akan berakhir kalau kamu tidak kamu menerima tawaran Devano. Bahkan yang ada kita bakal gak punya uang buat makan bulan depan," papar Disti panjang lebar.


Keysa tampak berpikir, memikirkan ucapan-ucapan Disti yang ada benarnya. Baru setengah hari saja ia sudah belingsatan tidak karuan, entah apa yang akan terjadi ke depan kalau Keysa tetap pada pendiriannya. Bukan hanya Keysa, tetapi Disti juga kena imbasnya dan itu menjadi pertimbangang besar bagi seorang Keysa. Ia tidak mau sang sahabat juga kesusahan karena pilihannya.


"Kamu benar," ucapnya lirih.


"Semoga sukses!" Disti mencoba memberi semangat sebelum Keysa pergi.


Keysa hanya hanya mengacungkan jempol, lemas, dengan senyum yang dipaksakan, lalu langkah gontainya beranjak mencari keberadaan Devano.


Setelah berjalan ke sana kemari, akhirnya Keysa menemukan Devano sedang makan di kantin kampus. Keysa pun menghampiri Devano dan tanpa basa basi langsung mengutarakan kesanggupannya atas penawaran yang Devano ajukan.


"Aku bersedia menjadi tunangan pura-puramu," ucap Keysa setelah duduk di kursi yang berhadapan dengan Devano.


Devano sedang menikmati jus mangga. Ia hanya melihat sekilas ke arah Keysa lalu fokus kembali pada minuman yang dipegangnya. "Sayangnya penawaranku sudah tidak berguna lagi. Aku sudah tak membutuhkanmu karena aku sudah menemukan orang lain," ucapnya dengan enteng.


"Secepat itu? Kok bisa?" Keysa tercengang oleh ucapan Devano.


Devano yang sedang menyedot jus, menaikkan sedikit bibir ke atas melihat Keysa yang terkejut dengan ucapannya."Ya, bisalah! Bukankah kamu tahu sendiri pemujaku banyak. Bahkan seperti ucapanmu, mereka dengan senang hati membantuku tanpa meminta imbalan."

__ADS_1


"Tapi, mereka tak sepertiku yang tidak takut mati," imbuh Keysa lagi.


"Siapa bilang?" Devano menyipitkan sebelah matanya.


"Aku," jawab Keysa dengan polos.


Jawaban Keysa membuat tawa Devano menggema di kantin kampus. "Kau terlalu ke-geer-an, Nona Jelek!" Devano menoyor kening Keysa.


Bibir Keysa seketika mengerucut mendengar ucapan Devano. Akan tetapi, ia tidak boleh menyerah demi kesejahteraan hidup dirinya dan Disti. Keysa terus membujuk dan Devano terus menolak.


Setelah bujuk membujuk yang sangat alot, akhirnya Devano yang sudah lelah berdebat setuju menggunakan jasa Keysa lagi.


"Ok. Ok! Aku setuju, tetapi bayarannya dipotong setengah jadi cuma 25 juta."


"Kok 25 juta sih? Tadi kan bilangnya 50 juta," protes Keysa.


"Itu tadi sebelum kau menolaknya."


"Enggak bisa naik lagi?" Keysa mencoba bernegosiasi.


Devano menggeleng.


"40, deh," tawar Keysa.


"Tidak."


"Kalau gitu 35, gimana?"


"Enggak. 25 itu penawaran terakhir, kalau kamu tidak mau tidak apa. Masih banyak gadis yang mau membantuku tanpa embel-embel uang," ucap Devano, lalu bangkit dari tempat duduk hendak pergi.


"Baiklah aku setuju." Terpaksa Keysa menyetujui penawaran Devano daripada tidak mendapatkan apa-apa.

__ADS_1


"Good girl!" Devano menyunggingkan senyum penuh kemenangan dan tangannya mengacak-acak rambut keriting Keysa yang dicepol.


__ADS_2