Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
102


__ADS_3

102


Keysa tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung menghubungi Kakek Surya saat para penculik itu mengizinkannya menelpon. Keysa yang tidak bisa mengatakan keadaannya seseungguhnya, sengaja berbasa-basi kalau dirinya baik-baik saja.


"Kakek apa kabar?" tanya Keysa begitu panggilannya terhubung. "Semoga kakek baik-baik saja, karena aku juga baik," lanjutnya, tetapi tidak ada jawaban dari seberang sana.


Kakek di seberang sedang mencerna nada bicara Keysa yang terkesan aneh.


"Kek, apa Kakek masih mendengarku?" tanya Keysa.


"Ya, kakek mendengar. Kakek baik-baik saja. Kapan kamu akan pulang?" tanya Kakek Surya.


"Setelah urusanku selesai. Aku lupa memberitahu Kakek, mawar hitamku di yang ditanam di hutan dekat rumah pasti sudah berbunga. Keysa mo minta tolong, tolong petikkan satu untuk Keysa! Tapi, hati-hati dengan durinya karena kakek bisa terluka," ucap Keysa sebelum ponselnya direbut lelaki itu.


Sementara itu, mendengar ucapan Keysa, Kakek Surya hanya mengiakan. Ia tahu sang cucu sedang dalam bahaya karena Keysa mengatakan kata 'mawar hitam' yang menjadi kode bagi Keysa jika dalam keadaan genting, dan hutan yang berarti cucunya itu sedang berada di hutan.


"Kakek akan mengambilnya sekarang juga dan membawanya kepadamu," tandas Kakek Surya.


"Aku tunggu. I love you, Kakek!" Keysa pun mengakhiri panggilannya dan tanpa terasa air mata pun mengalir dari kedua pelupuk matanya, dan semakin deras saat mengingat hal terburuk bisa saja terjadi hingga membuatnya tidak bisa bertemu dengan sang kakek. Ia tidak bisa membayangkan perasaan Kakek Surya jika harus kehilangannya juga, setelah lelaki tua itu juga kehilangan orang tua Keysa.


'Aku harus selamat,' gumam Keysa dalam hati. Ia pun menunda waktu orang-orang itu untuk sampai di tempat tujuan mereka dengan berpura-pura ingin buang air kecil.


***

__ADS_1


Devano mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju tempat sesuai yang diberitahukan anak buahnya. Ia sangat takut kehilangan Keysa. "Tenanglah Key, aku akan menyelamatkanmu. Aku pasti menyelamatkanmu," gumam Devano. "Jika perpisahan yang kau maksud adalah ini, aku tidak terima."


Di tengah kepanikan dan kekhawatirannya terhadap gadis yang tadi pagi memberikan ciuman perpisahan kepadanya, tiba-tiba ponsel Devano berdering. Ia pun lantas menerima panggilan itu, saat melihat siapa yang menelponnya.


"Maaf, Dad. Aku tidak bisa," ucap Devano saat panggilan itu tersambung, padahal Damar belum bicara apa-apa. "Aku tidak peduli biar pun daddy melarang hubungan kami. Aku sangat mencintainya, Dad. Aku tidak mau kehilangannya," lanjutnya. Devano yang sedang kacau langsung mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya kepada Keysa. Tidak peduli walaupun Damar akan menentang. "Aku tidak main-main dengannya. Aku mencintainya," ucap Devano jujur.


Damar terdiam. Suara Devano yang terdengar sangat frustrasi membuatnya menyadari kalau Keysa sangat berarti untuk anak semata wayangnya itu.


"Daddy berjanji akan membantumu mencari Keysa," ucap Damar kemudian.


"Terima kasih," ucap Devano, sebelum mengakhiri panggilannya.


Ia tidak menyangka ayahnya akan membantu untuk mencari Keysa. Ingin sekali, Devano menanyakan alasan lelaki itu membantunya, tetapi mencari Keysa lebih penting daripada mencari tahu alasan sang ayah. Semakin banyak yang mencari, semakin mudah untuk menemukan Keysa.


***


'Ada suara air,' gumamnya dalam hati.


Keysa berusaha untuk tetap tenang dan mencari ide untuk menunda waktu dan bisa melarikan diri.


"Aww ...." Keysa tiba-tiba terjatuh dan pura-pura keseleo. "Kakiku keseleo, tidak bisakah kita berhenti sejenak," ucap Keysa sambil meringis dan memegangi kakinya.


Melihat Keysa yang kesakitan, mereka pun berhenti sejenak. Kemudian melanjutkan perjalanan lagi dengan pelan-pelan. Para penculik yang melihat Keysa seperti tidak berdaya pun menjadi lengah, mereka mengira Keysa tidak akan bisa berbuat apa-apa karena kakinya yang sakit.

__ADS_1


Sementara itu, Keysa yang di dalam kepalanya sedang menyusun rencana untuk melarikan diri, terus berjalan terpincang-pincang. Hingga suara air yang tadi terdengar samar-samar semakin jelas dan dekat.


Keysa pun mengambil kesempatan itu untuk lari dari mereka. Keysa berlari ke arah suara air. Namun, Keysa tidak menyangka ternyata itu adalah air terjun.


"Kau mau lari ke mana?" tanya salah satu dari mereka dengan seringai licik menghiasai wajahnya.


Keysa terdiam. Tidak tahu harus melakukan apa. Ia tersudut di ujung tebing dengan air terjun di depannya.


"Kemarilah kembali bersama kami! Tidak ada tempat untukmu melarikan diri, kecuali meloncat dari ketinggian dan akhirnya kau akan mati juga." Para penculik yang mengejar mengepung Keysa dan memberikan Keysa pilihan yang merugikan Keysa semua.


"Sebaiknya kau lompat saja! Sehingga kami tidak perlu mengotori tangan kami," ucap lelaki dengan luka di wajah.


Keysa melihat ke bawah. Melihat ketinggian air terjun, Keysa berpikir masih ada peluang untuk hidup. Daripada harus menyerah diri kepada para penculik itu, Keysa pun lebih memilih untuk meloncat.


"Sesuai dengan keinginan kalian. Daripada mati di tangan bedebah macam kalian, mendingan aku mati dari ketinggian," ucap Keysa, lalu melompat, yang membuat semua orang terkejut. Tidak menyangka gadis sanderaan mereka senekad itu.


"Apa dia akan mati?" Mereka melengo ke bawah dan tidak ada tanda-tanda Keysa selamat.


"Tentu saja dia pasti mati. Siapa yang akan bertahan kalau lompat dari tempat yang sangat tinggi dengan batu-batu tajam di bawahnya," ucap salahsatu dari mereka yang disetujui oleh yang lain.


Mereka pun menganggap Keysa sudah mati. Mereka kemudian berbalik untuk kembali ke kota. Namun, di waktu bersamaan, Devano datang dengan anak buahnya. Ia mengepung para penculik itu.


"Dimana Keysa?" hardik Devano.

__ADS_1


"Dia telah meninggal," jawab lelaki berwajah seram dengan sangat enteng.


__ADS_2