Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
144


__ADS_3

Lilin menyala di atas meja bundar yang dibalut kain putih. Dengan taburan kelopak mawar di meja, makanan juga tersaji di sana. Alea sudah menyiapkan candle light dinner-nya bersama Devano seperfect mungkin.  Cahaya temaram dengan alunan musik klasik semakin menyempurnakan makan malam romantisnya bersama Devano. 


Namun, makan malam romantis sepertinya hanya ada di dalam khayalan Alea saja. Pada kenyataannya, di suasana yang sudah dibuat seromantis mungkin, bahkan Alea sudah menyewa restoran yang ditempatinya hanya untuk berdua saja,  tetapi lelaki yang di ada di hadapannya malah sibuk dengan ponsel yang dipegang.  Devano sedang bermain game, tanpa memedulikan kehadiran Alea. 


Alea yang merasa terabaikan pun, langsung memiliki cara untuk menarik perhatian Devano begitu tahu game yang dimainkan lelaki itu. Akhirnya, Alea juga masuk ke aplikasi game dan bermain bersama. 


Akan tetapi, Devano yang memang tidak menginginkan kehadiran Alea sengaja membuat gadis itu semakin marah. Berkali-kali Devano membuat Alea di game mati. 


"Kau itu benar-benar menyebalkan, Dev!" Alea langsung keluar dari aplikasi. 


"Menyebalkan apanya?" tanya Devano, tanpa rasa bersalah. 


"Kita ke sini untuk makan malam, bukan untuk maen game," tandas Alea yang terkadung kesal. Ia sudah berusaha masuk ke dunia yang disukai Devano, tetapi tetap saja kehadirannya tidak dianggap. 


"Iya. Ini juga aku lagi makan, 'kan?" jawab Devano lagi  sambil memasukan potongan steak di garpu ke mulut, dengan tangan satu lagi masih memegang ponsel.     


"Kau ini!" Alea dibuat semakin geram. Ia menatap tajam ke arah Devano, lantas mengambil garpu dan pisau kemudian menjatuhkannya lagi dengan kasar sambil berdiri. "Kau itu jahat! Aku pastikan kau akan menyesal telah membuatku marah," sarkas Alea, lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia tidak tahan dengan perlakuan Devano yang membuatnya terasa ingin meledak. 


"Eh, kamu mau ke mana? Katanya mau makan romantis?" tanya Devano dengan tanpa rasa bersalah saat melihat Alea berdiri dan meninggalkan meja mereka. 


"Aku sudah tidak nafsu," sarkas Alea lagi, lalu pergi dengan amarah yang sudah menggunung. 


Devano meletakan ponselnya sambil menatap punggung Alea yang semakin menjauh. Seringai lebar terbit dari bibirnya setelah berhasil membuat gadis itu  marah dan pergi. 


"Makan malam yang benar-benar romantis," gumam Devano, seraya menyesap minuman berwarna merah.


Setelah kepergian Alea, Devano berhenti bermain game dan menikmati makanan yang tersaji untuknya sendirian. Senyum pun tidak kunjung pudar karena telah berhasil membuat Alea marah-marah.  


"Sebaiknya aku telepon Keysa," gumamnya, teringat pada sang kekasih yang sempat protes karena acara tersebut. "Dia pasti senang kalau tahu acara makan malamnya berantakan," ucap Devano, seraya mendial nomor sang kekasih.

__ADS_1


"Ya, halo!" Terdengar suara Keysa dari seberang sana saat panggilan tersambung. "Ada apa?" Keysa yang masih sedikit kesal mengingat Devano sedang makan malam bersama Alea berbicara dengan ketus.


"Sepertinya, akan sangat menyenangkan kalau menggodanya terlebih dahulu," gumam Devano dalam hati.


Mendengar suara kesal Keysa membuat Devano malah gemas dan ingin menggoda gadis itu. Ia pun sengaja memanas-manasi Keysa dengan mengatakan makan malamnya berjalan lancar dan sangat romantis. 


"Kalau mau pamer kemesraan, sebaiknya di lain waktu saja. Aku sedang badmood," tandas Keysa, lalu mengakhiri panggilannya. 


"Eh, kenapa dimatikan?" rutuk Devano saat melihat panggilannya diputus begitu saja. "Apa dia cemburu?" Entah mengapa mendapati Keysa cemburu membuatnya sangat senang. 


Devano pun kembali menghubungi Keysa dan diangkat Keysa dengan begitu malas. "Jika ingin pamer momen romantis besok saja, ok. Sekarang aku mau cari amunisi dulu untuk menerima kenyataan. Aku mau tidur," ujar gadis itu begitu panggilan Devano tersambung lagi. 


"Jangan dimatikan dulu!" teriak Devano, seakan tahu hal apa yang akan dilakukan Keysa setelah berbicara. "Aku tidak sedang makan malam dengan Alea. Alea  sudah pergi," ucap Devano dengan cepat karena takut Keysa segera menutup panggilannya lagi. 


Mendengar Devano yang tidak sedang bersama Alea, Keysa yang sedang tiduran pun langsung bangun dengan semringah. "Apa kamu tidak sedang berbohong?" tanya Keysa memastikan. 


"Tentu saja tidak." Devano lantas menjelaskan semua yang telah dilakukannya agar membuat Alea pergi. 


"Tenang saja, tidak akan berpengaruh apa-apa. Lagian Daddy sudah memiliki cara lain untuk mendapatkan informasi tentang Mommy." Devano mencoba meyakinkan Keysa kalau perbuatannya tidak akan berpengaruh buruk pada pencarian ibunya. 


"Apa kamu yakin? Aku tidak mau gara-gara aku, kamu jadi gagal menemukan ibumu," gumam Keysa, tidak enak hati. 


"Tentu saja yakin. Bagaimana kalau kita jalan-jalan untuk berbelanja ajak Disti juga?" Devano mengajak Keysa berbelanja untuk melupakan rasa bersalah Keysa sekaligus menghibur gadis yang sempat takut cintanya berpaling dan langsung disetujui oleh Keysa. 


Keysa mengakhiri panggilannya, setelah Devano menyebutkan alamat pusat perbelanjaan yang akan mereka datangi dan keduanya berjanji untuk bertemu di sana. 


"Dis, kita jalan-jalan, yuk! Sambil shoping," ujar Keysa seraya menaik-turunkan alis dengan senyum yang juga merekah di bibir. 


Sementara itu, yang diajak menanggapi dengan wajah ditekuk. Disti sedikit sedih karena mengira orang yang mengajak Keysa jalan-jalan adalah Exel. 

__ADS_1


"Devano akan mentraktir kita," lanjut Keysa, yang seketika membuat Disti langsung berubah 180⁰.  Disti yang sempat menolak langsung menerima ajakan Keysa. Ia lebih baik menjadi obat nyamuk daripada harus melihat orang yang dicintainya malah menatap dan memperlakukan sahabatnya sendiri penuh cinta. 


Keysa dan Disti pun pergi ke pusat perbelanjaan milik ayah Devano. Dua gadis itu  tiba lebih dahulu dan keduanya memilih melihat-lihat terlebih dahulu seraya menunggu Devano datang. Keysa dan Disti tiba di sebuah butik mahal. Mereka melihat-lihat pakaian yang ada di sana, hingga mata Keysa tertuju pada sebuah rok pendek. 


"Ini bagus, ya!" gumam Keysa kepada Disti, dan dijawab anggukan sahabatnya itu. "Aku ingin mencobanya," lanjut Keysa, sambil mengambil rok tersebut lalu pergi ke ruang pas bersama Disti dan salah satu karyawan.


"Bagaimana?" tanya Keysa, setelah rok span pendek berbahan jeans dengan rawis di ujung  menempel di tubuh Keysa dan terlihat sangat pas dan cocok. 


"Cocok," ucap Disti.


 "Untuk apa  kalau dicoba doang? Itu harganya itu sangat mahal. Kalian pasti tidak akan mampu membelinya." 


Akan tetapi, kata-kata pedas tiba-tiba terdengar dari salah satu karyawan di sana membuat senyum Keysa yang terbit  tiba-tiba menghilang dan berubah kelam. Keysa menatap  tajam karyawan itu, lalu mengambil gunting dan menggunting rok yang sedang digunakannya. Tanpa mengatakan apa-apa, Keysa langsung keluar  setelah mengganti bajunya kembali. 


"Dasar pembeli arogan!" rutuk karyawan yang sebelumnya tampak syok karena perbuatan Keysa. 


Keysa  kembali dilayani oleh pelayan lain, yang ternyata seorang karyawan magang di sana. Ia memerhatikan pelayan itu yang melayaninya dengan sopan dan jauh lebih baik dari karyawan sebelumnya. 


"Boleh bertemu dengan kepala toko di sini?" ucap Keysa kepada pelayan tersebut. 


"Silakan. Mari saya antar!" ucap Pelayan tersebut dan membawa Keysa kepada kepala toko. 


"Aku ingin dilayani oleh karyawan ini dan aku juga mau komisi dari pembelian anda berikan kepadanya," ujar Keysa kepada kepala toko tersebut. 


Kepala toko hendak menanyakan alasan Keysa, tetapi melihat karyawan pertama sedang melayani orang lain ia pun terpaksa menyetujuinya. 


Anak magang itu pun lantas merekomendasikan beberapa baju untuk Keysa dan Disti. 


"Aku ingin membeli baju ini semua!" ucap Keysa setengah berteriak sambil menunjuk semua baju yang dipilih si anak magang, dengan ekor mata sedikit melirik ke arah  karyawan tadi yang kebetulan juga ada di dekatnya.

__ADS_1


Happy reading, Kak! Maaf jika ceritanya kalian rasa berbelit-belit seperti sinetron yang tujuh tahun enggak kelar-kelar. Alur belibet atau apapun itu. Aku terima masukan kalian dengan legowo, tapi apalah daya ini semua bukan murni dari aku sendiri. Di sinopsis sudah aku tulis ini adalah Misi Kepenulisan. Jadi kalian mau komen sepedas apapun aku anggap sebagai masukan untuk karyaku selanjutnya. Untuk yang masih bertahan aku ucapkan terima kasih masih setia menanti Bang Dev, meskipun up-nya bolong-bolong. Jujur nyari kemistri-nya sekarang terasa susah. Mungkin karena othor-nya sendiri kecewa dengan kerangka yang datang tidak sesuai ekpetasi 🥺🥺.


__ADS_2