Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
211


__ADS_3

Exel dan anak buahnya sampai di rumah tua dekat hutan. Mereka menyeret Keysa ke dalam rumah yang tampak bersih meskipun terlihat tua dengan arsitektur kuno-nya, tetapi sepertinya rumah itu masih dirawat dengan baik. Keysa dimasukkan ke sebuah kamar dan dikunci dari luar.


"Hei, kenapa kalian mengurungku di sini? Keluarkan aku!" teriak Keysa sambil menggedor pintu, ketika dirinya ditinggalkan begitu saja sendirian.


Tidak ada sahutan dari luar. Bukan mereka tidak mendengar, tetapi memilih tidak peduli dengan teriakan Keysa.


"Apa yang akan kita lakukan dengan wanita itu, Bos?" tanya salah seorang anak buah kepada Exel.


Exel berseringai, kemudian menghisap sabatang rokok yang sedang ditempelkan pada korek api yang menyala. Setelah rokok menyala, Exel mematikan korek, kemudian membuat kepulan asap dari rokok yang dihisapnya. "Tentu saja aku akan menggunakan Keysa untuk mengancam Devano. Lelaki itu sudah banyak menyusahkan keluargaku. Ia juga sudah membuat adik dan kakakku menderita. Akan kupastikan dia juga jauh lebih menderita," ucap Exel, penuh dendam.


Dari balik pintu, Keysa mendengarkan percakapan antara anak buah dan bos itu. "Tidak. Aku tidak akan membiarkan Dev terperangkap oleh mereka. Aku tidak boleh dijadikan alat oleh mereka. Aku harus bisa lari dari sini."


Keysa memutar otak untuk bisa kabur dari cengkraman Exel. Ia tidak ingin Devano diancam yang membuat lelaki itu terpaksa harus menyerahkan diri. "Ayo, Key, mikir!" Keysa berjalan bolak-balik di depan pintu, mencari cara untuk kabur. Kamar yang tempatnya berada tanpa ventilasi, tidak ada celah untuk melarikan diri. Melalui pintu pun lebih tidak mungkin, pintu dikunci dengan anak buah Exel yang terdengar mondar-mandir di depan pintu, menjaganya dengan ketat.


"Aduh, aku kebelet BAB. Ada orangkah di sana? Aku ingin buang air besar. Sudah tidak tahan." Akhirnya, Keysa beralasan ingin buang air besar agar bisa keluar dari kamar tersebut.


Namun, anak buah Exel juga tidak semudah itu percaya. Mereka menolak membuka pintu dan berpikir bahwa Keysa hanya pura-pura.


'Ah sial, mereka susah sekali dikelabui,' rutuk Keysa, pelan.


"Aku beneran sakit perut. Tolong buka pintunya! Aku hanya izin ke kamar mandi. Di kamar ini tidak ada kamar mandinya," bujuk Keysa lagi, tetapi mereka tetap menolak.

__ADS_1


"Baiklah! Jika tidak mau mengantar. Jangan salahkan aku kalau kalian nanti masuk, kalian akan disuguhkan kotoran. Sumpah aku sudah tidak tahan!" rengek Keysa, memelas. Ia juga sengaja menirukan bunyi kentut yang sangat keras agar mereka percaya.


"Aku BAB di kamar saja, ya!" teriak Keysa lagi, sambil membunyikan kentut yang entah ke berapa kalinya.


Tidak tahan dengan bunyi kentut yang sangat mengganggu, Exel menyuruh anak buahnya untuk membuka pintu dan mengantar Keysa ke toilet. "Cantik-cantik tapi joroknya kebangetan," rutuk Exel.


Keysa keluar kamar dan digiring oleh anak buah Exel ke toilet. Keysa berjalan di depan dua anak buah Exel yang terus mengawasinya. Mereka berjalan menuju belakang rumah tempat kamar mandi berada.


Jarak mereka dan Exel sudah agak jauh. Keysa memanfaatkan hal tersebut untuk kabur. Keysa melempar barang yang dibawa dari kamar ke arah semak, sehingga semak di dekatnya bergerak. "Ular piton!" teriak Keysa, kemudian.


Spontan, kedua anak buah Exel mundur selangkah sambil berpelukan dan latah mengucapkan 'ular piton' juga. Meskipun badan mereka kekar dengan tato yang membuat penampilan keduanya garang, ternyata keduanya sama-sama takut dengan ular.


Kerysa mengulas senyum melihat tingkah anak buah Exel. Mereka berpelukan dan ketakutan seperti itu diluar dugaan Keysa. Ia hanya mencari cara untuk mengalihkan pandangan mereka saja. Namun, ini adalah kesempatan yang sangat bagus. Keysa tidak menyia-nyiakan kesempatan yang tidak datang dua kali itu. Secepat kilat ia melarikan diri dari hadapan dua lelaki yang masih pelukan.


"Sial kita dikerjai," seru yang satu lagi saat menoleh ke semak dan tidak ada apa-apa di sana.


"Kejar dia sebelum bos marah!" Mereka melepas pelukan mereka, kemudian mengejar Keysa.


Di depan rumah, Devano baru saja tiba ke rumah tersebut. Ia langsung masuk dan menemui Exel.


"Pintar juga. Kau bisa menemukan kami dengan sangat mudah," ucap Exel yang melihat kedatangan Devano.

__ADS_1


"Dimana Keysa? Lepaskan dia." Devano tidak mau berbasa-basi.


"Dia aman, selagi kau tidak berbuat masalah. Tapi, ia akan tewas jika kau berani membantah semua keinginanku," tandas Exel.


Bertepatan dengan itu, seorang anak buah menghampiri Exel dan mengatakan info yang didapat dari dua rekannya, yakni Keysa melarikan diri. Exel tampak terkejut, tetapi ia tidak memperlihatkannya kepada Devano. "Cepat tangkap dia. Jangan sampai keluar dari sini," ucap Exel, tanpa membuka mulut.


Si anak buah itu pun langsung menyusul teman-temannya untuk mendapatkan Keysa lagi.


Devano yang mendengar samar-samar pembicaraan mereka merasa lega saat mendengar Keysa telah melarikan diri.


Keysa masih berlari mencari jalan keluar untuk melarikan diri dari anak buah Exel yang terus mengejarnya. Rumah itu seperti labirin, Keysa tidak kunjung mendapatkan jalan untuk keluar.


"Itu dia!" teriak salah satu dari anak buah Exel yang melihat pergerakan Keysa.


Keysa menoleh, tampak tiga orang berjalan mendekat ke arahnya. Keysa pun secepat kilat kembali berlari, hingga akhirnya menemukan jalan untuk keluar dari belakang rumah tua itu.


Di saat Keysa hampir benar-benar terbebas dari orang-orang Exel, tiba-tiba langkahnya terhenti saat dari jendela ia melihat Devano yang sudah ada di sana menghadapi Exel. "Kenapa dia datang ke sini?" rutuk Keysa. Ia termenung menatap ke dalam rumah, ragu untuk meninggalkan rumah tersebut. Keysa tidak mungkin meninggalkan Devano sendiri, sedangkan lelaki itu datang untuknya.


Akhirnya, Keysa memilih untuk tidak pergi, bahkan di saat anak buah Exel berhasil menemukan keberadaannya, Keysa masih bergeming di tempat.


"Dapat kau!"

__ADS_1


"Mau lari ke mana lagi, hah? Tidak ada jalan lain lagi yang bisa kau lewati sekarang," sarkas mereka, ketika berhasil menangkap lagi Keysa.


Mereka pun dengan bangga menyeret Keysa ke hadapan Exel lagi.


__ADS_2