
Tidak tahan dengan rasa mual yang mendera, Keysa langsung pergi ke toilet. Membayangkan dirinya berciuman dengan orang lain benar-benar membuatnya mual dan muntah.
Waktu saat Keysa berada di toilet pun digunakan Devano untuk kabur dari pesta itu, sebelum Keysa semakin menginterogasinya. Secepat kilat, Devano meninggalkan pesta sebelum ada orang yang menyadari kehadirannya.
"Di mana orang itu?" Sekembalinya dari toilet, Keysa mendapati Devano sudah tidak ada di sana. Keysa yang merasa tertipu, padahal sudah bersiap untuk memberi perhitungan kepada lelaki tersebut.
"Aku harus menemukannya dan memberi dia pelajaran." Keysa mencari keberadaan Devano. Ia juga memerintahkan anak buah yang dikirim kakeknya untuk mencarinya.
Sementara itu, di lantai dansa, Ezra masih berdansa dengan Nindy. Tubuh keduanya bergerak bersama seirama dengan alunan musik. "Bagaimana kalau kita mencobanya," ucap Ezra tiba-tiba.
Nindy yang tidak mengerti arah tujuan ucapan Ezra hanya menatap lelaki yang sedang memegang pinggangnya dengan mata yang memicing. "Mencoba apa?"
"Mencoba menjalin hubungan seperti yang kamu mau," tandas Ezra lagi, tanpa berani memandang Nindy.
Seutas senyum terbit di bibir Nindy, mendengar ucapan Ezra. "Apa kamu sedang menerima pernyataan cintaku waktu itu?" tanya Nindy, memastikan.
Ezra mengembuskan napas kasar. Ia merasa nyaman bersama dengan Nindy dan tidak suka jika ada pria lain yang mendekatinya, tetapi Ezra juga bukan orang yang pandai mengungkapkan perasaan. "Aku belum pernah pacaran. Aku juga tidak tahu cara mengungkapkan cinta yang benar kepada lawan jenis. Tapi ... jika perkataanmu waktu itu masih berlaku, aku ingin mencoba menjalani hubungan denganmu. Aku nyaman bersamamu dan ingin menjadi kekasihmu," ungkap Ezra.
Mendengar perkataan Ezra, senyum di wajah Nindy semakin mengembang. Sejurus kemudian, Nindy mendekatkan wajahnya kepada Ezra hingga bibirnya menempel dengan bibir lelaki tersebut. "Mari kita bangun istana cinta kita dengan sangat indah," ucap Nindy, kemudian.
__ADS_1
Ezra tidak menjawab. Ia merapatkan tubuhnya dengan tubuh Nindy, kemudian menunduk dan mendekatkan wajahnya kepada Nindy. Ezra menjawab ajakan gadis itu dengan memberikan ciuman yang dalam dan cukup lama.
D sisi lain lantai dansa, Cheryl dan Ferro pun masih berdansa. Keduanya seperti sepasang kekasih. Penampilan keduanya tampak serasi dengan pakaian warna senada yang mereka kenakan.
"Fer, maukah kamu menemaniku meminta maaf kepada Keysa?" ucap Cheryl di sela dansa mereka.
"Meminta maaf?" Ferro merasa tidak percaya dengan kata yang baru saja keluar dari mulut Cheryl.
Cheryl mengangguk pasti. Gadis itu menyadari kesalahannya selama ini yang telah sangat keterlaluan kepada Keysa. Ia juga tidak bisa terus memaksakan kehendaknya kepada Devano, apalagi saat ini di mata semua orang Devano sudah mati. Ia ingin berdamai dengan Keysa dan meminta maaf secara tulus kepada kekasih Devano itu.
Setelah mendengar penjelasan dan penyesalan Cheryl, Ferro pun mau membantu. Ditemani oleh Ferro, Cheryl turun dari lantai dansa dan mencari keberadaan Keysa.
"Ada apa, Fer?" Keysa menatap heran kepada Ferro yang datang dengan Cheryl, kemudian beralih pada Cheryl yang terus menunduk tanpa berani menatap Keysa.
"Cheryl ingin bicara denganmu."
Keysa kembali menatap Cheryl dengan sebelah alis yang terangkat. "Bicara denganku?" Keysa menunjuk hidungnya sendiri, tidak yakin dengan yang didengarnya.
Ferro mengangguk. "Bicaralah ...." Ferro menepuk bahu Cheryl.
__ADS_1
Merasakan bahunya dipegang Ferro, Cheryl menoleh ke arah lelaki di sampingnya itu. Ferro menampilkan seulas senyum, membuat Cheryl mengangguk pelan. Gadis memakai gaun maroon itu, menoleh ke arah Keysa dan sejurus kemudian mengulurkan tangan. "Maafkan aku!" ucapnya pelan.
Keysa semakin dibuat keheranan oleh tingkah Cheryl. Tidak menyangka gadis bar-bar di hadapannya tiba-tiba saja meminta maaf. "Apa kau tidak salah minum obat?" tanya Keysa. "Atau ... apa kau sedang membuat sebuah drama baru?"
Cheryl menggeleng cepat. Tuduhan Keysa tidak benar. Ia benar-benar tulus ingin meminta maaf dan berjanji akan berubah.
"Key, dia benar-benar menyesal dan ingin meminta maaf kepadamu. Dia sudah berjanji akan berubah." Ferro juga ikut menimpali.
"Apa kamu bisa menjamin kalau dia benar-benar berubah?"
"Kamu bisa jadikan aku jaminan atas keseriusan Cheryl," ucap Ferro, dengan begitu mantap.
Keysa menatap Cheryl dan Ferro secara bergantian. Ada hal lain yang Keysa lihat dari tingkah keduanya, apalagi saat menyaksikan Ferro yang begitu membela Cheryl, dan Cheryl pun begitu menurut kepada lelaki tersebut.
"Aku benar-benar meminta maaf, Key. Aku janji tidak akan mengulangi perbuatanku aku lagi. Aku ingin berubah." Cheryl mencoba meyakinkan Keysa.
Keysa melihat ketulusan dari kata-kata Cheryl, belum lagi ada Ferro di sisinya yang sudah menjamin perbuatan dan ucapan Cheryl. Keysa menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan cepat, kemudian seulas senyum tertampil di wajah Keysa seraya menatap gadis yang selama ini memusuhinya. "Baik. Kalau begitu aku memaafkanmu. Aku pegang semua janjimu," ucap Keysa.
Senyum merekah begitu saja dari bibir Cheryl begitu mendengar Keysa memaafkannya. "Terima kasih. Aku berjanji tidak akan mengingkarinya." Spontan Cheryl memeluk Keysa, membuat Keysa sedikit terkejut. Namun, sejurus kemudian, Keysa membalas pelukan Cheryl.
__ADS_1
Setelah urusan dengan Cheryl selesai, Keysa kembali mencari Devano. Namun, hasilnya masih tetap nihil, bahkan orang-orang suruhannya pun tidak menemukan jejak lelaki bertopeng yang telah menciumnya. Lelah dengan semua yang terjadi, tetapi tidak mendapatkan hasil yang memuaskan, Keysa pun memilih untuk pulang ke rumah.