
"Kakakmu telah mencelakai Devano. Dia menyuruh Dev terjun bebas dari atas tebing hingga kehilangan nyawanya."
Keysa memilih kembali ke asrama. Setiba di sana, ia langsung menghubungi Cheryl dan memberitahukan tindakan kakak lelaki gadis itu terhadap Devano.
"Eh, Cupu, kalau bicara jangan ngasal, ya! Mana mungkin kakakku mencelakai Dev? Itu sebuah kebohongan besar. Sebenci-bencinya kakakku, dia dan Deb bersahabat, tidak mungkin dia mencelakai Dev." Cheryl di seberang sana tidak memercayai dengan semua yang dikatakan Keysa.
"Terserah mau percaya atau tidak, itu hakmu. Tapi, aku tekankan padamu jangan pernah muncul di hadapanku atau kau akan mendapatkan sesuatu yang tidak pernah kau bayangkan," ancam Keysa, kemudian mengakhiri panggilannya.
"Arggh!!!" Setelah panggilan berakhir, Keysa melempar ponsel ke atas tempat tidur sambil berteriak. Frustasi itulah yang dirasakannya saat ini.
Tanpa Keysa ketahui, dari balik pintu kamar, Disti mendengarkan ucapan Keysa dan Cheryl. Ia yang baru sampai ke asrama, menghentikan langkahnya saat dari dalam kamar terdengar Keysa yang sedang berbicara sambil marah-marah kepada Cheryl.
"Tidak itu tidak mungkin." Disti menggeleng, tidak memercayai apa yang baru saja didengarnya.
Disti tidak jadi masuk. Dengan pikiran kacau yang terus menyangkal ucapan Keysa, Disti kembali ke apartemen.
Setiba di apartemen, Disti langsung menuju tempat tinggal Exel hingga dibuat tercengang dengan apa yang dilihatnya.
"Astaga apa yang terjadi?" Disti membekap mulutnya sendiri melihat apartemen yang berantakan. "Di mana Exel?" Di apartemen yang sudah seperti kapal pecah itu tidak terlihat pemiliknya.
Disti berjalan melewati lantai yang dipenuhi barang berserakan, sambil memanggil Exel, mencari keberadaan lelaki itu. Hingga akhirnya, Disti dibuat semakin terkejut saat menemukan Exel sedang meringkuk di sudut kamar dengan keadaan yang berantakan.
"Exel, apa yang terjadi?" Disti berjalan melewati barang-barang yang berserakan di lantai dan menghampiri Exel.
__ADS_1
Melihat kehadiran Disti yang mendekat, Exel pun langsung memeluk Disti dengan sangat erat. Exel menangis di pelukan Disti. "Aku takut sendirian," gumamnya, dengan lirih dan bergetar.
"Tenanglah ada aku di sini," ucap Disti mencoba menenangkan.
Bukannya mereda, tubuh Exel bergetar semakin hebat. Lelaki itu menangis sejadi-jadinya, bahkan jika ada orang yang melihat, tidak akan ada yang percaya bahwa lelaki yang sedang menangis itu adalah Exel.
Setelah cukup tenang, Disti memberikan segelas air putih. "Minumlah dulu!"
Dalam satu tegukan air putih itu pun kandas.
"Jika kamu butuh teman bercerita, aku bersedia menjadi pendengar setia," tandas Disti. "Kadang menceritakan beban kita kepada orang lain akan meringankan sedikit beban di diri kita," lanjutnya kemudian.
Exel menatap Disti hingga mata keduanya saling bertemu. Ucapan Disti ada benarnya juga, Exel yang sudah cukup tenang akhirnya memberanikan diri untuk bercerita.
Exel menceritakan kondisi mentalnya yang terguncang setelah kematian orang-orang terdekatnya dalam waktu yang sama. Namun, keadaan keluarga yang memburuk karena kepergian mereka membuat Exel terpaksa pura-pura baik. Ia menyalahkan Devano yang telah menjadi alasan kepergian kakek dan kakaknya.
Keluarga Exel selalu menomor satu-kan Devano membuat Exel kadang iri, tetapi ia tidak pernah mempermasalahkan selagi kakak dan kakeknya masih ada di sisinya. Namun, semua berubah saat dua orang yang paling berharga di hidup Exel harus meregang nyawa karena menolong Devano. Semenjak itu, Exel sangat membenci Devano, setelah merebut lebih banyak perhatian dari kakek dan kakaknya, Devano telah membuat Exel benar-benar kehilangan dalam arti sesungguhnya—bukan hanya perhatian, tetapi juga nyawa dua orang terkasihnya. Semenjak itu, Exel berjanji akan membalas kematian mereka dengan kematian Devano juga.
"Sekarang Dev pasti sudah meninggal. Tidak mungkin ada orang yang akan selamat dengan ketinggian tebing yang sang tinggi. Tapi, setelah melihat Dev terjun, aku tidak bahagia sama sekali. Dadaku semakin hampa." Exel memukuli dadanya sendiri. Kosong dan hampa itulah yang dirasakannya saat ini, bahkan terasa sesak dan sakit saat mengingat momen Dev menjatuhkan diri dengan sukarela.
Ingatan Exel yang terjun bebas terus terlintas bergantian dengan momen-momen masa kecil saat kebersamaannya bersama Devano yang begitu indah dan menyenangkan. "Apa yang sudah aku lakukan? Aku benar-benar kehilangan akal." Tiba-tiba Exel memukul kepalanya sendiri berkali-kali sambil merutuki perbuatan yang telah dilakukannya, ia sadar bahwa selama ini ia sudah kehilangan akal sehat dengan terus menargetkan Devano sebagai musuh.
"Aku pria yang sangat buruk. Aku bahkan tega menghancurkan sahabatku sendiri. Aku tidak pantas didekati siapapun. Aku tidak pantas mendapat simpati dari siapapun." Exel masih memukul dan menjambak rambutnya sendiri dengan tubuh yang bergetar dan air mata yang lolos begitu saja.
__ADS_1
Disti yang melihat kondisi Exel kembali tidak stabil lantas memeluk lelaki itu. Kondisi Exel yang memilukan membuat Disti juga ikut menangis.
"Pergilah! Tinggalkan aku sendiri! Aku orang jahat. Kamu gadis baik, aku tidak pantas untukmu. Pergilah! Dan lupakan semua di antara kita. Kamu pantas mendapatkan orang yang jauh lebih baik."
"Tidak." Exel meminta Disti untuk pergi, tetapi Disti menggeleng. Ia tidak rela jika harus meninggalkan Exel, apalagi dalam keadaan terpuruk seperti itu.
Di saat bersamaan, tiba-tiba Zack dan lainnya masuk ke apartemen Exel. Sebenarnya, mereka membuntuti Disti sejak dari asrama dan bergerak setelah memastikan bahwa yang ditemui Disti adalah Exel. Zack menangkap Exel dan membawa pria itu pergi.
"Jangan bawa Exel pergi!" teriak Disti, saat melihat Exel dibawa Zack dan rekannya tanpa perlawanan.
Disti menangis sesegukan seraya memegang perutnya yang rata, meratapi kepergian Exel. "Sekarang apa yang harus aku lakukan?" gamamnya, lirih, mengingat ada jiwa lain yang tengah bersarang di perut datarnya itu.
Puas menangis, Disti beranjak dari apartemen yang sudah berantakan itu. Langkah gontainya, membawa Disti pulang ke asrama.
Setiba di asrama, tampak Keysa yang sedang duduk dengan wajah sendunya. Genangan air masih memenuhi mata, pertanda gadis itu habis menangis. Namun, melihat saat kedatangan Disti, Keysa berusaha tersenyum dan menyapa Disti dengan nada biasa.
Disti ingin sekali menceritakan tentang keadaannya saat ini. Ia tengah hamil, tetapi lelakinya ditangkap bahkan sebelum tahu bahwa dirinya tengah mengandung. Keysa selalu mendengarkan keluh kesahnya, tetapi Disti juga tahu kalau Keysa juga sedih, bahkan jauh lebih sedih karena sedang berkabung atas kematian Devano. Ia tidak tega semakin menyakiti sahabatnya itu. Disti pun memilih menangis dalam diam.
Cahaya kamar dibuat redup. Disti yang langsung berbaring setelah masuk kamar menghidupkan lampu tidur, lantas tarik selimut. Namun, bukannya tidur, Disti malah menangis diam-diam di balik selimut sambil membelakangi Keysa.
Meskipun Disti menutup mulut dan menangis tanpa suara, akhirnya Keysa mengetahui saat melihat tubuh Disti bergetar seperti orang yang menangis.
"Apa terjadi sesuatu? Kenapa menangis?"
__ADS_1