Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
235


__ADS_3

Enam bulan telah berlalu ....


Semenjak kejadian malam itu, Devano tidak pernah lagi menemui Keysa, tetapi ia selalu memantau keadaan gadis itu dari jauh. Devano disibukkan dengan pencarian ibunya yang sudah mulai mendapatkan titik terang.


"Apa benar di sini?" tanya Devano, kepada seseorang yang berhasil melacak keberadaaan sang ibu.


"Ya. Dari informasi yang kami dapatkan nyonya berada di sini."


Devano mengangguk. Ia yang masih berada di dalam mobil tampak memerhatikan bangunan di depannya. Sebuah rumah sakit ternama dan bertaraf internasional dengan gedung yang menjulang ada di hadapan Devano.


"Untuk lebih pasti, bagaimana kalau kita masuk?" ucap orang itu lagi, yang kembali dijawab anggukan Devano.


Orang yang merupakan ketua organisasi intelijen yang disewa oleh keluarganya itu kemudian keluar dari mobil. Setelah mengenakan kacamata hitam, Devano pun keluar mobil dengan pakaian serba hitam. Keduanya bersama beberapa anak buah yang mengikuti secara terpisah berjalan masuk ke gedung tersebut.


"Apa kau sudah membereskan semuanya?" tanya Devano lagi.


"Saya tidak akan bergerak tanpa persiapan yang matang."


Devano kembali mengangguk. Selama bekerja untuknya, orang itu memang memiliki kinerja yang baik.


Orang itu menggiring Devano ke sebuah ruangan yang diduga ibu Devano berada. Keamanan di ruang perawatan tersebut sangat dijaga ketat, hingga orang kepercayaan keluarga Devano itu harus bekerja ekstra keras untuk menembusnya. Cctv sepanjang jalan hingga sampai di ruangan itu sengaja dirusak. Sepanjang perjalanan menuju ruangan yang dimaksud, Devano sama sekali tidak menemukan orang berlalu-lalang.


"Apa setiap hari kondisi di sini seperti ini?"


Orang itu menggeleng. Devano pun kembali mengangguk. Paham, kalau semua pasti pekerjaan orang tersebut dan anak buahnya. Setiba di ruangan, Devano melihat para pejangga di ruangan itu tampak terkapar tidak sadarkan diri.


"Mari, Bos!" Hingga seseorang berpakaian serba putih, yang sudah menunggu kehadiran mereka langsung membuka pintu dan mempersilakan Devano masuk.


Devano mengangguk, kemudian masuk. Ruangan serba putih dengan satu ranjang berada di sana. Seseorang tampak berbaring di sana layaknya seorang putri tidur.

__ADS_1


Jantung Devano berdetak lebih kencang saat kakinya melangkah menuju tubuh yang terbaring di ranjang. Banyak pikiran yang berkecamuk. Takut jika ia harus gagal untuk kesekian kalinya dan ternyata pasien itu bukan ibunya, seperti yang pasien-pasien yang sudah ditemui oleh Damar.


Semakin dekat, jantung Devano semakin tidak karuan. Semakin dekat, wajah wanita yang tergolek lemah itu pun tampak semakin jelas.


"Mommy." Satu kata keluar dari mulutnya begitu melihat orang terbaring di ranjang adalah Helen—ibu kandungnya.


Sejenak Devano tertegun dengan pemandangan di depan mata. Wanita yang selama ini di rindukannya ada di depan mata dengan kondisi tidak berdaya, wajah pucat dan tidak sadarkan diri.


"Mommy ...." Devano memeluk Helen. Rasa benci dan marah yang sempat hadir karena ditinggalkan begitu saja, hingga tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu tiba-tiba luruh begitu saja. Terlepas dari apa yang membuat Helen meninggalkannya dan berakhir di ranjang pesakitan seperti itu, saat ini Devano sangat ingin melepas rindu yang bertahun-tahun dipendamnya.


"Tuan Muda, sebaiknya kita segera pergi sebelum ada orang menyadari kehadiran kita," ajak ketua organisasi itu.


Devano mengangguk, kemudian orang itu dan anak buahnya membawa Helen keluar dari rumah sakit tersebut.


Mereka langsung menuju bandara dan terbang ke sebuah rumah sakit terbaik di dunia, di mana Damar sudah menunggu kehadiran mereka. Beruntung, perjalanan mereka berjalan mulus tanpa ada hambatan yang berarti karena sudah dipersiapkan dengan matang. Bahkan, pihak yang mengurus Helen pun tidak tahu kalau ibu Devano sudah tidak ada di rumah sakit tersebut karena mereka sedang disibukkan oleh acara lain hingga melupakan sejenak tentang Helen.


"Dari informasi, Nyonya Helen mengalami kecelakaan parah hingga mengalami koma."


"Apa dia tidak pernah sadar?"


"Ayahnya merawat Nyonya dengan baik, hingga Nyonya nyaris sembuh. Namun, sesuatu di luar dugaan tanpa sepengetahuan ayah Nyonya telah terjadi kepada Nyonya, Tuan."


"Jelaskan!"


Dokter itu mengangguk, kemudian memberikan informasi tentang Helen sedetail mungkin. ia juga menjelaskan bahwa ketidaksadaran Helen karena unsur kesengajaan. Tanpa sepengetahuan ayah Helen, kakak Helen ikut andil dalam hal yang menimpa Helen, bahkan orang itu tidak membiarkan Helen sadar dari koma dengan membayar orang untuk membiarkan Helen seperti putri tidur selama beberapa tahun hingga tidak bisa ditemukan oleh Devano dan keluarga.


Urat-urat tangan Devano seketika menegang dengan tangan yang terkepal sempurna ketika mendengar penjelasan si dokter. Rahangnya pun semakin mengeras saat dokter mengatakan kalau orang-orang itu melakukan hal tersebut hanya demi menguasai kekayaan orang tua Helen sepenuhnya.


"Aku akan memberikan pelajaran kepada mereka. Mereka sudah membuat mommy dan aku menderita bertahun-tahun. Aku tidak akan membuat mereka bisa bahagia dan mendapatkan apa yang mereka inginkan," gumam Devano dengan wajah yang sudah dipenuhi kemarahan.

__ADS_1


Karena ulah mereka, ia harus berpisah bertahun-tahun dengan sang mommy, bahkan sempat membenci karena menyangka Helen meninggalkannya. Setelah semua terungkap, Devano tidak akan membiarkan orang-orang yang sudah membuatnya terpisah dengan ibu kandungnya hidup dengan tenang.


***


Pesawat sudah mendarat. Devano pun langsung menuju rumah sakit yang disebutkan Damar. Setiba di sana, Helen langsung mendapat penanganan dari tenaga medis terbaik di sana.


"Terima kasih sudah membawa mommy-mu kembali." Tanpa disangka, Damar langsung memeluk sang Putra, saat keduanya sedang menunggu Helen yang sedang diperiksa.


Sejenak Devano tertegun dengan tindakan spontan Damar, apalagi terdengar sedikit isakan dari tubuh yang memeluknya.


'Apa Daddy menangis?' gumam Devano dalam hati, setengah tidak percaya.


"Mommy adalah mommy-ku sudah seharusnya aku melakukan ini," ucap Devano, membalas pelukan Damar.


Cukup lama Damar memeluk Devano. "Sekali lagi terima kasih," ucap Damar seraya mengurai pelukannya.


"Kamu sudah membuktikan diri sebagai anak yang baik dan berbakti kepada orang tua. Sekarang, kejarlah apa yang ingin kamu kejar," ucap Damar kemudian, sambil memegang bahu Devano.


Mendengar ucapan Damar, seketika wajah Devano langsung semringah. "Apa itu artinya ...." Devano tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena takut prediksinya salah.


"Tugasmu sudah selesai, sekarang giliran daddy melanjutkan tugasmu mengurus mommy hingga sembuh kembali. Bukankah kamu sudah sangat merindukan kekasihmu itu? Pergilah dan temui dia," ucap Damar dengan seulas senyum yang tertampil.


"Apa Daddy sudah merestui hubungan kami?" tanya Devano, memastikan.


"Ya. Tapi, selesaikan dulu kuliah kalian baru bisa menikah," lanjut Damar. Sebagai seorang ayah, tentu saja Damar tahu apa saja yang telah dilakukan sang anak.


Devano tidak menjawab. Senyum dan rona kebahagiaan semakin memenuhi wajahnya, dan sejurus kemudian memeluk Damar. "Terima kasih, Dadd," ucap Devano, tulus dari hati yang paling dalam.


Damar hanya mengangguk, seraya menepuk-nepuk punggung Devano. "Pergilah dan temui dia! Maafkan Daddy yang selama ini terlalu keras kepadamu. Tapi, asal kamu tahu, Daddy sangat menyayangimu."

__ADS_1


__ADS_2