
"EZ, kembalikan ponselku!" pinta Devano, saat tiba-tiba Ezra merebut ponselnya.
"Tidak," jawab Ezra sambil pergi.
Devano yang sedang duduk di sofa lantas berdiri, hendak merebut kembali ponsel miliknya, tetapi Ezra berhasil mengahalau.
"Ez, kembalikan!" pinta Devano lagi dengan suara yang lebih tinggi. Sambil mencoba meraih tangan yang sedang memegang ponselnya itu.
Namun, pergerakan Devano terbaca oleh Ezra. Dengan cepat, Ezra mengangkat tangan—menjauhkannya dari jangkauan Devano. "Tidak!" Ezra menjawab dengan tidak kalah tinggi.
Akan tetapi, tangan Devano pun tidak kalah lihainya. Dengan cepat pula, ia meraih tangan Ezra yang sudah menunjuk ke atas dan mengambil ponsel dari tangan Ezra.
Tidak ingin sahabatnya terus bermain game, Ezra merebut kembali benda pipih tersebut, hingga keduanya saling berebut cukup lama.
"Dapat." Dengan susah payah, Devano berhasil mendapatkan kembali ponselnya. Namun, tiba-tiba wajahnya berubah suram saat melihat karakternya di game telah mati. "Lihatlah! Gara-gara kau, aku mati!" sarkas Devano seraya menatap tajam ke arah Ezra dengan amarah yang sudah berapi-api.
"Biarkan saja mati. Ketimbang game gak bakal mati beneran."
"Kau itu ...." Kemarahan Devano semakin menjadi, tangannya mengepal sempurna bersiap memberikan bogem mentah kepada Ezra.
"Apa?! Mau pukul? Sini pukul!" Ezra mencondongkan wajahnya ke arah Devano, membuat amarah Devano semakin membumbung tinggi.
Keduanya pun berkelahi.
Sementara itu di dunia game, semua orang tidak percaya dengan kemenangan Keysa. Raut wajah Exel dan Cheryl memburuk ketika melihat Keysa menang. Exel pun pura-pura memberikan selamat kepada Keysa dan tetap melamarnya. Namun, Keysa pun tetap menolak.
Di rumah Ezra. Ezra dan Devano berada di atap sambil minum, setelah perkelahian yang membuat keduanya sama-sama terluka terhenti— saat Exel mengucapkan keputus asaannya.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi? Sampai-sampai kau suruh aku tuk menghabisimu?" tanya Devano, mengingat kata yang keluar dari mulut Ezra saat mereka berkelahi.
Ezra menengadah menatap kosong ke langit yang tampak gelap tanpa bulan dan bintang, seperti hatinya yang tiba-tiba setelah membaca pesan dari Keysa. Tangannya memutar-mutar botol kaleng minuman yang dipegang. "Faya menolakku lagi," ucap Ezra, kemudian.
"Kau nembak dia lagi?" Devano memicingkan mata, menoleh ke arah sang sahabat yang duduk di sampingnya.
Ezra mengangguk pelan. Devano salut dengan kegigihan Ezra yang terus memperjuangkan perasaannya, meskipun terus ditolak. Namun, saat ini Ezra tidak seperti biasanya, membuat Devano menatap Ezra dengan penuh tanda tanya apa yang telah terjadi dengan sahabatnya itu.
"Faya menolakku lagi. Dia bilang, dia sudah memiliki pacar. Tapi, yang bikin aku nyesek, dia minta aku jangan pernah menghubunginya lagi. Sepertinya dia benar-benar tidak menginginkanku, bahkan untuk saling balas pesan saja dia tidak mau." Seakan tahu dengan tatapan Devano, Ezra langsung bercerita tanpa diminta.
Setelah mendengar cerita Ezra, Devano lantas menepuk bahu Ezra—mencoba menenangkan. "Sabar kita ambil hikmahnya saja. Mungkin Faya memang terlahir bukan buat kamu. Semoga saja dengan tidak berhubungan, kamu akan cepat bisa melupakannya." Devano mencoba menasehati Ezra, kemudian menghibur lelaki yang sedang patah hati itu.
Keduanya berbaring di atap dengan tangan yang sebagai bantalan. Devano terus menghibur Ezra, hingga keadaannya semakin membaik. Bahkan lelaki itu, tampak terlelap di atap dengan ditemani semilir angin malam. Di saat seperti itu, tetiba Devano kembali merindukan Keysa.
Mata Devano terpejam seraya menarik napas panjang dan mengeluarkan secara perlahan dari mulut. Menahan rindu benar-benar menyiksa jiwa dan pikirannya. "Huh!" Ia lantas membuka dan segera bangun.
"Mau ke mana?" tanya Ezra, yang ternyata tidak tidur.
Ezra sendiri tidak menghentikan langkah Devano, dan memilih untuk melanjutkan tidur di atap.
Tanpa menunggu hari esok, Devano pun langsung membereskan pakaian dan bergegas pergi ke Bandara.
***
Dering telepon menggema di kamar Keysa, membangunkan sang pemilik kamar yang semalam telah merayakan kemenangannya karena berhasil mengalahkan Devano. Dengan mata yang masih terpejam, Keysa meraba tempat tidur—mencari benda pipih yang terus bergetar seraya mengeluarkan bunyi nyaring yang mengganggu mimpi indahnya.
Keysa membuka sedikit mata yang masih rapat itu begitu menemukan benda tersebut.
__ADS_1
"Halo!" ucap Keysa dengan suara paraunya, begitu panggilan tersambung setelah mendial tombol hijau di layar ponsel.
"Halo! Kejutan!" ucap Devano dengan semringah. "Aku sudah sampai Bandara. Bisakah kau jemput aku?" ucap Devano di seberang sana yang berhasil membuat Keysa membuka mata dengan sempurna.
"Bandara? Bandara mana?" tanya Keysa, mencoba mencerna kata-kata Devano.
Devano pun dengan bangga menyebutkan nama bandara yang terdapat di kota Keysa tinggal.
"Kamu ada di sini?" tanya Keysa, memastikan.
"Ya," jawab Devano, yang terdengar sangat meyakinkan.
"What?" Keysa sampai terjengkat setelah mendengar jawaban Devano. Ia sangat terkejut, lelaki itu sampai mencarinya ke kota asal Keysa.
"Kamu kenapa? Apa kamu tidak senang dengan kedatanganku?" tanya Devano, mendengar suara Keysa yang seperti tidak suka dengan kedatangannya.
"Eh, bukan begitu."
"Atau kamu memang punya lelaki lain dan kamu takut aku mengganggu hubungan kalian?" Devano kembali tersulut emosi mendengar ucapan Keysa.
"Bukan begitu, Dev. Aku hanya terkejut karena kamu nelpon dan tiba-tiba bilang ada di sini," jelas Keysa.
"Kalau begitu jemput aku sekarang juga.. Aku tunggu, tidak pakai lama," tandas Devano, lalu mengakhiri panggilannya.
Keysa menatap ponsel yang sudah tidak lagi tersambung dengan Devano. Ia bingung harus berbuat apa. Ia tidak mungkin memberitahukan kebenarannya saat itu juga.
"Pergilah! Jemput anak itu. Sisanya biar kakek yang urus," ucap Kakek Surya yang tanpa sengaja mendengar percakapan Keysa dan Devano.
__ADS_1
"Kakek." Keysa menoleh ke arah suara.
Lelaki yang sedang berada di ambang pintu kamar Keysa pun, lantas masuk menghampiri sang cucu. "Kakek sudah mendengarnya. Temui dia! Kasihan, dia sudah jauh-jauh datang kemari hanya demi dirimu," tandas Kakek Surya lagi. "Tapi, sebaiknya kamu jemput dia menggunakan sepeda." Agar penyamaran Keysa tidak terbongkar, Kakek meminta Keysa untuk mengendarai sepeda.