Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
104


__ADS_3

104


Devano turun dari pohon dan mencoba mengalihkan kelompok serigala itu ke tempat lain.


"Naiklah ke pohon agar lebih aman dari binatang buas," teriak Devano, menasehati lalu pergi. 


 Ia berlari menjauh dari tempat Keysa dan dikejar oleh sekelompok serigala itu. 


"Hati-hati, Dev!" teriak Keysa. "Dev, kau harus kembali dengan selamat. Ya, Tuhan lindungilah Dev dari para serigala itu." Keysa berdoa untuk keselamatan Devano. 


Sudah satu jam Keysa berada di atas pohon sesuai perintah Devano. Namun, Devano tidak kunjung pulang dan itu berhasil membuat Keysa khawatir. 


"Kemana dia? Kenapa belum juga kembali," gumam Keysa. 


Suara serigala masih terdengar, tetapi suaranya semakin menjauh. "Aku harap dia baik-baik saja," gumam Keysa lagi. 


Tidak lama kemudian terdengar suara kaki melangkah dengan suara ranting dan pepohonan kecil terinjak. Devano kembali  dengan tubuh yang penuh luka.


"Key! Key!  kau di mana?" Devano memanggil Keysa, mencari keberadaan gadis itu. 


Sementara itu, di atas pohon Keysa bernapas lega saat dari cahaya remang-remang melihat Devano sedang berjalan dan mencarinya. 


"Key, kau di mana?" teriak Devano, tetapi  tidak ada jawaban dari Keysa. 


Keysa sengaja tidak menjawab panggilan Devano. Kejadian kemarin malam masih membuat gadis itu kesal kepada lelaki di bawah. 


"Key, kau di mana?" Devano memanggil Keysa lagi, hingga tiba-tiba tubuh lelaki yang sedang  berdiri tepat di bawah Keysa itu tersungkur ke tanah. Devano pingsan. 


Melihat Devano yang jatuh ke tanah  tidak berdaya, spontan Keysa langsung turun dan memanggil nama lelaki itu. "Dev! Kau kenapa?" 

__ADS_1


"Dev!" Keysa langsung menghampiri tubuh yang masih tergeletak di tanah itu dengan penuh kekhawatiran. 


Namun, tiba-tiba Devano bangun, lalu berdiri dan langsung  berjalan ke arah Keysa yang juga sedang berjalan ke arahnya. Ternyata  Devano hanya pura-pura pingsan untuk membuat Keysa keluar dari persembunyiannya. 


Sementara itu, Keysa yang melihat Devano berjalan ke arahnya langsung mematung. Bahagia dan kesal bercampur menjadi satu, lagi dan lagi lelaki itu mempermainkan perasaannya. Devano pun lantas memeluk Keysa dengan begitu posesif. 


"Aku sangat bersyukur kau masih hidup. Kau tahu aku hampir saja gila saat mendengar kau telah tiada. Jangan menghilang lagi! Aku tak sanggup hidup tanpamu." Devano memeluk Keysa sangat erat dan enggan tuk melepasnya, bahkan buliran bening sampai menetes dari ujung mata lelaki itu. Sementara,  Keysa masih mematung tanpa membalas pelukan itu. Keysa masih berpikir kalau ucapan Devano hanya bualan saja untuk mempermainkan perasaannya seperti yang diucapkan Devano kepada Damar. 


"Kenapa diam saja? Apa kau tidak senang bertemu lagi denganku?" lanjutnya, ketika Keysa tidak merespon semua  ucapan dan perbuatannya. 


"Kenapa kau berpura-pura?" tanya Keysa, entah untuk kepura-puraan yang mana. 


"Maaf. Aku terpaksa lakukan itu karena kau tidak kunjung keluar dari persembunyian," ucap Devano menjelaskan alasannya pura-pura pingsan. Keysa pun tidak memperpanjang masalah itu dan memilih ber-oh ria, lalu diam lagi.


"Sebaiknya kita menunggu pagi di sini saja. Tidak baik melanjutkan perjalanan dengan keadaan gelap," lanjutnya, sambil mengurai pelukannya.


Keysa hanya mengangguk. Devano lantas menarik tangan Keysa. Mereka  beristirahat di bawah pohon yang dipanjat Keysa tadi. Devano yang tidak mau kehilangan gadis yang dicintainya lagi terus memeluk gadis itu sampai pagi. Di saat Keysa protes pun, lelaki itu tak menghiraukan dan beralasan untuk mengurangi rasa dingin yang menyergap mereka. 


"Dasar modus apa yang kau lakukan, hah?!" bentak Keysa sambil mendorong Devano menjauh dari tubuhnya, tapi pelukan Devano terlalu kuat. 


"Apa yang kau lakukan?" Devano yang mendapatkan tamparan dan dorongan yang sangat kuat langsung membuka mata dengan sempurna. 


"Apa-apa? Seharusnya aku yang nanya, apa yang kau lakukan? Mencari kesempatan dalam kesempitan? Picik sekali isi kepalamu." Keysa berdecak saking kesalnya dengan sikap Devano—sudah berbuat, tetapi tidak mau mengakui. 


"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Devano melepaskan pelukannya dan langsung bangun. 


"Ular!" teriak Devano sambil menunjuk dada Keysa. Alangkah terkejutnya ia saat melihat ada ular di dada Keysa, bahkan lelaki itu sampai mundur karena kaget. 


"Ular?" Keysa yang mendengar ucapan Devano, lantas menunduk dan melihat seekor ular putih kecil di atas dadanya. "Jadi, dari tadi ular itu?" gumam Keysa, malu sendiri karena sudah menuduh Devano yang bukan-bukan. 

__ADS_1


Ya, semenjak semalam sampai pagi Devano hanya memeluk pinggang Keysa, sedangkan  yang meraba dada gadis itu adalah ular yang merayap dan sekarang sedang diam di sana dengan begitu tenang. 


"Apa kau menamparku gara-gara ular itu? Apa kau mengira aku sudah pegang itu?" Devano menyipitkan matanya sambil menunjuk ke arah ular dan dada Keysa. 


"Maaf," ucap Keysa dengan seutas senyum canggung. Ia merasa bersalah sudah menampar lelaki yang sudah bertaruh nyawa untuk menolongnya semalam. 


"Oh, ya, ampun! Dasar ular laknat, gara-gara kau aku kena tampar!" umpat Devano sambil mengusir ular itu. 


Namun, tidak disangka ular putih itu sangat lincah dan sepertinya tidak mau turun dari tubuh Keysa. Ular itu juga menyukai gadisnya itu. Keysa sendiri yang menyadari ular itu ramah kepadanya mulai mengajak bermain ular itu. 


"Sepertinya dia menyukaiku. Aku bawa pulang saja, ya!" ucap Keysa kemudian dan disetujui oleh Devano. 


Mentari sudah mulai naik dan menggantikan bulan yang kembali bersembunyi. Hari sudah kembali terang benderang. Keysa dan Devano pun memutuskan untuk mencari jalan pulang. 


Di tengah perjalanan, perut Keysa tiba-tiba berbunyi keras sekali. "Aku lapar," gumam Keysa sambil memegangi perutnya. 


"Sama," jawab Devano, singkat. 


"Apa tidak ada sesuatu yang bisa dimakan? Dari kemarin aku belum makan. Aku gak bakal sanggup lanjutin perjalanan kita kalau gak dapat asupan dulu," ujar Keysa lagi, merasakan perutnya semakin melilit dan rasa lapar semakin menyeruak. 


Devano mengedarkan pandangan ke sekitar, hanya semak-semak dan pohon tinggi yang mereka lalui, tidak ada sesuatu yang bisa dijadikan makanan. Hingga, senyumnya terangkat saat mata Devano tertuju pada ular yang melilit di tangan Keysa. 


"Bagaimana kalau kita masak ia saja sebagai pengganjal perut kita?" ujar Devano sambil menunjuk ular putih Keysa. 


Sepertinya ular itu mengerti ucapan manusia. Tidak disangka setelah Devano berucap demikian, si ular langsung menyerangnya. 


"Makanya jangan asal bicara," seloroh Keysa saat Devano merutuki tingkah si ular. Sementara, si ular putih itu tampak sangat manja terhadap Keysa, berbanding terbalik dengan sikapnya kepada Devano. Keysa pun semakin menyukai si ular. 


Akhirnya, Devano pun mencari ikan untuk makanan mereka. Ia memakai ranting untuk menangkap ikan, tetapi tidak ada satu pun ikan yang didapatnya. 

__ADS_1


"Sepertinya kau memang tidak punya kemampuan untuk menangkap ikan?" Keysa mengolok-olok Devano yang tidak kunjung mendapatkan ikan. 


"Aku rasa menangkap ikan bukanlah kemampuan yang perlu dibanggakan," sanggah Devano sambil mencebik.


__ADS_2