Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
118


__ADS_3

Malam telah  pergi, sang surya pun kembali dengan rupa yang sangat cerah. 


Penjaga Exel datang, Keysa dan Devano pun memutuskan untuk pergi ke kampus—membantu mengurus surat izin Disti. Sementara itu, Ezra yang sudah tahu tentang semua yang terjadi lantas mengutus pembantunya untuk menjaga Disti, dan tentunya atas perintah dari Devano. 


Siang harinya, saat istirahat Keysa kembali ke asrama. Felix yang sudah pindah dan keluar dari rumah, mencari gadis itu untuk membahas cara menghasilkan uang yang pernah dibahas Keysa sebelumnya. Setelah tahu keberadaan Keysa, Felix lantas menyusul Keysa ke asrama yang tanpa sepengetahuannya seseorang telah mengikuti dirinya. 


Setiba di asrama, lelaki cantik yang sudah menjadi sahabat Keysa itu tanpa sungkan langsung masuk. 


"Key, aku sudah keluar dari rumah," ucapnya setelah berada di asrama. 


"Ya, baguslah. Berarti kamu tidak akan diganggu Erika lagi," tandas Keysa yang sedang melihat akun media sosial. 


"Terus, kelangsungan hidupku bagaimana?" tanya Felix. 


"Hidup ya, napas. Kalau gak napas dijamin kamu bakal mati," jawab Keysa lagi. 


"Keysa ...." Felix mulai gemas dengan ucapan Keysa yang seolah-olah akan berpangku tangan dari keputusan yang diambil Felix. 


"Apa?" ucap Keysa dengan seulas senyum yang tertampil semakin menggoda Felix, hingga akhirnya mereka pun membahasnya dengan serius. 


Namun, baru saja dimulai, tiba-tiba pintu kamar Keysa di dorong dengan sangat kuat oleh seseorang. 


"Kalian sedang apa?" sarkas Devano yang sudah berdiri di depan pintu dengan mata yang menatap tajam ke arah Felix.  Ia yang tidak tahan mendengar canda tawa Felix dan Keysa dari balik pintu, memilih untuk menyerobot masuk. 


"Dev?" Keysa menyipitkan matanya, melihat kedatangan Devano. 

__ADS_1


Sementara itu, Felix langsung pamit. Tidak mau mendapat amukan kekasih sahabatnya itu. "Key, kita bahas lain kali saja," ujarnya, lalu pergi dengan langkah yang sangat cepat. 


"Dev, kamu kenapa?" tanya Keysa selepas kepergian Felix. Ia dibuat salah tingkah oleh Devano yang terus memandanginya dengan langkah yang semakin mendekat. 


"Habis ngapain kamu dengan Felix sampai ketawa ketiwi segala?" tanya Devano  penuh selidik. 


Keysa menyipitkan mata, sejurus kemudian alisnya mengekerung. "Kamu habis nguping, ya?" Keysa menyelidik balik. Kemudian, tawa Keysa pun pecah menyadari Devano lagi-lagi cemburu kepada Felix. 


"Kenapa malah tertawa?" 


"Sudah kubilang tidak perlu cemburu pada Felix," jawabnya dengan tawa yang semakin pecah, mengingat sampai kapanpun Felix tidak akan tertarik padanya. "Tidak ada yang perlu kamu takutkan antara aku dan Felix. Aku mau kembali ke kampus lagi," tandas Keysa sambil meraih tasnya yang terlampir di meja belajar.


Melihat Keysa yang malah menganggap kecemburuannya sebagai bahan candaan membuat lelaki itu marah. Ia pun mengikuti gadis yang mengambil tas itu, lalu mengepungnya. 


"Dev, awas! Aku mau lewat. Ayo, ke kampus lagi," ucap Keysa, saat Devano menghalangi langkahnya. 


"Aku lapar," gumam Devano setelah melepaskan ciumannya, lalu menarik tangan Keysa meninggalkan asrama. Ia mengajak Keysa makan siang 


bersama. 


Dengan tangan yang masih digenggam Devano, Keysa mendongak menatap lelaki yang memiliki tinggi dua puluh lima sentimeter di atasnya. Ia merasa Devano memperlakukannya dengan sangat baik. 


"Aku tahu aku itu tampan. Tapi kalau lagi jalan matanya liat ke depan. Kesandung baru tahu rasa," gumam Devano, menyadari gadis di sampingnya sedang memperhatikan dirinya. 


"Kadar pede-mu memang selalu tinggi," ucap Keysa sambil tersenyum malu-malu karena ketahuan, lalu mengalihkan pandangannya ke jalan. 

__ADS_1


Keduanya sampai di kantin dengan tangan yang saling bergandengan. Semua orang memperhatikan kedatangan  Keysa dan Devano.  Mereka merasa kalau Keysa dan Devano tidaklah sepadan. Bahkan, ada di antara mereka yang sengaja berbicara dengan suara agak keras. 


"Mereka mempergunjingkan tentang kita," ucap Keysa. 


"Hmm ...." hanya itu yang keluar dari mulut Devano. Sebuah jawaban yang paling menyebalkan bagi Keysa.


"Mereka bilang kita tidak sepadan," tandas Keysa lagi sambil mencoba melepaskan tangan yang masih digenggam Devano. 


"Aku tidak peduli," ucap Devano yang malah semakin mempererat tautan tangan di antara mereka. 


Devano sendiri juga merasa kalau semua yang diucapkan orang-orang memang benar. Akan tetapi, Devano tidak mempermasalahkan hal itu, sehingga ia mengambil pusing ucapan mereka. Baginya, cukup dirinya dan Keysa saling mencintai itu sudah lebih dari cukup. 


Saat menemukan meja kosong, Devano lantas menarik kursi dan mempersilakan Keysa duduk. Kemudian, ia juga menarik kursi untuk dirinya sendiri—berhadapan dengan Keysa. Setelah itu, keduanya pun memesan makanan. 


Keysa dan Devano makan bersama sampai tiba-tiba Cheryl datang dan ikut bergabung di meja mereka meskipun tidak ada yang mengajak. 


Cheryl duduk di samping Devano. Ia lantas dengan sengaja Cheryl mengambil makanan yang tidak disukai Devano dari piring Devano dan meletakkan di dalam piringnya. Kemudian, Cheryl juga memberikan sayuran yang disukai Devano dan meletakkannya di piring lelaki itu. 


Sementara itu, Devano tidak berbuat atau berkata apa-apa. Lelaki itu tampak enjoy dan biasa saja dengan yang sedang dilakukan Cheryl. 


Keysa mengunyah kasar makanan yang ada di mulut sambil memerhatikan pemandangang indah di depan mata, yang membuatnya terasa ingin muntah. Keysa sudah terbiasa dengan sikap seenaknya Cheryl. Akan tetapi, melihat Devano yang tampak biasa-biasanya  dengan semua yang dilakukan Cheryl membuat dada Keysa bergemuruh.  Keysa meletakkan sendok dan garpu yang sedang digunakannya dengan kasar, kemudian ia berdiri dan langsung meninggalkan meja makan. 


"Mau ke mana?" Devano menarik tangan gadis yang sudah berdiri dan bersiap melenggang pergi. 


"Aku sudah kenyang," jawab Keysa dengan sangat ketus, tanpa menoleh ke arah orang yang mengajaknya bicara. 

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba marah?" tanya Devano. Mengerti kekasihnya itu sedang tidak baik-baik saja, tetapi tidak tahu alasannya. Devano tidak merasa sedang melakukan kesalahan. 


"Kenapa?!" Keysa menoleh ke arah Devano. Tidak percaya dengan kata yang keluar dari mulut lelaki itu. Devano masih mempertanyakan alasan dirinya marah. 


__ADS_2