Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
53


__ADS_3

53


Devano melihat Cheryl yang sudah mulai gusar dengan ucapan Keysa, lalu beralih melihat Keysa yang malah senyum-senyum dengan keberhasilan mengerjai Cheryl. Ingin sekali Devano berbicara dan menjawab semua pertanyaan Cheryl, tetapi ia juga tidak mau kalah taruhan dari Keysa dan yang bisa lelaki itu lakukan hanyalah menatap jam tangan—menghitung mundur waktu yang sebentar lagi habis, sambil mengumpat di dalam hati.


"Dev, kenapa kamu hanya diam saja? Jawab kalau yang dikatakan gadis jelek ini tidak benar," ujar Cheryl sambil menunjuk Keysa. "Dev, jawab!" sarkas Cheryl lagi. 


Namun, lagi dan lagi Devano tetap tidak menjawab, membuat Cheryl berubah menjadi sendu. Sebelumnya, ia tidak pernah diabaikan sampai seperti itu oleh lelaki di hadapannya. "Apa kamu sudah mulai muak dan bosan kepadaku sampai tidak mau berbicara sedikit pun kepadaku? Apa kamu sudah merasa bising dengan semua ucapan-ucapanku sampai kamu mengabaikan semua yang terlontar dari mulutku, Dev?" tanyanya dengan wajah yang menunduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca, bendungannya akan segera jebol. "Kamu jahat sekali, Dev."


"Dari kemarin kemana saja, Sayang? Baru sadar kalau Dev itu sangat muak kepadamu? Kasihan ...." ujar Keysa sambil geleng-geleng, mengejek. "Sekarang sudah tahu kan? Jadi sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum Dev sendiri yang mengusirmu." Di sisa waktu yang tinggal sepuluh detik, Keysa mengusir Cheryl. 


"Cheryl bukan begitu!" Akhirnya Devano membuka suara, tetapi gadis berambut pirang tersebut sudah terlanjur sedih dan memilih pergi sambil menangis.


Keysa tersenyum puas dengan kepergian gadis yang sudah berkali-kali mencoba untuk menghancurkan reputasinya dengan cara kotor. "Lihatlah! Aku bisa mengalahkan Cheryl  hanya dalam waktu lima menit," ujarnya, memberitahu Devano. 


"Key, apa yang telah kau lakukan?"


"Membuatnya sadar kalau dia tidak bisa terus seenaknya padaku. Dia ingin menghancurkanku dengan cara kotor, tapi lihatlah akhirnya di juga yang selalu kalah," jawab Keysa dengan kedua ujung bibirnya yang tertarik tipis. 


"Sudah aku jelaskan berkali-kali jangan membuat masalah dengan dia. Dia itu gadis yang memiliki latar belakang yang sangat berpengaruh di kota ini." 


Devano kembali memperingatkan Keysa. Akan tetapi, Keysa sama sekali tidak menghiraukannya. 


"Apa sebenarnya yang membuatmu sampai seberani ini, sih? Datang dari mana keberanianmu itu? Sampai-sampai kau selalu mengabaikan ucapanku. Memangnya kau punya nyawa berapa, jika sampai keluarganya membalas dendam?" sarkas Devano yang selalu dibuat kesal oleh pembangkangan Keysa. 


"Bukankah ayahku juga seseorang yang tegas dan berani? Jadi kamu bisa tahu dari mana datangnya keberanian itu. Aku bukan orang yang akan membiarkan orang lain menindasku," jawab Keysa yang membuat mereka kembali adu mulut kembali. 


Keduanya pun kembali berdebat, hingga Devano tersadar dengan tujuan dirinya melaksanakan tantangan Keysa untuk diam selama lima menit yang malah berujung pada perdebatan. 

__ADS_1


"Sttt ... diam, jangan teruskan!" Devano menempelkan telunjuknya di bibir Keysa yang terus bicara seperti rem blong. "Bukannya tadi kau bilang kau akan memberitahuku rahasia tentang Faya? Daripada kau nyerocos tidak jelas, mending cepat beritahu rahasia itu!" lanjutnya. 


Keysa kembali membuat lengkungan senyum saat mendengar ucapan Devano, kemudian ia berbohong kalau dirinya pernah bertemu gadis itu. "Aku pertama kali bertemu dengan gadis itu saat di klub. Dia yang telah menolongku waktu itu, tapi sebenarnya ... setelah pertemuan itu aku tidak pernah bertemu lagi," ucap Keysa sambil berlari. Ia langsung melarikan diri sebelum mendapat amukan si Arogan. 


"Keysa Indira Fidelya!" Suara bariton Devano menggelegar di tempat itu dengan tangan yang sudah mengepal sempurna. Lelaki itu sangat marah karena merasa dipermainkan, sedangkan orang yang dipanggil dengan penuh amarah itu hanya menoleh sambil menjulurkan lidah. 


"Keysa, tunggu kau!" teriaknya lagi, bergegas mengejar Keysa. 


Keysa pun lantas berlari sekencang mungkin, tidak ingin tertangkap oleh lelaki yang sudah dikerjainya. Tidak ingin tertangkap oleh Devano, setelah mengambil tas yang tertinggal di kelas, Keysa pun lebih memilih pulang ke asrama. 


Dengan napas yang sudah ngos-ngosan serta keringat yang sudah membasahi seluruh tubuh, Keysa bisa sampai ke asrama tanpa bertemu lagi dengan Devano. Ia pun langsung menutup pintu kamar dan menguncinya, takut Devano mengejarnya sampai ke sana. 


"Berasa lagi lomba lari maraton. Ca-penya minta ampun!" gumam Keysa sambil berjongkok di balik pintu sembari mencoba mengatur napas yang masih naik turun. 


"Air! Aku butuh air." Lari dari kampus ke asrama membuat ion di dalam tubuh terkuras. Keysa lantas mengambil air minum dan menghabiskan tiga gelas air sekaligus. "Seger!" ujar Keysa setelah tiga gelas air itu mengguyur tenggorokannya yang kekeringan. 


Kakek Surya mengirimkan beberapa pesan kepada Kesya yang didalamnya berisi tentang kemungkinan besar Arsen dan Gabby bukanlah saudara kandung. 


"Wah, benarkah? Ini kabar baik yang harus dirayakan. Akhirnya, cinta Gabby dan Arsen bisa menyatu tanpa ada embel-embel cinta sedarah. Keduanya tidak perlu tersiksa lagi oleh perasaan mereka masing-masing." Keysa sangat bahagia saat membaca pesan dari sang kakek. 


Namun, wajahnya langsung ditekuk saat membaca pesan selanjutnya. 


[Penyelidikannya yang kakek lakukan tidak gratis. Untuk melakukan penyelidikan kasus besar seperti itu, kakek harus membayar orang yang ahli dengan harga yang sangat fantastis. Jadi, kau harus mengganti uang kakek yaitu sebesar 34 milyar.]


"What? Kakek ini apa-apaan? Sama cucu sendiri kenapa itung-itungan? Bukankah hartanya hartaku juga?" Keysa langsung menggerutu begitu membaca pesan itu. "Sudah semua fasilitas dicabut, minta bantuan juga pake tarif segala." 


[Kakekku tersayang, kakekku yang baik, bukannya Kakek bilang mo bantu Keysa? Kenapa sekarang Keysa malah harus bayar?] 

__ADS_1


[Kakek cuma mengatakan akan membantumu. Tidak mengatakan gratis kan? Jadi bayar dulu, baru nanti kakek akan melanjutkan penyelidikannya.] 


"Kakek!" teriak Keysa dengan gemas sembari memukul udara begitu mendapat jawaban pesan berikutnya. Ingin sekali Keysa mengumpat kata-kata kasar kepada sang kakek yang memiliki jiwa bisnis luar biasa dengan motto 'bisnis adalah bisnis'. Dalam bisnis, lelaki itu tidak pernah memandang keluarga ataupun sahabat, bahkan permintaan Keysa pun ia jadikan ajang bisnis untuk mendapatkan lebih banyak uang. 


Seharusnya sejak awal Keysa tahu kalau kakeknya tidak akan memberikan bantuan secara percuma. Ia pun mencoba menenangkan diri dulu sebelum membalas pesan berikutnya.  "Tarik napas dalam-dalam, keluarkan secara perlahan ... huh! Tarik napas dalam-dalam, keluarkan secara perlahan ... huh!" Keysa beberapa kali melakukan inhale dan exhale, kemudian membalas pesan sang kakek. 


Ia pun mencoba merayu Kakek Surya dengan segala pujian-pujian yang ia ketik dengan begitu manja, berharap sang kakek akan luluh. Akan tetapi, yang didapat Keysa malah sebaliknya, lelaki tua itu malah mengancam tidak akan membantu Keysa melanjutkan penyelidikannya. 


[Kalau soal uang, Kakek memang nomor satu. Mau bagaimana lagi, aku mau penyelidikannya terus berlanjut. Sesuai dengan keinginan Tuan Surya Atmaja, aku akan membayar sesuai yang anda pinta.] 


Keysa yang tidak mau penyelidikannya terhenti, terpaksa mengalah dan bersedia membayar sejumlah uang yang ditentukan sang kakek. 


[Tapi, cicil setahun 😁] Keysa mengirim pesan berikutnya yang di akhiri emoticon tertawa. 


Tidak mau sang kakek memperpanjang masalah bayaran 34 miliar, Keysa pun langsung mengganti topik pembicaraan mereka. Ia memberitahu Kakek Surya bahwa dirinya mengikuti pemilihan ketua senat. Kakek Surya pun mengatakan kalau dirinya akan selalu mensuport Keysa dan tidak membahas uang penyelidikan lagi. 


Setelah mendapatkan informasi dari Kakek Surya, saat ini yang Keysa butuhkan adalah rambut ayah Gabby. 


"Tapi bagaimana cara mendapatkan rambutnya itu?" Keysa bertanya pada dirinya sendiri, hingga akhirnya teringat kepada Arsen. "Mungkin, besok aku bisa bicara dengan Arsen," gumamnya. 


***


Keysa datang ke kampus lebih awal. Ia yang membutuhkan rambut ayah Gabby pun, berencana mencari Arsen sebelum mata kuliah di mulai. Beberapa kali ia bertanya kepada mahasiswa lain, tetapi tidak ada yang melihat keberadaan lelaki itu. 


"Dia di mana, ya? Kenapa susah sekali mencarinya?" gumam Keysa. Ia sudah mencari ke berbagai tempat yang menurut orang-orang sering dikunjungi Arsen, tetapi hasilnya tetap nihil. 


Keysa pun mencari Arsen lagi. Namun, bukannya bertemu dengan Arsen, ia malah bertemu dengan Devano yang ternyata tahu kalau dirinya sedang mencari Arsen, hingga membuat keduanya berdebat lagi dan lagi. 

__ADS_1


__ADS_2