Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
28


__ADS_3

Devano mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Cheryl. Ia tak habis pikir, Keysa akan terus memperpanjang masalah itu, padahal Devano sendiri sudah berusaha meredam emosi gadis di sampingnya. Usaha lelaki jangkung itu untuk melindungi Keysa hanya sia-sia, bagaimana kalau keluarga Cheryl bertindak dan semua akan semakin rumit. 


Lelaki itu membuang napas kasar lalu mengusap kepala Cheryl dengan enggan—mencoba menenangkan  gadis yang tidak berhenti menangis. Sampai iris hitam Devano menangkap gadis yang membuat Cheryl menangis itu sedang berjalan masuk ke kelas. Ia pun melepaskan tangan Cheryl yang masih setia merangkulnya dengan manja, lalu beranjak dari tempat duduk. Ia menatap tajam Keysa yang sedang berjalan ke arahnya tanpa beban. 


"Keysa, kau buat ulah lagi, Hah? Belum puas kejadian tadi pagi?" tanya Devano dengan suara tinggi. 


"Apa sih? aku baru datang sudah disemprot enggak jelas." Keysa yang sebenarnya mendengar semua yang diucapkan Cheryl berpura-pura tidak mengerti. 


"Apa sebenarnya maumu? Kenapa terus mengganggu Cheryl? Sudah kubilang hentikan-hentikan!"  Devano mencekal pergelangan tangan Keysa.


Keysa tidak suka dengan ucapan Devano yang seolah-olah semua kesalahan ada pada dirinya. "Dasar gadis aduan!" Ia menatap sinis Cheryl, sambil melepaskan kasar tangan yang dipegang Devano. 


"Yang kau lakukan hari ini sudah sangat keterlaluan. Kau sudah berbuat anarkis. Apa kau tahu, kau bisa dituntut? Di mana kau simpan otakmu saat menyiramkan kuah panas ke tangannya?" hardik Devano.


"Memangnya apa yang telah aku lakukan? Seharusnya gadis yang kamu lindungi yang aku tuntut, bukan sebaliknya. Lagian siapa yang menyiramkan kuah panas padanya?" 


"Kamu siapa lagi? Bukankah cuma kamu gadis paling aneh tukang membuat onar."


"Andai saja tadi aku benar-benar menyiramnya dengan kuah panas bersama panci-pancinya dari atas kompor sekalian, pasti akan sangat memuaskan," ujar Keysa yang mulai kesal karena Devano terus menyalahkannya atas semua yang terjadi terhadap Cheryl. Keysa yang tidak merasa menyiramkan kuah panas terus mengelak karena Cheryl memang tidak memesan makanan itu kepadanya, tetapi pembelaannya seakan-akan tidak berguna. Adu mulut dari keduanya pun terulang lagi. Keysa merasa tetap tidak bersalah. Ia memang menyiram Cheryl tetapi bukan dengan air panas, dan ia melakukan semua itu karena mereka juga yang memulainya. Andai Cheryl dan Felly memberikan haknya, semua itu tidak terjadi. 


Saking kesalnya, ingin rasanya Keysa melempar es krim yang ada  di tangannya saat mendengar ucapan Devano yang terus membela Cheryl dan menyalahkan Keysa. "Lalu sekarang apa mau kalian?" sarkas Keysa dengan tangan yang mengepal, mengurungkan niatnya untuk melempar es krim ke muka Devano. 


"Minta maaf kepadanya," perintah Devano. 


Namun dengan tegas ditolak Keysa, "Tidak mau!" 

__ADS_1


Jawaban Keysa membuat lelaki itu semakin meradang. "Minta maaf! Atau aku menutup paten bisnismu," ancam Devano. 


"Kalau begitu tutup saja," tantang Keysa. Ia masih tetap pada pendiriannya, bahkan kali ini ia tidak peduli kalau bisnisnya kembali menjadi taruhan. Bukankah lelaki di hadapannya selalu mengancam dengan hal yang sama. 


Lain halnya dengan Disti. Disti yang juga sudah berada di kelas  dan sedang berdiri di samping Keysa sangat ketakutan begitu mendengar bisnisnya akan ditutup, lalu memohon supaya Devano tidak menutup toko mereka.


"Jangan tutup toko kami! Aku mohon!" ucap Disti sembari mengatupkan kedua tangannya. 


"Apa yang kamu lakukan Dis? Kamu tidak perlu memohon seperti itu." Keysa menurunkan tangan Disti yang masih mengatup di depan dada. 


Disti menatap sahabatnya. "Key, minta maaf saja kepada mereka," bujuk Disti, tetapi Keysa tetap menolak dengan tegas. 


Disti tahu sifat Keysa sebelas dua belas dengan Devano, sama-sama keras kepala. Begitu mendengar penolakan dari sang sahabat, Disti kembali memohon kepada Devano. "Aku mohon jangan tutup bisnis kami! Jika kamu mau, aku akan menggantikan Keysa untuk meminta maaf, asalkan jangan tutup mata pencaharian kami." 


"Aku akan memaafkan perbuatan Keysa asalkan kau berlutut dan meminta maaf di hadapanku!" Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari ambang pintu yang tak lain suara Felly. 


"Apa kau sudah gila?" pekik Keysa. 


"Kuliah di sini adalah impianku, aku bahkan rela mati untuk bisa kuliah di sini," jawab Disti dengan sendu. 


Ucapan Disti membuat Keysa sangat kesal, hingga matanya memerah dan ingin menangis saking kesalnya. Ia tidak habis pikir dengan jalan pemikiran sahabatnya.  Keysa lantas menatap tajam Felly, Cheryl dan Devano secara bergantian. 


"Apa yang harus aku lakukan supaya kalian merasa puas?" tanya Keysa, dingin. 


Dengan angkuhnya Felly menjawab, "Berlutut dan meminta maaf." 

__ADS_1


Mata Keysa semakin merah. Wajahnya pun sudah merah padam. "Apa kau juga berpikir demikian?" Keysa beralih bertanya kepada Devano sembari menatap tajam pemilik iris hitam di hadapannya itu. 


'Perasaan apa ini?' Entah kenapa Devano merasa tidak senang dan sedikit kesal saat Keysa bertanya serta menatapnya seperti itu. 


"Apa kau juga ingin aku berlutut dan meminta maaf seperti yang gadis-gadis itu mau?" Keysa mengulangi pertanyaan. 


"Kembalilah ke kelas kalian! Dan masalah ini sudah selesai." Devano menyuruh Felly dan Cheryl untuk kembali ke kelas mereka. 


'What?' pekik Felly dan Cheryl dalam hati. 


Dengan wajah tidak percaya, Cheryl meraih tangan lelaki yang masih ada si sampingnya. "Dev ... apa yang kamu katakan?" tanyanya masih tidak percaya dengan semua yang didengar. Devano malah mengusirnya dan mengatakan masalah selesai begitu saja. Itu sungguh diluar ekspektasi. 


Devano menepis tangan Cheryl. "Keluar!" Bukannya menjelaskan, ia malah berteriak sambil menunjuk ke arah pintu, mengusir Cheryl. 


Akhirnya, dengan hati yang semakin gondok kedua gadis itu keluar sambil menatap tajam Keysa dan dibalas dengan tatapan lebih tajam oleh Keysa. 


Selepas kepergian dua gadis itu, Keysa kembali ke tempat duduknya dan memberikan es krim yang masih setia dipegangnya kepada Devano. Dengan cepat, Devano pun meraih es krim tersebut.


"Sebenarnya tadi aku ingin melemparkan es krim itu ke wajahmu. Tapi, karena kamu masih tau diri jadi aku mengurungkannya," ujar Keysa saat es krim sudah berpindah tangan. 


Devano yang sedang menikmati lembut dan manisnya makanan dingin itu, langsung menoleh ke arah Keysa dengan mata yang membulat sempurna. 


"Awas matamu copot!" ujar Keysa lagi, mendapati Devano yang memelototinya karena ucapan Keysa sebelumnya. "Kamu tahu tidak harga es krim itu sangat mahal? Sayang sekali uangku melayang begitu saja di meja kasir toko es krim," lanjut Keysa. Salah satu tangan menyangga wajahnya yang terlihat sendu dengan bibir yang mengerucut. 


Devano melihat Keysa dengan pandangan seperti  sedang melihat orang bodoh. Sambil memasukkan sesendok es krim ke mulut dengan santainya Devano berkata, "Karena itulah aku memintamu membeli es krim di sana." 

__ADS_1


Keysa terdiam dan hanya bisa mendengus kesal saat mendengat jawaban Devano.


 


__ADS_2