
91
Hari yang paling ditunggu pun akhirnya datang juga. Jumat malam area kampus menjadi sangat ramai. Sebuah panggung berdiri di halaman kampus. Para dosen dan mahasiswa pun sudah berkumpul di bawah panggung untuk menyaksikan babak pertama pemilihan putri kampus. Pihak universitas juga mengundang juri khusus kontes kecantikan.
Keysa pergi ke belakang panggung untuk bersiap-siap. Di sana ia bertemu dengan Liza yang juga sedang bersiap.
"Oh, ya, ampun. Apa kau akan naik ke panggung dengan penampilan seperti itu?" Liza melirik Keysa dengan senyum mengejek. "Nona, apa kau tidak baca banner di depan? Ini itu pemilihan kontes kecantikan puteri kampus, bukan pemilihan putri jelek."
"Memang siapa yang bilang ini pemilihan putri jelek? Sepertinya tidak ada," jawab Keysa dengan begitu santai.
"Jadi, sebelum kau lebih banyak menanggung malu mending mundur saja. Lihatlah penampilanmu saja sudah tidak menunjang ambisimu yang ketinggian itu," lanjut Liza yang malah terus mengejek Keysa.
Sementara itu, Keysa memilih mengabaikannya. Ia tidak ingin membuang energi hanya untuk meladeni Liza yang bisa membuat mood-nya hancur dan berakibat fatal pada penampilannya.
Tidak lama kemudian para pemuja Liza datang menghampiri idola mereka. Mereka pun dengan antusias memuji penampilan Liza yang terlihat sangat cantik dengan riasan yang dipakai gadis itu, kemudian merendahkan Keysa yang terlihat berbanding terbalik sang idola.
"Lihatlah, perbandingan antara idola kita dengan si cupu! Bagaikan langit dan bumi, beda jauh!" ucap salahsatu dari mereka yang disahuti oleh yang lain dengan tawa dan kata-kata yang tidak jauh lebih kejam dari itu.
__ADS_1
Kontes pun dimulai dengan cabut undi untuk menentukan urutan tampil, dan Keysa menjadi urutan terakhir.
"Lihatlah urutan tampil saja jadi nomor terakhir, sudah pasti hasilnya pun pasti dapat peringkat ujung," cibir Liza sembari menabrakkan bahunya pada bahu Keysa.
Acara yang dipandu oleh Arsen dan seorang wanita seangkatan dengan Arsen pun dimulai. Satu persatu para finalis mulai menampilkan bakat mereka sesuai urutan tampil yang mereka dapatkan. Namun, baru di pertengahan acara para juri sudah mulai bosan karena penampilan finalis yang terlihat monoton dan tidak ada yang spesial.
Giliran penampilan Liza pun tiba. Gadis itu naik ke atas panggung dengan menggunakan gaun pink serta riasan yang dibuat senatural mungkin, membuatnya Liza terlihat cantik dan menjadi sorotan setiap mata yang memandang. Semua orang pun langsung bersorak saat gadis pembawa biola itu mulai memainkan dawai biola, menampilkan bakatnya.
Semua orang yang hadir tampak terbawa suasana oleh suara biola yang dimainkan Liza, hingga riuh tepuk tangan menggema di tempat itu saat Liza selesai bermain.
"Terima kasih untuk semuanya," ucap Liza sambil membungkuk setelah selesai menyelesaikan penampilannya. "Penampilan saya tidak seberapa, kalian pasti akan lebih terhibur saat Keysa tampil. Dia pemain alat musik terbaik yang pernah aku kenal. Aku pun banyak belajar darinya," lanjut Liza dengan seringai licik yang hampir tidak terlihat oleh orang lain.
Setelah Liza meninggalkan panggung, acara dilanjut dengan selingan. Grup trio dari fakultas musik pun menyumbangkan sebuah lagu. Mereka menyanyikan lagu mellow yang membuat Devano terharu saat mendengarnya. Hingga, Devano mengingat Keysa yang akan tampil setelah penyanyi itu selesai bernyanyi. Ia pun segera pergi dari bangku penonton untuk mencari Keysa.
Devano pergi ke belakang panggung, kemudian mendapati Felix yang langsung menghampirinya saat ia sampai di sana.
"Keysa di mana?" tanya Devano.
__ADS_1
"Ada," jawab Felix, sambil memberikan barang yang disiapkan Keysa untuk Devano. "Ini untukmu dari Keysa," tandasnya
Devano pun lantas menerima sebuah kotak yang diberikan Felix dan segera membukanya. Sebuah sepatu khusus untuk Devano menari sudah dipersiapkan Keysa untuknya.
Keysa tahu, meskipun Devano terus menolak untuk menemaninya di atas panggung, tetapi ia yakin bahwa pendirian lelaki itu akan berubah. Hingga, Keysa mempersiapkan sepatu untuk Devano dan dititipkan kepada Felix.
Setelah namanya dipanggil, Keysa naik ke panggung dengan menggunakan gaun merah selutut yang membuatnya tampak sangat menawan, meskipun wajahnya ditutupi masker. Keysa sengaja menutupi sebagian wajah dengan masker agar orang-orang tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Meski seperti itu, para juri tetap tertarik dengan penampilan Keysa karena sejatinya Keysa memiliki postur tubuh yang bagus dan sangat cocok dengan gaun yang dikenakannya.
"Baiklah, mari kita saksikan penampilan dari finalis terakhir kita yakni saudari Keysa Indera Fidelya dengan alat musik selo yang akan dimainkannya," ucap si pembawa acara wanita.
Kemudian Keysa pun mulai menampilkan bakatnya. Ia sempat melirik ke belakang panggung, berharap Devano akan berubah pikiran di detik-detik terakhir. Ia sangat berharap lelaki itu mau menemaninya di atas panggung. Namun, sampai pembawa acara menyuruh Keysa untuk menampilkan kemampuannya, Keysa tidak melihat keberadaan lelaki itu.
'Mungkin dia memang tidak mau. Ayolah, Key, jangan terlalu berharap pada orang lain. Tanpa dia pun kamu pasti bisa,' gumam Keysa dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.
Mau tidak mau, Keysa pun bermain sendirian. Ia memainkan alat musik itu dengan begitu apik, hingga di pertengahan pertunjukan tiba-tiba Devano muncul di panggung dengan tarian yang sudah dipersiapkannya. Keysa tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat Devano tampil di panggung. Dengan senyum yang mengembang, Keysa yang masih fokus pada alat musik dimainkannya melirik sekilas ke arah Devano.
Devano pun menari mengikuti irama selo yang dimainkan Keysa. Penampilan Devano terlihat sangat cocok dengan penampilan selo Keysa, membuat para penonton juga memuji mereka.
__ADS_1
"Apa-apaan ini?" Sementar itu, Liza menatap ke arah panggung dengan mata yang sudah merah menyala, kilatan kemarah nampak jelas di sana. Ia tidak terima Keysa mendapat pujian lebih banyak dari para penonton dan yang membuatnya sangat marah adalah Devano yang bisa-bisanya malah menari—membantu Keysa.
Sementara itu, Ezra melihat Keysa di atas panggung dengan menggunakan masker serasa melihat Faya. "Kenapa aku bisa berpikir seperti ini? Sudah jelas-jelas dia itu Keysa bukan Faya," gumamnya sangat pelan. Merutuki kepalanya yang malah menganggap Keysa adalah Faya. "Mungkin karena aku sangat merindukannya," lanjutnya lagi. Sejurus kemudian, Ezra tidak bisa menahan tawanya saat melihat penampilan Devano.