
51
Di ruangan yang cukup luas dengan tiga tempat tidur ukuran tanggung, seorang gadis sedang duduk di kursi belajar dengan setumpuk buku di meja yang sedang dipelajarinya. Beberapa kali, ia terlihat menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan, merilekskan otot-otot leher yang sudah terasa pegal karena sudah berjam-jam duduk di sana dan menekuri setiap helai buku yang dibacanya.
"Key, kamu masih belajar?" Gabby yang sudah tidur terbangun karena haus dan melihat Keysa masih ada di depan meja belajar, sama seperti dua jam yang lalu sebelum ia tertidur.
"Iya. Banyak yang harus dipelajari supaya bisa mengerjakan soal ujian besok," jawab Keysa, tanpa memalingkan wajahnya dari buku yang sedang dibaca.
Gabby hanya geleng-geleng, lalu mengambil air. Ia tidak menyangka teman sekamarnya sangat gigih dalam memperjuangkan cita-citanya menjadi ketua senat.
"Semoga kamu menang. Aku bantu dengan doa dan juga kopi ini!" Gabby yang baru saja mengambil air minum, ia juga membawa sebotol kopi untuk Keysa. "Semoga bisa membantumu tetap melek," lanjutnya sambil menyodorkan kopi.
Melihat Gabby membawakan sebotol minuman berkafein untuknya, gadis berkacamata dengan rambut yang sudah acakadut itu pun menerima pemberian Gabby dengan senyum yang merekah. "Uh ... temanku yang satu ini memang tahu apa yang sudah kubutuhkan. Makacih ...." ucap Keysa dengan manja seperti anak kecil, lantas membuka botol minuman tersebut dan meminumnya.
"Cama-cama," jawab Gabby dengan gaya bicara yang sama, membuat keduanya tertawa."Udah, ah. Aku masih ngantuk, mo tidur lagi."
"Gih tidur lagi! Jangan lupa mimpi indah," timpal Keysa yang kembali meneruskan belajarnya.
"Semangat belajarnya! Kalau nanti menang jangan lupa sebut aku dalam kata sambutanmu, karena aku juga ikut andil dalam keberhasilanmu." lanjut Gabby dengan senyum yang merekah, sedangkan Keysa hanya menyipitkan kedua matanya dengan alis yang mengkerung. "Itu!" Gabby menunjuk pada botol kopi yang tinggal setengah. Tawa keduanya pun kembali pecah, hingga akhirnya Gabby memilih kembali ke tempat tidur, tidak ingin mengganggu Keysa lebih lama lagi.
"Go Keysa, go Keysa go!" Gabby menggoyang-goyangkan tangannya, menyemangati Keysa sambil berjalan menuju tempat tidur. Kemudian, melanjutkan mimpi yang sempat tertunda.
Sementara itu, Keysa dibuat senyum-senyum sendiri oleh kelakuan Gabby. Ia pun kembali fokus pada materi-materi yang sudah dipersiapkan untuk mengikuti ujian besok, bahkan sampai Disti pulang kerja pun Keysa masih asyik dengan buku-buku tebal dengan tulisan yang sangat kecil-kecil.
***
Perjuangan memang tidak pernah membohongi hasil. Keysa yang belajar sampai larut malam, bahkan sampai menghabiskan tiga botol kopi, akhirnya bisa mengikuti ujian dengan baik. Hasil ujian pun telah keluar dan dipajang di papan informasi. Keysa yang sudah tidak sabar ingin melihat hasilnya pun langsung menyerobot kerumunan yang ada di depan papan informasi. Kebahagian terpancar di wajah Keysa begitu melihat nilai yang didapatnya mendekati sempurna, tetapi nilainya seri dengan nilai Devano.
__ADS_1
"Kok, bisa sama?" gumam Keysa dan Devano bersamaan, begitu melihat nilai rival masing-masing.
Di hati mereka masing-masing, mereka pun mengakui kepintaran lawan mereka. Karena berprestasi, keduanya pun lolos dari seleksi.
Saat istirahat, Devano dan Keysa diundang untuk mengunjungi ruang senat. Devano, Keysa, dan tiga mahasiswa lainnya yang juga lolos seleksi memasuki ruang tempat anggota senat bekerja. Karena kekuasaan yang dimiliki keluarga Devano, ketiga mahasiswa yang lolos tidak berani mengganggu Devano. Akan tetapi, lain halnya kepada Keysa. Mereka menyindir Keysa yang terpilih hanya karena Keysa seorang perempuan.
"Seorang perempuan itu gak pantes jadi ketua senat. Perempuan itu pantesnya di dapur masak sama bersih-bersih rumah atau kalau enggak meni pedi ke salon dan belanja ke mall," ujar salah satu dari mereka, merendahkan Keysa.
"Daripada nanti malah nangis karena kalah mendingan mundur dari sekarang saja. Perempuan kan bisanya cuma nangis," sambung satunya lagi yang diikuti gelak tawa yang lain.
"Mungkin saja dia juga menang karena dia bermodalkan air mata."
"Memangnya kenapa kalau aku perempuan. Ada yang salah dengan seorang perempuan? Ini buka zaman kuno, sekarang itu udah zamannya emansipasi wanita. Bahkan sekarang wanita semakin di depan. Dari pada nyinyir terus hanya karena aku seorang perempuan, mendingan tunjukan saja kalau kalian memang lebih baik dariku. Jangan cuma gede omong doang!" Keysa tanpa ragu menjawab sindiran ketiga orang tersebut.
Melihat dari gaya bicara Keysa yang sepertinya bukan orang sembarangan, akhirnya mereka pun terdiam.
Dengan wajah yang super dingin, Arsen menghampiri dan menyapa Keysa. "Apa kabar, Key?"
"Baik, Kak," jawab Keysa.
"Selamat sudah terpilih menjadi calon ketua senat," lanjut Arsen yang dijawab 'terima kasih' oleh Keysa, lalu ia pun pergi
Devano yang melihat Arsen dan Keysa yang tampak akrab, tidak menyangka kalau kedua orang itu saling kenal.
"Wah, dapat dekengan kuat nih! Jangan-jangan nantinya ada kasus nepotisme," sindir Devano yang langsung mendapat delikan dari Keysa.
***
__ADS_1
Seluruh calon ketua senat diajak untuk berkeliling di ruangan senat. Mereka diperkenalkan pada segala sesuatu yang ada di sana, termasuk struktur serta tugas-tugas yang akan mereka emban nantinya.
Setelah semua acara selesai, mereka pun dipersilakan untuk kembali ke kelas masing-masing. Namun, baru saja mereka akan pergi, anggota senat mengatakan ada barang yang hilang.
"Tunggu dulu! Barang yang ditinggalkan ketua senat angkatan ke 58 telah hilang." ucap salah satu anggota senat.
Barang itu adalah sebuah kunci yang diatasnya terdapat permata biru. Dan barang itu merupakan barang milik ayah Keysa yang menjabat ketua senat waktu itu. Keysa yang tahu itu barang ayahnya pun sangat menginginkan kunci tersebut, tetapi sekarang sudah hilang karena dicuri.
"Jadi saya minta dengan sangat, kalian semua tetap di tempat," lanjut anggota senat tersebut, melarang semua orang untuk keluar dari ruangan itu. Ia meminta semua orang untuk duduk kembali dan akan disuruh keluar setelah masalah itu selesai.
Ketiga calon ketua senat tampak tidak senang dengan perintah anggota senat, sehingga mereka mulai menyindir Keysa dan menyalahkan Keysa atas semua yang terjadi. "Pasti kau yang mencurinya, ya? Secara kamu itu miskin, pasti lihat barang mewah langsung tergiur untuk menjualnya."
Keysa hanya menatap sinis kepada tiga orang tersebut, tanpa menggubris ucapan mereka. Ia yang duduk di samping Devano malah berbicara dengan lelaki itu, mengabaikan ketiga lelaki yang terus menganggapnya pencuri.
"Apa kau tidak merasa ini sangat mencurigakan?" bisik Keysa.
Devano merasa Keysa memang sangat pintar. Devano tahu ini hanyalah sebuah tes psikologis. Dulu ayahnya tidak lolos dalam tes ini, hingga terjadi hal tidak menyenangkan dengan ketua senat.
"Tetaplah tenang. Jangan takut apalagi terbawa emosi," ucap Devano, menenangkan dan Keysa pun jauh lebih tenang setelah mendengar ucapan Devano.
Dalam beberapa jam, Keysa hanya diam saja. Sementara itu, ketiga mahasiswa lainnya yang sudah tidak sabar terus menyindir Keysa. Keysa yang merasa tidak bersalah pun tetap percaya diri dan ia yakin semuanya pasti akan terbukti kalau dirinya tidak bersalah.
Setelah jam kuliah selesai, anggota senat memberitahukan kalau kuncinya sudah ditemukan dan semua hanyalah salah paham.
Namun, ketiga mahasiswa tidak terima dengan semua yang terjadi. Mereka pun meminta kompensasi dari waktu mereka yang terbuang sia-sia dengan memberikan mereka nilai tambahan.
Anggota senat tersebut hanya tersenyum. "Sebenarnya, ini adalah sebuah tes psikologis dan hanya Keysa dan Devano yang lolos," ucapnya memberitahukan kebenarannya.
__ADS_1