
Mendapati Keysa yang begitu agresif dan lihai dalam setiap membalas sentuhannya, membuat Devano marah dan langsung melepaskan pagutan mereka dan menurunkan Keysa dari pangkuannya.
"Kamu kenapa?" tanya Keysa, keheranan.
"Dengan siapa saja kau pernah bercumbu?" Devano menatap tajam ke arah Keysa dengan penuh selidik, membuat gadis yang diintrogasinya mengerutkan dahi dengan kedua alis yang mengkerung.
"Maksudnya?"
"Kau sangat lihai dan berpengalaman. Ternyata kau tak sepolos yang aku kira. Kau pasti sudah sering melakukan itu. Iya, kan?" selidik Devano dengan penuh kemarahan.
Bukannya marah saat mendengar cecaran Devano dan menuduhnya sudah sangat berpengalaman, Keysa malah menahan tawa.
"Kalau aku sudah berpengalaman memangnya kenapa? Apa kau menyesal menjadikan aku pacarmu?" tanya Keysa, masih dengan menahan diri agar tawanya tidak pecah. Sebenarnya, Keysa sengaja melakukan hal itu agar Devano salah paham.
Devano beranjak dari tempat tidur dengan kemarahan yang menggunung. Hatinya bergemuruh mendengar ucapan Keysa. Membayangkan orang lain telah menjamah Keysa membuatnya tak rela dan ingin marah. Akan tetapi, ia sendiri tidak tahu harus memarahi siapa.
"Kau mau ke mana?" Keysa meraih tangan Devano, menghentikan langkah lelaki itu. "Apa jika kau tahu aku pernah melakukannya dengan orang lain. Apa kau akan memutuskanku?" tanya Keysa kemudian.
Mendengar kata putus malah semakin membuat amarah Devano membumbung tinggi. Ia marah, tetapi tidak sedikit pun terpikir untuk memutuskan Keysa. Sementara, Keysa terus saja mengucap kata itu yang membuat Devano semakin meradang.
Devano berbalik menatap Keysa. "Jangan pernah kau mengucapkan kata itu lagi! Jika kau tak mau hukumannya lebih dari sekedar ciuman," ucap Devano, lalu melepaskan genggaman tangan Keysa.
Sejurus kemudian, Keysa sudah tidak bisa menahan diri lagi. Tawanya pun pecah memenuhi seisi kamar.
"Apa ada yang lucu?" Devano menatap Keysa yang tiba-tiba saja tertawa.
Keysa mengangguk pasti dengan tawa yang masih menghiasi bibirnya.
__ADS_1
"Apa kemarahanku itu lucu bagimu?" Devano semakin dibuat kesal. Bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, Keysa malah tertawa seakan-akan ada sesuatu yang sangat lucu.
"Lucu sekali. Aku tidak menyangka seorang Devano akan cemburu hanya pada sebuah mimpi," tandas Keysa.
"Maksudnya?"
"Aku memang pernah melakukannya, tapi dalam mimpi," ucap Keysa, "Ciuman pertama saja kau yang curi, bagaimana mungkin sebelum-sebelumnya pernah melakukan ciuman panas kayak barusan," lanjutnya kemudian.
Saat mendengar ucapan Keysa yang satu itu, seketika senyumnya kembali terbit di bibir Devano dan membuat lelaki itu semakin terpesona. Bibir manis itu hanya dirinya yang pernah menjamah dan selamanya hanya akan menjadi miliknya, bahkan tempat lain pun Devano akan pastikan hanya dirinya yang akan memilikinya.
"Jadi kau mengerjaiku?" Devano mendorong Keysa, hingga gadis itu kembali terjatuh ke kasur dengan Devano yang berada di atas.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tawa Keysa langsung hilang dan berubah menjadi canggung dan takut saat lelaki di atasnya menatap dengan begitu intens.
"Menghukummu lagi dengan hukuman yang selevel lebih tinggi, karena kau sudah berani mengerjaiku," tandas Devano. Wajahnya semakin mendekati wajah Keysa yang mulai ketakutan.
Sementara itu, Ezra sedang menaiki tangga hendak menemui Keysa, hingga langkahnya terhenti saat mendengar teriakan sangat keras dari Devano. Devano berteriak sekeras mungkin saat adik kecilnya ditendang Keysa, ketika akan mencium gadis itu.
"Anak itu kenapa?" ujar Ezra yang lamunan terbuyarkan oleh teriakan Devano. Ia berdiri dengan perasaan yang masih mendambakan Faya, kemudian segera berjalan menuju kamar Devano.
Ezra mengetuk pintu kamar, tetapi tidak ada yang menjawab. Ia pun memilih membuka pintu yang tidak terkunci itu, hingga Ezra menyaksikan Keysa dan Devano berguling di ranjang.
"Ehm!" Ezra berdehem dengan kedua tangan yang terlipat di dada, membuat kedua orang yang sedang saling menggelitik itu menoleh ke arah suara. "Makanan sudah siap, sebaiknya kita makan dulu," lanjut Ezra. Lelaki itu datang ke kamar Devano untuk mengajak Devano dan Keysa makan. Mereka pun langsung turun ke lantai bawah.
Setelah mendapat penjelasan Devano yang berujung guling-guling di ranjang sambil saling menggelitik, akhirnya Keysa percaya kalau Devano dan Ezra tidak memiliki pasangan khusus.
Malam harinya, Devano dan Ezra sedang menunggu Keysa yang sedang berdandan di kamar tamu. Setelah setengah jam, gadis itu baru keluar dari kamar.
__ADS_1
"Aku sudah siap," ucap Keysa.
Devano dan Ezra langsung menoleh ke arah suara saat mendengar Keysa. "Setan!!!" teriak Devano dan Ezra bersamaan, keduanya sangat terkejut dan reflek berteriak begitu melihat Keysa.
Keysa keluar dengan memakai gaun putih serta rambut yang terurai ke depan dan makeup yang terlihat seram seperti sadako. Keysa berpenampilan seperti itu untuk mengejutkan Liza dan mencari bukti keterlibatan gadis itu atas penculikannya.
"Kalian penakut juga ternyata," gumam Keysa sambil menghampiri mereka.
"Dia beneran pacarmu, kan?" tanya Ezra kepada Devano.
"Aku Sadako," ucap Keysa dengan suara yang dibuat-dibuat dengan tangan yang menjulur ke depan dan diakhir dengan tawa yang menghiasi bibir Keysa. "Kalian saja takut, apalagi Liza," tandas Keysa. "Ayo, berangkat!" lanjutnya sambil menggaet tangan Devano.
Mereka pun berangkat bersama ke rumah Liza.
Setiba di rumah Liza, mereka bertiga naik ke dinding untuk masuk ke halaman rumah Liza. Semua orang yang ada di rumah Liza sudah tidur terlihat dari keadaan rumah yang gelap, hanya kamar Liza saja yang terlihat masih terang.
"Kalian tunggu di sini, aku liat keadaan Liza dulu," tandas Ezra, ketika mereka sudah berada di halaman rumah.
Devano dan Keysa mengangguk. "Tapi, ingat jangan pernah membela Liza," ucap Devano, mengingatkan.
"Aku akan selalu mengingatnya," jawab Ezra, lalu naik ke balkon dengan memanjat pohon terlebih dahulu. Ezra pergi untuk melihat apakah Liza masih bangun atau tidak.
Setelah Ezra pergi, Devano mendekatkan bibirnya ke pipi Keysa, hendak mencium pipi gadis itu.
"Baa!" Namun, tiba-tiba menoleh ke arah Devano dan mengagetkan lelaki itu dengan wajah seramnya.
"Mau semenyeramkannya dirimu aku tetap mencintaimu." Devano mendaratkan kecupan di pipi Keysa, meski tidak dapat dipungkiri ia cukup kaget saat Keysa mengejutkannya.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Devano bergetar, Ezra telah memastikan kalau Liza telah tertidur pulas. Kemudian Devano dan Keysa berencana untuk memanjat untuk masuk ke kamar Liza.