Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
200


__ADS_3

Keysa kembali ke ibu kota setelah berpamitan dengan Devano dan berjanji akan kembali secepatnya.


Sesampai di kediaman Kakek Surya, Keysa langsung menemui sang kakek yang sedang istirahat di kamar. Begitu masuk kamar, dilihatnya sang kakek sedang tertidur pulas. Keysa mendekat dan duduk di sisi ranjang. Ia memerhatikan wajah tua Kakek Surya yang terlihat sangat tenang.


"Kamu pulang, Nak?" Kakek yang merasakan kehadiran seseorang, lantas membuka mata dan melihat kehadiran sang cucu di dekatnya.


Keysa menampilkan seutas senyum saat melihat sang kakek terbangun dan bertanya kepadanya. "Tentu saja aku pulang. Bagaimana mungkin aku tidak pulang jika tahu kakek sedang sakit," jawab Keysa.


"Lah, beberapa bulan lalu, aku sakit kamu tidak pernah datang menjenguk." Sambil bangun, Kakek Surya menyinggung saat awal-awal Keysa pergi ke kota B.


"Itu beda cerita, Kek." Keysa mengerucutkan bibir ketika Kakek Surya mengingatkannya pada masa kabur-kaburan. "Bagaimana keadaan Kakek sekarang? Apa sudah diperiksa dokter? Bagaimana hasilnya?" lanjut Keysa, dengan mencecar Kakek Surya dengan banyak pertanyaan tentang kesehatan lelaki tua itu.


"Kakek baik-baik saja. Hanya kecapean serta pengaruh cuaca yang labil membuat tubuh tua seperti kakek sangat mudah terserang sakit," jelas Kakek Surya, tidak ingin membuat Keysa khawatir.


Keysa pun mulai tenang setelah mendapat jawaban dari Kakek Surya.


Pelayan datang membawa makanan dan obat untuk Kakek Surya. "Waktunya minum obat, Tuan," ucap si Pelayan.


"Simpan saja di sana! Nanti aku makan." Kakek Surya menunjuk nakas untuk menyimpan makanan yang dibawa pelayan lelaki itu.


Si Pelayan mengangguk, kemudian melangkah menuju nakas, tetapi dengan cepat dicegah Keysa. "Itu makan siang dan obat untuk Kakek, kan?" tanya Keysa dan dijawab anggukan si Pelayan. "Kalau begitu berikan padaku! Tidak baik menunda-nunda makan obat," ucapnya, kemudian.


Si Pelayan pun memberikan nampan berisi makanan dan obat kepada Keysa, kemudian undur diri. "Makan obat harus tepat waktu, Kek. Sini aku suapin." Keysa menyuapi sang kakek dengan sangat telaten. Setelah makan, Keysa langsung memberikan obat untuk diminum sang kakek.


"Terima kasih, Key. Makanan yang beberapa hari ini terasa hambar, menjadi sangat enak karena kamu bela-belain datang ke sini dan menyuapi kakek," terang Surya. Jujur, dirinya sangat terharu dengan sikap cucunya.


"Sama-sama, Kek," ucap Keysa, seraya memberikan obat dan air minum kepada Kakek Surya.


Bertepatan dengan itu, ketua pelayan masuk ke kamar dan memberitahu bahwa Zian ada di rumah dan ingin menjenguk Kakek Surya.


"Apa Zian di sini?" pekik Keysa, yang dijawab anggukan di pelayan. "Kalau begitu aku harus sembunyi. Aku tidak ingin bertemu dengannya," lanjut Keysa sambil beranjak dari tempat tidur Kakek Surya, hendak menghindar dari Zian.


"Tapi Nona, Tuan Zian sudah ada di depan kamar," lanjut Kepala Pelayan yang membuat jantung Keysa terasa copot.


"Apa? Kenapa tidak memberitahuku dari tadi?" Keysa yang baru berjalan beberapa langkah langsung berhenti dan berbalik menatap sang pelayan.


"Maaf, Nona, Tuan Zian langsung ke atas begitu tiba di rumah."

__ADS_1


"Suruh dia masuk saja." Kakek langsung memberikan perintah. Si Pelayan hanya mengangguk, kemudian berjalan menuju pintu kamar.


Sejurus kemudian, si pelayan masuk lagi bersama Zian. Keysa yang tidak sempat menghindar pun kembali ke sisi ranjang sang kakek.


Zian menyapa Kakek Surya juga Keysa. Ia tampak sangat gembira saat melihat kepulangan Keysa. Namun, Keysa terkesan tidak peduli dan lebih menghindari pertemuan mereka meskipun tidak secara terang-terangan. Terbukti, setelah Zian masuk, Keysa langsung keluar.


"Apa kamu sedang menghindariku?" tanya Zian, saat baru saja keluar dari kamar Kakek Surya dan mendapati Keysa yang hendak ke lantai dasar langsung berbalik ketika melihatnya.


Keysa yang hendak kembali ke kamar dan mengurungkan niatnya untuk ke bawah lantas menghentikan langkahnya, kemudian berbalik lagi menghadap Zian dan mengelak.


"Kalau kamu tidak menghindariku kenapa tadi buru-buru pergi dari kamar Kakek? Barusan waktu aku keluar dari kamar Kakek pun kamu juga buru-buru kembali lagi ke kamar," tandas Zian yang melihat pergerakan gadis itu jelas-jelas sedang menghindarinya.


"Aku tidak menghindarimu. Aku berbalik ke kamar karena ponselku ketinggalan. Aku hendak mengambilnya," tandas Keysa, mencari alasan.


"Alasanmu masuk akal. Tapi, wajah terkejutmu saat melihatku itu sangat kentara," ucap Zian lagi. "Ok. Jika memang kau tidak menghindariku, berarti kamu bisa menemaniku makan saat ini juga," lanjutnya, sambil menarik tangan Keysa untuk ikut bersamanya.


"Tunggu ponselku ketinggalan."


"Ambil dulu sana!" Zian melepaskan genggamannya.


Keysa pun kembali ke kamar untuk mengambil ponsel dengan pipi yang menggelembung, lalu terpaksa mengikuti keinginan Zian.


***


"Aku ke toilet sebentar." Zian tiba-tiba izin pergi ke toilet setelah menghabiskan makanannya.


Keysa hanya mengangguk, mengiakan.


Setelah kepergian Zian, Keysa mengambil ponsel dan menghubungi Devano via video call. Tidak ada yang ingin ditutupi Keysa.


"Kau sedang di mana?" tanya Devano saat melihat kekasihnya di tempat asing.


"Aku sedang makan di luar."


"Sendiri?"


Keysa menggeleng, membuat Devano mencebik dan menebak dengan siapa Keysa di sana.

__ADS_1


"Jadi kau menelponku untuk memamerkan kebersamaanmu dengan calon suamimu itu?" tanya Devano dengan nada ketus. Ia cemburu.


"Hei kau kenapa? Bukannya kamu juga sedang bersama calon istrimu? Adil dong kalau aku juga bersama calon suamiku?" tandas Keysa yang diakhiri gelakannya.


"Ini tidak lucu, Key."


"Kamu cemburu kalau aku bersama Zian? Begitu juga aku. Aku cemburu saat melihat kamu bersama Cheryl, tapi aku percaya pada cinta kita. Jadi, jangan marah, ya!"


Ucapan Keysa membuat Devano diam dan tidak merengek karena kebersamaan Keysa dan Zian lagi. Ya, seperti Keysa yang percaya kepadanya, Devano pun harus memercayai Keysa.


Keysa melihat Zian yang sudah kembali dan berjalan ke arah mejanya. Ia pun langsung mengakhiri panggilannya dengan Devano.


"Sudah makannya?" tanya Zian, melihat Keysa yang sudah berhenti makan.


"Sudah. Aku sudah kenyang."


"Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?"


"Pulang saja, aku masih ingin istirahat setelah perjalanan jauh," tandas Keysa.


Zian mengangguk. Setelah membayar bill makanan, mereka pun meninggalkan restoran dan kembali ke rumah Kakek Surya seperti keinginan Keysa.


***


Zian membuka pintu mobil untuk Keysa, begitu sampai di kediaman Kakek Surya.


"Terima kasih," ucap Keysa dengan senyum canggung yang menghias wajah.


Zian selalu memperlakukannya bak tuan putri, tetapi Keysa sama sekali tidak memiliki perasaan lebih selain seperti kakak sendiri.


Keysa keluar dari mobil dengan Zian yang masih berdiri di samping pintu.


"Terima kasih untuk makan siangnya," gumam Zian, yang dijawab anggukan Keysa dengan seulas senyum.


Zian sangat merindukan Keysa. Ia sejak tadi menahan diri untuk tidak memeluk Keysa. Namun, semakin lama bersama Keysa, kerinduan itu bukannya mereda malah semakin membuncah. Melihat Keysa yang mengangguk sambil tersenyum membuat Zian tidak tahan untuk tidak memeluk Keysa.


Keysa yang melihat pergerakan Zian yang hendak memeluknya seketika ingatan Keysa tertuju pada Devano—seorang pencemburu besar.

__ADS_1


"Aku masuk dulu!" Keysa dengan cepat menghindari pelukan Zian dan berlari masuk ke rumah, meninggalkan Zian yang masih termangu karena gagal memeluk Keysa.


__ADS_2