
73
Setelah mendengar perkataan Devano, Keysa pun memutuskan untuk menolak ajakan Ezra. Ucapan Devano ada benarnya juga, di setiap Keysa ada di suatu pesta, pasti terjadi kekacauan di sana. Keysa tidak mau, pesta ulang tahun ibunya Ezra juga harus kacau karenanya.
"Terima kasih, Ez, atas undangannya, tapi sepertinya aku tidak bisa datang. Benar yang dikatakan temanmu aku hanya bisa buat kacau acara saja," ucap Keysa dengan wajah tertunduk. Meskipun ia tahu dirinya biang onar, tetapi ada rasa menggelitik saat orang lain menyebut itu secara langsung di hadapan Keysa sendiri. "Jadi—"
Sebelum Keysa menyelesaikan pembicaraannya, Ezra memelototi Devano dan memberi isyarat kalau itu adalah rencana selanjutnya. Dengan cepat, Devano pun meralat ucapannya dan membujuk Keysa untuk datang di acara ulang tahun ibu Ezra, hingga gadis berkacamata itu setuju.
Setelah makan, Keysa membujuk Devano untuk memakan obat lagi. Namun, seperti sebelumnya lelaki itu sangat susah jika disuruh memasukkan tablet putih itu.
"Aku tidak mau. Aku sudah sembuh," ucap Devano, menolak obat yang diberikan Keysa.
Keysa menempelkan telapak tangannya di dahi Devano, memastikan kalau lelaki itu benar-benar sudah sembuh. "Sembuh dari mana? Keningmu saja masih panas," sanggah Keysa, setelah memeriksa kening Devano. "Ayo, minum obatnya!" paksa Keysa.
Namun, Devano tetap saja menolak. Hingga akhirnya keduanya saling adu mulut lagi hanya karena sebutir obat.
"Baiklah aku akan minum obatnya, asalkan kau tidak boleh pulang sebelum aku tidur. Satu lagi, kau harus menyanyikan lagu pengantar tidur untukku." Devano membuat sebuah penawaran yang terpaksa Keysa setujui demi masuknya obat di tangan ke mulut lelaki yang tiba-tiba saja seperti anak kecil—ingin dininabobokan.
Sesuai janjinya, Keysa menemani Devano tidur. Ia duduk di tepi ranjang sambil bernyanyi melantunkan lagu-lagu romantis sesuai keinginan yang sakit.
"Mana ada lagu pengantar tidur lagu romantis? Lagu pengantar tidur itu 'nina bobo'." Meskipun Keysa sempat menolak menyanyikan lagu romantis, tetapi tak ayal ia pun menurutinya juga.
Devano sendiri, sangat menikmati lantunan lagu yang begitu merdu dari mulut Keysa. Setiap lirik yang keluar dari mulut Keysa mampu menggetarkan hati dan perasaannya, membuatnya terbawa akan suasana di lagu tersebut. Namun, tiba-tiba suara itu semakin melemah dan akhirnya menghilang—Keysa tertidur sambil bersandar di kepala ranjang.
__ADS_1
Devano yang sebenarnya belum tidur pun, perlahan membuka mata dan mendongak ke arah Keysa. Dilihatnya Keysa sudah terlelap dengan tangan yang menepuk-nepuk kepalanya. Ia menatap wajah Keysa yang tampak sangat damai saat terlelap, meskipun gadis itu terlihat biasa-biasa saja dan tidak secantik gadis lainnya, tetapi entah mengapa Devano seakan terhipnotis oleh wajah pas-pasan itu.
Lelaki yang sejak tadi hanya pura-pura tidur itu, perlahan beringsut dari tempat tidurnya dan mendekati wajah Keysa dan wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Kemudian, dengan sangat hati-hati Devano melucuti kacamata yang selalu saja bertengger di depan mata Keysa. "Cantik," gumam Devano. Dengan senyum yang mengembang dipandangnya lamat-lamat wajah yang sudah membuat jantungnya berdegup sangat kencang.
Sementara itu, Keysa merasa semua yang terjadi hanyalah mimpi. Keysa bermimpi kalau Devano sedang menatapnya sangat dekat dan intens.
"Ya, Tuhan mimpiku indah sekali!" gumam Keysa saat melihat Devano yang tersenyum sangat manis kepadanya. 'Bukankah ini hanya mimpi? Bolehlah aku merasakan bibir itu lagi, meskipun hanya di dalam mimpi, tidak apa,' gumamnya di dalam hati ketika matanya tertuju pada bibir seksi Devano.
Keysa yang masih merasa dirinya ada di dunia mimpi pun, dengan berani mendekatkan wajahnya ke wajah Devano. Kemudian, tanpa malu, si gadis rambut keriting itu mengabsen bibir yang sudah membuatnya hampir meneteskan air liur saat di rooftop beberapa waktu lalu.
'Manis,' gumam Keysa dalam hati, dengan bibir yang masih menikmati benda kenyal milik Devano.
Devano yang juga menikmati sentuhan bibir Keysa, berniat membalas ciuman Keysa. Namun, tiba-tiba Keysa terbangun dan Devano pun langsung pura-pura tidur.
Sementara itu, orang yang sedang pura-pura tidur tampak sedang menahan tawanya agar tidak pecah. Keysa bangun sambil menepuk-nepuk p*nt4tnya yang terasa sakit, kemudian mendekati wajah yang masih terlihat pulas itu—mencoba mengingatnya lagi.
"Ya, ampun! Bagaimana kalau itu benar-benar nyata?" Keysa tidak bisa membayangkan kalau dirinya benar-benar telah mencium Devano. Takut dimintai pertanggungjawaban oleh Devano, Ia pun langsung bergegas meninggalkan kamar. "Maafkan aku! Kalau itu benar-benar terjadi, tolong maafkan aku! Aku tidak sengaja," ucap Keysa kepada Devano yang masih pura-pura tidur sebelum pergi.
**
Ezra mengantar Keysa pulang ke asrama.
Setiba di asrama Ezra dan Keysa melihat Exel yang juga sedang mengantarkan Disti. Keysa pun langsung menghampiri keduanya dan menyapa mereka dengan lembut. Akan tetapi, jawaban yang terlontar dari mulut Disti malah membuat orang yang mendengar akan tersinggung.
__ADS_1
"Iya, dong. Memang kamu saja yang bisa jalan dengan lelaki, aku juga bisa," ucap Disti sangat ketus saat Keysa menanyakan tentang kebersamaan Exel dan Disti.
Akan tetapi ucapan Disti segera dibantah oleh Exel. Lelaki itu tidak mau Keysa salah paham dan mengira kalau dirinya benar-benar telah menghabiska waktu dengan Disti. "Eh, siapa yang habis jalan dengan dia? Aku hanya bertemu dia di jalan dan memberikannya tumpangan karena arah kita sama. Aku itu ke sini untuk menemuimu," jelas Exel yang langsung membuat Disti memucat. "Kamu sendiri habis dari mana, Key?" Exel bertanya balik.
"Aku habis dari—"
"Keysa habis dari rumah Devano. Devano sakit dan Ezra meminta Keysa merawatnya seharian." Tiba-tiba Disti memotong pembicaraan Keysa dan mengatakan yang sebenarnya yang membuat Keysa terkejut. Padahal, Keysa tidak berencana untuk berbicara seperti itu.
Keysa melirik Disti dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia sangat kecewa dengan sikap Disti, tetapi Disti seakan tidak peduli dengan tatapan Keysa dan terus mengatakan apapun yang ia tahu tentang Keysa dan Devano seharian ini.
"Yang aku katakan benar kan, Key? Bukankah tadi kamu bilang seperti itu padaku?" ujar Disti dengan senyum yang
mengembang setelah membeberkan semua yang diceritakan Keysa kepadanya.
Keysa sendiri hanya tersenyum masam.
"Mungkin dia suka sama Exel, Key? Jadi dia ngomongnya kayak gitu," bisik Ezra kepada Keysa. "Tapi, menurutku mereka cocok," lanjut Ezra.
"Kalau ngomong jangan sembarangan!" Exel yang juga mendengar bisikan Ezra, tidak terima dengan pernyataan Ezra. Exel menjadi kesal dan keduanya pun bertengkar.
"Sudah, sudah! Bodo amat kalian mo habis jalan berdua. Kau menyukai Disti ataupun tidak, itu bukan urusanku," sarkas Keysa saat keduanya masih adu mulut dengan Ezra yang terus mengejek Exel. "Yang aku mau sekarang, kalian pulang dari sini! Jangan malah ribut di sini!" Keysa mengusir Ezra dan Exel, menyuruh mereka untuk pulang.
Dua lelaki itu pun tidak ada pilihan lain, selain mengikuti ucapan Keysa. Keysa sendiri langsung berjalan menuju asrama yang diikuti oleh Disti. Saat ini, Keysa benar-benar kecewa dengan sikap Disti dan membuatnya merindukan Gabby. Ia lantas menelpon Gabby.
__ADS_1